Tuesday, 4 July 2017

My Wedding Preparation in Two Months Only!


Mempersiapkan pernikahan emang menyita waktu dan pikiran, tapi ngejalaninnya asik-asik aja, ya? Iyalah, kan mau nikah? Heuheu. Nah, saya sendiri hanya punya waktu dua bulan buat mempersiapkan pernikahan. Setelah 'dilamar' pada akhir Juni 2016, rencananya pernikahan saya berlangsung pada 4 September. Jadi hanya punya dua bulan full buat nyari gedung, catering, suvenir dan segala endebrai endebrei lainnya.

Hal pertama yang perlu dilakukan adalah mencari gedung dulu. Kenapa nggak catering dulu? Karena pihak catering akan menyuruh kita untuk mencari gedungnya terlebih dulu. Pemilihan gedung akan menentukan catering mana saja yang bisa kita pilih karena gedung punya beberapa catering yang menjadi rekanannya.

Alhamdulillah untuk pencarian gedung ini, orang tua saya yang membantu. Saya hanya kasih list gedung-gedung yang sekiranya lokasinya oke, agak luas, dan mudah aksesnya buat tamu kami nanti. List gedung yang diberikan berada di sekitar Cawang, Matraman, Salemba, Kuningan sampai Pancoran. Namun, ortu mendatangi beberapa gedung di Matraman dan Salemba.

Tujuan pertama Gedung Graha Zeni di Matraman. Disana tempatnya oke, tapi untuk tanggal 4 September sudah full booked. Adanya buat bulan November. Ya sudah, coret. Selanjutnya ke Kementerian Sosial. Disana lagi-lagi sudah penuh, bahkan sampai akhir tahun. Wkwkwkwk ini gedung emang laku bener deh.

Terus lanjut lagi ke Pegadaian di Kramat, Salemba. Ternyata untuk tanggal 4 September siang ada calon pengantin lainnya yang udah mesen, tapi masih belum jelas apakah dia akan jadi pakai gedung di Pegadaian atau nggak, karena mereka belum memberikan DP. Akhirnya kami masuk waiting list, sembari berharap semoga calon yang satu itu memilih gedung lainnya. Pihak Pegadaian berjanji memberikan informasi minggu depan soal kepastian kami akan bisa memakai gedung itu atau tidak untuk tanggal 4 September.

Alhamdulillah ternyata kami memang berjodoh dengan Gedung Pegadaian. Setelah menunggu satu minggu, pihak Pegadaian memberikan informasi kalau tanggal 4 September siang, gedung itu tersedia. Gedung yang sama yang dipakai oleh adik saya, Venny, untuk menikah lima tahun yang lalu. Entah kenapa, kayaknya keluarga kami emang jodoh sama Gedung Pegadaian. Wkwkwkwk. Alhamdulillah, Allah juga mempermudah pencarian gedung ini, padahal waktu persiapannya agak mepet. Heuheu.

Setelah gedung dapet, saatnya mencari catering. Oleh Pegadaian, kami diberikan setumpuk brosur catering yang menjadi rekanannya. Ada beberapa catering yang menjadi pilihan saya, yaitu Paramita Catering, Permata Catering, Sawargi, Tidar dan H Tinah Catering. Pilihan ini dilakukan berdasar review dari internet dan harga.

Lagi-lagi untuk pencarian catering ini saya dibantu sama ortu. Mereka mendatangi Sawargi, Chikal Catering dan Permata Catering untuk menanyakan paket catering. Sawargi tampaknya oke tapi harganya nggak masuk budget. Sementara, Permata Catering masih libur lebaran jadi kami nggak bisa dapat informasi memadai. Untuk Chikal, ternyata dia fully booked untuk tanggal 4 September.

Di waktu yang sama, saya dan calon suami sempat mendatangi Tidar di Tebet. Namun, ternyata harganya diatas budget. Selain itu, saya juga sempat meminta daftar harga di Paramita Catering melalui email. Tapi, lagi-lagi nggak cocok sama harganya. Wkwkwk. Padahal udah diundang untuk test food. Tapi, karena toh saya merasa nggak akan memakai jasanya, saya nggak dateng ke acara test foodnya.

Akhirnya pencarian catering ini jatuh ke H Tinah Catering. Ortu juga memilihnya karena catering ini pernah dipakai di pernikahan sepupu beberapa tahun lalu. Jadi paling nggak sudah tahu bagaimana pelayanannya dan rasa makanannya. Sembari nyari catering, kami juga mendatangi dua rekanan sanggar H Tinah Catering. Akhirnya pilihan jatuh ke Ine Andriane. Nah, review mengenai H Tinah Catering dan sanggar yang menjadi rekanannya akan dibahas terpisah ya...

Lanjut lagi, bersamaan dengan pencarian catering, saya dan calon suami juga mencari percetakan undangan pernikahan dan suvenir. Untuk undangan pernikahan, awalnya saya iseng-iseng nyari di Instagram. Liat banyak yang lucu, tapi lokasinya jauh. Rata-rata di Yogya atau Malang. Pas saya sodorin ke calon, dia langsung nolak, hahaha. Akhirnya kami pun menyambangi Pasar Tebet, yang udah terkenal banget sebagai tempat untuk mencari undangan pernikahan. Nggak keliling-keliling jauh, kami langsung saja main tembak ngedatengin Zaky Card. Iseng untuk lihat-lihat aja desain undangannya, dan ternyata nemu yang sesuai dan bisa dimodifikasi. Harga undangannya Rp 5500 untuk undangan hard cover dan Rp 2500 untuk yang soft cover.

Nah, untuk suvenir, kami memburunya Cipinang. Tepatnya di Alfiandra Suvenir yang berlokasi di belakang LP Cipinang. Disana ada banyak pilihan suvenir, mulai dari gantungan kunci, taplak, tempat tisu, tas kecil, sendok nasi, gunting kuku, gelas, sendok garpu, piring, mangkok, kipas, dan masih banyaaaakkk lagi. Setelah berpusing-pusing ria, akhirnya pilihan kami jatuh ke gelas dan taplak untuk resepsi di gedung dan sumpit untuk acara di rumah.

Nah, untuk gelas dan taplak ini ternyata membutuhkan waktu yang agak lama untuk bsia diambil karena kami memesan dengan wadah karton. Gelasnya juga custom dengan gambar dan tanggal pernikahan. Untuk gelas dan taplak ini baru akan jadi dalam 1,5 bulan. Hwaduh...mepet beneeer deh. Agak dag dig dug, tapi akhirnya jadi dipesen juga. Harga gelas dan taplak ini Rp 5500 per buah, sudah komplit dengan wadahnya. Sementara, suvenir sumpit harganya Rp 1.200. Untuk sumpit dibayar lunas, tapi untuk gelas dan taplak bisa DP dulu, sisanya dibayar saat barang diambil.

Ternyata pas sampai rumah, sumpit yang saya bawa untuk suvenir resepsi di rumah membuat kedua ortu saya mengernyitkan dahi. Katanya nggak cocok suvenir sumpit buat acara yang di rumah. Yasudah saya serahkan penggantian suvenir sumpit ke mereka. Ortu akhirnya balik ke Alfiandra untuk mengganti suvenir dengan harga yang sama. Pulang ke rumah, suvenir sumpit udah berganti dengan gunting kuku. Wkwkwk.

Setelah urusan suvenir, gedung, catering dan undangan kelar, saatnya mencari cincin nikah dan hantaran pernikahan yang belum sempat kebeli. Bukan berarti cincin nikah ini ngga penting makanya baru dicari belakangan, tapi karena kami memang nggak membuat cincin yang customized yang pasti butuh waktu lama untuk membuatnya. Untuk cincin nikah ini cukup nyari di toko emas di Pasar Perumnas yang dekat dengan rumah. Simpel.

Selanjutnya ngurus surat nikah dan nyari penghulu. Karena akad nikah akan dilangsungkan di Gedung Pegadaian, makanya kami harus membuat surat pindah nikah ke KUA Senen. Untuk surat ini saya dibantu bokap yang mengurus surat ke kelurahan dan KUA Pondok Bambu dan calon suami yang bolak balik ke KUA Senen. Alhamdulillah urusan perpindahan akad nikah berjalan lancar. Akhirnya dapet penghulu untuk akad jam 9 pagi, meski tadinya direncanakan akad jam 8 pagi. It doesn't matter anyway, nyang penting dapet penghulu. Hehehe. Kalo ngga ada penghulu kan berabe, siapa yang mau nyatet pernikahannya coba, kalau ngga ada penghulu. Heuheu...

Alhamdulillah masa mencari penghulu, vendor dan pendukung acara resepsi dan akad pernikahan ini ternyata hanya memakan waktu selama satu bulan. Satu bulan berikutnya saya tinggal ngecek-ngecekin aja apakah semuanya sudah sesuai dan mengganti menu catering kalau merasa ada yang nggak cocok. Saya nyante banget lah di 1 bulan terakhir itu, hahaha.

Alhamdulillah juga undangan malah sudah selesai hanya dalam waktu tiga minggu. Padahal, tadinya undangan diperkirakan baru jadi dalam waktu satu bulan. Ternyata pencetakan undangan dilakukan berdasar prioritas tanggal pernikahan. Karena pernikahan kami akan dilaksanakan dalam dua bulan, makanya undangannya lebih diprioritaskan dibanding calon pengantin lainnya yang pernikahannya masih tiga bulan. Hehehehe.

And that's it! Alhamdulillah nggak ada kendala besar saat menyiapkan pernikahan hanya dalam waktu dua bulan ajaTernyata apa yang tadinya saya bayangkan akan ribet dan riweuh mempersiapkan pernikahan, Allah telah mempermudahnya. Alhamdulillah. Semuanya berjalan lancar sampai hari H. Alhamdulillah.

Nah, buat kamu yang mengalami hal yang sama seperti saya, ternyata meski mepet, mempersiapkan pernikahan dalam waktu hanya dua bulan saja bisa banget loh. Tentunya kamu perlu membuat daftar prioritas hal-hal apa saja yang perlu didulukan. Berdasar pengalaman saya, dahulukan mencari gedung dan catering. Bersamaan dengan itu, kemudian browsing suvenir dan mencari percetakan undangan pernikahan.

Berikut saya kasih tips singkat untuk mempersiapkan pernikahan versi pengalaman saya:
1. Susun prioritas hal-hal yang harus dilakukan berdasar urgensi dan waktunya. Urusan gedung dan catering pasti harus didulukan karena berkaitan dengan lokasi pernikahan. Selanjutnya di waktu yang sama, cari juga tempat percetakan undangan pernikahan dan suvenir. Ini penting karena mereka butuh waktu agak lama untuk menyelesaikan pesanan.

2. Saat sedang mencari vendor pernikahan, suvenir dan undangan, pastikan sesuai dengan budget. Jangan terlalu memaksakan diri karena dalam pernikahan itu yang paling penting adalah terjadinya akad nikah :D

3. Saat mencari suvenir dan percetakan undangan pernikahan, pastikan mereka bisa memenuhi pesanan kita sesuai tenggat waktu. Kalau nggak bisa, cari yang lain.

4. Usahakan ajak serta calon kamu saat mencari segala kebutuhan untuk pernikahan. Jangan ragu untuk meminta pendapatnya.

5. Jangan sungkan untuk meminta bantuan dari keluarga, jika waktu kamu terbatas.


Saturday, 10 June 2017

When I Meet You

"Pak, Nggi dapet beasiswa S2 di UI," kataku dengan raut muka sumringah.
Akhirnya salah satu target dalam kehidupan saya tercapai di awal 2012: bisa melanjutkan studi lagi, gratis pula.
"Alhamdulillah. Ya udah terus kapan nikahnya? Jangan belajar mulu. Cari cowok dong," balas si bapak dengan santainya.
Dueeenngggg... makjleb. Saya terdiam sesaat.
"Ya ntar aja, abis luluslah". Akhirnya itulah jawaban yang bisa saya berikan.

Mirip sama iklan TV salah satu kosmetik, ya? Hahaha. Tapi itu juga yang saya alami ketika itu. Makanya, pas liat iklan TV itu, saya ngerasa 'itu kok gw banget', wkwkwk. Kala itu, menikah memang belum menjadi prioritas di hidup saya. Mikirnya ya gimana wae lah, jodoh kan pasti udah diatur sama Allah SWT. Tidak akan ada seorang manusia pun yang dapat mengira masa depan akan seperti apa.

Awal 2014, studi saya akhirnya selesai. Tapi, saya belum bisa memenuhi permintaan bapak. Masih aja nyante, hahaha. Saya ngga merasa terburu-buru untuk nikah. Ortu juga ngga pernah nanya mulu, jadi lah nyante. Setiap ditanya orang, "Mana cowoknya?" atau "Kapan mo nikah?". Saya cuma jawab, "Bulan depan insya Allah" atau "Iya ntar juga kalo ada yang cocok, satu bulan juga langsung nikah". Hahaha. Ngasal abis lah jawabnya, demi segera membungkam pertanyaan sama yang datang bertubi-tubi.

Awal 2015, Alhamdulillah saya dikasih kesempatan buat umroh sama ortu. Mengunjungi Jabal Rahmah pastilah jadi salah satu agenda. Di sana jadi tempat berdoa yang mustajab untuk urusan jodoh, katanya. Kala itu saya ditemani nyokap untuk naik ke Jabal Rahmah. Ndilalah, saat menuju kesana ada kejadian tidak menyenangkan: kami kena scam. Alhamdulillah dengan bantuan orang-orang di sekitar, kami berhasil lolos dari jeratan scam lelaki itu. Tapi jadinya, jujur aja, saya jadi kurang khusyuk berdoa di sana. Masih kepikiran kejadian sebelumnya, heuheu.

Walau mengalami peristiwa kurang menyenangkan di Jabal Rahmah, umroh menjadi kesempatan saya untuk introspeksi diri. Baru disanalah saya bener-bener berdoa agar Allah memudahkan jodoh saya dan memasrahkan semua kepada-Nya. Di saat berhadapan dengan Ka'bah dan memiliki kesempatan untuk bermunajat di Raudhah, disanalah saya benar-benar 'runtuh' untuk memohon ampunan dan ridha-Nya. Masya Allah betapa kangennya saya ingin ke sana lagi. Hadeuh... tetiba jadi melow kaann... heuheu.

Eniwei, sepulang umroh, life goes on as usual. Masih hora hore as a single woman. Nonton bioskop sama ponakan dan adek, meetup sama temen, liputan sana-sini, jalan-jalan ke Seoul sama bokap nyokap di September 2015, main ke Jogja di akhir 2015, lanjut plesir ke Malang sama keluarga di Mei 2016.

Sampai... awal Juni 2016 pas mau berangkat kerja, tetiba nyokap nyamperin terus ngomong gini, "Nggi, mau ngga ibu kenalin sama anak temennya ibu? Kalo mau, sini ibu minta foto kamu yang lagi sendiri". Terus saya cuma bisa melongo... Hahaha. Setelah melongo, terus dengan nyantenya saya membalas, "Ya udah boleh. Tar aja deh fotonya, udah mo berangkat kerja soalnya". Kala itu, nyokap belum punya WA di hape-nya.

Tapi karena kesibukan, saya jadi lupa. Tau-tau akhir Juni 2016, nyokap ngomong, "Kamu Sabtu nggak kemana-mana kan? Itu anak temen Ibu yang mau dikenalin ke kamu mau dateng ke rumah". Haaahh... Kok perasaan cepet amat, gercep nih nyokap, heuheu. Yasud akhirnya tibalah masa perkenalan. Eng, ing, eng...

Gimana perasaan waktu itu? Anehnya ternyata saya biasa aja, iya sih sempet deg-degan tapi 5 menit kemudian rasa itu ilang. Yang ada di pikiran, ya kalo cocok terus, kalo ngga, ya udah. Ngga jadi beban. Saya jadinya nyantai aja. Disuruh nyokap dandan, saya cuma lapisin pake bedak ama lipstik doang, itupun tipis. Saya emang paling ga jago urusan dandan. Amatir banget lah. Hahahaha.

Si calon dateng sama nyokapnya, temen ibu saya. Si calon memperkenalkan dirinya sebagai Antoni, panggilannya Toni. He's nice. Itu kesan pertama saya. Kenalan sudah, ngobrol-ngobrol sudah, tukeran nomor telpon juga sudah. Terus mereka pulang. Saya balik lagi menjalani rutinitas seperti biasa. Ternyata malem-malem, ada SMS dari mas Toni, nanyain WA saya kok ngga aktif.

Kalau di hari libur, saya emang paling jarang buka WA. Kadang pesan di WA juga suka terlambat masuk kalau kita ga buka aplikasinya. Jadi ketika saya buka WA malem itu, sederet pesan masuk, termasuk WA dari mas Toni, yang ternyata udah dari tadi siang dia kirim, heuheu. Maafkan saiah...

Sejak hari itu, komunikasi kami berjalan intens selama Ramadhan. Karena merasa sudah cukup dekat, saya pun mengajak dia untuk berbuka puasa dengan teman kuliah Unpad di Depok. Saya ajak mas Toni karena saya berutang janji kepada mereka, kalau nanti ada cowok yang sedang dekat dengan saya, saya akan mengenalkannya ke mereka. Dan, ternyata dia berkenan untuk ikut. And, I really appreciate that.

Terus berlanjut sampai akhir Ramadhan saya mendengar selentingan kabar dari adik saya, Venny, kalau keluarga si mas akan bertandang ke rumah di hari lebaran ketiga, buat NGELAMAR! Hah? Yang bener aja. Saya pun nggak langsung percaya. Mana mungkin baru kenalan sebulan udah mau dilamar, kan baru aja kenal, belum tau banyak soal orangnya kayak apa. The point is I'm trying to neglect it all.

Tapi...Venny terus-terusan ngomong kalo kabar itu bener dan nyuruh saya buat konfirmasi ke nyokap, karena dia juga taunya dari nyokap. Yah ampun, ini persengkokolan apalagi nih? Pulang kerja saya nanya ke nyokap, dan ternyata dia bilang info itu bener. Keluarga mas Toni bakal dateng buat ngelamar sekaligus silaturahmi di hari lebaran ketiga. Saya beneran kaget dan nggak percaya. Mana mungkin? Masa iya, sih? Begitu terus...

Pas di posisi itu ada masa rasanya pengen kabur, perasaan yang selalu menghinggapi ketika ada lawan jenis mendekati. Tapi terus saya jadi keinget omongan saya dulu waktu masih jomblo dan terus ditanya mana calonnya atau kapan nikah, "Nanti juga kalau ada yang cocok, sebulan langsung nikah juga bisa". Ternyata omongan iseng itu terkabul. Ya, nggak sampe nikah sih, baru sampe lamaran, tapi udah bikin dag dig dug aja. Heuheu. God truly has an unexpectable way to answer your prayer.

Saat memperoleh informasi itu dari nyokap, saya langsung konfirmasi ke mas Toni tapi dia sok-sok misterius gitu dan bilang kalau nanti hanya silaturahmi aja, tapi dengan bawa hampir seluruh keluarga besarnya dari pihak ibu. Iya sih saya percaya omongannya soal silaturahmi, tapi kenapa sampe bawa rombongan yang terus bikin orang berpikir yang nggak-nggak? Heuheu. Sampe hari H keluarganya dia dateng pun saya masih bertanya-tanya ke diri sendiri, "Apa iya gw mau dilamar?" Hahaha.

Pas hari ketiga lebaran itu, keluarga besarnya dateng sambil bawa hantaran. Udah mirip kayak lamaran, wkwkwk. Saat itu kedua keluarga berkenalan dan menyampaikan kalau tujuannya bersilaturahmi saja. Oke. Abis itu makan, dan di sela-sela makan itu tau-tau pada ngomongin kira-kira kalau nikah enaknya bulan apa, kayaknya September oke. Loh, loh..    Katanya ini bukan lamaran tapi kenapa pada ngomongin bulan pernikahan? Huaaakkss. Saya nggak tau harus bilang apa, cuma senyam-senyum ngga jelas. Wkwkwkwk.

Sepulangnya keluarga mas Toni, bokap sama nyokap ngajak ngomongin bulan pernikahan. Lah, emang bener ya tadi gw dilamar? Hahaha masih aja berusaha menyangkal. Tapi, ya sudahlah. Singkat cerita, akhirnya diputuskan pernikahan dilangsungkan pas ultah bokap, tanggal 4 September.

Esok harinya saya langsung mengabari calon soal keputusan itu. Story short, akhirnya saya  menikah hanya dalam waktu tiga bulan setelah masa perkenalan. Ngga nyangka kalau perjalanan saya menemui jodoh bisa begitu cepatnya. Kalau ditanya, kok yakin amat nikah hanya dalam waktu tiga bulan? Itu kembali lagi kepada niat untuk menjalani rumah tangga.

Kala itu, saya yakin suami saya ini bisa membimbing, insya Allah selamat dunia akhirat,  dan akan menjadi pemimpin dan ayah yang baik bagi keluarga kecil kami nanti. Dalam perjalanan ke depannya bagaimana? Saya serahkan ke Allah SWT, sembari terus berikhtiar dan berdoa, tentunya.

Mohon doanya semoga keluarga kecil kami menjadi keluarga yang sakinah mawaddah warahmah. Aamiin...


Acara yang katanya bukan lamaran

Me and him

Calon suami (batik coklat) dan keluarga besarnya



Our Story

Thursday, 2 March 2017

Tempat Makanan Halal, Musholla dan Masjid di Seoul dan Nami Island

Hello again! Long time no see, yaaa... Heuheu.

Meski udah lewat setahun yang lalu, kali ini saya mau nge-share aja soal tempat makan halal dan tempat ibadah bagi Muslim di Seoul dan Nami Island. Buat yang umat Muslim untuk nyari makanan halal sama tempat solat ketika berwisata ke negara minoritas muslim emang agak sulit, tapi bukan berarti hal itu jadi halangan untuk mengeksplorasi bumi ciptaan Allah SWT, ya ngga?

Nah, waktu saya nge-trip ke Seoul tahun lalu, salah satu yang menjadi prioritas ketika melakukan searching adalah tempat makan dan tempat solat. Di Seoul, kebanyakan merekomendasikan Itaewon. Selain di sana banyak tempat makan halal, di Itaewon juga ada Masjid Seoul. Oke, Itaewon is definitely on my itinerary! Untuk menuju ke Masjid Seoul tinggal ke Itaewon Station dan keluar di Exit 3.

Menyusuri trotoar di Itaewon, kamu akan bisa melihat jejeran restoran halal yang sebagian besar menyajikan kebab, makanan Timur Tengah atau India. Beranjak ke arah Masjid Seoul, mulai nemu deh tuh makanan Korea halal dan Melayu. Hari pertama di Seoul kami pun udah langsung aja ke Itaewon karena kelaperan. 

Malam itu, karena udah capek dan gelap, bokap akhirnya memutuskan untuk masuk ke sebuah restoran yang ada di kiri jalan menuju masjid (maaf, lupa nama restorannya). Asal masuk aja, ternyata resto yang kami masuki adalah restoran Timur Tengah all you can eat, hekz. Berarti, bayarnya mahal, heuheu. Jadilah itu roti pita yang ada di meja diabisin semua dan ambil kari banyak-banyak. Sayang, kan all you can eat, heuheu. Berhubung bokap yang ngajak masuk sana, akhirnya beliau yang ntraktir malam itu, hehehe.

Hari berikutnya untuk makan siang kami kembali lagi ke Itaewon. Selain pingin ke Masjid Seoul, yang belum sempet disambangi kemarin, sekalian juga-lah nyari makan siang yah. Usai berbelanja (lagi) di Pyounghwa Market, kami kembali menyusuri kawasan Itaewon. Kali ini langsung menuju Masjid Seoul. Dan...ternyata jalanan menuju masjid itu makin lama makin nanjak. Nyokap udah turun dari kursi roda dan jalan pelan-pelan. Ngga sanggup kalo harus sambil ngedorong nyokap di atas kursi roda, bo. Untunglah kaki nyokap udah berasa mendingan, Alhamdulillah.


Masjid Seoul.

Sesampainya di Masjid Seoul, rasa kagum menguar. Masjid ini ada di atas bukit, jadi pas sampe sana, kamu bisa lihat pemandangan di bawah. Ketika udah sampe masjid, tempat wudhu cewek ada di bagian belakang masjid. Di sana juga ada toiletnya. Nah, untuk tempat solatnya: yang cowo di halaman bawah, sedangkan yang cewe ada di lantai atas. Cerita-cerita soal Masjid Seoul ini udah pernah dibahas di postingan Seoul Trip: Lost in Seoul (Day 2).

Nah, abis dari Masjid Seoul terus kami turun ke bawah. Di sepanjang jalan itu banyak restoran halal. Di sebelah kanan banyak restoran Melayu dan di sebelah kiri menawarkan makanan otentik halal Korea. Namun, akhirnya kami memilih makan siang-jelang sore di Siti Hajar. Tempat makan ini terletak di sebelah kanan jalan kalau dari arah masjid, dan menawarkan makanan Melayu. Di sana kami memesan paket ayam bakar dan sayur asem. Harganya 10 ribu Won. Agak mahal emang, tapi pas liat ayamnya... OMG ternyata itu ayamnya guede aja. Bukan bagian paha, sayap atau dada, tapi itu bagian ayam separo ditaro di atas piring. Saya aja bingung ngabisinnya gimana, hahahaha. Akhirnya itu sisa ayam dibungkus buat makan malem di hotel. Lumayan lah ngehemat yah... Wkwkwkwk

Nah, restoran Siti Hajar ini, menurut karyawan di sana, adalah milik orang Indonesia, makanya makanan yang dijual makanan Melayu. Enaknya di sini karyawannya yang merupakan orang Arab ramah banget. Dan, saya jadi ngerasa agak aneh pas denger dia ngomong bahasa Korea, hahaha. Biasa ngeliat orang Arab ngomong bahasa ibunya, bahasa Melayu atau Inggris, soalnyah. Dan, ternyata dia beristrikan orang Korea, yang juga kerja di situ. Istrinya cantik berhijab. Eh, ini kok malah ngelantur. Oke, back to laptop.

Kalau soal makanan halal di Korea, pokoknya di Itaewon ini deh tempatnya. Alternatif lainnya adalah membeli onigiri di Seven Eleven. Belilah onigiri isi tuna atau yang original, harganya 800-1000 Won, kalo ngga salah. Ini lumayan banget buat yang mau ngirit. Heuheu.


Di gedung bercat kuning ini lokasi restoran halal dan musholla di Pulau Nami.

Lanjut ke Pulau Nami. Tempat wisata yang satu ini oke banget fasilitasnya buat wisatawan muslim. Musholla dan restoran halal berada di satu gedung berwarna kuning yang terletak di tengah pulau. Restoran ada di lantai bawah, sedangkan musholla ada di lantai dua. Di musholla juga disediakan sajadah, mukena dan Al Quran. Bersih dan sejuk banget ada di dalem musholla ini. Tempat solat antara wanita dan pria di musholla Pulau Nami masih di area yang sama, namun terpisah oleh tembok. Di sini juga ada tempat wudhu di dalam setiap ruangan. Selain itu, disediakan juga tempat duduk di depan musholla.

Nah, setelah solat, kalau laper, tinggal turun ke bawah buat makan di restoran, yang menunya ngga jauh dari makanan Asia dan Timur Tengah. Kamu bisa lihat menu yang disediakan dan harganya di standing table yang ada di depan musholla. Jadi bisa ngecek harganya dulu sebelum masuk ke restoran, hehehe. Namun, karena menurut kami harganya cukup pricey, kami ngga makan siang di sana.

So overall, Korea Selatan oke bangetlah buat menjadi salah satu destinasi liburan bagi wisatawan muslim. Fasilitasnya sudah terbangun dengan cukup baik. Lain kali, saya malah pingin berkunjung ke sana lagi. Happy traveling, guys! :D


Petunjuk Musholla terpampang jelas di pintu masuk.

Ada menu restoran halal di depan musholla.

Tempat solat pria dan wanita dipisah.

Ada mukena, sajadah dan Al Quran di musholla Pulau Nami.