Thursday, 19 October 2017

Review Sanggar Ine Andriane

Busana Resepsi di Gedung by Ine Andriane

Soal milih-milih sanggar buat nyari busana dan make up pengantin emang kudu milih yang pas dengan hati. Karena saat resepsi pernikahan, tamu yang dateng pasti lihat penampilan penganten. Nah, saat menyiapkan resepsi pernikahan pada September tahun lalu, saya dihadapkan pada tiga pilihan sanggar, yang merupakan rekanan dari H Tinah Catering. Mereka adalah sanggar Yusan, Ine Andriane dan Hera Griya Pengantin.

Setelah memilah dan survei akhirnya saya memilih Sanggar Ine Andriane. Mengapa? Saya sempat menjelaskan sedikit alasan saya memilih Ine Andriane di postingan sebelumnya. Selain sudah menemukan baju yang cocok, mba Ine dan stafnya juga ramah. Saya juga sreg dengan make up-nya. Ngga terlalu menor. Nah, saat baru pertama kali mendatangi sanggarnya di Rawamangun sudah ada calon pengantin lainnya yang sedang nanya-nanya. Jadi sembari nunggu bisa deh lihat-lihat koleksi dan tata rias Ine Andriane dari album yang ada di meja tamu.

Setelah giliran saya tiba, saya sampaikan kalau saya ingin busana yang bernuansa pink silver. Alhamdulillah mba Ine punya koleksinya. Setelah dilihat bajunya, saat itu juga langsung fitting dan ngukur ukuran badan. Dan... Ternyata bajunya kegedean buat saya. Hahaha. Harap maklum saya slim banget waktu itu, sampe stafnya juga komen, "Duh mba, badannya kecil amat". Wkwkwk. Jadinya itu baju ditekuk dan dikasih peniti. Saya sempat kuatir gimana kalau bajunya kegedean begitu, pasti jadi keliatan ngga oke pas dipake resepsi. Staf mba Ine kemudian menenangkan dan bilang, kalau ukuran itu bisa diatur sehingga saat resepsi ngga akan keliatan kalau itu baju kegedean.

Make Up Akad by Ine Andriane

Oke. Saya pun kembali tenang. Setelah itu, saya sedikit berbincang dengan mba Ine. Iseng saya nanya soal sewa baju akad dan apakah mba Ine juga punya paket pernikahan untuk resepsi di rumah. Ternyata untuk baju akad bisa disewa dengan harga mulai dari Rp 1 juta. Tapi, kalau untuk akad sih saya udah punya bajunya. Baju akad pernikahan adek saya dulu yang udah dimodifikasi dengan ukuran badan saya alias dikecilin :p. Selain itu, ternyata mba Ine juga menyediakan paket pernikahan resepsi di rumah. Alhamdulillah.

Sebelumnya saya udah search beberapa sanggar untuk paket resepsi pernikahan di rumah. Namun, belum ada yang sreg. Saya sempat mencari-cari sanggar kayak Alisha Anjani, Nuri Wedding, dan Rizki Kusumo (adek saya pake tata rias Rizki Kusumo waktu resepsi di rumah), tapi ngga ada yang cocok, baik itu dengan harga paketannya atau riasannya.

Nah, Alhamdulillah ternyata mba Ine punya paket pernikahan di rumah. Harganya di September 2016 sebesar Rp 20 juta minus catering. Harga itu udah termasuk paket busana dan riasan untuk penganten, penerima tamu, dan orang tua mempelai. Hanya saja untuk busana orang tua mempelai untuk pihak ibu tidak disediakan. Pihak ibu hanya dapat riasan saja.

Harga paket di Ine itu juga termasuk sewa tenda, kursi, perlengkapan penerima tamu minus pulpen dan buku tamu, 4 tenda gubukan, pelaminan, dokumentasi, band, pergola dan alat makan. Namun, karena nyokap memutuskan untuk nggak sewa alat makan (karena punya sendiri), dan nggak pakai band dan dokumentasi dari mba Ine, maka harganya jadi Rp 15 juta.


Busana resepsi di rumah by Ine Andriane

Untuk busana penganten saat resepsi di rumah, saya memilih warna biru mint. Sengaja memilih warna itu karena ingin nuansa warna yang berbeda dengan resepsi di gedung. Kala itu busana penganten biru mint juga merupakan koleksi terbaru dari sanggar Ine Andriane. Hehehe. Tapi teteup baju itu masih agak kebesaran di saya. Hahahaha.

Setelah sekitar dua minggu sebelum akad dan resepsi di gedung, saya melakukan fitting terakhir di sanggar Ine. Bajunya masih agak kebesaran. Sempet kuatir, tapi mba Ine dan stafnya menenangkan kalau nanti mereka akan bisa ngakalin bajunya supaya bisa ngepas di badan saya. Karena badan saya yang mungil itu juga akhirnya mba Ine nggak terlalu ketat saat meminta saya untuk puasa 'mutih'.

Puasa 'mutih' ini biasanya menjadi tradisi buat calon mempelai wanita, dimana mereka diminta untuk hanya memakan nasi dan air putih saja beberapa hari sebelum hari H. Namun, karena badan saya terlalu slim akhirnya saya tetap diperbolehkan makan dengan beberapa lauk, jadi nggak bisa dibilang puasa 'mutih' juga sih. Heuheu.



My Transformation. Photo taken from WA Profile Ine Andriane

Sehari sebelum hari H, mba Ine WA untuk mengingatkan saya agar esok datang pagi-pagi. Saya memang berencana untuk berangkat dari rumah usai subuh karena akad akan berlangsung pada pukul 09.00 WIB. Pas hari H, nggak disangka ternyata mba Ine malah udah nyampe duluan di gedung, heuheu. Namun, saya masih punya waktu yang cukup untuk make up karena make up-nya simpel, maka hanya memakan waktu sekitar 45 menit-1 jam saja.

Oh iya, untuk akad nikah ini, sanggar Ine juga menyediakan kalung melati untuk dipakaikan ke mempelai pria saat memasuki ruangan akad. Jadi kita nggak perlu rempong nyari kalung melati. Namun, untuk kerudung buat mempelai penganten saat akad, kita harus nyediain sendiri. Saya udah nyiapin sendiri kerudungnya sih, tapi ternyata mba Ine meminjamkan kerudung miliknya, yang lebih bagus dari punya saya, hehehe. Alhamdulillah. Makasih, mba Ine.

Usai akad, saatnya berganti baju. Agak deg-degan apakah busana resepsi itu bakalan kebesaran di saya, tapi Alhamdulillah ternyata bajunya pas di saya. Entah itu baju diapain sama stafnya mba Ine, hehehe. Yang jelas ngepas dan nggak kelihatan satu pun ada peniti nongol di baju kayak pas fitting kemaren, hahaha. Begitu pun saat saya mengenakan busana resepsi di rumah. Bajunya pas di badan saya, hehehe. Overall, saya suka dengan layanan riasan dan busana di sanggar Ine Andriane.

Buat yang pengen survei ke sanggar Ine Andriane alamatnya ada di Jl Rawamangun Muka Barat II RT 10 RW 12, Rawamangun (belakang lapangan golf). Lokasinya mudah ditemuin kok. Patokannya di depan lokasi sanggar Ine ini ada taman komplek. Selain di Jakarta, mba Ine juga punya sanggar di Bogor, katanya sih deket Stasiun Cilebut. Jadi buat yang stay di Bogor bisa lebih dekat.


Photo taken by Mia Fauzia

Wednesday, 23 August 2017

Review H Tinah Catering


Saat sedang merencanakan resepsi pernikahan, yang namanya nyari catering itu gampang-gampang susah. Ada beberapa faktor yang menjadi pertimbangan saat calon pengantin (capeng) ingin memilih catering. Diantaranya, harga yang sesuai budget dan rasa dari makanan catering itu sendiri. Nah, nyari yang harganya sesuai dengan budget dan sesuai dengan lidah itu gampang-gampang susah. Ada catering yang nawarin harga murah tapi rasa makanannya nggak sesuai di lidah. Ada yang rasa makanannya udah sesuai, tapi harganya nggak cocok di kantong.

Saya sendiri ngalamin tahun lalu ketika nyari catering yang sesuai dengan budget dan rasa makanan cateringnya lumayan sesuai di lidah. Saat sudah booking gedung resepsi biasanya capeng akan dikasih segepok brosur catering yang jadi rekanan gedung. Kala itu saya memakai Gedung Pegadaian di Salemba sebagai tempat resepsi. Ortu yang sudah booking tempatnya ngebawa setumpuk brosur catering buat saya pilih.

Diantara brosur catering yang saya pilih di batch I adalah Puspita Sawargi, Permata Catering, dan Paramita Catering. Sayangnya harga di Puspita Sawargi dan Paramita Catering ternyata nggak sesuai budget, jadi segera dicoret dari daftar. Padahal, udah diundang untuk test food tapi karena nggak sesuai budget, saya jadinya nggak dateng buat test food. Sementara, untuk Permata Catering ternyata kantornya masih tutup karena libur lebaran. Saya kirim email minta daftar paket juga belum dibalas. Jadi ya sudahlah. Mungkin belum rejeki.

Akhirnya saya kembali memilih brosur catering lainnya. Kali ini saya memilih Tidar, H Tinah Catering dan Chikal Catering. Untuk Tidar, harganya tidak sesuai. Sedangkan, Chikal Catering ternyata fully booked. Jadi, pada akhirnya kami memilih H Tinah Catering. Selain harganya sudah sesuai (karena tawar menawar nyokap berhasil, hehehe), kami merasa juga sudah cocok dengan makanannya. Beberapa tahun lalu salah satu sepupu saya juga sudah pernah pakai H Tinah Catering (HTC). Jadi, sudah pernah tahulah rasa makanannya gimana.


Kami memilih paket untuk 1000 orang (500 undangan) dengan 10 gubukan. Untuk gubukan ini menunya bisa diganti-ganti dengan harga yang sama, atau kalau mau menu yang lebih mahal ya tinggal nambahin sisanya aja. Nah, untuk menu makanan yang menurut saya rekomen di HTC adalah daging lada hitam, mie ayam raos, siomay, zuppa soup, pempek, dan DCrepes (ini DCrepes beneran loh, karena HTC kerja sama dengan DCrepes). Kami juga udah ikutan testfood HTC di Taman Mini, jadi udah sempet nyicipin sebelum benar-benar menentukan menu yang fix. Untuk test food HTC ini terpisah kok dari makanan yang disediakan untuk pengantin yang saat itu sedang di resepsi. Jadi nggak ngurangin jatah klien HTC.

Sementara, untuk dekornya juga ada berbagai pilihan mulai dari yang tradisional sampai modern. Setelah lihat-lihat Instagram HTC okelah dekornya. Karena saya memilih nuansa pink silver jadilah dekor yang dipilih juga berwarna senada, dengan dekor modern dan tirai pink silver.

Untuk baju pengantin dan make up, HTC kerja sama dengan setidaknya lima sanggar. Tapi, saya direkomendasikan tiga sanggar yang lokasinya dekat dengan rumah dan lokasi resepsi, serta mereka yang biasa menangani pengantin muslimah. Tiga sanggar yang saat itu direkomendasikan oleh HTC adalah Ine Andriane, Yusan, dan Hera Griya Pengantin. Untuk Hera Griya ini ada websitenya di heragriyapengantin.com. Disana ada daftar harga make up dan paket busana pengantin yang lengkap. Sayangnya, lokasinya agak jauh dari rumah saya di Duren Sawit, karena Hera Griya ini ada di Warung Buncit. Padahal, penasaran juga siy sama koleksi busananya, hehehe. Tapi, karena pertimbangan lokasi Hera Griya yang juga jauh dari lokasi resepsi di Pegadaian, jadilah saya nggak menyambangi sanggar itu.


Akhirnya saya dan calon suami memutuskan untuk mendatangi sanggar Ine Andriane dan Yusan saja yang lokasinya saling berdekatan. Sanggar Ine Andriane ada di Rawamangun, sedangkan Yusan di Utan Kayu. Di sanggar Ine Andriane, saya nemu busana yang saya pengen dan udah lumayan sreg dengan mbak Ine. Tapi, karena penasaran dan hanya ingin ada perbandingan, kami juga mendatangi Yusan. Ternyata, harganya tidak sesuai di kantong, hahaha. Di Yusan, saya sempat nyoba dua baju pink silver tapi kurang sreg juga di saya. Lagipula, kalau memilih baju pengantin yang ada ekor menjumbainya, Yusan juga mengenakan charge tambahan Rp 1 juta. Duh, sayang bener deh kalau dipikir-pikir, heuheu. Mending itu duit buat nambah catering. Hahaha. Eniwei, untuk review sanggar Ine Andriane akan dibahas terpisah, ya.. Karena saya juga memakai jasa mba Ine untuk resepsi di rumah.

Lanjut, soal HTC. Di HTC ini, saya dibantu oleh mbak Dini, yang merupakan anak dari pemilik HTC. Orangnya cukup ramah, bahkan saat saya belum deal harga aja, dia mau ngeladenin saya yang udah milih-milih dekor. Hahaha. Kalau ternyata mau ganti printilan dekor beberapa hari sebelum hari H juga masih diladenin, kok. Hehehehe. Nah, kalau untuk menu makanannya, saya koordinasi dengan yang namanya mba Tari karena dia yang in charge saat di gedung untuk segala menu makanan. Kita juga bisa request hal tertentu terkait makanan. Misalnya, untuk daging lada hitam. Saat testfood, kami menilai ukuran dagingnya terlalu besar, maka kami request agar dagingnya dipotong-potong agak lebih kecil agar anak-anak juga mudah memakannya.

Untuk koordinasi dengan HTC ini bisa cukup via WA. Saya ke kantor HTC yang ada di Tebet (deket Pasar Tebet Barat) juga cuma tiga kali, yaitu saat pertama kali ketemu dengan mba Dini, saat ngomongin detil dekor, dan pas technical meeting. Oh iya, yang bikin saya milih HTC juga karena lokasinya yang deket dengan pasar Tebet, tempat saya bikin undangan nikah. Tinggal ngesot (lebay :p), udah nyampe ke pasar. Jadi bisa sekalian jalan, hehehe. Overall, rasanya dana yang dikeluarkan sepadan dengan pelayanan yang diberikan HTC. Alhamdulillah acara berjalan lancar dan semua tamu dapat makanan. Hanya tersisa sedikit makanan untuk dibawa pulang. :)


Tuesday, 4 July 2017

My Wedding Preparation in Two Months Only!


Mempersiapkan pernikahan emang menyita waktu dan pikiran, tapi ngejalaninnya asik-asik aja, ya? Iyalah, kan mau nikah? Heuheu. Nah, saya sendiri hanya punya waktu dua bulan buat mempersiapkan pernikahan. Setelah 'dilamar' pada akhir Juni 2016, rencananya pernikahan saya berlangsung pada 4 September. Jadi hanya punya dua bulan full buat nyari gedung, catering, suvenir dan segala endebrai endebrei lainnya.

Hal pertama yang perlu dilakukan adalah mencari gedung dulu. Kenapa nggak catering dulu? Karena pihak catering akan menyuruh kita untuk mencari gedungnya terlebih dulu. Pemilihan gedung akan menentukan catering mana saja yang bisa kita pilih karena gedung punya beberapa catering yang menjadi rekanannya.

Alhamdulillah untuk pencarian gedung ini, orang tua saya yang membantu. Saya hanya kasih list gedung-gedung yang sekiranya lokasinya oke, agak luas, dan mudah aksesnya buat tamu kami nanti. List gedung yang diberikan berada di sekitar Cawang, Matraman, Salemba, Kuningan sampai Pancoran. Namun, ortu mendatangi beberapa gedung di Matraman dan Salemba.

Tujuan pertama Gedung Graha Zeni di Matraman. Disana tempatnya oke, tapi untuk tanggal 4 September sudah full booked. Adanya buat bulan November. Ya sudah, coret. Selanjutnya ke Kementerian Sosial. Disana lagi-lagi sudah penuh, bahkan sampai akhir tahun. Wkwkwkwk ini gedung emang laku bener deh.

Terus lanjut lagi ke Pegadaian di Kramat, Salemba. Ternyata untuk tanggal 4 September siang ada calon pengantin lainnya yang udah mesen, tapi masih belum jelas apakah dia akan jadi pakai gedung di Pegadaian atau nggak, karena mereka belum memberikan DP. Akhirnya kami masuk waiting list, sembari berharap semoga calon yang satu itu memilih gedung lainnya. Pihak Pegadaian berjanji memberikan informasi minggu depan soal kepastian kami akan bisa memakai gedung itu atau tidak untuk tanggal 4 September.

Alhamdulillah ternyata kami memang berjodoh dengan Gedung Pegadaian. Setelah menunggu satu minggu, pihak Pegadaian memberikan informasi kalau tanggal 4 September siang, gedung itu tersedia. Gedung yang sama yang dipakai oleh adik saya, Venny, untuk menikah lima tahun yang lalu. Entah kenapa, kayaknya keluarga kami emang jodoh sama Gedung Pegadaian. Wkwkwkwk. Alhamdulillah, Allah juga mempermudah pencarian gedung ini, padahal waktu persiapannya agak mepet. Heuheu.

Setelah gedung dapet, saatnya mencari catering. Oleh Pegadaian, kami diberikan setumpuk brosur catering yang menjadi rekanannya. Ada beberapa catering yang menjadi pilihan saya, yaitu Paramita Catering, Permata Catering, Sawargi, Tidar dan H Tinah Catering. Pilihan ini dilakukan berdasar review dari internet dan harga.

Lagi-lagi untuk pencarian catering ini saya dibantu sama ortu. Mereka mendatangi Sawargi, Chikal Catering dan Permata Catering untuk menanyakan paket catering. Sawargi tampaknya oke tapi harganya nggak masuk budget. Sementara, Permata Catering masih libur lebaran jadi kami nggak bisa dapat informasi memadai. Untuk Chikal, ternyata dia fully booked untuk tanggal 4 September.

Di waktu yang sama, saya dan calon suami sempat mendatangi Tidar di Tebet. Namun, ternyata harganya diatas budget. Selain itu, saya juga sempat meminta daftar harga di Paramita Catering melalui email. Tapi, lagi-lagi nggak cocok sama harganya. Wkwkwk. Padahal udah diundang untuk test food. Tapi, karena toh saya merasa nggak akan memakai jasanya, saya nggak dateng ke acara test foodnya.

Akhirnya pencarian catering ini jatuh ke H Tinah Catering. Ortu juga memilihnya karena catering ini pernah dipakai di pernikahan sepupu beberapa tahun lalu. Jadi paling nggak sudah tahu bagaimana pelayanannya dan rasa makanannya. Sembari nyari catering, kami juga mendatangi dua rekanan sanggar H Tinah Catering. Akhirnya pilihan jatuh ke Ine Andriane. Nah, review mengenai H Tinah Catering dan sanggar yang menjadi rekanannya akan dibahas terpisah ya...
Undangan nikah pilihan kami.
Undangan soft cover di atas untuk di rumah dan yang dibawah untuk di gedung.

Undangan nikah di gedung dengan nuansa pink

Lanjut lagi, bersamaan dengan pencarian catering, saya dan calon suami juga mencari percetakan undangan pernikahan dan suvenir. Untuk undangan pernikahan, awalnya saya iseng-iseng nyari di Instagram. Liat banyak yang lucu, tapi lokasinya jauh. Rata-rata di Yogya atau Malang. Pas saya sodorin ke calon, dia langsung nolak, hahaha. Akhirnya kami pun menyambangi Pasar Tebet, yang udah terkenal banget sebagai tempat untuk mencari undangan pernikahan. Nggak keliling-keliling jauh, kami langsung saja main tembak ngedatengin Zaky Card. Iseng untuk lihat-lihat aja desain undangannya, dan ternyata nemu yang sesuai dan bisa dimodifikasi. Harga undangannya Rp 5500 untuk undangan hard cover dan Rp 2500 untuk yang soft cover.

Nah, untuk suvenir, kami memburunya Cipinang. Tepatnya di Alfriandra Suvenir yang berlokasi di belakang LP Cipinang. Disana ada banyak pilihan suvenir, mulai dari gantungan kunci, taplak, tempat tisu, tas kecil, sendok nasi, gunting kuku, gelas, sendok garpu, piring, mangkok, kipas, dan masih banyaaaakkk lagi. Setelah berpusing-pusing ria, akhirnya pilihan kami jatuh ke gelas dan taplak untuk resepsi di gedung dan sumpit untuk acara di rumah.

Pilihan suvenir untuk di gedung.

Lokasi Alfrianda di Google Maps.

Nah, untuk gelas dan taplak ini ternyata membutuhkan waktu yang agak lama untuk bisa diambil karena kami memesan dengan wadah karton. Gelasnya juga custom dengan gambar dan tanggal pernikahan. Untuk gelas dan taplak ini baru akan jadi dalam 1,5 bulan. Hwaduh...mepet beneeer deh. Agak dag dig dug, tapi akhirnya jadi dipesen juga. Harga gelas dan taplak ini Rp 5500 per buah, sudah komplit dengan wadahnya. Sementara, suvenir sumpit harganya Rp 1.200. Untuk sumpit dibayar lunas, tapi untuk gelas dan taplak bisa DP dulu, sisanya dibayar saat barang diambil.

Ternyata pas sampai rumah, sumpit yang saya bawa untuk suvenir resepsi di rumah membuat kedua ortu saya mengernyitkan dahi. Katanya nggak cocok suvenir sumpit buat acara yang di rumah. Yasudah saya serahkan penggantian suvenir sumpit ke mereka. Ortu akhirnya balik ke Alfriandra untuk mengganti suvenir dengan harga yang sama. Pulang ke rumah, suvenir sumpit udah berganti dengan gunting kuku. Wkwkwk.

Setelah urusan suvenir, gedung, catering dan undangan kelar, saatnya mencari cincin nikah dan hantaran pernikahan yang belum sempat kebeli. Bukan berarti cincin nikah ini ngga penting makanya baru dicari belakangan, tapi karena kami memang nggak membuat cincin yang customized yang pasti butuh waktu lama untuk membuatnya. Untuk cincin nikah ini cukup nyari di toko emas di Pasar Perumnas yang dekat dengan rumah. Simpel.

Selanjutnya ngurus surat nikah dan nyari penghulu. Karena akad nikah akan dilangsungkan di Gedung Pegadaian, makanya kami harus membuat surat pindah nikah ke KUA Senen. Untuk surat ini saya dibantu bokap yang mengurus surat ke kelurahan dan KUA Pondok Bambu dan calon suami yang bolak balik ke KUA Senen. Alhamdulillah urusan perpindahan akad nikah berjalan lancar. Akhirnya dapet penghulu untuk akad jam 9 pagi, meski tadinya direncanakan akad jam 8 pagi. It doesn't matter anyway, nyang penting dapet penghulu. Hehehe. Kalo ngga ada penghulu kan berabe, siapa yang mau nyatet pernikahannya coba, kalau ngga ada penghulu. Heuheu...

Alhamdulillah masa mencari penghulu, vendor dan pendukung acara resepsi dan akad pernikahan ini ternyata hanya memakan waktu selama satu bulan. Satu bulan berikutnya saya tinggal ngecek-ngecekin aja apakah semuanya sudah sesuai dan mengganti menu catering kalau merasa ada yang nggak cocok. Saya nyante banget lah di 1 bulan terakhir itu, hahaha.

Alhamdulillah juga undangan malah sudah selesai hanya dalam waktu tiga minggu. Padahal, tadinya undangan diperkirakan baru jadi dalam waktu satu bulan. Ternyata pencetakan undangan dilakukan berdasar prioritas tanggal pernikahan. Karena pernikahan kami akan dilaksanakan dalam dua bulan, makanya undangannya lebih diprioritaskan dibanding calon pengantin lainnya yang pernikahannya masih tiga bulan. Hehehehe.

And that's it! Alhamdulillah nggak ada kendala besar saat menyiapkan pernikahan hanya dalam waktu dua bulan ajaTernyata apa yang tadinya saya bayangkan akan ribet dan riweuh mempersiapkan pernikahan, Allah telah mempermudahnya. Alhamdulillah. Semuanya berjalan lancar sampai hari H. Alhamdulillah.

Nah, buat kamu yang mengalami hal yang sama seperti saya, ternyata meski mepet, mempersiapkan pernikahan dalam waktu hanya dua bulan saja bisa banget loh. Tentunya kamu perlu membuat daftar prioritas hal-hal apa saja yang perlu didulukan. Berdasar pengalaman saya, dahulukan mencari gedung dan catering. Bersamaan dengan itu, kemudian browsing suvenir dan mencari percetakan undangan pernikahan.

Berikut saya kasih tips singkat untuk mempersiapkan pernikahan versi pengalaman saya:
1. Susun prioritas hal-hal yang harus dilakukan berdasar urgensi dan waktunya. Urusan gedung dan catering pasti harus didulukan karena berkaitan dengan lokasi pernikahan. Selanjutnya di waktu yang sama, cari juga tempat percetakan undangan pernikahan dan suvenir. Ini penting karena mereka butuh waktu agak lama untuk menyelesaikan pesanan.

2. Saat sedang mencari vendor pernikahan, suvenir dan undangan, pastikan sesuai dengan budget. Jangan terlalu memaksakan diri karena dalam pernikahan itu yang paling penting adalah terjadinya akad nikah :D

3. Saat mencari suvenir dan percetakan undangan pernikahan, pastikan mereka bisa memenuhi pesanan kita sesuai tenggat waktu. Kalau nggak bisa, cari yang lain.

4. Usahakan ajak serta calon kamu saat mencari segala kebutuhan untuk pernikahan. Jangan ragu untuk meminta pendapatnya.

5. Jangan sungkan untuk meminta bantuan dari keluarga, jika waktu kamu terbatas.