Showing posts with label entertainment. Show all posts
Showing posts with label entertainment. Show all posts

Friday, 21 August 2015

Europe On Screen 2015: A Review

Review ini udah late post banget sebenernya. Tapi, ya sudahlah ya... Sebenarnya saya agak ketinggalan ngikutin Europe On Screen 2015 ini. Baru keinget untuk nonton di pekan kedua, which means it was the final week *sigh*. Tapi nggak masalah deh ya, yang penting masih bisa sempet nonton. Walaupun hanya menonton di minggu terakhir pemutaran film, saya berhasil nonton delapan film. Lumayan, kaaann...hehehe.


Day 1
12.00 WIB - Ploddy The Police Car On The Case
Venue: Institut Francais Thamrin
Best Children Film, Amanda Awards (Norway's Academy Award) 2013

Film ini mengisahkan sebuah mobil polisi lincah bernama Ploddy yang bertugas menjaga burung elang simbol kebanggaan Eagle Park. Insiden terjadi ketika induk elang ditangkap oleh seorang pencuri hewan langka. Ploddy pun mengurus anak sang elang yang tertinggal. Dari sisi ceritanya film ini sederhana, namun warna yang digunakan cerah sehingga membuat anak-anak yang menonton betah.

14.30 WIB - On The Way to School
Venue : London School of Public Relations
Best Documentary, Cesar Awards 2014

Empat orang anak yang tinggal di negara berbeda menempuh jalan yang tak mudah demi menuntut ilmu menuju sekolahnya. Bayangkan saja Zahira yang berasal dari Maroko membutuhkan waktu 4 jam untuk berjalan kaki dari rumah menuju sekolahnya. Melintasi Pegunungan Atlas yang medannya lumayan menantang untuk dilalui. Sementara di Argentina, Carlito harus menunggang kuda bersama adiknya dari rumahnya yang terpencil. Rintangan berbeda dihadapi Jackson di Kenya yang tak hanya harus menempuh waktu 2 jam berjalan kaki ke rumahnya, tapi juga harus selalu waspada terhadap kawanan gajah hingga singa karena harus melewati savana setiap hari di rutenya menuju sekolah. Perjuangan untuk menuju sekolah juga digambarkan melalui kisah Samuel dan dua saudaranya yang berasal dari India. Yang bikin salut adalah kukuhnya semangat Samuel yang disabilitas untuk pergi ke sekolah dengan kursi roda, yang didorong oleh dua saudaranya yang hebat. Saya kagum akan perjalanan setiap anak-anak itu. Lewat film ini akan terlihat perjuangan anak-anak untuk bisa pergi ke sekolah demi mengubah masa depannya menjadi lebih baik. Ada angan dan harapan yang terselip di sana. Saya pun jadi teringat kondisi mereka tak berbeda jauh dengan anak-anak yang tinggal di pelosok Indonesia.


17.00 WIB - European Short Animation Films by Haff
Venue : Erasmus Huis
Film pendek animasi yang ditayangkan ini disusun oleh The Holland Animation Film Festival (HAFF), sebuah festival film animasi internasional yang digelar setiap musim semi di Belanda. Jadi karya-karya sejumlah sineas dunia ini telah melalui screening panitia HAFF. Dari sekian banyak film pendek animasi yang ditayangkan, saya suka dengan karya Job, Joris dan Marieke yang ditayangkan saat awal (A Single Life) dan akhir seri film (Bon Voyage!). Ceritanya simpel, dan mudah dipahami. Oh ya, di akhir film ini ada juga salah satu kurator animasi yang hadir untuk menjelaskan proses penyeleksian film.

19.30 WIB - 100 Year-Old Man Who Climbed A Window and Disappeared
Venue : Erasmus Huis
Audience Award Guldbagge International Film Festival 2014, Audience Award Chicago International Film Festival 2014, Audience Choice Award Durban International Film Festival 2014


Judulnya yang menarik membuat saya penasaran menonton film ini. Ternyata film ini merupakan hasil adaptasi dari novel karya penulis Swedia, Jonas Jonasson dari judul yang sama. Menonton film ini pasti akan membuat Anda terbahak-bahak. Saat melihat film ini mungkin Anda akan berpikir kalau pemeran utama sangat beruntung bisa melalui segala peristiwa yang terjadi tanpa terluka sedikit pun. Keberuntungan yang membuat penonton geleng kepala. Dan, memang ternyata itulah ciri khas dari Jonasson. Dalam novel lain karyanya yang berjudul A Girl Who Saved King of Sweden pun ceritanya punya nuansa slenge’an keberuntungan yang sama. Jadi, hilang kemana si kakek berusia 100 tahun itu? Petualangan menarik apa saja yang dialaminya? Nonton aja film ini. Seru!


Day 2
12.00 WIB - Moon Man
Venue : Institut Francais Thamrin
Special Mention Reykjavik International Film Festival 2011
Alkisah ada seorang Manusia Bulan yang merasa bosan dengan kehidupannya di atas sana dan selalu penasaran mengenai kehidupan di bumi. Saat ada komet menuju bumi, ia pun menggantungkan tangannya di ekor komet agar bisa sampai ke daratan bumi. Saat itulah ia memulai petualangannya di bumi. Di sini ia pun bertemu dengan sejumlah anak-anak yang ternyata merindukan kehadirannya di bulan. Kendati pada awalnya Der Mondmann menyenangi masanya di bumi, ia merasa kesepian dan ingin kembali ke bulan, apalagi ternyata anak-anak merindukan kehadirannya di bulan yang setiap malam selalu menemani mereka saat tidur dan memandang ke seluruh anak-anak di bumi. Di waktu bersamaan sang Presiden yang ambisius dan serakah memiliki keinginan untuk menaklukkan bulan dan menguasainya. Untuk mewujudkan hal tersebut, Presiden meminta bantuan ilmuwan Bunsen van der Dunkel untuk membuat sebuah roket ke bulan. Der Mondmann pun melihat kesempatan itu sebagai pintu keluarnya untuk kembali ke bulan. Berhasilkah ia?

14.30 WIB - Citizenfour
Venue : Erasmus Huis
Best Documentary Academy Awards 2015, Best Documentary BAFTA 2015
Kisah Edward Snowden yang dituduh sebagai pengkhianat oleh pemerintah USA karena membocorkan rahasia negara ini dikemas dalam bentuk film dokumenter. Film ini dimulai ketika sang sutradara, Laura Poitras menerima email misterius dari CITIZENFOUR, yang mengaku memiliki bukti tentang program pengawasan ilegal oleh agen keamanan nasional Amerika (NSA) dengan agen intelejensi dunia lainnya. Bertemulah kemudian mereka di Hong Kong. Dari sebuah kamar hotel di Hong Kong itulah, Snowden mengungkap kebobrokan pengawasan ilegal oleh NSA. Wawancaranya berlangsung selama beberapa hari. Ada pula bagian film yang memotret wawancara Snowden dengan sebuah media Inggris. Di film dokumenter inilah penonton dapat mengetahui bagaimana proses dibalik layar dari segala keputusan Snowden, mulai dari bagaimana ia sangat berhati-hati mengenai identitasnya, hingga membuka diri mengenai dirinya.


17.00 WIB - Shores of Hope
Venue : Erasmus Huis
Best Cinematography Nominee German Film Critics Association Awards 2013
Best Leading Actor Nominee German Screen Actors Awards 2013
Film berlatar belakang era 80-an ini mengisahkan dua pria yang bekerja di perusahaan perkapalan di Jerman Timur dan berusaha untuk menjadi anak buah kapal agar dapat melihat dunia di balik Tembok Berlin. Perjalanan yang dipenuhi dengan drama ini sarat dengan intrik dan membuat penasaran ending dari filmnya. Tak hanya mengenai persahabatan Andi dan Cornelis, tapi juga soal kelanjutan kisah cinta Cornelis dengan seorang wanita Vietnam yang berupaya untuk menyebrang ke Jerman Barat demi kehidupan yang lebih baik.


19.30 WIB - Life’s A Breeze
Venue : Erasmus Huis
Outstanding Foreign Film Newport Beach Film Festival 2014
Film yang dikategorikan sebagai drama komedi ini didapuk sebagai film penutup Europe on Screen 2015 di Erasmus Huis. Tapi jujur saja filmnya kurang greget dibanding 100 Years-Old-Man Who Climbed A Window and Disappeared. Penutupan EOS tahun ini pun, menurut saya, jadi terasa agak hambar. Life’s A Breeze bercerita soal seorang nenek yang dipanggil Nan, yang menyimpan sejumlah besar uang di dalam kasurnya, namun kasur tersebut dibuang oleh anaknya yang merenovasi seluruh rumah Nan. Awalnya tak ada yang percaya cerita sang nenek dan menganggapnya hanya bercanda. Namun Nan yang selalu menunjukkan mimik serius saat bercerita akhirnya membuat anak-anaknya percaya.

Penelusuran keberadaan kasur itu pun dimulai. Awalnya hanya anggota keluarga itu saja yang tahu. Sampai salah satu diantara mereka keceplosan berbicara di radio. Tak ayal kemudian banyak orang yang ikut mencari kasur tersebut. Di sini dapat dilihat berbagai motif orang-orang yang membantu mencari kasur. Ada yang egois dan ingin mengambil seluruh uangnya jika menemukannya, ada pula yang ingin mengembalikan seluruh uang si nenek. Anak-anak Nan pun turut berubah sikapnya saat mengetahui simpanan yang dimiliki ibunya. Lalu apakah Nan akhirnya berhasil menemukan uang hasil simpanannya selama bertahun-tahun? Nonton saja filmnya. Masa saya ngasih spoiler endingnya :p. Yang jelas di sini saya kasian aja sama Nan yang seolah baru dapat perhatian penuh dari anaknya gara-gara ia punya uang berjumlah besar, padahal sebelumnya tak terlalu diacuhkan.

Tuesday, 5 May 2015

Having a Blast With One Direction!

Usai nonton konser Bruno Mars tahun lalu, adik saya, Venny, tetiba langsung nyeletuk, "Nanti kalau One Direction mau konser di Indonesia, gw mau nonton, ah...". Respon saya saat itu cuma, "Oooh...". Bukannya saya antipati sama One Direction. Saya suka kok sama lagu-lagunya (yang hits aja :p). Saya suka juga sama pembagian vokal mereka yang merata, terlepas dari tampang mereka yang tentunya unyu dan oke, ya... Namanya juga boyband :D. Tapi, kalau untuk nonton konsernya? Saya ngga sampai sebegitunya sih sampe pengen banget nonton konser mereka. Kenapa?

Pertama, One Direction itu boyband masa kini, yang pasti sebagian besar fansnya adalah remaja. Kalau nonton konsernya, saya ngerasa akan aneh karena hello....saya udah bukan remaja lagi kali. It would be very awkward. Saya ngerasa mungkin ga akan nyaman aja berada diantara segerombolan remaja. Kedua, saya suka sih sama lagu-lagunya, tapi itu hanya sebatas menikmati saja. I really don't have an emotional connection with 1D. Not like with the Backstreet Boys, of course :p.

Jadi ketika saya tau kalau 1D mau konser di Jakarta, saya langsung ngasih tau Venny. Dia masih excited sih pengen nonton, tapi teteup ngajakin saya buat ikutan nonton. Saya masih ogah-ogahan, galau. Kebetulan di sisi lain kita punya sepupu yang masih SMP, yang ngefans sama 1D, namanya Nanda. Jadi saya mikirnya mah, ya udahlah ya Venny nonton aja sama Nanda. Tapi, Venny langsung ngomong "Yaah...ga enak ah kalo nonton konser cuma berdua. Udah ikut aja yuk!".

Saya jadi galau. Di saat yang sama, tante saya (ibunya Nanda) udah nanyain jadi ngga saya dan Venny nonton 1D. Soalnya ada ketentuan remaja usia di bawah 15 tahun nonton konsernya harus didampingi orang dewasa. Kalau dilihat dari ketentuan itu, Venny pun udah cukup memenuhi kriteria mendampingi Nanda. Tetep aja Venny ngebujuk supaya saya ikutan nonton. Akhirnya...saya pun memutuskan untuk nonton konser 1D. Venny has become my 'partner in crime' on watching some concerts back then, so this time, why not?

Ticket and Wristband
Lagipula tante saya juga udah nanyain terus dan bilang kalau Om saya ga akan ngijinin Nanda buat nonton kalau saya sama Venny ga nonton konsernya. Diceritain juga kalau Nanda sempet ngambek gegara itu. Saat itu saya jadi teringat diri saya sendiri dan Venny ketika masih remaja dan tergila-gila sama boybands. Betapa di masa itu kita merengek agar diijinin nonton sama bokap dan rela nyisihin uang jajan demi beli tiket konser. The time when you would do anything when it comes to boyband, hahaha. Lebay emang. Tapi itulah dunia remaja. Konyol tapi seru. So, I really know how it felt to be in Nanda's shoes. I've been there. So, in the name of having fun with my sister and my cousin, I decided to go to On The Road Again One Direction concert!

Rasa risih saya karena merasa udah ngga pantes nonton konser bareng ABG pupus sudah. Ah, saya juga masih ABG kok. ABG coret :D. Lagian kan ada persyaratan anak usia di bawah 15 tahun harus didampingi orang dewasa, jadi pastilah banyak anak ABG yang ditemenin orang tua atau sepupunya yang dewasa. Jadilah booking tiket di Tribune 1 seharga Rp 750 ribu. Nanda juga setuju untuk milih seat di sana (she doesn't have any other options, of course, since she has to stick with us). Tante saya juga udah bilang terserah saya dan Venny mau milih duduk dimana. Saya emang ga mau nonton di Festival, selain karena harga tiketnya yang sampe Rp 1,4 juta, saya juga ga mau lagi berdesak-desakan nonton konser. Gile aje kalau sampe nekat nonton di kelas Festival, saingan sama anak-anak umur belasan tahun yang energinya masih to the max. Saya nyerah duluan, kapten!

Anyway, setelah masa penantian selama 9 bulan (beli tiket Juni 2014, konsernya Maret 2015), akhirnya konser yang ditunggu datang juga. Walau personil 1D yang dateng ga komplit, the show still goes on. Seminggu sebelum hari H sudah ada pemberitahuan jangka waktu penukaran e-voucher dengan wristband sebagai pass untuk masuk ke venue. Hari pertama penukaran e-voucher, antriannya nauzubillah panjangnya. Saya pun mengurungkan diri untuk menukar voucher hari itu. Saya ngga sampe segitunya kali, rela antri berjam-jam cuma buat nukerin voucher doang. Salut buat Directioners (julukan fans 1D) yang antri di hari pertama. Akhirnya saya pun baru nukerin voucher di hari H konser, 25 Maret 2015. Ga ada antrian, lancar, hanya disambut dengan muka bete petugas tiketnya, hehehe. Iya sih saya ngerti pasti mbak petugasnya udah kecapean, makanya ngga ramah.

Saya, Venny dan Nanda akhirnya masuk ke venue GBK sekitar jam 17.00. Hujan mengguyur Jakarta sore itu. Sempat pesimis apa konsernya akan tetap jalan, secara hujan masih turun dengan intens. Saya kasihan juga sih ngeliat penonton di kelas Festival. Keujanan. Walau mereka pake jas ujan, saya rasa tetap aja air akan tetep ngerembes ke dalem. Saya merasa telah memilih keputusan tepat dengan memilih kelas Tribune saat itu.
View from the tribune
Untungnya masa menunggu konser dimulai itu ngga garing-garing amat. Panitia muterin beberapa video klip di dua layar besar yang mengapit panggung. Dari sekian video klip yang ditayangin, saya cuma kenal Olly Murs doang, hehehe. Sisanya saya ga kenal. Kalau menurut Nanda sih, artis yang diputerin video klipnya itu ada girlband yang salah satu personilnya adalah tunangannya Zayn Malik (anggota 1D yang batal dateng ke Indonesia dan akhirnya keluar dari 1D), tapi saya lupa nama grup girlbandnya. Dan, ada satu grup band namanya Five Seconds of Summer (yang katanya kalau ngefans sama 1D, pasti juga ngefans sama mereka). Saya sih cuma manggut-manggut aja, hahaha.

Sekitar jam 19.00 opening act-nya pun muncul. DJ yang saya ga tau namanya. Lumayan menghibur selama satu jam. Hujan saat itu masih turun walau hanya gerimis. Saya sempet pesimis apakah hujan akan benar-benar berhenti. Alhamdulillah ga lama setelah itu, hujan berhenti. Gila, pas banget timing-nya. Anyway, ternyata setelah opening act, 1D ga langsung muncul. Nunggu lagi sekitar 45 menit. Daaannn....ketika lampu stadion dimatikan, puluhan spotlight warna-warni di atas panggung mulai bergerak ke sana kemari, saat itulah stadion GBK gegap gempita.

AAAAAAHHHHHHH!!!!!! Puluhan ribu ABG jejeritan serempak. Telinga saya pengang. Saya nyaris ngga inget kapan terakhir kali saya nonton konser dengan tereakan sebegitu kencangnya. Sepertinya pas nonton Blue, dan itu udah 10 tahun yang lalu sodara-sodara! Do not EVER underestimate the screaming level of the teenagers when they finally can see their idols in front of their eyes. Hysterical!

Empat personil 1D langsung menggebrak dengan lagu yang upbeat. Please, don't ask me the title of the song :p. Ribuan penonton langsung jejingkrakan, lightstick diayun-ayun ke sana kemari. Heboh! Saya sih seneng-seneng aja ngeliatnya, walau saya ngga tau sebagian besar lagu yang dinyanyiin, hahaha. Berulang kali saya nanya ke Nanda, "Ini judul lagunya apa?". Bayangin aja, setelah sekitar 5-7 lagu dinyanyiin 1D, saya baru ngenalin satu lagu aja yang judulnya 'Kiss You'. Itu pun saya baru tau lagunya pas dua hari sebelum konser kebetulan liat video klipnya di Net *tepokjidat*. Setelah itu, saya memutuskan untuk menikmati konser sambil duduk. Dan, baru berdiri lagi kalo 1D ngebawain lagu yang saya kenal, kayak What Makes You Beautiful, Night Changes, Story of My Life dan Best Song Ever. Yup, dari sekitar 20 lagu yang dibawain 1D malam itu, saya cuma ngenalin lima lagu aja :D.
Directioner di Tribune 2 membuat kolase 'Thank You' di lagu Don't Forget Where You Belong

Ngomongin konser 1D, saya ngga nyangka kalau saya akan tetap menikmati jalannya konser sampai selesai meski ngga kenal sebagian besar lagu yang dinyanyiin. Well, what's the point of going to a concert if you're not having fun, right? I intend to have a blast that night, and I did. Saya juga mengacungkan jempol buat para personil 1D yang penampilannya tetap oke walau ditinggal Zayn dan udah konser di beberapa negara sebelumnya. Anehnya, saya malah lebih senang ketika salah satu dari empat personil 1D menyapa penonton, dibanding ketika mereka menyanyikan lagu, hahaha.

Di antara empat personil 1D, saya cenderung suka sama yang namanya Liam Payne. Kebetulan dialah yang menyapa pertama kali. Wuih, saya jadi keinget gimana dulu Shane dan Nicky dari Westlife, Duncan dan Lee-nya Blue menyapa. Logat British kental yang membuat saya selalu tersenyum. Tapi kok sepertinya yang paling jadi idola Directioners Indonesia itu si Harry Styles ya... Soalnya pas dia nyanyi, tereakan Directioners itu lebih heboh dibanding ke personil lainnya, hehehe.

Kalau saya sih tetap setia dengan Liam yang ternyata jahil juga. Beberapa kali dia ngusilin Niall yang main gitar. Directioners menggila waktu Niall lagi nyanyi, duduk di tangga dan main gitar, terus Liam nyolek-nyolek pipinya Niall. Hahaha. Tipikal hebohnya ABG kalo ada yang nyolek personil boyband favoritnya. Saya ngeliatnya cuma geleng-geleng kepala. That kind of reaction, that could be me 15 years ago. Beberapa kali Liam juga ngajakin fansnya buat ikutan nyanyi lebih keras. Saya ngomong ke Nanda, "Tuh, disuruh nyanyi lebih keras lagi". Nanda ngejawab, "Suaraku udah abis, mba..." Hahaha.
Untunglah ada 2 screen besar di kanan-kiri panggung :p
Well, anyway berbeda dengan boyband dulu yang dikenal jago nge-dance, personil 1D ini ngga ada satu pun yang bisa dance. Jadilah mereka itu hanya bolak-balik menyisir panggung. Yah, walau begitu tetaplah Directioners jejeritan. Itu tetap ngga mengurangi karisma mereka di mata para Directioners. Beberapa kali personil 1D juga bilang kalau Directioners Indonesia is the most amazing and the loudest crowd. Wuiihh...semuanya heboh. Meski saya cukup yakin sih mereka pasti ngomong begitu di setiap konser, hahaha.

Konser pun berlangsung hampir selama 2 jam non stop. Personil 1D mungkin hanya ganti baju sekitar 1-2 menit di pertengahan konser, terus balik lagi ke panggung. Itu pun saat mereka ganti baju, ada salah satu personil yang terus ngobrol ke salah satu kru panggung. So, it felt like they've never left the stage. Menjelang akhir konser, sempet ada jeda sesaat yang ngebuat Directioners tereak "We Want More! We Want More!". Udah taulah yaa...itu kan kebiasaan sebelum konser bener-bener selesai. Ngga berapa lama, lagu terakhir menggebrak: Best Song Ever! I knew it. Saya udah mengira memang lagu itu akan jadi lagu terakhir. Secara itu adalah lagu terakhir langsung deh pada jejingkrakan. Usai nonton konser On The Road Again One Direction itu, kami pun ngerasa puas. They've done a great job.
This is how it begin...

Night Changes


And it ends with...FIREWORK!!!

Extra Note:

*Dulu dan Sekarang*
- Dulu saat ada artis yang sangat disukai biasanya para fans akan rela mencari mereka hingga ke hotel-hotel dan bandara, dan anehnya pasti selalu saja ada bocoran dimana mereka menginap atau landing. Saya masih ingat dulu pernah ada yang cerita mereka sempat ketemu di hotel dengan personil Backstreet Boys waktu konser pertama kali di Indonesia di tahun 97, kalo ga salah. Dengan mudahnya mereka bisa foto dengan salah satu personil BSB. Namun, sekarang sama sekali tertutup. Saya sempet nanya ke Nanda, "Tau ga di hotel mana 1D nginep?". Nanda menggelengkan kepalanya, "Ngga ada yang tau, mba. Ditutupin banget sama panitianya". Pun, saat 1D landing di Indonesia, ngga ada yang tau di bandara mana mereka menginjakkan kaki untuk pertama kalinya di sini. Nanda cerita kalau sejumlah fans 1D udah ada yang nunggu di Halim dan Soeta, tapi ga ada satu pun yang sukses. Mungkin 1D dan krunya mendarat di hatiku, di antah berantah entah dimana.
Nah, soal hotel tempat 1D menginap saya baru tau beberapa hari kemudian. Nanda tetiba ngomong "Mba, ternyata hotelnya 1D ada di deket Bunderan HI. Niall sempet upload foto waktu sebelum konser. Itu hotel mana ya?". Saya mengernyitkan dahi. Hotel di sekitar Bunderan HI mah ada banyak ya, ada Grand Hyatt, Kempinski, Pullman sama Mandarin Oriental. Tergantung dari sudut mana si Niall ngambil fotonya. Pas ditunjukin fotonya, saya langsung menduga 1D nginep di Mandarin Oriental. Jiaaahhhh, tau gitu.... *emang mau ngapain?* :p

- Konser yang saya sambangi pertama kali adalah konser Westlife waktu kelas 1 SMA. Nonton cuma berdua sama Venny yang masih kelas 2 SMP. Jejingkrakan berdua, ga ada orang tua. Bebas. Beda dengan sekarang yang ada persyaratan anak usia di bawah 15 tahun harus didampingin sama orang dewasa. Maka, saat nonton 1D kemarin, ada banyak orang dewasa yang berseliweran, ngga cuma yang seumuran saya, tapi ada juga yang sudah paruh baya, bahkan kakek-kakek. Yang nonton pun emang ngga semuanya berusia remaja, bahkan ada yang masih anak usia sekitar 6-7 tahun. Ngga heran sih ya, makanya diminta ada orang dewasa untuk mendampingi. Dulu saya ngga pernah liat ada anak usia kelas 1 SD yang nonton konser Westlife atau Blue, semuanya usia remaja. Apa itu karena dulu masih mudah menemui lagu anak-anak, jadi ga ada bocah yang nonton konser buat ABG? Atau, apa karena sekarang semakin canggihnya teknologi membuat anak-anak pun jadi tahu lagu-lagu ABG? Dan, menganggap kalau bocah tau lagu ABG yang rata-rata seputar percintaan, itu artinya anak gaul? Entahlah.
Yang menarik dari melihat perpaduan yang muda dan tua ini adalah ketika di sebelah saya ada dua orang cewek, kelihatannya kakak beradik. Kakaknya kira-kira berusia 20-25 tahun, adeknya ABG. Sepanjang konser saya ngeliat sang adik nyanyi jejingkrakan sambil berdiri, girang banget deh pokoknya. Sementara, sang kakak di awalnya aja ikutan nyanyi, terus mulai duduk di pertengahan konser, sama seperti saya. Namun, yang ngebuat saya takjub adalah sang kakak itu KETIDURAN doooonnggg.... Saya ngeliatnya antara takjub sama bingung. Kok bisa-bisanya di tengah konser yang level suaranya begitu memekakkan telinga, dia tertidur. Awalnya pas saya nengok ke samping, saya ga percaya, tapi pas ngeliat badan sang kakak semakin membungkuk dan kepalanya terangguk-angguk, saya baru nyadar, "Oalaaahh...beneran tidur toh! OMG!". Saya pun jadi menduga-duga, apakah sang kakak ini ikut menemani adeknya mengantri sejak siang atau bagaimana? Karena menurut saya, seseorang bisa sampai tertidur seperti itu di tengah konser mungkin karena ia lelah. Atau, bosan? Ngga ngerti juga sih. Tapi yang jelas, ketika personil 1D nyanyiin lagu-lagu yang saya tahu, sang kakak yang duduk di samping saya itu tetiba juga ikut berdiri dan bernyanyi. Ketauan banget ya kalo kita hampir seumuran, hahaha.

- Nonton konser sekarang kok ga dapet produk sponsor konser ya??? Hahaha, ini hal yang ngga penting banget emang. Saya inget ketika nonton Westlife, saya dapet Tropicool sama Fruit Tea yang turut mensponsori konser Westlife. Jadi sambil nunggu gerbang dibuka bisa ngemil-ngemil gratis. Saat konser Blue, ngga dapet cemilan gratis sih, tapi panitia ngasih sepasang stik panjang untuk memeriahkan konser (itu loh stik panjang yang biasa dipake buat ngedukung tim bulutangkis). Lah, pas konser One Direction ini ga ada apapun dari sponsor, padahal tuh ya iklan beberapa produk berulang kali diputer di layar. Yah, jaman udah berubah mamih.
Nanda and Venny

Friday, 26 December 2014

Doraemon Stand By Me: A Review




Akhirnya sempet juga nonton Doraemon Stand By Me setelah dua minggu pemutaran perdananya di Indonesia. Film ini udah menjadi salah satu satu daftar tontonan wajib saya di bulan ini setelah adik saya, Venny ngasih tahu info soal film Doraemon dan teman saya, Nissa langsung mengonfirmasinya.  Why do I have to watch this? Because it’s DORAEMON!


Buat yang lahir di tahun 80-an dan tumbuh besar di era 90-an pastilah mengenal Doraemon. Diputar pertama kali oleh RCTI setiap hari Minggu pukul 08.00, Doraemon adalah tontonan wajib anak-anak di zaman itu. Satu-satunya serial Jepang yang saya sukai sebelum hadirnya Doraemon adalah Oshin di TVRI. Nah, ketika ada Doraemon, si robot kucing inilah yang menduduki peringkat teratas di hati saya. How couldn’t I? He has soooo many cool gadgets in his pocket! Dua gadget favorit saya adalah Baling-baling Bambu dan Pintu Kemana Saja. Oh, how traveling would be so simple with those two gadgets, hahaha. Waktu kecil bapak saya pun hampir selalu membelikan komik Doraemon setiap pergi ke toko buku. Saya sampai merengek minta dibelikan jam flip berbentuk Doraemon. Pensil, pulpen dan penghapus saya juga bergambar Doraemon. I really looovvveeee Doraemon!


Beranjak dewasa saya memang sudah tidak pernah lagi menonton serial Doraemon di televisi. Namun, saya masih suka Doraemon dalam tingkatan berbeda dari masa kecil saya dulu. Makanya, ketika ada Doraemon Stand By Me diputar di bioskop, saya harus menontonnya. Ada ikatan emosional di sana. Walau sampai harus ikut antrian mengular di Blitz Megaplex Bekasi, tetap tidak menyurutkan semangat saya. 

Doraemon Stand By Me mengisahkan awal mula pertemuan Doraemon dan Nobita, hingga sempat berpisah dan bersatu lagi. Kisah kehidupan Nobita mulai dari kecil hingga nanti saat dewasa dipadatkan di sini, tentu saja dengan menggunakan Mesin Waktu. Yang saya suka di sini gambar karakter di Doraemon begitu hidup karena dalam bentuk 3D. Ekspresi yang biasanya hanya ada di komik Jepang tergambarkan dengan jelas di sini, seperti ketika Nobita kaget dengan mulut menganga selebar-lebarnya, atau langsung terjatuh kaku ketika melihat Shizuka sedang bersama Dekisugi, sampai ke ekspresi muka yang malu-malu dengan pipi memerah. Saking lamanya saya ga nonton kartun Jepang dan terpapar kartun Barat, saya sampai lupa begitu ekspresifnya kartun Jepang hingga membuat saya berdecak kagum.

Eniwei, tidak hanya bentuk gambarnya yang keren, saya suka pesan yang dapat diambil dari film ini. Seperti yang sudah diketahui semua orang, Nobita yang pemalas dan dinilai sebagai siswa yang bodoh, juga sering kali dibully oleh Giant dan Suneo. Sering kali dia sangat bergantung pada gadget canggih Doraemon. Namun dibalik itu semua, Nobita adalah seorang anak yang baik, tulus, dan peduli pada orang di sekitarnya. 

Film ini memang pemadatan kisah mulai dari awal pertemuan Nobita dan Doraemon hingga akhirnya berpisah dan bertemu lagi, namun bukan berarti terkesan terburu-buru. Buat yang mau tahu kehidupan Nobita sehari-hari sudah cukup tahu dengan melihat serialnya di televisi. Nah, silver lining dari film ini adalah kita diajari untuk berusaha lebih baik untuk membentuk masa depan yang lebih cerah, mengesampingkan ego pribadi demi kebaikan untuk orang yang kita sayangi, jangan menyerah dan terpuruk ketika tantangan menghadang, dan harus bisa tegar dan mandiri ketika kehilangan orang yang kita sayangi.

Jalinan setiap karakter yang ada di Doraemon ini akan membuatmu tertawa dan menangis terharu dan bahagia. Di tengah jalan ada aja peristiwa yang membuat saya menangis. Saya ingat saya sampai meneteskan air mata dua kali saat menonton film ini, yaitu ketika Nobita mengesampingkan egonya demi Shizuka, dan ketika Doraemon harus berpisah dengan Nobita. Serta, menangis dan tersenyum bahagia di akhir film ini. 
Anyway, for you who spent your childhood always watching Doraemon in the morning, Doraemon Stand By Me is the movie you surely wouldn’t wanna miss! Thank you Mr Fujiko F Fujio for bringing Doraemon into our life :)
My niece, Keysa, is so happy watching Doraemon

Saturday, 17 May 2014

Europe On Screen 2014 - Extended Version

Europe On Screen (EOS) 2014 akhirnya usai pekan lalu. Ada sejumlah catatan menarik saat saya berkesempatan untuk turut serta menjadi penonton di tahun ini. EOS adalah acara nonton film gratisan terbaru yang saya ikuti, setelah lebih dari 5 tahun saya ngga ngikutin acara seperti ini. Dulu saat saya masih kuliah (lupa tahun berapa), saya sempat rajin ngikutin Jakarta International Film Festival (Jiffest). Tapi kesibukan skripsi dan bekerja setelahnya, membuat saya ga update lagi soal acara-acara begituan. Makanya, pas liat iklan EOS di salah satu majalah, saya langsung excited banget.

Total ada 13 film yang saya tonton di EOS 2014 dari puluhan film yang ditayangkan (seluruh film yang saya tonton sudah diposting sebelumnya). Beda dengan masa kuliah dulu yang waktunya lebih fleksibel, pada kesempatan kali ini saya memang cuma bisa nonton pas weekend. Di waktu itulah saya bisa nonton sepuasnya dari siang sampai malam. Sampai, adek saya terkaget-kaget. Saya sih ngeresponnya cuma: Ya..kapan lagi? Lagian juga gratis inih, hehehe.

Di EOS 2014 saya hanya memilih film-film yang diputar di Erasmus Huis dan Goethe Haus. Kenapa? Karena mereka bisa menampung hingga lebih dari 300 seats. Beda dengan venue lainnya, seperti Istituto Italiano di Cultura dan Institut Francais Indonesia yang hanya 100 seats. Jadi...dengan menonton di Erasmus dan Goethe akan punya lebih banyak peluang dalam mendapatkan tiket :p. Sementara, untuk perbandingan dua venue itu ada beberapa spot yang patut diperhatikan ketika memutuskan untuk menonton di Erasmus atau Goethe.


Venue Erasmus Huis
Mari kita bahas Erasmus dulu. Erasmus terletak di Kuningan, pas sebelahan dengan kantor kedubesnya. Buat yang les bahasa Belanda bisa daftar kesini juga. Di dalamnya ada beberapa fasilitas, seperti kafe sampai musola. Untuk musola, saya lebih suka yang ada di Erasmus sini karena lebih luas dan nyaman dibanding Goethe. Lokasi musola ada di bagian belakang. Nah, untuk auditoriumnya terletak di lantai 2. Auditoriumnya cukup luas dengan sebagian besar kursi ditempatkan di bagian tengah. Ada juga kursi yang ditempatkan di sisi kanan dan kiri layar, tapi kurang pewe buat nonton sebenarnya. Untuk spot nonton di Erasmus yang paling enak adalah di kursi paling depan. Mungkin ada yang bertanya-tanya: bukannya kalo nonton paling depan leher akan pegal? Tidak, kalo anda hanya seseorang dengan tinggi 150 cm :p. Desain auditorium Erasmus bukanlah laiknya seperti di bioskop yang berundak, tetapi rata dari belakang sampai depan. Makanya, kalau duduk di bagian tengah hampir pasti kamu akan kesulitan melihat layar di depan karena ketutupan orang. Yang ada badan akan bergeser ke kiri dan kanan demi melihat layar. Daripada pegel seluruh badan, mending leher aja yang pegal. Hehehe.


Venue di Goethe Haus
Sementara, venue di Goethe didesain berundak. Ini yang membuatnya lebih enak buat dijadiin tempat nonton. Ruangan tempat duduknya dibagi tiga, di bagian atas, tengah dan bawah. Tapi ada satu spot nonton paling enak di sana, yaitu di bagian tengah venue, di kursi atas. Jarak layar-tempat duduk dan ketinggiannya pas.  Ngga heran setiap pemutaran film pasti bagian tengah yang penuh duluan. Mau ga mau emang harus nungguin pas di depan pintu masuk biar dapet antrian paling depan dan bisa duduk di spot itu.
Tempat nongkrong yang asik di Goethe

Eniwei, sebagai persiapan saya sebelum berangkat nonton biasanya adalah membeli sebotol air mineral dan roti di minimarket sebagai bekal. Berhubung di dalam auditorium ga boleh makan-minum, maka saya melakukannya di sela-sela pemutaran film berikutnya. Baik di Erasmus maupun Goethe punya tempat asik buat nongkrong sembari menunggu film.

Nah ada hal yang menarik di hari pertama nonton di Erasmus, sebelum pemutaran Walesa: Man of Hope, pas saya naik ke lantai 2 untuk masuk ke auditorium, ternyata di ruangan sebelah auditorium ada acara makan-makan. Bukan jenis makanan berat sih, tapi hanya sekedar snack saja. Saya mengira akan menemukan risol, kue sus, atau lemper gitu ya pas masuk ke dalem. Eh ternyata pas dilihat lebih dekat jenis snack-nya ala Barat. Ngga tau deh apa namanya.


(Kiri) Deretan snack ala Barat;
(Kanan) Pos minuman: Jus jeruk, jus jambu dan wine
Saya cuma mencicip satu jenis snack, potongan french bread dengan topping mashed avocado dan dua buah udang rebus. Rasanya aneh, hambar. Jadi kangen sama sosis solo, serabi dan aneka jenis jajanan pasar lainnya :p. Yang ga biasa juga adalah mereka juga menyediakan wine. Untungnya ada pilihan jus jeruk sama jus jambu, kalo ga ya seret aja deh itu tenggorokan :D. Saya ngga tau kenapa saat itu ada jamuan snack, tapi dugaan saya adalah itu salah satu compliment dari Kedubes Polandia sebelum nonton film Walesa. Soalnya selain itu, belum ada jamuan lagi selama pemutaran film kecuali pas penutupan acara.


Antrian di Erasmus untuk nonton Philomena
Lalu bagaimana antrian selama EOS 2014? Di minggu pertama bisa dibilang ga ada antrian panjang. Paling cuma 5-10 orang yang ngantri lalu dapet tiket. Tapi, di minggu terakhir EOS 2014 antriannya bagai ular naga panjangnya. Mungkin karena itu minggu terakhir dan film yang diputer kebetulan juga bagus, jadi kayak begitu. Misalnya pas mo nonton Delicacy sama Philomena. Udah jadi kebiasaan para penonton (termasuk saya), kalo mau lanjut nonton film berikutnya, maka selesai nonton satu film pasti akan langsung lari ke bawah buat antri tiket lagi. Nah, ga disangka selesai nonton Searching For Sugar Man, pas saya lari ke bawah buat antri tiket Delicacy, udah ada lebih dari 100 orang yang antri disana. Malah, pas selesai nonton Delicacy dan antri untuk tiket Philomena, antriannya udah panjang banget, lebih dari 200 orang kayaknya.


Editor Final Cuts - Ladies & Gentlemen, Nora Richter (sebelah kiri)
Yang membuat EOS menarik juga hadirnya sejumlah pembuat film. Saya berkesempatan bertemu dengan salah satu editor Final Cuts - Ladies & Gentlemen -, Nora Richter. Dia adalah salah satu dari empat editor yang bekerja selama tiga tahun untuk membuat film itu. Tahun pertama dihabiskan hanya untuk menyortir film-film yang akan dimasukkan ke film ini. Proses penyortiran film, adegan dan editing pun melalui ribuan jam diskusi, berpak-pak rokok dan ribuan cangkir kopi. Nora juga membicarakan soal hak cipta dari film ini. Berhubung menyangkut hak cipta lebih dari 500 film maka Final Cuts tidak bisa ditayangkan di bioskop untuk keperluan komersial. Film ini hanya boleh ditayangkan di festival film yang non komersial, for educational purpose only. Namun hingga sekarang tim pembuat film Final Cuts sedang terus berusaha untuk mendapatkan  ijin dari production house agar ke depannya film ini bisa tayang di bioskop. Saya merasa beruntung bisa melihat film ini :)


Friday, 16 May 2014

Europe On Screen 2014 - 2nd Weekend -

Di Europe On Screen (EOS) minggu ke dua, saya menonton enam film. Empat film di hari Sabtu (10/5) dan dua film di hari Minggu (11/5). Kembali, di hari Sabtu saya ngendon di Erasmus Huis dari jam 12 siang sampe 9 malam, lalu di hari Minggu ke Goethe Haus. Film yang saya tonton di Erasmus adalah The Magician, Searching For A Sugar Man, Delicacy dan Philomena. Sementara, di Goethe saya nonton Wadjda dan Love Is All You Need. So, here's the review...

1. The Magician
Won Politiken Audience Award; Audience Golden Film Award 2011
Won Best Buster Award at Buster International Children's Film Festival
Film anak-anak produksi Belanda ini menceritakan kisah seorang anak bernama Ben Stikker yang berkeinginan menjadi pesulap. Bersama ayahnya, ia pun mulai belajar di sebuah sekolah sulap. Setelah beberapa lama mempelajari trik sulap, Ben dan ayahnya mulai berani melakukan pertunjukan, dibantu oleh teman sekolah Ben, bernama Sylvie yang berperan sebagai asisten. Sylvie disini adalah seorang anak perempuan lincah dan berasal dari keluarga broken home. Ibunya yang sibuk membuat Sylvie merasa kurang diperhatikan. Walau ia dilimpahi dengan materi yang cukup, tapi itu tak membuatnya bahagia.
Inti ceritanya dimulai ketika ayahnya Ben melakukan trik sulap menghilangkan orang. Itu loh yang asisten pesulap biasanya masuk ke dalam sebuah boks, lalu tiba-tiba menghilang, terus beberapa menit kemudian ada lagi di dalam boks. Naah...saat melakukan trik ini, ternyata Sylvie ngga kembali lagi. Kebingungan, keluarga Stikker harus menghadapi kenyataan bahwa mereka telah menghilangkan anak orang.  Mungkin dari sini bisa ditebak, kenapa Sylvie bisa menghilang. Silver lining dari film ini adalah seberapapun sibuknya orangtua, hendaknya bisa selalu memperhatikan dan memberikan waktu berkualitas pada buah hatinya.

2. Searching For Sugar Man
Won Best Documentary Features at Oscar 2013
Won Special Jury Prize for World Cinema Documentary at
Sundance Film Festival 2012
Menceritakan perjalanan karya seorang penyanyi asal Amerika Serikat bernama Rodriguez, yang tidak terkenal di negara asalnya, tetapi menjadi inspirasi bagi perjuangan Apartheid di Afrika Selatan. Seorang lelaki bernama Rodriguez mengeluarkan sebuah album di akhir tahun 1960-an dengan didukung oleh produser yang pernah bekerja sama dengan Stevie Wonder dan Marvin Gaye, tetapi sayangnya albumnya tidak laku di pasaran. Namun entah bagaimana awal mulanya, rekaman bajakan album Rodriguez sampai ke Afrika Selatan dan menjadi hits di sana. Karya-karyanya dinilai sebagai suara perjuangan masyarakat melawan Apartheid. Saking hitsnya dengan perkiraan penjualan album mencapai ratusan ribu kopi, sejumlah pemilik label rekaman dan fans di Afsel bahkan menganggap Rodriguez lebih besar dari Elvis Presley dan The Rolling Stones. Kendati lagu-lagu Rodriguez begitu terkenal dan menjadi inspirasi banyak orang di Afsel, tidak banyak informasi yang beredar soal dirinya. Saat orang Afsel menanyakan kepada warga Amrik soal Rodriguez, orang-orang Amrik pun tidak ada yang mengenalnya. Itulah yang menjadi latar belakang pembuatan film dokumenter ini: mencari jejak Rodriguez. Saat menonton film ini saya benar-benar kagum bagaimana musik bisa menginspirasi banyak orang, terutama dalam melawan Apartheid.

3. Delicacy
Won Prix Aquitaine for Best Actor at Sariat International Cinema Festival
Best FIrst Film & Best Adapted Screenplay Nominee at Cesar Awards
Delicacy is HILARIOUS! Truly. Aktris Prancis, Audrey Tatou menjadi magnet tersendiri saat memutuskan menonton Delicacy. Namun alur cerita film komedi romantis ini secara keseluruhan yang membuatnya layak untuk ditonton. Film ini mengisahkan perjalanan hidup Nathalie (Tatou), seorang wanita karir sukses. Sejak suaminya meninggal, Nathalie menjadikan pekerjaan sebagai pelariannya. Ngga tertarik sedikit pun untuk menjalin hubungan lagi dengan pria lain. Big boss yang mendekatinya pun ditolak mentah-mentah. Namun, film ini menjadi sangat menarik untuk ditonton, ketika Nathalie tiba-tiba begitu saja mencium bawahannya, Markus, secara tidak sadar. Markus ini adalah seorang pria tinggi besar yang kikuk dan setengah botak, pokoknya bukanlah tipe orang yang mungkin akan membuat para wanita melihatnya dua kali saat berpapasan di jalan. Ini sangat bertolak belakang dengan Nathalie yang charming. Naah, ciuman dari Nathalie itu sangat membekas di benak Markus. Saat akhirnya Markus menghadapi Nathalie untuk menanyakan alasannya, Nathalie mengatakan kalau ia khilaf, meminta maaf atas perbuatannya, dan meminta Markus untuk bersikap profesional. Namun Markus tidak bisa melupakannya begitu saja dan nekat mengajak Nathalie untuk nge-date sekali saja. Dan..disitulah mulai terlihat kepribadian Markus yang ternyata baik dan polos. Even though maybe other person underestimated him on physically thing, he's actually a warm-hearted, gentleman, and funny person. Itulah yang membuat Nathalie akhirnya jatuh cinta pada Markus, walau banyak orang yang tidak mempercayainya. Sejumlah scene di sini juga lucu banget. Markus has a really good sense of humor. Film ini menjadi film terlucu yang saya tonton selama perhelatan EOS 2014, dan berhasil membuat 'geerrrrr' satu auditorium Erasmus :D

4. Philomena
Won Best Adapted Screenplay at BAFTA Film Awards
Best Picture, Best Actress Nominee at Oscar 2014
Akhirnya bisa nonton film ini juga setelah melewatkannya minggu lalu. Film ini menceritakan perjalanan seorang wanita bernama Philomena yang mencari anak lelakinya yang telah dipisahkan darinya sejak balita. Setelah terpisah selama 50 tahun, Philomena pun mulai mencari jejak anaknya, dengan dibantu oleh seorang jurnalis politik, Martin Sixsmith, yang pada akhirnya tertarik untuk membuat berita human interest. Lalu dimulailah petualangan mereka hingga ke Amerika Serikat. Melihat film ini maka kita akan menemukan sisi konservatif Inggris Raya di tahun 1950-an, serta kesenjangan persepsi tentang kondisi masyarakat antara Martin dan Philomena. Ada satu quote dari Philomena yang saya suka dari film ini yang kira-kira bunyinya begini: It's important to be nice to people on the way up, because you might meet them again on the way down.

5. Wadjda
Won Audience Award for Best Feature Film at Goteborg Film Festival
Won DIoraphte Award at Rotterdam International Film Festival
Wadjda adalah film yang memotret budaya Arab Saudi secara umum. Seorang anak perempuan bernama Wadjda berkeinginan memiliki sepeda sehingga ia dapat berlomba dengan teman mainnya, Abdullah. Namun, anak perempuan bermain sepeda di Arab Saudi bukanlah pemandangan umum. Saat Wadjda mengutarakan keinginannya itu, orang di sekitarnya pun melarangnya. Tapi, Wadjda yang tomboy menghiraukan pendapat itu. Hingga saat ke toko sepeda, ia menemukan satu sepeda yang menarik hatinya. Sayangnya, harga sepeda itu sangat mahal. Wadjda pun memutar otak agar bisa mendapat tambahan uang, sampai ada satu lomba membaca Al Quran yang diadakan di sekolahnya dengan hadiah 1000 riyal. Demi mendapatkan sepeda itu, akhirnya Wadjda mati-matian belajar Al Quran dan tafsirnya agar bisa memenangkan lomba. Dari film ini, kita bisa melihat bahwa dengan berusaha bersungguh-sungguh, pasti akan mendapat hasilnya. Juga, dapat melihat bagaimana posisi wanita di tengah masyarakat Arab Saudi.

6. Love Is All You Need
Won Best Actress at Robert Awards
Won Best Comedy at European Film Awards
 Love Is All You Need merupakan film produksi Denmark tahun 2012. Pas ngeliat salah satu pemerannya adalah Pierce Brosnan, saya jadi penasaran apa iya si Brosnan bisa bahasa Denmark ya? Tapi...ternyata di sepanjang film dia ngomong bahasa Inggris, hehehe. Eniwei, film ini menceritakan kisah seorang wanita bernama Ida, yang baru saja menjalani operasi kanker payudara dan menemukan bahwa suaminya berselingkuh dengan wanita lain. Sementara Brosnan berperan sebagai Philip, seorang duda yang belum bisa melupakan mendiang istrinya. Mereka bertemu di pernikahan kedua anak mereka, dan akhirnya menemukan bahwa walau ada suatu momen menyakitkan dalam hidup dan sulit untuk melupakannya, hal yang terpenting adalah untuk terus menjalani hidup, semangat menghadapinya, dan berani untuk mengambil langkah baru.