Showing posts with label traveling. Show all posts
Showing posts with label traveling. Show all posts

Monday, 26 January 2026

Family Trip : Namsan Tower (Day 5)

Namsan Tower


Hari ke-5 di Seoul, kami berencana untuk ke Namsan Tower. Tadinya kami mau kesana di hari ke-3 setelah dari Gyeongbokgung Palace, tapi karena cuaca di hari itu nggak mendukung, akhirnya itinerary ke Namsan kami ubah ke hari ini. Sebelum ke Namsan Tower, keponakan mau mampir ke Gedung Hybe, agensinya BTS ya klo nggak salah? Tapi saya nggak ikut kesana, jadi dia pergi sama orang tua dan om tantenya. Sementara, Aisyah, saya dan ibu mampir lagi ke Namdaemun Market untuk beli kaos. Kami pisah jalan dan janjian ketemuan di stasiun dekat Namsan Tower.

Sesampainya di Namdaemun Market, saya segera cari-cari stall kaos tempat saya beli terakhir kali pas ke Namdaemun, tapi ternyata ahjussi yang jual di tengah jalan nggak ada kalo siang hari. Jadi saya beli di kios yang ahjumma-nya ternyata bisa bahasa Indonesia sedikit, wkwkwk. Lumayan lah bisa ditawar sedikit-sedikit.. Nggak lupa beli lagi donat kepang di pasar :D

Sekitar 30 menit kemudian, saya udah selesai belanja dan langsung ke stasiun untuk nunggu di meeting point. Tapi ternyata yang lainnya belum sampai. Akhirnya sembari menunggu saya pergi ke kantor agen untuk menukarkan tiket masuk Namsan Tower dan cable car. Nggak lama menunggu, akhirnya kami menuju ke Namsan Tower. Nah dari kantor agen penukaran tiket, lokasinya ternyata nggak jauh. Cuma jalan sekitar 10 menitan udah sampai di Inclinator menuju Cable Car Namsan. Saat menuju inclinator, ternyata ada antrian sedikit untuk naik inclinator-nya. Karena kapasitas inclinator sekitar 20 orang jadi memang agak antri untuk masuk. Lumayan lah ada lift jadi nggak perlu jalan nanjak ke cable car-nya.

Nggak jauh dari inclinator, ada pintu masuk menuju cable car. Disini kami antri lagi sekitar 10 menit. Untungnya kapasitas cable car ini lebih luas jadi nggak nunggu lama-lama banget. Yang bikin shock setelah keluar cable car ternyata kami harus naik tangga lagi untuk menuju Namsan Tower. Duuh.. lumayan sih nanjaknya, heuheu.. Tapi ternyata untuk akses stroller ada lift tersendiri. Ini saya baru tahu pas jalan balik dari Namsan, jadi pas pulang kami turun pakai lift.



Pas sampai di atas, halaman luas menyambut pengunjung. Di pinggiran halaman juga ada pagar yang penuh dengan banyak gembok, nggak lupa kami juga ikut menaruh gembok di pagar. Setelah itu, kami memutuskan untuk masuk ke merchandise store dulu untuk lihat-lihat, baru naik ke Namsan Tower. Saat sudah naik ke atas, pemandangan kota Seoul terlihat 360 derajat. Hari cerah dan ada beberapa spot foto jadi kami menikmati pemandangan dulu di atas. Kayaknya kami di atas sekitar 30-45 menitan baru turun ke bawah.

Setelah dari Namsan Tower, kami memutuskan untuk makan siang di Myeongdong, mau nyobain grill-nya Busan Jib. Harganya lumayan untuk makan 10 orang habis 221 ribu won. Tapi, nggak apalah nyoba sesekali bbq Korea di negara asalnya. Setelah kenyang, kami balik lagi ke Airbnb untuk packing dan istirahat sebentar. Malamnya kami memutuskan untuk keliling Hongdae karena adik saya belum sempet ke sana. Sempet jajan odeng dan teobokki juga di ahjumma yang jualan di atas bak terbuka. Setelah keliling hampir 2 jam, kami balik lagi ke Airbnb untuk istirahat karena besok di jam 5 pagi kami sudah harus standby naik taksi yang akan mengantar kami ke Incheon.

360 degrees view from Namsan


Family Trip : Lotte World (Day 4)

Hari ke-4 di Seoul, kami memutuskan untuk pergi ke Lotte World. Tempat rekreasi ini dipilih karena dia ada tempat indoor. Jadi kalau cuaca lagi nggak mendukung, kita bisa tetap naik wahana yang ada di dalam ruangan. Kami memulai perjalanan agak pagi di hari itu supaya bisa sampai Lotte World pas jam buka. Dari Hong Dae, kami naik subway menuju Jamsil Station dan keluar di Exit 4. Sesampainya di Lotte Mall, kami segera menuju Lotte World mengikuti petunjuk arah yang tersedia. Pas sampai langsung deh tukar tiket yang kami beli di aplikasi online travel agent. Prosesnya cepat dan mudah.

Wahana pertama yang kami naiki wahana 3D gitu jadi kita seperti menaiki pesawat dan mengikuti petualangannya. Cukup seru, antriannya juga nggak panjang. Paling cuma antri 5 menitan terus masuk. Setelah itu, kami naik wahana kapal dan keliling merchandise store karena tempatnya berdekatan jadi sekalian aja lah daripada bolak balik. Heuheu.. Merchandise-nya lucu-lucu, apalagi snow ball dan music box-nya. Tapi saya nggak beli snow ball maupun music box karena harganya mahal, wkwkwk. Kayaknya sekitar 700 ribu-1 jutaan. Di merchandise store seperti biasa saya cuma beli magnet kulkas aja untuk kenang-kenangan. Harganya kalo nggak salah 5000 won.

Setelah dari store, kami naik ke lantai atas. Pengen naik balon udara yang kelilingin bagian dalam Lotte World. Tapi karena nggak tau ada di lantai berapa wahananya, akhirnya kami memutuskan mengira-ira aja dan asal masuk wahana. Ternyata pas masuk, salah wahana. Wkwkwkwk.. Emang dah sotoy bener.. :D 

Setelah itu, kami naik komidi putar dan anak-anak lanjut naik bombom car mini dan main ke playground. Sembari menunggu anak-anak main, kami iseng ke restoran burger untuk beli beberapa cemilan. Nggak lama parade Lotte World dimulai dan kami langsung ambil posisi untuk lihat paradenya. Lumayan lama dan menarik paradenya, dan karakternya juga bermacam-macam. Habis lihat parade kami memutuskan untuk naik ke lantai atas lagi. Pas di lantai 3 atau 4 gitu, saya lupa, ada wahana yang antriannya panjang. Pas dilihat-lihat itu ternyata wahana balon udara yang kami cari-cari di awal. Males antri panjang, akhirnya kami skip wahana itu dan memilih wahana kereta yang juga mengelilingi bagian dalam Lotte World. Antriannya masih lumayan dibanding balon udara. Setelahnya kami solat di praying room, dia ada di lantai 3 zona Adventure. Alhamdulillah ruang solatnya cukup memadai.

Muslim Prayer Room @Lotte World

Setelah solat, kami memutuskan untuk makan siang dulu. Lumayan lapar setelah keliling-keliling ya.. Setelah mencari-cari tempat makan, akhirnya kami memilih makan ayam goreng di Lotteria yang budget friendly. Makan siang hari itu habis sekitar 97 ribu won. Setelah kenyang, kami memutuskan untuk eksplor bagian luar Lotte World. Nah yang di bagian luar ini, wahananya lebih banyak yang ekstrim kayak roller coaster dan piringan berputar. Ada juga untuk wahana anak-anak cuma nggak sebanyak di bagian dalam. Untuk wahana anak-anak, kami cuma naik komidi putar mini dan kereta mini indoor. Di bagian luar ini kami juga nggak begitu lama. Tadinya mau naik roller coaster tapi nggak jadi karena antriannya panjang. Lagian hari juga udah mulai malam, jadi kami nggak lama-lama di luar karena dingin, hahaha..

Nah habis eksplor bagian luar dan foto-foto di depan kastilnya, kami masuk lagi dan ternyata itu udah mau jam 8 malam, which means 1 jam lagi theme park akan tutup. Karena kami udah mulai lelah, akhirnya kami memutuskan untuk pulang. Sebenernya ada parade lagi di malam harinya, cuma kami nggak nonton sampai selesai. Setelah keluar dari Lotte World, kami memutuskan untuk mampir sebentar ke supermarket Lotte untuk cari oleh-oleh cemilan. Mumpung masih satu gedung, jadi why not stopping by for a bit. Ternyata pilihan cemilan di Lotte Mart cukup banyak. Nggak lupa di-scan satu-satu untuk lihat ingredients-nya. Selain beli cemilan, kami juga beli telur dan sayuran untuk lauk di rumah. And, that's it for day 4. Esoknya hari terakhir di Seoul, kami berencana ke Namsan Tower. See you on next blog! :)

Tuesday, 4 February 2025

Family Trip : Hanbok Experience at Gyeongbokgung Palace (Day 3)



Di hari ketiga kami menjadwalkan untuk pergi ke Gyeongbokgung Palace sekalian menyewa hanbok untuk foto-foto disana. Untuk sewa hanbok kami membeli voucher di Klook. Pilihannya jatuh ke Hanboknam Rental karena lokasinya yang dekat dengan pintu keluar stasiun dan pintu masuk Gyeongbokgung Palace. Ada dua pilihan hanbok di Hanboknam, yaitu standard dan premium. Kami memutuskan beli yang standard saja. Total menyewa hanbok untuk 12 orang sebesar Rp 934.108. Untuk menuju ke Hanboknam tinggal ikuti petunjuk arah yang diberikan oleh Klook yaitu ke Exit 4 Stasiun Gyeongbokgung Palace.

Sesampainya di Hanboknam Rental, penukaran voucher cukup mudah dan stafnya juga ramah dan lancar berbahasa Inggris. Namun, saat disana kami baru tahu kalau untuk baju hanbok anak hanya tersedia yang premium, sehingga kami harus bayar upgrade baju anak sebesar 15 ribu won per baju. Heuheu.. agak nyesek sih. Tau gitu kan dari awal pilih yang premium untuk baju bocah karena beda harganya agak jauh kalau beli on the spot sama beli di Klook. Tapi, ya sudahlah yaaa... There's always a lesson learned in every trip.

Setelah memilih-milih baju, kita akan dibantu memakai hanbok oleh staf disana. Setelah selesai, kita juga bisa memilih gaya tatanan rambut. Ada yang gratis, ada juga yang berbayar. Rata-rata model gaya rambutnya dikepang, cuma beda di aksesoris aja antara yang berbayar dan gratis. Tapi menurut saya, untuk hairdo yang gratis juga bagus kok. Setelah semua beres, kami segera menuju ke Gyeongbokgung Palace. Agak buru-buru karena langit udah mendung. Dan, bener aja pas banget masuk ke area Gyeongbokgung, hujan rintik mulai turun. Sayangnya hari itu kita nggak ada yang bawa payung, jadi mau nggak mau kita neduh dulu sambil nyari spot foto.

Atas : Hairdo Aisyah dari Hanboknam
Bawah : Family photo in front of Gyeongbokgung Palace

Hujan turun agak lama. Saat hujan mulai reda kami segera nyari spot foto di lapangan luas. Eh.. baru sebentar foto-foto di lapangan, hujan turun lagi. Terus reda, terus hujan lagi. Gitu terus sampai waktu penyewaan baju yang 2,5 jam selesai, heuheu. Padahal kalau pakai hanbok, masuk Gyeongbokgung Palace itu gratis, tapi karena terhalang hujan, kami hanya sempat masuk ke bagian depan istana aja. Sayang sih karena sebenernya Gyeongbokgung Palace itu luas banget sampai ke belakang dan banyak spot foto yang bagus. Oh iya, karena cuaca hujan, ritual pergantian petugas istana di Gyeongbokgung Palace juga ditiadakan.

Akhirnya setelah 2 jam foto-foto, kami pun balik ke Hanboknam untuk balikin baju. Waktu sudah menunjukkan pukul 14.30, perut pun lapar. Apalagi cuaca dingin dan berangin jadi makin laper ye kan... Saat itu karena bingung cari tempat makan halal sekitar Gyeongbokgung Palace akhirnya kami memutuskan untuk pergi ke Itaewon yang sudah pasti ada banyak pilihan restoran halal.

Sayangnya saat keluar stasiun Itaewon, hujan kembali turun dan agak deras. Tadinya kami mau makan di restoran Ied, tapi karena hujan, akhirnya kami nyari tempat makan yang deket stasiun. Untungnya ada Halal Guys yang jaraknya hanya sekitar 100 meter dari stasiun. Jadi akhirnya kita makan siang disana. Setelah perut kenyang, kami pun memutuskan untuk kembali ke Airbnb karena cuaca masih hujan jadi nggak kondusif kalau mau jalan-jalan lagi sambil bawa anak kecil.

Karena sampai Airbnb lebih awal, saya pun memutuskan untuk keliling sekitaran Hongdae setelah istirahat sebentar. Sendiri aja, sementara anak-anak sama ayahnya di apartemen. Mampir juga ke minimarket CU untuk beli mie instan cup dan minuman. Soalnya enak kayaknya makan mie instan di cuaca dingin saat itu. Hehehe... Setelah keliling sekitar 45 menit saya pun balik ke Airbnb.

Monday, 3 February 2025

Family Trip : Coex Mall dan Namdaemun Market (Day 2)

@Starfield Library

Hari kedua kami bangun agak siang, kecapean semalam setelah keliling Myeongdong dan sampai di rumah sekitar jam 22.30. Nggak kerasa karena matahari terbenam di Seoul itu baru sekitar jam 19.30. Jadi berasanya masih siang aja dan jalan-jalan terus, padahal kalau di Indonesia jam segitu udah gelap, wkwkwk.

Nah di hari kedua ini kami sebenarnya pengen ke Gwangjang Market dulu, tapi karena kesiangan akhirnya kami nggak jadi kesana. Jadi kami memutuskan untuk langsung ke Starfiled Library di Coex Mall. Untuk menuju ke Coex Mall ini kita perlu ke Samseong Station dan keluar di exit 5 atau 6. Begitu keluar dari stasiun Samseong, Coex Mall udah keliatan. Nah tapi yang membuat kami bingung adalah lokasi Starfield Library itu ada dimana. Sempet pengen langsung masuk mall-nya tapi ragu akhirnya muter-muter di luar. Hahaha... Setelah sempet nyasar, kami akhirnya masuk mall. Ternyata Starfield Library ada di bagian dalam mall, pas di tengah-tengah. Jadi saat terus masuk ke dalam mall akan langsung mengarah ke perpustakaannya. Jadi deh foto-foto disana dulu, heuheu...

Musholla di Coex Convention Center

Oh iya, di Coex Mall ini ada mushola juga loh. Jadi bagi yang muslim nggak akan bingung nyari tempat solat. Tempatnya ada di Coex Convention Center yang sebelahan dan terhubung langsung dengan mall. Musholla ada di lantai 3. Kalau bingung arahnya tinggal tanya petugas yang ada di sana.

Setelah dari Coex Mall, kami memutuskan untuk ke Namdaemun Market untuk cari oleh-oleh. Untuk menuju ke sana, kamu perlu ke Hoehyeon Station dan keluar di Exit 5. Kalau dari arah Coex Mall, jangan lupa untuk transit di Sadang Station dan cari jalur kereta yang ke arah Hoehyeon Station. Sesampainya di Hoehyeon Station, suasana stasiun cukup berbeda. Vibes-nya seperti Tanah Abang, hahaha. Di Namdaemun Market ini, kamu juga akan banyak ketemu sama ahjumma-ahjumma.

Keluar stasiun ada banyak penjual kaki lima yang jual makanan dan suvenir. Kami memutuskan untuk mampir sebentar beli buah, odeng dan kimbap buat ngeganjel perut. Harganya 1000-2000 won. Nggak jauh dari sana ada penjual suvenir mulai dari magnet, kipas, gantungan kunci, dan lain-lain. Yang unik ada penjual suvenir cowok, usianya sekitar 35-40 tahun, bisa bahasa Indonesia, wkwkwk. Pas awal-awal kami ke stall-nya agak kaget karena nggak nyangka ada yang bisa bahasa Indonesia, hahaha. Jadilah lebih enak buat nawar-nawar ya kaaann... :D

Setelah beli printilan suvenir, kami lanjut lagi dan liat ada toko makanan yang rame banget. Ternyata dia jual gorengan donat kepang. Kalo nggak salah harganya 1000 won per pcs. Kalau kesana harus nyobain sih karena donatnya enak, apalagi kalau dimakannya pas masih panas. Walaupun tokonya rame tapi pelayanannya cepet karena pegawainya banyak.

Setelah itu kami keliling-keliling Namdaemun Market. Ternyata disana ada banyak jenis barang yang dijual. Mulai dari aksesoris, baju, makanan kemasan, herbal sampai mainan. Di Namdaemun saya cuma beli almond, gantungan kunci, magnet dan kaos. Untuk gantungan kunci dan magnet ada banyak pilihan. Ada yang 1 set isi 5 pcs atau 6 pcs dan ada juga yang satuan. Harga magnet dan ganci bervariasi tergantung dari bahannya. Untuk yang satuan ada yang mulai dari 3000 won. Kalau yang satu set bisa 5000-10000 won. Lumayanlah buat nambahin oleh-oleh, heuheu...

Usai muterin pasar sekitar 1,5 jam kami memutuskan untuk cari makanan. Karena bingung mau kemana akhirnya kami pilih ke Busan Jib yang ada di Myeongdong. Jarak antara Myeongdong dan Namdaemun ini deket cuma 1 stasiun aja. Sesampainya di Myeongdong kami agak bingung nyari Busan Jib karena letaknya di dalam gang kecil. Alhamdulillah setelah muter-muter akhirnya nemu juga. Sebenernya kemarin pas ke daerah Myeongdong kami lewat di depan gangnya. Cuma karena lokasi Busan Jib agak masuk ke dalam, kami nggak ada yang ngeh kalau di dalam gang ada restoran. Pokoknya kalau dari exit 5 dan 6 Stasiun Myeongdong tinggal lurus masuk aja ke arah streetfood Myeongdong, nah lokasi gang Busan Jib ada di antara deretan bangunan sebelah kanan.

Lokasi Busan Jib diantara HBAF Almond dan Holika Holika
Masuk ke dalam gang akan langsung terlihat plang Busan Jib

Busan Jib menyediakan tiga restoran berbeda sesuai dengan jenis makanan yang disediakan. Ada ayam goreng, seafood dan barbeque. Saat itu kami memilih seafood karena variasi makanannya lebih banyak. Untuk hidangan seafood Busan Jib rasanya lumayan. Tapi tetep lebih enak restoran Eid kemaren di Itaewon. Selesai makan, kami pun langsung pulang ke Airbnb untuk beristirahat.

Thursday, 1 August 2024

Family Trip : Myeongdong and Itaewon (Day 1)


Di hari pertama exploring Seoul, kami berencana ke daerah Itaewon dan Myeongdong. Karena di hari pertama ini jatuh di hari Jumat maka kami memutuskan untuk ke daerah Itaewon terlebih dulu agar bisa menunaikan shalat Jumat di Seoul Central Masjid. Walau sudah pernah ke Masjid Seoul ini, tapi saya agak lupa jalannya. Untungnya di Itaewon Station Exit 3 ada Tourist Information Center, jadi bisa nanya kesana dulu dan akhirnya dikasih selembar kertas berisi printout gambar menuju ke masjid.

Sayangnya pas sampai masjid ternyata pintu depan sedang direnovasi jadi kami harus berjalan lebih jauh ke arah belakang masjid supaya bisa masuk ke dalam. Cukup ngos-ngosan karena jalan nanjak, hahaha. Untungnya cuaca dingin dan nggak panas jadi ngga terlalu berasa capek. Sesampainya di masjid, Alhamdulillah belum azan zuhur. Kami hanya menunggu sekitar 20 menit, kemudian salat Jumat dimulai. Awalnya malah takut ketinggalan solat Jumat karena kami baru berangkat dari Airbnb jam 11.30. Ternyata azan zuhur di Seoul itu jam 13.30 jadi aman saat sampai masjid.

Selesai solat, kami memutuskan makan siang di Restoran Ied Halal Food, ngga jauh dari Masjid Seoul. Saat sampai disana, kami harus masuk waiting list karena memang pas jam makan siang jadi ramai dan harus antri. Menu makanannya variatif, enak dan harganya lumayan terjangkau. Restoran Ied menyediakan makanan Korea, jadi buat yang pengen nyobain Korean food bisa kesana tanpa perlu bertanya-tanya makanannya halal atau nggak. Berbagai macam menu makanan Korea tersedia di Restoran Ied, seperti samgyetang (sup ayam ginseng), ikan makerel bakar, topokki, bibimbap, sampai yang standar seperti chicken mayonaise rice bowl. Harganya mulai dari 8000-15000 won, kalo ngga salah.

Nah, selesai makan, kami melanjutkan perjalanan ke Daiso Myeongdong buat cari oleh-oleh. Penasaran juga kesana karena katanya Daiso di Myeongdong adalah salah satu Daiso terbesar di Korea. Harga barang disana juga murah-murah. mulai dari 500 won. Dari Itaewon menuju ke Myeongdong, kami naik MRT tanpa transit dan turun di Exit 1 Stasiun Myeongdong. Keluar stasiun udah keliatan kok Daiso-nya jadi nggak bakalan nyasar.

Sesampainya disana, kami nggak eksplor satu per satu lantainya siy.. karena Daiso Myeongdong itu kan 12 lantai ya, jadi kami hanya lihat-lihat di tempat aksesoris, stationery, peralatan rumah tangga dan food beverages section. Dan, ternyata aksesoris, stationery dan alat rumah tangga disana lucu-lucu banget.. Kalau ngga usah mikir gimana cara bawanya pulang, bakal dibeli kali itu yang ukurannya gede-gede, wkwkwk. In the end cuma beli yang printilan kayak handuk tangan, dompet koin, bando, dan stationery :D

Pas naek ke food beverages section, disini yang makan waktu agak lama karena kami menelusuri ingredients-nya satu per satu pake translation tools di handphone. Menghindari yang ada kandungan alkohol dan babi, baik itu di bahan utamanya maupun saat pembuatan makanan minumannya. Pokoknya ngga terasa udah 1 jam lebih kami menghabiskan waktu mencari oleh-oleh di Daiso Myeongdong. Pas pulangnya sampe beli tas belanja berukuran besar buat naro barang yang dibeli, wkwkwk. Untungnya adek bawa stroller anaknya jadi cukup ngebantu buat naro barang diatas stroller, hahaha.

Setelah dari Daiso, kami lanjut ke area street food Myeongdong. Walaupun sebenernya pricey, tapi penasaran aja gitu pengen nyobain street food-nya, heuheu. Nah, first stop, kami nyobain mochi buah. Harganya 4000 won per pcs. Saya pilih yang isinya peach karena penasaran sama rasa buah peach asli, hehehe. Rasanya ternyata agak manis dan teksturnya mirip mangga. Oh iya, mochi buah ini langsung dibuat saat ada pesenan ya. Jadi kita bisa liat saat penjualnya ngebungkus buah dengan mochi. Yumm...

Setelah nyobain mochi, keponakan beli tanghulu stroberi dan saya beli egg bread. Ternyata egg bread rasanya hambar, wkwkwk. Kurang saos sambel kalo kata saya mah, hahaha. Yah murah juga sih karena harganya cuma 2000 won. Egg bread adalah salah satu jajanan termurah di Myeongdong kayaknya, wkwkwk.

Lanjut kita beli bungeoppang isi custard. Ini juga murah, 5000 won dapet 4 pcs kalo ga salah. Tapi sayangnya rasa custardnya hambar jadi kurang appetizing pas dimakan, heuheu. Setelah itu kami nyobain es krim yang diselimuti marshmallow dan di-torch pake obor. Harganya 8000 won. Lumayan seger es krimnya dan ada rasa pait dikit dari hasil torch marshmallow. Cuma anak saya kurang suka karena katanya es krimnya ga keliatan, hahaha.

Setelah itu, kita nyobain lagi udang mentega, harganya 10 ribu won. Mahal siy, tapi enak, hehehe. Setelah itu, anak saya ngerongrong minta beliin potato twist, yasud akhirnya beli seharga 5000 won. Lumayan harganya dibanding di Jakarta yang lebih murah ya. Setelahnya minta beliin lagi cheese corndog. Saya lupa harganya. Tapi akhirnya karena kayaknya kekenyangan, itu corndog cuma dimakan seperempat, heuheu. Sisanya saya yang makan, wkwkwk.

Oh iya, di Myeongdong ini, saya juga sempet mampir ke outlet Nature Republic buat beli titipan skincare tante. Untungnya bawa duit cash yang cukup karena ternyata harganya lumayan mahal, wkwkwk. Saat belanja di Nature Republic ini kita langsung dapet potongan tax refund ya, jadi lumayan nggak usah repot ngurus tax refund di bandara. Finally, setelah sekitar 2 jam menelusuri street food Myeongdong, akhirnya kami pulang, dengan perut lumayan kenyang dan dompet lebih ringan, heuheu.

Saturday, 15 June 2024

Family Trip : Seoul (Itinerary and Budget)



Hello... Hai.. Hei...

Dah lama buanget saya ga posting blog inih ya sodara-sodara, heuheu.. Untung masih inget passwordnya, hahaha. Entah kenapa setelah punya bocil, energi untuk nulis seperti lenyap begitu saja. But, anyway here I am. Mulai menulis lagi, mencoba mengasah keterampilan menulis lagi. I hope it;s not getting worse or even boring.

So today I want to tell about my family trip to Seoul, South Korea. The second visit for me after in 2015 with my mother and father. But, with the whole family (husband, children, brother, sister, in-laws, nephew and nieces), it is the very first time. Sebenernya ngide untuk ke Seoul sudah direncanakan sejak 2023. Tapi, kami nunggu jadwal Cathay Pacific Travel Fair yang kerja sama dengan CIMB Niaga supaya dapet harga tiket yang sesuai budget dan transitnya ga terlalu lama. Why Cathay? Karena kami nasabah CIMB Niaga sehingga bisa dapet cashback saat travel fair, jadi bisa menghemat budget, hehehe.

Sebelumnya kami sudah mengecek harga tiket di online travel agent, tapi rata-rata kalau harga tiketnya murah pasti transitnya lebih dari 12 jam. Not suitable for family with little children. Kalau penerbangan langsung ke Seoul, harganya rata-rata diatas 4-5 juta sekali jalan. Jadi ga masuk budget, heuheu. Nah, saat Cathay Pacific Travel Fair digelar akhir Februari 2024 di Gandaria City (Gancit), kami akhirnya cuss kesana dan dapet tiket PP 5,7 juta setelah cashback. Sebenernya bisa dapet cashback lagi di hari berikutnya sehingga bisa dapat potongan harga lagi, tapi kami menyelesaikan transaksi di satu hari itu saja karena enggan bolak-balik ke Gancit. Lumayan jauh dari rumah soalnya. Kalau travel fair-nya di Kota Kasablanka mungkin akan kami jabanin bolak-balik.

Jadi, setelah urusan tiket selesai, saatnya mengurus visa dan mencari Airbnb. Untuk visa, kami memilih yang single visa dengan biaya Rp 856.000 per orang. Proses pengajuan visa sama seperti tahun-tahun sebelumnya, Saya sudah pernah menulis soal pengajuan visa Korea di blog ini : Apply Visa Korea

Nah, kami berencana pergi dari 23-29 Juni 2024. Two days for trip to and from Seoul. Five days for exploring Seoul. Jauh lebih lama dari kunjungan saya sebelumnya yang cuma 3 hari, heuheu. Anyway, setelah berembuk dengan keluarga, akhirnya diputuskan untuk itinerary di Seoul sebagai berikut :

Day 1 (Friday, 24 June 2024)
11.00  Going to Itaewon
12.00  Jumah Prayer
14.00  Lunch
15.30  Going to Daiso Myeongdong
16.00  Daiso Myeongdong
18.00  Exploring Myeongdong Street Food

Day 2 (Saturday, 25 June 2024)
10.00  Gwangjang Market
11.30  Coex Mall
12.00  Lunch
13.30  Namdaemun Market
15.30  Seoullo 7017 Sky Garden

Day 3 (Sunday, 26 June 2024)
10.00  Hanboknam Rental
10.30  Gyeongbokgung Palace
13.00  Lunch
14.30  Namsan Tower

Day 4 (Monday, 27 June 2024)
10.00  Going to Lotte World
11.00  Lotte World
19.00  Going home

Day 5 (Tuesday, 28 June 2024)
10.00  Strolling around Hongdae
12.00  Lunch
13.30  Dongdaemun Design Plaza
14.30  Hybe Building
15.30  Han River

Apakah semua berjalan sesuai itinerary? Oh tentu saja tidak, hahaha. Karena di hari Minggu di Seoul itu hujan mulai siang sampai malam hari jadi agak merombak itinerary kami. Tempat tujuan juga ada yang berubah dan nggak jadi dikunjungi karena waktu yang terbatas. Maklum berangkat sama anak balita pasti persiapannya lebih lama dibanding kalau pergi sendiri atau dengan anak remaja. Jadi sesuaikan saja sama kondisi saat itu. Nggak usah terlalu maksa harus kesini dan kesana.The important thing is enjoying your trip.

So, how about the budget? Untuk Airbnb saya memutuskan mencari tempat yang semalemnya nggak lebih dari 5 juta. Setelah mencari beberapa properti akhirnya kami memutuskan untuk menginap di daerah Hongdae seharga 5 juta per malam (sudah termasuk pajak dan service fee). Pas sesuai budget. Kami memilih properti di Hongdae karena sejalur dengan Airport Railroad sehingga ngga perlu transit dari Bandara Incheon. Selain itu, propertinya juga dekat dengan stasiun MRT dan Hongdae Shopping Street. Fasilitasnya juga lengkap mulai dari kompor, rice cooker, kulkas, microwave, mesin cuci, dispenser air, setrika, hair dryer, handuk, dan amenities lainnya. Lokasinya juga di lantai 2 jadi walaupun naik tangga nggak akan terlalu capek lah ya.

Soalnya ada alternatif properti lainnya yang di bawah budget tapi dia di lantai 4 dan ngga ada lift, heuheu. Naek ke lantai 2 sambil bawa koper aja udah ngos-ngosan, apalagi ke lantai 4, wkwkwk. Ini juga sih yang harus diperhatiin saat nyari Airbnb di Seoul karena rata-rata dia ada di lantai atas dan nggak ada lift. Jadi harus pastiin baca deskripsi properti dengan baik dan chat pemilik rumah untuk memastikan properti itu sesuai yang kamu mau ya.

Oke, selanjutnya budget untuk makan. Kami memutuskan untuk ngeluarin budget makan sekali saja, yaitu saat makan siang. Untuk sarapan dan makan malam , kami masak di rumah. Kami membawa beras dan lauk pauk siap saji dari Indonesia, jadi saat di sana tinggal manasin makanan saja dan bisa langsung makan. Di Seoul juga kami hanya membeli telur untuk direbus dan sayuran untuk pecel jadi nggak ngeluarin budget tambahan lagi untuk sarapan dan makan malam. Untuk budget makan siang, saya anggarkan 15.000 won per orang untuk dewasa dan 12.000 won per orang untuk anak.

Sementara, untuk budget tiket wisata kami memutuskan anggaran dialokasikan hanya ke Lotte World, Hanbok Rental dan Namsan Tower. Untuk Hanbok Rental dan Namsan Tower, saya memesan di Klook, sementara Lotte World dipesan di Tiket.com. Saat pesan tiket wisata, saya membandingkan antara dua aplikasi itu saja karena mereka memang menawarkan harga yang best deal dibanding yang lain.

Lalu, untuk transportasi sehari-hari kami memutuskan untuk naik MRT. Budget transportasi ini bisa disesuaikan dengan tujuan kamu. Saya cek rute dan ongkos MRT Seoul di website metroguides.info. Website itu bisa dijadikan panduan kamu saat naik MRT karena memuat semua line MRT di Seoul dan memberikan informasi harus transit di stasiun mana (jika kamu harus transit). Jadi udah nggak bermodalkan brosur peta MRT lagi seperti waktu pertama kali saya ke Seoul. Ini sangat memudahkan dan bikin nyaman karena nggak harus bolak-balik buka peta. Paling yang bikin tricky saat naik MRT di Seoul adalah ketika harus transit dan mencari line MRT tujuan selanjutnya, karena ada stasiun MRT Seoul yang bertingkat jadi harus bener-bener dicari nomor line MRT dan arah tujuan selanjutnya. Kalau sampai salah akan jadi agak ribet karena harus naek tangga dan pindah ke jalur lainnya.

Nah, untuk transportasi MRT selama 5 hari, saya anggarkan 24.000 won untuk dewasa. Sementara, harga tiket untuk remaja dan anak usia 6-11 tahun lebih murah, jadi pastikan daftarkan tiket remaja dan anak saat kamu membeli T-Money di minimarket dengan memberikan paspor ke petugasnya. Untuk tiket remaja saya hanya menganggarkan 15.000 won dan anak-anak 10.000 won.

Untuk transportasi selain MRT, saya juga menganggarkan ongkos taksi untuk menuju Bandara Incheon saat mau pulang ke Indonesia, supaya nggak ribet mengangkat koper karena pasti bawaannya bertambah banyak, hehehe. Untuk taksi jumbo ini saya sudah tanya-tanya sebelumnya ke pemilik rumah Airbnb dan ternyata dia bisa membantu untuk reservasi taksi. Di awal dia bilang bisa memesankan dua taksi dengan total 220.000 won. But, in the end, it's only one jumbo taxi (15-seater) and the cost is 190.000 won. Lumayan menghemat, hahaha.

And that's it. Itinerary dan budget sudah siap. And we are ready to go! Bismillah...

Sunday, 5 May 2019

Cara Apply Bebas Visa Jepang

Visa Waiver Jepang
Setelah berburu tiket ke Jepang tahun lalu, saatnya buat visa. Sebagai pemegang e-paspor alias paspor elektronik, pemohon visa bisa gratis ngajuin langsung ke Kedutaan Besar (Kedubes) Jepang. Ngajuin visa Jepang ini simpel dan cepet banget. Hanya bawa formulir dan paspor, visa Jepang jadi dalam waktu 1 hari kerja aja. Apply hari ini, visa jadi besoknya. So, today's post looks like gonna be a short one. Hehehe. 

Saya berencana liburan ke Jepang sekeluarga. Yang dimaksud satu keluarga disini, selain suami dan anak saya, adalah orang tua saya, adek dan pasangannya, juga keponakan. Total rombongan ada 11 orang. Tapi, yang punya e-paspor cuma saya dan anak saya. Jadi yang apply visa waiver ke Kedubes Jepang cuma kami berdua. Yang lain apply visa via VfS. 

Terus gimana apply visa waiver di Kedubes? Prosesnya gampang banget. Cukup print dan isi formulir yang ada di link ini: https://www.id.emb-japan.go.jp/visa_waiver2018.html. Terus bawa formulir dan e-paspor ke Kedubes Jepang. Lokasi kedubes ada di Jl MH Thamrin, pas di depan eX Plaza Indonesia. Untuk pengajuan visa waiver dibuka dari jam 09.00-12.00.

Nah, liburan ke Jepang rencananya akan dilakukan awal Maret. Namun, saya udah ngajuin visa dari akhir Januari. Sebenernya kalo mo ngajuin visa di Februari juga bisa karena prosesnya cuma 1 hari kerja, tapi saya ajuin di Januari karena sekalian jalan ke VfS buat apply visa Jepang untuk anggota keluarga saya.

Untuk menuju Kedubes Jepang, jika memakai kendaraan pribadi, maka bisa parkir di Plaza Indonesia. Buat yang naek Transjakarta, halte busway terdekat adalah Halte Bundaran HI. Dari Plaza Indonesia ke Kedubes tinggal ngesot aja karena lokasinya pas banget di depannya. Tinggal keluar aja dari Lobby Thamrin atau Lobby The Plaza. Dari pinggir Jl MH Thamrin, kantor Kedubes juga udah keliatan dengan tanda ada bendera Jepang yang berkibar di tiang. 

Saat masuk Kedubes tinggal bilang aja ke petugas keamanan kalo kita mau apply visa. Pas masuk ke dalam, kita akan diminta untuk menukar KTP dengan akses masuk. Setelah dari pos penukaran ID, masuk lagi ke dalam untuk pemeriksaan barang bawaan. HP boleh dibawa tapi nggak boleh dipake di dalam ruangan. Selanjutnya, baru deh ke ruangan apply visa.

Saat masuk ke dalam ruangan akan ada petugas satpam lagi yang berjaga dan membantu mengarahkan untuk ambil nomor antrian. Kalau kamu belum isi formulir visa, maka bisa isi dulu disana. Formulirnya sudah disediakan. Tapi, kalau sudah isi formulir, maka kita akan langsung diminta untuk isi selembar kertas kecil dua rangkap. Di kertas ini kita hanya diminta untuk isi nama, nomor paspor dan nomor telepon saja. 


Kertas untuk pengambilan paspor

Selanjutnya tinggal nunggu antrian aja. Nah, didalam ruangan ada lima loket. Tiga loket dipakai untuk apply visa, sementara sisanya sepertinya dipakai untuk pengurusan WN Jepang yang tinggal di Indonesia. Namun, saat itu untuk apply visa hanya dua loket aja yang dibuka. 

Saat disana, yang apply visa cukup rame tapi antriannya cukup cepat. Saya cuma nunggu sekitar 10-15 menit aja. Nah, untuk antrian apply visa di Kedubes Jepang kita cukup liatin layar kecil aja yang ada di atas setiap loket. Saat nomor antrian berubah, ada notifikasi bunyi 'tring' jadi kita selalu terinformasi. Kalo misalkan kita lagi bengong dan nggak ngeh, petugas loket akan manggil nomor antrian pake toa. Jadi insya Allah nomor antrian nggak terlewat. Lagian ruangan apply visa sunyi, nggak banyak orang yang ngobrol. Sekalinya saya ngobrol sama adek itu pun dengan suara rendah. Jadi pasti bunyi notifikasi antrian akan kedengeran lah ya.. Hehehe 

Saat nomor antrian saya tiba, saya segera menggendong anak saya menuju loket. Nggak tau sih tindakan saya itu sebenernya diperluin apa ngga. Tapi daripada bolak balik, saya bawa aja anaknya biar dilihat sama petugasnya, hehehe. Abis itu, langsung deh serahin formulir, e-paspor, dan kertas kecil ke petugas. Saat itu saya juga bawa berkas KK sama akta lahir anak saya, tapi ternyata nggak ditanyain. Jadi ternyata emang cuma formulir dan e-paspor aja. As simple as that. 

Cuma sekitaran 5 menit aja di loket, terus udah kelar. Petugas lalu akan ngasih rangkap kedua kertas kecil tadi sebagai bukti pengambilan paspor besok. Di kertas kecil itu tertera jelas pengambilan paspor bisa dilakukan pada pukul 13.30-15.00. Abaikan tulisan disitu yang jelasin kalo proses visa 4 hari kerja, karena petugasnya ngomong dengan jelas kalo paspor udah bisa diambil besok. And, that's it. Proses pengajuan selesai. Saatnya ambil paspor besoknya :)

Sesuai waktu yang diminta oleh Kedubes Jepang, saya pun balik lagi kesana esok harinya. Pas sampe sana tinggal bilang aja ke satpam kalo mo ambil paspor. They already know the procedure. Saat ambil paspor ini malah lebih cepat lagi. Setelah ambil nomor antrian, nggak sampe 10 menit udah dipanggil. Saat di loket tinggal serahin kertas kecil buat ambil paspor. Petugas akan langsung ngasih paspornya tanpa basa basi. Saat itu saya masih belum tau paspor saya dan anak dikasih visa waiver apa nggak, karena petugas nggak ngasih liat bagian dalam paspor. Agak deg-degan pas buka bagian dalam paspor. Dan, Alhamdulillah ternyata kami dapat visanyaaa... Yiiipppiiieee... 

Untuk visa waiver ini berlaku selama 3 tahun dengan maksimal masa tinggal 15 hari. Bisa bolak balik deh tuh ke Jepang selama 3 tahun tanpa harus ngajuin visa lagi. Alhamdulillah ternyata proses visa waiver untuk pemegang e-paspor emang mudah banget. Ngga nyangka akhirnya bisa ke Jepang juga, heuheu. Next saya akan sharing pengajuan visa Jepang bagi pemegang paspor biasa, ya.. 

Wednesday, 27 March 2019

Berburu Tiket Murah 2 Days Pass Tokyo Disneyland

Tokyo Disneyland 

Setelah nyari tempat nginep beres, saatnya cari tiket Disneyland. Nah, di Jepang ini ada dua atraksi Disneyland. Selain Disneyland, ada juga Disneysea. Jadi kami pun memutuskan untuk berkunjung sekalian ke dua tempat wisata itu. Mumpung lagi di Tokyo, ye kan... Heuheu. Berarti kami kudu nyari tiket 2 days pass.

Di situs resminya harga tiket 2 days pass dewasa 13200 yen dan anak usia 4-11 tahun 8600 yen. Untuk senior usia 65 tahun ke atas nggak ada tiket khusus 2 days pass. Beda dengan tiket yang 1 day pass dimana ada harga khusus untuk senior. Jadi untuk bokap nyokap dibeliin tiket dewasa. Soalnya kalau dihitung-hitung masih tetap lebih murah beli yang 2 days pass daripada beli tiket masuk senior 1 day pass. Nah, jadi kalo dihitung dengan kurs di bank 1 yen = Rp 135 maka tiket 2 days pass dewasa sekitar Rp 1.78 juta dan tiket anak Rp 1.1 juta. Waduh lumayan juga yak.

Etapi, pas liat-liat di Klook, ternyata tiket Disneyland 2 days pass di kisaran Rp 1.6 juta aja. Lumayan bedanya. Coba aja kalo dikali 10 tiket udah beda 1 juta, hehe. Akhirnya saya memutuskan untuk beli tiketnya di Klook. Namun karena untuk pemesanan tiket di Klook bisanya 1 bulan sebelum tanggal pemakaian tiket, maka saya harus menunggu sampai Februari 2019.

Pas akhir Januari, saya konfirmasi lagi ke keluarga apakah jadi beli tiket Disneyland. Tapi ternyata ada anggota keluarga yang minta dipending dulu nyari tiketnya sampai minggu depan. Yasud akhirnya beli tiket saya tunda. Ndilalah pas tiba saatnya mo beli di Klook ternyata tiket di tanggal yang saya mau booking yaitu 5-6 Maret udah habis terjual dong... Hwaduh... Bisanya tiket yang 1 day pass. Kalo diitung jadi jauh lebih mahal pastinya.

Akhirnya saya nyari-nyari via aplikasi e-commerce. Harga yang terpampang di kisaran Rp 1.7 juta, tapi harga bisa berubah sewaktu-waktu. Maka, saya chat pihak travel untuk tanya ketersediaan tiket dan harga. Ternyata harga yang dikasih rentang Rp 1.8 juta-Rp 2 juta. Langsung deh mundur perlahan. Sebenernya bisa aja booking tiket di web resminya Tokyo Disneyland, tapi berhubung limit kartu ngga cukup karena harus melunasi biaya hotel, maka satu-satunya pilihan adalah dengan membeli di travel agent.

Adek juga sempat nanyain tiket Disneyland ke travel agent tempat kami membeli tiket pesawat, tapi ternyata mereka belum bisa memberi update harga untuk tiket Disneyland di bulan Maret. Mereka siy bilang akan kontak adek saya lagi buat ngasih tau harganya, tapi sampai seminggu berlalu belum ada kabar. Sampai pas pertengahan Februari, ada info kalau akan ada beberapa travel fair digelar.

Akhirnya kami memutuskan untuk beli di travel fair aja. Emang jodoh banget deh kita sama travel fair. Hehehe. Saat itu yang kami tahu ada dua travel fair yang akan digelar, yaitu Cathay Pacific dan Singapore Airlines. Tapi, saat lagi iseng jalan-jalan di Kota Kasablanka, ternyata disana akan ada travel fair juga, yaitu BNI Japan Travel Fair. Wuih.. Kebetulan banget dah. Disana kan pasti banyak biro wisata, jadi bisa deh tanya-tanya dan bandingin harga tanpa perlu ribet nelponin travel, hehehe. 

Di hari pembukaan BNI Japan Travel Fair, kami langsung datengin biro wisata yang ada disana. Random aja sih milihnya, nyari biro wisata yang sepi. Biro wisata yang pertama kami datangi adalah GR. Officernya ngasih tau kalo harga dewasa Rp 1.6 juta, sementara anak Rp 1.1 juta. Wuih murah tuh tiket dewasanya. Langsung deh di-oke-in. Etapi selang lima menit kemudian, dia ngecek HP lagi terus harganya jadi berubah, wkwkwk. Harga tiket dewasa jadi Rp 1.9 juta.  Yaelah cuy.. Ternyata dia salah ngasih kurs, hahaha. Yasud langsung deh kita keliling nyari travel agent yang laen.

Selanjutnya kami ngedatengin booth BB, biro wisata yang sama dengan tempat kami beli tiket pesawat. Ternyata harganya ga jauh beda sama yang sebelumnya. Yang dewasa Rp 1.8 juta, yang anak Rp 1.3 juta. Yasud lewat... Lanjut lagi ke biro wisata lainnya. Yang ini saya lupa nama biro wisatanya tapi yang jelas tiket untuk Maret dia ga available. Jadi saya lanjut muterin booth lainnya.

Pas liat booth JALAN Tour agak sepi, saya pun langsung kesana. Eh ternyata harganya cucok banget dong.. Harganya sama kayak di Klook. Tiket dewasa dihargai Rp 1.6 juta dan anak Rp 1 juta. Bisa murah begitu karena dia ngasih rate Rp 127 = 1 yen. Langsung deh booking saat itu juga. Namun, tiket ngga bisa langsung diprint. Kami diminta untuk ambil tiketnya di kantor JALAN Tour di Wisma Keiai, Sudirman. It's okelah.. Yang penting bisa dapet tiket dengan harga lebih murah daripada travel laen, hehehe. 

Selang seminggu kemudian baru deh kami ke Wisma Keiai buat ngeprint tiket. Pas sampai disana, berhubung kami mesannya tiket 2 days pass, maka kami langsung ditanya penggunaan tiket hari pertama dan kedua mau kemana aja. Karena itu tiket fixed date, maka kami memilih Disneyland di hari pertama dan Disneysea di hari kedua. Setelah tiket dicetak, ternyata tiketnya segede kertas A4 dengan barcode di sisi kiri atas. Gede ya, mak..heuheu. Jadi katanya pas masuk Disneyland tinggal scan barcode aja. Ngga pake antri tiket lagi. Siplah.. Nggak sabar rasanya pengen maen-maen ke Tokyo Disneyland. Hehehe...

Thursday, 14 February 2019

Cara Bikin E-Paspor di Kantor Imigrasi Jakarta Timur


Setelah 5 tahun lalu perpanjang paspor, ternyata sekarang antrian online imigrasi udah berubah. Kalo dulu, buat dapet antrian online kudu upload seluruh dokumen yang diperlukan. Sekarang cukup isi nama dan milih jadwal hari kedatangan ke imigrasi aja. Lebih simpel. Nah, kali ini saya mau share cara bikin paspor elektronik alias e-paspor di Kantor Imigrasi (Kanim) Jakarta Timur. Termasuk share soal cara bikin e-paspor anak.

Untuk paspor lama saya adalah paspor biasa. Sekarang saya mau ganti jadi e-paspor. Nah, persyaratan perpanjangan paspor 5 tahun lalu dengan sekarang juga ternyata udah beda. Yang sekarang lebih simpel. Lima tahun lalu, untuk perpanjangan paspor saya masih harus menyiapkan dokumen akta lahir dan kartu keluarga (KK) selain KTP dan paspor lama. Kalau sekarang cukup dengan bawa fotokopi KTP dan paspor lama saja. Sementara, untuk membuat e-paspor anak, persyaratannya adalah fotokopi KTP ayah/ibu, KK, akta lahir dan buku nikah orang tua.

Semua detail persyaratan perpanjangan paspor maupun pembuatan paspor baru bisa dilihat di website kantor imigrasi. Oh iya, dokumen yang diperlukan difotokopi di atas kertas A4 dan jangan dipotong, ya. Selain itu, saat ke imigrasi bawa juga semua dokumen aslinya.

Oke, setelah ngecek semua persyaratan yang diperlukan, saatnya buat booking antrian bikin paspor di laman antrian.imigrasi.go.id. Hal pertama, kita harus buat username dan password dulu. Isi data diri seperti nama, email, nomor telepon, jenis kelamin sampai alamat rumah. Lanjut lagi dengan milih kanim tujuan kita dimana mau bikin paspor.

Setelah itu isi data pemohon paspor dan memilih jadwal kedatangan ke kanim. Saat memilih jadwal ini kita pilih tanggal dan waktu kedatangan. Untuk waktunya dibagi dua, yaitu pagi jam 08.00-09.00 atau siang jam 13.00-14.00.


Bukti booking online paspor

Saya mengunjungi laman antrian online imigrasi di hari Minggu, dan ternyata untuk antrian di Kanim Jaktim pada hari Senin sudah penuh. Jadi saya ambil antrian hari Selasa, 8 Januari 2019 jam 08.00-09.00. Setelah membuat permohonan, akan muncul kode QR, nama pemohon, waktu kedatangan ke imigrasi dan kode booking yang bisa diprint. Tapi, karena waktu itu saya daftarnya via HP jadi saya hanya screenshot dan ga diprint.

Di hari H jadwal kedatangan ke kanim, saya langsung menuju counter bertuliskan customer service. Disana saya nunjukin screenshot QR code dan nomor booking antrian. Sama petugas langsung dikasih formulir data diri untuk saya dan anak. Nah, berhubung saya nggak ngeprint QR code booking antrian, maka petugas meminta saya untuk menulis nomor booking di bagian atas formulir.

Isian formulir pembuatan/perpanjangan paspor kayak formulir biasa aja sih. Hanya ngisi data nama, ktp, alamat, tempat tanggal lahir dan mau buat paspor yang 24 halaman atau 48 halaman. Kalau utk e-paspor adanya yang 48 halaman. Formulir paspor anak juga sama, tapi isinya mirip seperti surat pernyataan bahwa kita sebagai orang tuanya. Oh iya, jangan lupa sediain juga materai Rp 6000 untuk ditempel di formulir, ya.

Setelah selesai isi formulir langsung cuss ke counter berikutnya untuk minta nomor antrian foto dan wawancara. Di counter ini seluruh dokumen juga akan diperiksa, baik yang asli maupun fotokopi. Setelah seluruh berkas lengkap, kita akan dikasih map imigrasi yang berisi seluruh fotokopi dokumen dan formulir, serta nomor antrian foto. Berhubung saya bawa anak, maka anak saya dikasih nomor antrian prioritas. Namun, walau anak saya dikasih prioritas, orang tuanya mah tetap di antrian biasa. Heuheu.

Nah, untuk foto dan wawancara di Kanim Jakarta Timur dilakukan di lantai 2. Untuk yang bawa stroller atau kursi roda ngga perlu kuatir karena disediain juga jalanan melandai menuju ke atas. Di lantai 2, ada deretan counter foto, jejeran kursi tunggu dan playground. Buat yang lagi menyusui disediain juga nursery room. Lumayan komplitlah.


Nunggu panggilan antrian di ruang foto dan wawancara

Saat saya duduk di kursi tunggu, saya langsung melototin layar antrian. Agak aneh, karena ruangan itu luas tapi ngga ada speaker yang ngumumin nomor antrian jadi kita harus mantengin terus layar monitor. Udah 10 menit layar di nomor antrian belum banyak berubah. Yasud akhirnya saya iseng moto ruangan dan ngecek-ngecek dokumen lagi.

Eh nggak taunya pas kembali lihat ke layar, nomor antrian anak saya udah kelewat. Langsung saya samperin counter yang manggil nomor antrian setelah anak saya. Si mbak petugas juga bingung dan langsung nanya ke counter sebelahnya, siapakah yang manggil nomor antrian anak saya. Nggak taunya counter yang manggil nomor anak saya ada di ujung.

Saat saya samperin dan mengonfirmasi, langsung ditanyain sama petugasnya, "Tadi kemana aja, mbak?". Saya jawab dengan jujur, "Tadi nggak kedengeran mbak, saya duduk agak di belakang". Terus dijawab lagi sama si mbak petugas dengan agak jutek, "Kenapa duduk di belakang? Ya udah tunggu aja di depan situ, nanti saya panggil".

Setelah si petugas selesai melayani pemohon sebelumnya, saya langsung mendatangi counter. And you know what, pas saya baru duduk di counter, speaker yang manggil nomor antrian baru bunyi. Langsung deh saya nyeplos, "Lah, itu speaker baru bunyi". Si mbak petugas cuma ngangguk. Hih sebel rasanya.. Kirain emang ga ada speaker buat pengumuman. Lagian ruang segitu luasnya, mau ngarep seluruh pemohon paspor ngedenger cuma modal si petugas manggil-manggil pake suaranya sendiri, ya susah. Apalagi kalo bawa anak dan anaknya minta maen di playground yang letaknya di ujung belakang. Gimana mau kedengeran kalo ga pake toa?

Tuh kan malah jadi curcol. Back to business deh. Saat di counter foto dan wawancara, berkas yang di map dikasih ke petugas, yang lagi-lagi akan ngecek semua dokumen, baik asli maupun fotokopi. Setelah itu disuruh nunggu lagi buat foto. Di saat itu kita juga harus pasang kuping baek-baek. Karena pengumuman antrian foto ga pake speaker. Untuk foto ini, lokasinya ada di belakang setiap counter. Jadi saat nunggu giliran, duduknya jangan jauh-jauh deh. Ndilalah pas lagi nunggu giliran foto, anak saya cranky, ngantuk, minta nyusu dan akhirnya bobo. Jadi saat dipanggil untuk foto, saya minta skip dulu.

Selang 15 menit setelah itu, giliran saya yang dipanggil ke counter. Beruntung saya ditemani adek, jadi bisa nitipin anak dulu. Usai berkas dicek, lima menit kemudian saya dipanggil lagi untuk foto. Pas disini kita akan ditanya mo buat paspor biasa atau e-paspor, tujuan buat paspor, sama soal pekerjaan. Saat itu, si mbak petugas ngasih tau kalo proses pembuatan e-paspor akan lebih lama, yaitu 14 hari kerja, karena ada sistemnya yang kenapa gitu.. Jadi proses pembuatan paspor yang paling nggak 3-5 hari kerja udah jadi, kali itu akan lebih molor. Yasud saya siy nggak masalah soal itu.

Di tempat foto ini, selain difoto, sidik jari kita juga akan dipindai. Setelah semua foto dan pemindaian sidik jari beres, petugas akan ngasih selembar kertas yang berisi instruksi pembayaran paspor. Nah, kita nantinya bisa melakukan pembayaran di bank atau kantor pos. Biaya e-paspor sebesar Rp 655 ribu.

Setelah urusan saya selesai, saatnya ngurus foto paspor anak saya lagi. Untungnya nggak lama setelah saya selesai foto dan wawancara, anak saya terbangun. Langsung deh saya samperin petugas foto di counter tempat anak saya dipanggil untuk ngasih tau kalo anak saya udah siap difoto. Hehehe.

Nah, kalo untuk foto paspor anak yang masih bayi dan belum bisa duduk sendiri ini agak tricky. Kudu ada yang bantuin buat megangin tirai putih sebagai background foto. Untungnya saya bareng adek, jadi dia yang megangin tirainya di depan muka saya, sementara saya mangku si kecil. Terus pas fotonya juga dibantu sama petugas imigrasi.

Demi memusatkan perhatian si bocah agar nampang di depan kamera, ada petugas lain yang maenin staples sambil dibunyi-bunyiin di depan di atas kamera jadi muka anak akan fokus ke depan. Fotonya nggak lama, karena si bocil juga kooperatif. Ya sih, kan abis bobo sama nyusu, wkwkwk. Mending turutin kemauan bocah dulu supaya nggak cranky. Daripada pas difoto mukanya cemberut dan susah dipegangin, hehehe. Setelah foto, saya pun langsung dikasih kertas instruksi pembayaran paspor. Jadi untuk bayi, ternyata nggak ada perekaman sidik jari. And, that's it.

Abis semua urusan foto dan wawancara selesai, saya segera ke mobil kantor pos yang ada di parkiran imigrasi buat bayar paspor hari itu juga. Untuk pembayaran paspor ini nggak harus dilakukan di hari yang sama dengan kita bikin paspor siy. Imigrasi ngasih kita waktu sampai 3 hari kerja buat bayar paspornya. Tapi demi efisiensi waktu, saya bayar aja hari itu juga, jadi nggak usah ke bank lagi. Satu hari setelah dari kanim, kita juga akan dapat kok SMS notifikasi pengingat pembayaran paspor. Abaikan aja SMS-nya ketika kamu sudah melakukan pembayaran.


SMS notifikasi dari imigrasi

Setelah semua pembayaran selesai, kita tinggal nunggu SMS dari kanim. Katanya siy kalo paspor udah jadi akan ada SMS notifikasinya. Eh, ternyata dua hari setelah pengajuan, saya tetiba dapet SMS yang ngasih tau kalo paspor yang diajuin tanggal 8-9 Januari tidak akan selesai tepat waktu karena ada gangguan sistem. Yasud saya siap-siap deh tuh ngikhlasin paspor bakal baru jadi lebih dari 2 minggu.

Eh, tau-tau enam hari setelah SMS terakhir itu, ada SMS lagi dari imigrasi yang ngasih tau kalo paspor udah jadi dan bisa diambil Senin s/d Jumat dari pukul 08.00-15.00. Wuaaahh... Ternyata cepet jadinya. Kalo diitung jadi cuma 6 hari kerja aja. Alhamdulillah. Nggak tau kenapa paspornya bisa jadi lebih cepet dari perkiraan. Dikebut kali ama imigrasinya, heuheu. Yang jelas saya ngajuin tanggal 8 Januari, dan udah dapet SMS notifikasi tanggal 16 Januari. Tepat esoknya, 17 Januari saya balik ke Kanim Jaktim buat ambil paspor.

Saat ambil paspor, jangan lupa bawa bukti pembayaran paspor, ya. Nah, untuk pengambilan paspor di Kanim Jaktim ada di bagian belakang lantai 1. Jadi dari pintu masuk utama, terus aja jalan ke belakang. Ruangan pengambilan paspor ada di sebelah kanan.

Saat saya mau ambil paspor, ruangan udah cukup rame. Saya celingak celinguk kanan kiri nyari tempat ambil nomor antrian, tapi nggak ada. Ternyata kita hanya ngasih kertas bukti pembayaran paspor aja langsung ke loket. Loket pengambilan paspor terbagi dua, yaitu untuk antrian prioritas dan biasa. Saya menuju ke loket biasa dan segera menyerahkan bukti pembayaran ke petugas. Setelah itu, sabarlah menunggu dipanggil. Dengan begitu banyak orang yang menunggu dan tanpa ada nomor antrian memang jadi agak nggak jelas kapan giliran kita akan dipanggil. Jadi sabar aja nunggu disitu. 


Ruang tunggu pengambilan paspor 

Setelah hampir 30 menit menunggu, akhirnya petugas manggil nama anak saya. Segeralah saya menuju loket. Saat itu petugas pun langsung nanya lagi apakah saat itu saya akan ambil dua paspor, yaitu paspor saya dan anak. Nah, untuk pengambilan paspor anak ini, seharusnya kita nunjukin KK yang menunjukkan hubungan keluarga (ada spanduk yang ngumumin soal itu), tapi petugas nggak nanya KK ke saya. Mungkin karena di paspor anak saya udah tertera jelas nama kedua orangtuanya.

Jadi saat ambil paspor, saya cuma isi data nama, nomor paspor dan tandatangan di sebuah buku folio milik petugas. Oh ya sebelum ninggalin loket, jangan lupa cek lagi nama lengkap dan tanggal lahir kita ya. And, that's it, akhirnya e-paspor saya dan anak pun udah jadi dan siap dipakai. Ngurus paspor elektronik ternyata gampang, nggak ribet dan cepat.

Now it's time to pack our bags and have a great holidays! :D

Friday, 28 December 2018

So-Called Honeymoon: Disneyland Hong Kong


Hari terakhir di Hong Kong, kami berencana ke Disneyland. Woohooo... Kami udah jalan dari hostel sekitar jam 8.30 pagi. Dari Stasiun Tsim Tsa Tsui, kami naik MTR ke Stasiun Sunny Bay, dengan sebelumnya transit di Stasiun Lau King. Dari Stasiun Sunny Bay ini kita akan nyambung lagi ganti kereta MTR Disney yang ikonik.

Nah, perjalanan dari Tsim Tsa Tsui ke Disneyland kurang lebih sekitar 1 jam. Saat ganti kereta di Sunny Bay, saya seneng banget liat kereta MTR Disney yang interiornya dihiasi khas Disney. Waktu tempuh ke Disneyland dari Sunny Bay ngga lama, sekitar 10 menit aja. Pas udah sampe, pengunjung tinggal jalan kaki 5 menit dari stasiun.

MTR Disney yang interiornya dihiasi siluet Mickey

Sesampainya disana Disneyland agak rame cuma ngga padet. Kami pun segera ke loket dan menunjukkan e-ticket. Prosesnya ngga lama, kurang dari 5 menit dan kami pun langsung masuk ke dalam. Saat di dalam, atrium luas dan kastil Disney menyambut pengunjung. Sayang kastil Disneyland Hong Kong jauh dari ekspektasi saya. Kecil banget buat ukuran kastil cuy..


Dari kastil, kami langsung berbelok kanan menuju Tomorrow Land. Disini kami naik coaster Hyperspace Mountain dan Iron Man Experience. Hyperspace Mountain lumayan bikin deg-degan. Tapi masih lebih asik The Mummy di Universal Studios Singapore (USS). Abis dari sana, kami lanjut ke Iron Man Experience.

Foto dulu sama Iron Man

Wahana Iron Man ini sebenernya belum resmi dibuka, baru soft launching, tapi kami mendapat kesempatan untuk mencobanya. Ternyata wahana ini menawarkan atraksi 3D. Kita diajak Iron Man buat 'menyelamatkan dunia'. Cukup keren. Tapi, kalo menurut saya masih kalah keren sama Transformers di Universal Studios Singapore (USS). Hehehe.


Many Adventures of Winnie the Pooh

Abis itu lanjut ke Fantasyland, masuk wahana Winnie The Pooh. Suami siy tadinya ngga mau, tapi saya tarik-tarik buat ikut masuk. Hahaha. Antriannya juga cukup panjang. Tapi karena penasaran sama wahananya, ya saya kesana. Ternyata wahana The Many Adventures of Winnie the Pooh ini mirip seperti istana boneka. Kita naek kereta dengan isi 4 penumpang dan didalamnya ada deretan scene cerita The Pooh dan teman-temannya. Naik wahana ini cuma sebentar, ngga sampe 10 menit kayaknya.

Terus lanjut ke Adventureland. Di kawasan ini, kami naik Jungle River Cruise. Naik kapal ala ala Indiana Jones dan dipandu ranger, penumpang diajak safari keliling danau sambil ngelewatin beberapa patung bergerak binatang. Jadi seolah-olah diajak berpetualang ke tengah hutan. Di tengah-tengah perjalanan ini, kita juga bisa lihat Rumah Pohon Tarzan yang jadi salah satu atraksi juga di Adventureland.

 Jungle River Cruise

Abis itu lanjut ke Grizzly Gulch buat naek Big Grizzly Mountain Runaway Mine Cars. Wahana roller coaster ini bertema pertambangan. Cukup bikin tereak, tapi masih agak mild dibanding roller coaster di USS yang bikin sampe jejeritan. Heuheu.

Dari Grizzly Gulch, kami ke Mystic Point buat makan siang di Explorer Club Restaurant. Di Disneyland Hong Kong ini ada dua pilihan restoran halal, yaitu Explorer Club Restaurant dan Tahitian Terrace di Adventureland. Namun, kami memilih Explorer Club karena dekat dengan musola. Nah, karena sejak awal kami udah mesen tiket Disneyland plus voucher makan, maka kami tinggal nukerin vouchernya aja. Siang itu saya memilih menu ayam dan lemon ice tea. Rasa makanannya mah biasa aja, ngga ada yang spesial.

Menu makan siang

Musholla dibelakang Explorer Club. Tersembunyi dibalik gorden

Usai makan siang, kami segera ke musola yang berada tepat di belakang restoran. Sempat clingak clinguk nyari musola karena agak nyempil. Ternyata musola ditutupi gorden putih besar. Pas diintip terlihat ruang solat yang cukup besar. Dilengkapi pula dengan tempat wudhu. Cukup representatif lah.

Usai solat zuhur, kami lanjut lagi ngebolang ke Toy Story Land. Disini ada tiga wahana yang bisa dinaiki yaitu, Toy Soldier Parachute Drop, Slinky Dog Spin, dan RC Racer. Namun, kami hanya naik Toy Soldier Parachute Drop dan RC Racer. Tadinya sih saya mau naek semua wahananya, tapi suami ngga mau diajak naek Slinky Dog Spin yang cuma muter-muter doang kayak Gajah Bledug, wkwkwk.

Toy Soldier Parachute Drop

RC Racer

Akhirnya kami naek Toy Soldier Parachute Drop dulu. Wahana ini cukup ngebuat jantung deg serr karena kita dibuat naek turun-naek turun. Cukup okelah. Dari sana, kami lanjut naek RC Racer. Wahana ini mirip kayak Kora-Kora di Dufan. Cuma bedanya wahananya bukan berbentuk perahu, tapi trek mobil berbentuk U. Lintasannya juga lebih curam jadi cukup bikin adrenalin meningkat. Suami saya seneng banget naek ini, sampe naek dua kali. Saya mah ogah. Kali kedua dia naek, saya cukup nunggu di bawah aja. Hehehe.

Setelah Toy Story Land, kami muter lagi ke Fantasyland. Pas liat show Mickey Philharmagic ternyata udah mo dimulai, kami pun memutuskan untuk masuk. Pengen tau pertunjukannya kayak apa. Ternyata semua karakter Disney ngumpul jadi satu di panggung itu dan...karakternya ngomong pake bahasa Cina. Hahaha. Untungnya di sisi kanan kiri panggung ada teks bahasa Inggrisnya. Jadi turis asing ngerti yang di panggung pada ngomong apa. Kalo ngga, kan mending ga usah ditonton kan yak. Wkwkwk. Pertunjukan berlangsung sekitar 20 menit.

Mickey Philharmagic. Ada teks bahasa Inggris di kanan atas panggung

Keluar dari Mickey Philharmagic, hari udah sore jelang malam. Kami pun memutuskan untuk kembali ke atrium depan. Eh, ternyata disana ada Mickey and Minnie lagi meet and greet. Yang mo antri foto dengan mereka panjang juga. Akhirnya kami cuma liat dan moto dari samping aja. Abis males antri cuma buat foto doang, hahaha.

Overall, semua wahana yang pengen kami naekin udah dicoba semua. Tapi, saya pengen liat parade Disney yang baru dimulai jam 8 malam. Jadi akhirnya kami muterin Disney lagi. Suami ngajakin naek Big Grizzly Mountain Runaway Mine Cars untuk kedua kalinya. Yasud akhirnya naek lagi deh. Hehehe. Lagian antriannya juga ga panjang. Paling cuma antri 5-10 menit terus langsung naek.

Mickey and Minnie Mouse

Nah, dari sana kami hanya muterin Disney aja, sambil foto-foto di beberapa spot. Setelah itu, kami langsung balik lagi ke Main Atrium buat nonton parade. Ternyata udah banyak yang pada duduk di pinggir jalur parade. Kami pun memutuskan untuk mampir ke toko suvenir dulu. Disana saya membeli magnet Disney seharga 48 HKD. 


Baru menjelang jam 8 malam, kami balik lagi ke Main Atrium dan nyari spot yang agak lowong. Nggak lama, parade lewat. Berbagai karakter Disney hadir dengan kelap kelip lampu. Mulai dari Princess Belle, Cinderella, Little Mermaid, Toy Story, Cars, Monster Inc, dan masih banyak lagi. Diakhiri dengan Mickey and Minnie Mouse. Usai parade, pengunjung pun langsung menuju pintu keluar.

Toy Story

Princess Belle

Overall menurut saya, Disneyland Hong Kong ngga terlalu luas banget. Dikitarin semuanya, ngga nyampe sehari juga kelar. Ngga perlu deh tuh beli tiket 2 day pass. Mungkin kali itu kami juga beruntung karena Disneyland lagi ngga terlalu rame, jadi antrian wahana ngga terlalu panjang. Lagian ngga semua wahana juga kami naekin. Buat anak kecil banyak wahana yang bisa dinaekin, jadi ngga rugilah kalo ngajak anak kesini. Tapi, untuk kami yang sudah dewasa dan saat itu belum dikaruniai anak, kalo menurut saya masih lebih asik ke USS. Roller coaster dan wahananya lebih seru.

Oh ya, yang cukup mengecewakan juga adalah kastil Hong Kong Disneyland yang ukurannya kecil. Karena, saya mikirnya kastil Disney di Hong Kong bakalan gede banget kayak yang di Amerika. Jadi pas liat kastilnya langsung, yah cuma segitu doang, terus jadi males deh. Hehehe. Yah cukup sekali itu aja sih kesana.

Terus bagaimana Hong Kong secara keseluruhan? Yang jelas Hong Kong ngga akan jadi negara yang akan saya kunjungi lagi. Cukup sekali itu aja. Hong Kong doesn't leave me with a feeling that makes me want to go there over and over again. Cukup asyik sih jalan-jalan di Hong Kong tapi ngga terlalu meninggalkan kesan kayak waktu pas ke Korea Selatan. Hehehe.

So...that's it. Cerita trip Hong Kong akhirnya kelar. See you on next trip, ya!