Showing posts with label Korea Selatan trip. Show all posts
Showing posts with label Korea Selatan trip. Show all posts

Monday, 26 January 2026

Family Trip : Namsan Tower (Day 5)

Namsan Tower


Hari ke-5 di Seoul, kami berencana untuk ke Namsan Tower. Tadinya kami mau kesana di hari ke-3 setelah dari Gyeongbokgung Palace, tapi karena cuaca di hari itu nggak mendukung, akhirnya itinerary ke Namsan kami ubah ke hari ini. Sebelum ke Namsan Tower, keponakan mau mampir ke Gedung Hybe, agensinya BTS ya klo nggak salah? Tapi saya nggak ikut kesana, jadi dia pergi sama orang tua dan om tantenya. Sementara, Aisyah, saya dan ibu mampir lagi ke Namdaemun Market untuk beli kaos. Kami pisah jalan dan janjian ketemuan di stasiun dekat Namsan Tower.

Sesampainya di Namdaemun Market, saya segera cari-cari stall kaos tempat saya beli terakhir kali pas ke Namdaemun, tapi ternyata ahjussi yang jual di tengah jalan nggak ada kalo siang hari. Jadi saya beli di kios yang ahjumma-nya ternyata bisa bahasa Indonesia sedikit, wkwkwk. Lumayan lah bisa ditawar sedikit-sedikit.. Nggak lupa beli lagi donat kepang di pasar :D

Sekitar 30 menit kemudian, saya udah selesai belanja dan langsung ke stasiun untuk nunggu di meeting point. Tapi ternyata yang lainnya belum sampai. Akhirnya sembari menunggu saya pergi ke kantor agen untuk menukarkan tiket masuk Namsan Tower dan cable car. Nggak lama menunggu, akhirnya kami menuju ke Namsan Tower. Nah dari kantor agen penukaran tiket, lokasinya ternyata nggak jauh. Cuma jalan sekitar 10 menitan udah sampai di Inclinator menuju Cable Car Namsan. Saat menuju inclinator, ternyata ada antrian sedikit untuk naik inclinator-nya. Karena kapasitas inclinator sekitar 20 orang jadi memang agak antri untuk masuk. Lumayan lah ada lift jadi nggak perlu jalan nanjak ke cable car-nya.

Nggak jauh dari inclinator, ada pintu masuk menuju cable car. Disini kami antri lagi sekitar 10 menit. Untungnya kapasitas cable car ini lebih luas jadi nggak nunggu lama-lama banget. Yang bikin shock setelah keluar cable car ternyata kami harus naik tangga lagi untuk menuju Namsan Tower. Duuh.. lumayan sih nanjaknya, heuheu.. Tapi ternyata untuk akses stroller ada lift tersendiri. Ini saya baru tahu pas jalan balik dari Namsan, jadi pas pulang kami turun pakai lift.



Pas sampai di atas, halaman luas menyambut pengunjung. Di pinggiran halaman juga ada pagar yang penuh dengan banyak gembok, nggak lupa kami juga ikut menaruh gembok di pagar. Setelah itu, kami memutuskan untuk masuk ke merchandise store dulu untuk lihat-lihat, baru naik ke Namsan Tower. Saat sudah naik ke atas, pemandangan kota Seoul terlihat 360 derajat. Hari cerah dan ada beberapa spot foto jadi kami menikmati pemandangan dulu di atas. Kayaknya kami di atas sekitar 30-45 menitan baru turun ke bawah.

Setelah dari Namsan Tower, kami memutuskan untuk makan siang di Myeongdong, mau nyobain grill-nya Busan Jib. Harganya lumayan untuk makan 10 orang habis 221 ribu won. Tapi, nggak apalah nyoba sesekali bbq Korea di negara asalnya. Setelah kenyang, kami balik lagi ke Airbnb untuk packing dan istirahat sebentar. Malamnya kami memutuskan untuk keliling Hongdae karena adik saya belum sempet ke sana. Sempet jajan odeng dan teobokki juga di ahjumma yang jualan di atas bak terbuka. Setelah keliling hampir 2 jam, kami balik lagi ke Airbnb untuk istirahat karena besok di jam 5 pagi kami sudah harus standby naik taksi yang akan mengantar kami ke Incheon.

360 degrees view from Namsan


Family Trip : Lotte World (Day 4)

Hari ke-4 di Seoul, kami memutuskan untuk pergi ke Lotte World. Tempat rekreasi ini dipilih karena dia ada tempat indoor. Jadi kalau cuaca lagi nggak mendukung, kita bisa tetap naik wahana yang ada di dalam ruangan. Kami memulai perjalanan agak pagi di hari itu supaya bisa sampai Lotte World pas jam buka. Dari Hong Dae, kami naik subway menuju Jamsil Station dan keluar di Exit 4. Sesampainya di Lotte Mall, kami segera menuju Lotte World mengikuti petunjuk arah yang tersedia. Pas sampai langsung deh tukar tiket yang kami beli di aplikasi online travel agent. Prosesnya cepat dan mudah.

Wahana pertama yang kami naiki wahana 3D gitu jadi kita seperti menaiki pesawat dan mengikuti petualangannya. Cukup seru, antriannya juga nggak panjang. Paling cuma antri 5 menitan terus masuk. Setelah itu, kami naik wahana kapal dan keliling merchandise store karena tempatnya berdekatan jadi sekalian aja lah daripada bolak balik. Heuheu.. Merchandise-nya lucu-lucu, apalagi snow ball dan music box-nya. Tapi saya nggak beli snow ball maupun music box karena harganya mahal, wkwkwk. Kayaknya sekitar 700 ribu-1 jutaan. Di merchandise store seperti biasa saya cuma beli magnet kulkas aja untuk kenang-kenangan. Harganya kalo nggak salah 5000 won.

Setelah dari store, kami naik ke lantai atas. Pengen naik balon udara yang kelilingin bagian dalam Lotte World. Tapi karena nggak tau ada di lantai berapa wahananya, akhirnya kami memutuskan mengira-ira aja dan asal masuk wahana. Ternyata pas masuk, salah wahana. Wkwkwkwk.. Emang dah sotoy bener.. :D 

Setelah itu, kami naik komidi putar dan anak-anak lanjut naik bombom car mini dan main ke playground. Sembari menunggu anak-anak main, kami iseng ke restoran burger untuk beli beberapa cemilan. Nggak lama parade Lotte World dimulai dan kami langsung ambil posisi untuk lihat paradenya. Lumayan lama dan menarik paradenya, dan karakternya juga bermacam-macam. Habis lihat parade kami memutuskan untuk naik ke lantai atas lagi. Pas di lantai 3 atau 4 gitu, saya lupa, ada wahana yang antriannya panjang. Pas dilihat-lihat itu ternyata wahana balon udara yang kami cari-cari di awal. Males antri panjang, akhirnya kami skip wahana itu dan memilih wahana kereta yang juga mengelilingi bagian dalam Lotte World. Antriannya masih lumayan dibanding balon udara. Setelahnya kami solat di praying room, dia ada di lantai 3 zona Adventure. Alhamdulillah ruang solatnya cukup memadai.

Muslim Prayer Room @Lotte World

Setelah solat, kami memutuskan untuk makan siang dulu. Lumayan lapar setelah keliling-keliling ya.. Setelah mencari-cari tempat makan, akhirnya kami memilih makan ayam goreng di Lotteria yang budget friendly. Makan siang hari itu habis sekitar 97 ribu won. Setelah kenyang, kami memutuskan untuk eksplor bagian luar Lotte World. Nah yang di bagian luar ini, wahananya lebih banyak yang ekstrim kayak roller coaster dan piringan berputar. Ada juga untuk wahana anak-anak cuma nggak sebanyak di bagian dalam. Untuk wahana anak-anak, kami cuma naik komidi putar mini dan kereta mini indoor. Di bagian luar ini kami juga nggak begitu lama. Tadinya mau naik roller coaster tapi nggak jadi karena antriannya panjang. Lagian hari juga udah mulai malam, jadi kami nggak lama-lama di luar karena dingin, hahaha..

Nah habis eksplor bagian luar dan foto-foto di depan kastilnya, kami masuk lagi dan ternyata itu udah mau jam 8 malam, which means 1 jam lagi theme park akan tutup. Karena kami udah mulai lelah, akhirnya kami memutuskan untuk pulang. Sebenernya ada parade lagi di malam harinya, cuma kami nggak nonton sampai selesai. Setelah keluar dari Lotte World, kami memutuskan untuk mampir sebentar ke supermarket Lotte untuk cari oleh-oleh cemilan. Mumpung masih satu gedung, jadi why not stopping by for a bit. Ternyata pilihan cemilan di Lotte Mart cukup banyak. Nggak lupa di-scan satu-satu untuk lihat ingredients-nya. Selain beli cemilan, kami juga beli telur dan sayuran untuk lauk di rumah. And, that's it for day 4. Esoknya hari terakhir di Seoul, kami berencana ke Namsan Tower. See you on next blog! :)

Tuesday, 4 February 2025

Family Trip : Hanbok Experience at Gyeongbokgung Palace (Day 3)



Di hari ketiga kami menjadwalkan untuk pergi ke Gyeongbokgung Palace sekalian menyewa hanbok untuk foto-foto disana. Untuk sewa hanbok kami membeli voucher di Klook. Pilihannya jatuh ke Hanboknam Rental karena lokasinya yang dekat dengan pintu keluar stasiun dan pintu masuk Gyeongbokgung Palace. Ada dua pilihan hanbok di Hanboknam, yaitu standard dan premium. Kami memutuskan beli yang standard saja. Total menyewa hanbok untuk 12 orang sebesar Rp 934.108. Untuk menuju ke Hanboknam tinggal ikuti petunjuk arah yang diberikan oleh Klook yaitu ke Exit 4 Stasiun Gyeongbokgung Palace.

Sesampainya di Hanboknam Rental, penukaran voucher cukup mudah dan stafnya juga ramah dan lancar berbahasa Inggris. Namun, saat disana kami baru tahu kalau untuk baju hanbok anak hanya tersedia yang premium, sehingga kami harus bayar upgrade baju anak sebesar 15 ribu won per baju. Heuheu.. agak nyesek sih. Tau gitu kan dari awal pilih yang premium untuk baju bocah karena beda harganya agak jauh kalau beli on the spot sama beli di Klook. Tapi, ya sudahlah yaaa... There's always a lesson learned in every trip.

Setelah memilih-milih baju, kita akan dibantu memakai hanbok oleh staf disana. Setelah selesai, kita juga bisa memilih gaya tatanan rambut. Ada yang gratis, ada juga yang berbayar. Rata-rata model gaya rambutnya dikepang, cuma beda di aksesoris aja antara yang berbayar dan gratis. Tapi menurut saya, untuk hairdo yang gratis juga bagus kok. Setelah semua beres, kami segera menuju ke Gyeongbokgung Palace. Agak buru-buru karena langit udah mendung. Dan, bener aja pas banget masuk ke area Gyeongbokgung, hujan rintik mulai turun. Sayangnya hari itu kita nggak ada yang bawa payung, jadi mau nggak mau kita neduh dulu sambil nyari spot foto.

Atas : Hairdo Aisyah dari Hanboknam
Bawah : Family photo in front of Gyeongbokgung Palace

Hujan turun agak lama. Saat hujan mulai reda kami segera nyari spot foto di lapangan luas. Eh.. baru sebentar foto-foto di lapangan, hujan turun lagi. Terus reda, terus hujan lagi. Gitu terus sampai waktu penyewaan baju yang 2,5 jam selesai, heuheu. Padahal kalau pakai hanbok, masuk Gyeongbokgung Palace itu gratis, tapi karena terhalang hujan, kami hanya sempat masuk ke bagian depan istana aja. Sayang sih karena sebenernya Gyeongbokgung Palace itu luas banget sampai ke belakang dan banyak spot foto yang bagus. Oh iya, karena cuaca hujan, ritual pergantian petugas istana di Gyeongbokgung Palace juga ditiadakan.

Akhirnya setelah 2 jam foto-foto, kami pun balik ke Hanboknam untuk balikin baju. Waktu sudah menunjukkan pukul 14.30, perut pun lapar. Apalagi cuaca dingin dan berangin jadi makin laper ye kan... Saat itu karena bingung cari tempat makan halal sekitar Gyeongbokgung Palace akhirnya kami memutuskan untuk pergi ke Itaewon yang sudah pasti ada banyak pilihan restoran halal.

Sayangnya saat keluar stasiun Itaewon, hujan kembali turun dan agak deras. Tadinya kami mau makan di restoran Ied, tapi karena hujan, akhirnya kami nyari tempat makan yang deket stasiun. Untungnya ada Halal Guys yang jaraknya hanya sekitar 100 meter dari stasiun. Jadi akhirnya kita makan siang disana. Setelah perut kenyang, kami pun memutuskan untuk kembali ke Airbnb karena cuaca masih hujan jadi nggak kondusif kalau mau jalan-jalan lagi sambil bawa anak kecil.

Karena sampai Airbnb lebih awal, saya pun memutuskan untuk keliling sekitaran Hongdae setelah istirahat sebentar. Sendiri aja, sementara anak-anak sama ayahnya di apartemen. Mampir juga ke minimarket CU untuk beli mie instan cup dan minuman. Soalnya enak kayaknya makan mie instan di cuaca dingin saat itu. Hehehe... Setelah keliling sekitar 45 menit saya pun balik ke Airbnb.

Monday, 3 February 2025

Family Trip : Coex Mall dan Namdaemun Market (Day 2)

@Starfield Library

Hari kedua kami bangun agak siang, kecapean semalam setelah keliling Myeongdong dan sampai di rumah sekitar jam 22.30. Nggak kerasa karena matahari terbenam di Seoul itu baru sekitar jam 19.30. Jadi berasanya masih siang aja dan jalan-jalan terus, padahal kalau di Indonesia jam segitu udah gelap, wkwkwk.

Nah di hari kedua ini kami sebenarnya pengen ke Gwangjang Market dulu, tapi karena kesiangan akhirnya kami nggak jadi kesana. Jadi kami memutuskan untuk langsung ke Starfiled Library di Coex Mall. Untuk menuju ke Coex Mall ini kita perlu ke Samseong Station dan keluar di exit 5 atau 6. Begitu keluar dari stasiun Samseong, Coex Mall udah keliatan. Nah tapi yang membuat kami bingung adalah lokasi Starfield Library itu ada dimana. Sempet pengen langsung masuk mall-nya tapi ragu akhirnya muter-muter di luar. Hahaha... Setelah sempet nyasar, kami akhirnya masuk mall. Ternyata Starfield Library ada di bagian dalam mall, pas di tengah-tengah. Jadi saat terus masuk ke dalam mall akan langsung mengarah ke perpustakaannya. Jadi deh foto-foto disana dulu, heuheu...

Musholla di Coex Convention Center

Oh iya, di Coex Mall ini ada mushola juga loh. Jadi bagi yang muslim nggak akan bingung nyari tempat solat. Tempatnya ada di Coex Convention Center yang sebelahan dan terhubung langsung dengan mall. Musholla ada di lantai 3. Kalau bingung arahnya tinggal tanya petugas yang ada di sana.

Setelah dari Coex Mall, kami memutuskan untuk ke Namdaemun Market untuk cari oleh-oleh. Untuk menuju ke sana, kamu perlu ke Hoehyeon Station dan keluar di Exit 5. Kalau dari arah Coex Mall, jangan lupa untuk transit di Sadang Station dan cari jalur kereta yang ke arah Hoehyeon Station. Sesampainya di Hoehyeon Station, suasana stasiun cukup berbeda. Vibes-nya seperti Tanah Abang, hahaha. Di Namdaemun Market ini, kamu juga akan banyak ketemu sama ahjumma-ahjumma.

Keluar stasiun ada banyak penjual kaki lima yang jual makanan dan suvenir. Kami memutuskan untuk mampir sebentar beli buah, odeng dan kimbap buat ngeganjel perut. Harganya 1000-2000 won. Nggak jauh dari sana ada penjual suvenir mulai dari magnet, kipas, gantungan kunci, dan lain-lain. Yang unik ada penjual suvenir cowok, usianya sekitar 35-40 tahun, bisa bahasa Indonesia, wkwkwk. Pas awal-awal kami ke stall-nya agak kaget karena nggak nyangka ada yang bisa bahasa Indonesia, hahaha. Jadilah lebih enak buat nawar-nawar ya kaaann... :D

Setelah beli printilan suvenir, kami lanjut lagi dan liat ada toko makanan yang rame banget. Ternyata dia jual gorengan donat kepang. Kalo nggak salah harganya 1000 won per pcs. Kalau kesana harus nyobain sih karena donatnya enak, apalagi kalau dimakannya pas masih panas. Walaupun tokonya rame tapi pelayanannya cepet karena pegawainya banyak.

Setelah itu kami keliling-keliling Namdaemun Market. Ternyata disana ada banyak jenis barang yang dijual. Mulai dari aksesoris, baju, makanan kemasan, herbal sampai mainan. Di Namdaemun saya cuma beli almond, gantungan kunci, magnet dan kaos. Untuk gantungan kunci dan magnet ada banyak pilihan. Ada yang 1 set isi 5 pcs atau 6 pcs dan ada juga yang satuan. Harga magnet dan ganci bervariasi tergantung dari bahannya. Untuk yang satuan ada yang mulai dari 3000 won. Kalau yang satu set bisa 5000-10000 won. Lumayanlah buat nambahin oleh-oleh, heuheu...

Usai muterin pasar sekitar 1,5 jam kami memutuskan untuk cari makanan. Karena bingung mau kemana akhirnya kami pilih ke Busan Jib yang ada di Myeongdong. Jarak antara Myeongdong dan Namdaemun ini deket cuma 1 stasiun aja. Sesampainya di Myeongdong kami agak bingung nyari Busan Jib karena letaknya di dalam gang kecil. Alhamdulillah setelah muter-muter akhirnya nemu juga. Sebenernya kemarin pas ke daerah Myeongdong kami lewat di depan gangnya. Cuma karena lokasi Busan Jib agak masuk ke dalam, kami nggak ada yang ngeh kalau di dalam gang ada restoran. Pokoknya kalau dari exit 5 dan 6 Stasiun Myeongdong tinggal lurus masuk aja ke arah streetfood Myeongdong, nah lokasi gang Busan Jib ada di antara deretan bangunan sebelah kanan.

Lokasi Busan Jib diantara HBAF Almond dan Holika Holika
Masuk ke dalam gang akan langsung terlihat plang Busan Jib

Busan Jib menyediakan tiga restoran berbeda sesuai dengan jenis makanan yang disediakan. Ada ayam goreng, seafood dan barbeque. Saat itu kami memilih seafood karena variasi makanannya lebih banyak. Untuk hidangan seafood Busan Jib rasanya lumayan. Tapi tetep lebih enak restoran Eid kemaren di Itaewon. Selesai makan, kami pun langsung pulang ke Airbnb untuk beristirahat.

Thursday, 1 August 2024

Family Trip : Myeongdong and Itaewon (Day 1)


Di hari pertama exploring Seoul, kami berencana ke daerah Itaewon dan Myeongdong. Karena di hari pertama ini jatuh di hari Jumat maka kami memutuskan untuk ke daerah Itaewon terlebih dulu agar bisa menunaikan shalat Jumat di Seoul Central Masjid. Walau sudah pernah ke Masjid Seoul ini, tapi saya agak lupa jalannya. Untungnya di Itaewon Station Exit 3 ada Tourist Information Center, jadi bisa nanya kesana dulu dan akhirnya dikasih selembar kertas berisi printout gambar menuju ke masjid.

Sayangnya pas sampai masjid ternyata pintu depan sedang direnovasi jadi kami harus berjalan lebih jauh ke arah belakang masjid supaya bisa masuk ke dalam. Cukup ngos-ngosan karena jalan nanjak, hahaha. Untungnya cuaca dingin dan nggak panas jadi ngga terlalu berasa capek. Sesampainya di masjid, Alhamdulillah belum azan zuhur. Kami hanya menunggu sekitar 20 menit, kemudian salat Jumat dimulai. Awalnya malah takut ketinggalan solat Jumat karena kami baru berangkat dari Airbnb jam 11.30. Ternyata azan zuhur di Seoul itu jam 13.30 jadi aman saat sampai masjid.

Selesai solat, kami memutuskan makan siang di Restoran Ied Halal Food, ngga jauh dari Masjid Seoul. Saat sampai disana, kami harus masuk waiting list karena memang pas jam makan siang jadi ramai dan harus antri. Menu makanannya variatif, enak dan harganya lumayan terjangkau. Restoran Ied menyediakan makanan Korea, jadi buat yang pengen nyobain Korean food bisa kesana tanpa perlu bertanya-tanya makanannya halal atau nggak. Berbagai macam menu makanan Korea tersedia di Restoran Ied, seperti samgyetang (sup ayam ginseng), ikan makerel bakar, topokki, bibimbap, sampai yang standar seperti chicken mayonaise rice bowl. Harganya mulai dari 8000-15000 won, kalo ngga salah.

Nah, selesai makan, kami melanjutkan perjalanan ke Daiso Myeongdong buat cari oleh-oleh. Penasaran juga kesana karena katanya Daiso di Myeongdong adalah salah satu Daiso terbesar di Korea. Harga barang disana juga murah-murah. mulai dari 500 won. Dari Itaewon menuju ke Myeongdong, kami naik MRT tanpa transit dan turun di Exit 1 Stasiun Myeongdong. Keluar stasiun udah keliatan kok Daiso-nya jadi nggak bakalan nyasar.

Sesampainya disana, kami nggak eksplor satu per satu lantainya siy.. karena Daiso Myeongdong itu kan 12 lantai ya, jadi kami hanya lihat-lihat di tempat aksesoris, stationery, peralatan rumah tangga dan food beverages section. Dan, ternyata aksesoris, stationery dan alat rumah tangga disana lucu-lucu banget.. Kalau ngga usah mikir gimana cara bawanya pulang, bakal dibeli kali itu yang ukurannya gede-gede, wkwkwk. In the end cuma beli yang printilan kayak handuk tangan, dompet koin, bando, dan stationery :D

Pas naek ke food beverages section, disini yang makan waktu agak lama karena kami menelusuri ingredients-nya satu per satu pake translation tools di handphone. Menghindari yang ada kandungan alkohol dan babi, baik itu di bahan utamanya maupun saat pembuatan makanan minumannya. Pokoknya ngga terasa udah 1 jam lebih kami menghabiskan waktu mencari oleh-oleh di Daiso Myeongdong. Pas pulangnya sampe beli tas belanja berukuran besar buat naro barang yang dibeli, wkwkwk. Untungnya adek bawa stroller anaknya jadi cukup ngebantu buat naro barang diatas stroller, hahaha.

Setelah dari Daiso, kami lanjut ke area street food Myeongdong. Walaupun sebenernya pricey, tapi penasaran aja gitu pengen nyobain street food-nya, heuheu. Nah, first stop, kami nyobain mochi buah. Harganya 4000 won per pcs. Saya pilih yang isinya peach karena penasaran sama rasa buah peach asli, hehehe. Rasanya ternyata agak manis dan teksturnya mirip mangga. Oh iya, mochi buah ini langsung dibuat saat ada pesenan ya. Jadi kita bisa liat saat penjualnya ngebungkus buah dengan mochi. Yumm...

Setelah nyobain mochi, keponakan beli tanghulu stroberi dan saya beli egg bread. Ternyata egg bread rasanya hambar, wkwkwk. Kurang saos sambel kalo kata saya mah, hahaha. Yah murah juga sih karena harganya cuma 2000 won. Egg bread adalah salah satu jajanan termurah di Myeongdong kayaknya, wkwkwk.

Lanjut kita beli bungeoppang isi custard. Ini juga murah, 5000 won dapet 4 pcs kalo ga salah. Tapi sayangnya rasa custardnya hambar jadi kurang appetizing pas dimakan, heuheu. Setelah itu kami nyobain es krim yang diselimuti marshmallow dan di-torch pake obor. Harganya 8000 won. Lumayan seger es krimnya dan ada rasa pait dikit dari hasil torch marshmallow. Cuma anak saya kurang suka karena katanya es krimnya ga keliatan, hahaha.

Setelah itu, kita nyobain lagi udang mentega, harganya 10 ribu won. Mahal siy, tapi enak, hehehe. Setelah itu, anak saya ngerongrong minta beliin potato twist, yasud akhirnya beli seharga 5000 won. Lumayan harganya dibanding di Jakarta yang lebih murah ya. Setelahnya minta beliin lagi cheese corndog. Saya lupa harganya. Tapi akhirnya karena kayaknya kekenyangan, itu corndog cuma dimakan seperempat, heuheu. Sisanya saya yang makan, wkwkwk.

Oh iya, di Myeongdong ini, saya juga sempet mampir ke outlet Nature Republic buat beli titipan skincare tante. Untungnya bawa duit cash yang cukup karena ternyata harganya lumayan mahal, wkwkwk. Saat belanja di Nature Republic ini kita langsung dapet potongan tax refund ya, jadi lumayan nggak usah repot ngurus tax refund di bandara. Finally, setelah sekitar 2 jam menelusuri street food Myeongdong, akhirnya kami pulang, dengan perut lumayan kenyang dan dompet lebih ringan, heuheu.

Saturday, 15 June 2024

Family Trip : Seoul (Itinerary and Budget)



Hello... Hai.. Hei...

Dah lama buanget saya ga posting blog inih ya sodara-sodara, heuheu.. Untung masih inget passwordnya, hahaha. Entah kenapa setelah punya bocil, energi untuk nulis seperti lenyap begitu saja. But, anyway here I am. Mulai menulis lagi, mencoba mengasah keterampilan menulis lagi. I hope it;s not getting worse or even boring.

So today I want to tell about my family trip to Seoul, South Korea. The second visit for me after in 2015 with my mother and father. But, with the whole family (husband, children, brother, sister, in-laws, nephew and nieces), it is the very first time. Sebenernya ngide untuk ke Seoul sudah direncanakan sejak 2023. Tapi, kami nunggu jadwal Cathay Pacific Travel Fair yang kerja sama dengan CIMB Niaga supaya dapet harga tiket yang sesuai budget dan transitnya ga terlalu lama. Why Cathay? Karena kami nasabah CIMB Niaga sehingga bisa dapet cashback saat travel fair, jadi bisa menghemat budget, hehehe.

Sebelumnya kami sudah mengecek harga tiket di online travel agent, tapi rata-rata kalau harga tiketnya murah pasti transitnya lebih dari 12 jam. Not suitable for family with little children. Kalau penerbangan langsung ke Seoul, harganya rata-rata diatas 4-5 juta sekali jalan. Jadi ga masuk budget, heuheu. Nah, saat Cathay Pacific Travel Fair digelar akhir Februari 2024 di Gandaria City (Gancit), kami akhirnya cuss kesana dan dapet tiket PP 5,7 juta setelah cashback. Sebenernya bisa dapet cashback lagi di hari berikutnya sehingga bisa dapat potongan harga lagi, tapi kami menyelesaikan transaksi di satu hari itu saja karena enggan bolak-balik ke Gancit. Lumayan jauh dari rumah soalnya. Kalau travel fair-nya di Kota Kasablanka mungkin akan kami jabanin bolak-balik.

Jadi, setelah urusan tiket selesai, saatnya mengurus visa dan mencari Airbnb. Untuk visa, kami memilih yang single visa dengan biaya Rp 856.000 per orang. Proses pengajuan visa sama seperti tahun-tahun sebelumnya, Saya sudah pernah menulis soal pengajuan visa Korea di blog ini : Apply Visa Korea

Nah, kami berencana pergi dari 23-29 Juni 2024. Two days for trip to and from Seoul. Five days for exploring Seoul. Jauh lebih lama dari kunjungan saya sebelumnya yang cuma 3 hari, heuheu. Anyway, setelah berembuk dengan keluarga, akhirnya diputuskan untuk itinerary di Seoul sebagai berikut :

Day 1 (Friday, 24 June 2024)
11.00  Going to Itaewon
12.00  Jumah Prayer
14.00  Lunch
15.30  Going to Daiso Myeongdong
16.00  Daiso Myeongdong
18.00  Exploring Myeongdong Street Food

Day 2 (Saturday, 25 June 2024)
10.00  Gwangjang Market
11.30  Coex Mall
12.00  Lunch
13.30  Namdaemun Market
15.30  Seoullo 7017 Sky Garden

Day 3 (Sunday, 26 June 2024)
10.00  Hanboknam Rental
10.30  Gyeongbokgung Palace
13.00  Lunch
14.30  Namsan Tower

Day 4 (Monday, 27 June 2024)
10.00  Going to Lotte World
11.00  Lotte World
19.00  Going home

Day 5 (Tuesday, 28 June 2024)
10.00  Strolling around Hongdae
12.00  Lunch
13.30  Dongdaemun Design Plaza
14.30  Hybe Building
15.30  Han River

Apakah semua berjalan sesuai itinerary? Oh tentu saja tidak, hahaha. Karena di hari Minggu di Seoul itu hujan mulai siang sampai malam hari jadi agak merombak itinerary kami. Tempat tujuan juga ada yang berubah dan nggak jadi dikunjungi karena waktu yang terbatas. Maklum berangkat sama anak balita pasti persiapannya lebih lama dibanding kalau pergi sendiri atau dengan anak remaja. Jadi sesuaikan saja sama kondisi saat itu. Nggak usah terlalu maksa harus kesini dan kesana.The important thing is enjoying your trip.

So, how about the budget? Untuk Airbnb saya memutuskan mencari tempat yang semalemnya nggak lebih dari 5 juta. Setelah mencari beberapa properti akhirnya kami memutuskan untuk menginap di daerah Hongdae seharga 5 juta per malam (sudah termasuk pajak dan service fee). Pas sesuai budget. Kami memilih properti di Hongdae karena sejalur dengan Airport Railroad sehingga ngga perlu transit dari Bandara Incheon. Selain itu, propertinya juga dekat dengan stasiun MRT dan Hongdae Shopping Street. Fasilitasnya juga lengkap mulai dari kompor, rice cooker, kulkas, microwave, mesin cuci, dispenser air, setrika, hair dryer, handuk, dan amenities lainnya. Lokasinya juga di lantai 2 jadi walaupun naik tangga nggak akan terlalu capek lah ya.

Soalnya ada alternatif properti lainnya yang di bawah budget tapi dia di lantai 4 dan ngga ada lift, heuheu. Naek ke lantai 2 sambil bawa koper aja udah ngos-ngosan, apalagi ke lantai 4, wkwkwk. Ini juga sih yang harus diperhatiin saat nyari Airbnb di Seoul karena rata-rata dia ada di lantai atas dan nggak ada lift. Jadi harus pastiin baca deskripsi properti dengan baik dan chat pemilik rumah untuk memastikan properti itu sesuai yang kamu mau ya.

Oke, selanjutnya budget untuk makan. Kami memutuskan untuk ngeluarin budget makan sekali saja, yaitu saat makan siang. Untuk sarapan dan makan malam , kami masak di rumah. Kami membawa beras dan lauk pauk siap saji dari Indonesia, jadi saat di sana tinggal manasin makanan saja dan bisa langsung makan. Di Seoul juga kami hanya membeli telur untuk direbus dan sayuran untuk pecel jadi nggak ngeluarin budget tambahan lagi untuk sarapan dan makan malam. Untuk budget makan siang, saya anggarkan 15.000 won per orang untuk dewasa dan 12.000 won per orang untuk anak.

Sementara, untuk budget tiket wisata kami memutuskan anggaran dialokasikan hanya ke Lotte World, Hanbok Rental dan Namsan Tower. Untuk Hanbok Rental dan Namsan Tower, saya memesan di Klook, sementara Lotte World dipesan di Tiket.com. Saat pesan tiket wisata, saya membandingkan antara dua aplikasi itu saja karena mereka memang menawarkan harga yang best deal dibanding yang lain.

Lalu, untuk transportasi sehari-hari kami memutuskan untuk naik MRT. Budget transportasi ini bisa disesuaikan dengan tujuan kamu. Saya cek rute dan ongkos MRT Seoul di website metroguides.info. Website itu bisa dijadikan panduan kamu saat naik MRT karena memuat semua line MRT di Seoul dan memberikan informasi harus transit di stasiun mana (jika kamu harus transit). Jadi udah nggak bermodalkan brosur peta MRT lagi seperti waktu pertama kali saya ke Seoul. Ini sangat memudahkan dan bikin nyaman karena nggak harus bolak-balik buka peta. Paling yang bikin tricky saat naik MRT di Seoul adalah ketika harus transit dan mencari line MRT tujuan selanjutnya, karena ada stasiun MRT Seoul yang bertingkat jadi harus bener-bener dicari nomor line MRT dan arah tujuan selanjutnya. Kalau sampai salah akan jadi agak ribet karena harus naek tangga dan pindah ke jalur lainnya.

Nah, untuk transportasi MRT selama 5 hari, saya anggarkan 24.000 won untuk dewasa. Sementara, harga tiket untuk remaja dan anak usia 6-11 tahun lebih murah, jadi pastikan daftarkan tiket remaja dan anak saat kamu membeli T-Money di minimarket dengan memberikan paspor ke petugasnya. Untuk tiket remaja saya hanya menganggarkan 15.000 won dan anak-anak 10.000 won.

Untuk transportasi selain MRT, saya juga menganggarkan ongkos taksi untuk menuju Bandara Incheon saat mau pulang ke Indonesia, supaya nggak ribet mengangkat koper karena pasti bawaannya bertambah banyak, hehehe. Untuk taksi jumbo ini saya sudah tanya-tanya sebelumnya ke pemilik rumah Airbnb dan ternyata dia bisa membantu untuk reservasi taksi. Di awal dia bilang bisa memesankan dua taksi dengan total 220.000 won. But, in the end, it's only one jumbo taxi (15-seater) and the cost is 190.000 won. Lumayan menghemat, hahaha.

And that's it. Itinerary dan budget sudah siap. And we are ready to go! Bismillah...

Thursday, 2 March 2017

Tempat Makanan Halal, Musholla dan Masjid di Seoul dan Nami Island

Hello again! Long time no see, yaaa... Heuheu.

Meski udah lewat setahun yang lalu, kali ini saya mau nge-share aja soal tempat makan halal dan tempat ibadah bagi Muslim di Seoul dan Nami Island. Buat yang umat Muslim untuk nyari makanan halal sama tempat solat ketika berwisata ke negara minoritas muslim emang agak sulit, tapi bukan berarti hal itu jadi halangan untuk mengeksplorasi bumi ciptaan Allah SWT, ya ngga?

Nah, waktu saya nge-trip ke Seoul tahun lalu, salah satu yang menjadi prioritas ketika melakukan searching adalah tempat makan dan tempat solat. Di Seoul, kebanyakan merekomendasikan Itaewon. Selain di sana banyak tempat makan halal, di Itaewon juga ada Masjid Seoul. Oke, Itaewon is definitely on my itinerary! Untuk menuju ke Masjid Seoul tinggal ke Itaewon Station dan keluar di Exit 3.

Menyusuri trotoar di Itaewon, kamu akan bisa melihat jejeran restoran halal yang sebagian besar menyajikan kebab, makanan Timur Tengah atau India. Beranjak ke arah Masjid Seoul, mulai nemu deh tuh makanan Korea halal dan Melayu. Hari pertama di Seoul kami pun udah langsung aja ke Itaewon karena kelaperan. 

Malam itu, karena udah capek dan gelap, bokap akhirnya memutuskan untuk masuk ke sebuah restoran yang ada di kiri jalan menuju masjid (maaf, lupa nama restorannya). Asal masuk aja, ternyata resto yang kami masuki adalah restoran Timur Tengah all you can eat, hekz. Berarti, bayarnya mahal, heuheu. Jadilah itu roti pita yang ada di meja diabisin semua dan ambil kari banyak-banyak. Sayang, kan all you can eat, heuheu. Berhubung bokap yang ngajak masuk sana, akhirnya beliau yang ntraktir malam itu, hehehe.

Hari berikutnya untuk makan siang kami kembali lagi ke Itaewon. Selain pingin ke Masjid Seoul, yang belum sempet disambangi kemarin, sekalian juga-lah nyari makan siang yah. Usai berbelanja (lagi) di Pyounghwa Market, kami kembali menyusuri kawasan Itaewon. Kali ini langsung menuju Masjid Seoul. Dan...ternyata jalanan menuju masjid itu makin lama makin nanjak. Nyokap udah turun dari kursi roda dan jalan pelan-pelan. Ngga sanggup kalo harus sambil ngedorong nyokap di atas kursi roda, bo. Untunglah kaki nyokap udah berasa mendingan, Alhamdulillah.


Masjid Seoul.

Sesampainya di Masjid Seoul, rasa kagum menguar. Masjid ini ada di atas bukit, jadi pas sampe sana, kamu bisa lihat pemandangan di bawah. Ketika udah sampe masjid, tempat wudhu cewek ada di bagian belakang masjid. Di sana juga ada toiletnya. Nah, untuk tempat solatnya: yang cowo di halaman bawah, sedangkan yang cewe ada di lantai atas. Cerita-cerita soal Masjid Seoul ini udah pernah dibahas di postingan Seoul Trip: Lost in Seoul (Day 2).

Nah, abis dari Masjid Seoul terus kami turun ke bawah. Di sepanjang jalan itu banyak restoran halal. Di sebelah kanan banyak restoran Melayu dan di sebelah kiri menawarkan makanan otentik halal Korea. Namun, akhirnya kami memilih makan siang-jelang sore di Siti Hajar. Tempat makan ini terletak di sebelah kanan jalan kalau dari arah masjid, dan menawarkan makanan Melayu. Di sana kami memesan paket ayam bakar dan sayur asem. Harganya 10 ribu Won. Agak mahal emang, tapi pas liat ayamnya... OMG ternyata itu ayamnya guede aja. Bukan bagian paha, sayap atau dada, tapi itu bagian ayam separo ditaro di atas piring. Saya aja bingung ngabisinnya gimana, hahahaha. Akhirnya itu sisa ayam dibungkus buat makan malem di hotel. Lumayan lah ngehemat yah... Wkwkwkwk

Nah, restoran Siti Hajar ini, menurut karyawan di sana, adalah milik orang Indonesia, makanya makanan yang dijual makanan Melayu. Enaknya di sini karyawannya yang merupakan orang Arab ramah banget. Dan, saya jadi ngerasa agak aneh pas denger dia ngomong bahasa Korea, hahaha. Biasa ngeliat orang Arab ngomong bahasa ibunya, bahasa Melayu atau Inggris, soalnyah. Dan, ternyata dia beristrikan orang Korea, yang juga kerja di situ. Istrinya cantik berhijab. Eh, ini kok malah ngelantur. Oke, back to laptop.

Kalau soal makanan halal di Korea, pokoknya di Itaewon ini deh tempatnya. Alternatif lainnya adalah membeli onigiri di Seven Eleven. Belilah onigiri isi tuna atau yang original, harganya 800-1000 Won, kalo ngga salah. Ini lumayan banget buat yang mau ngirit. Heuheu.


Di gedung bercat kuning ini lokasi restoran halal dan musholla di Pulau Nami.

Lanjut ke Pulau Nami. Tempat wisata yang satu ini oke banget fasilitasnya buat wisatawan muslim. Musholla dan restoran halal berada di satu gedung berwarna kuning yang terletak di tengah pulau. Restoran ada di lantai bawah, sedangkan musholla ada di lantai dua. Di musholla juga disediakan sajadah, mukena dan Al Quran. Bersih dan sejuk banget ada di dalem musholla ini. Tempat solat antara wanita dan pria di musholla Pulau Nami masih di area yang sama, namun terpisah oleh tembok. Di sini juga ada tempat wudhu di dalam setiap ruangan. Selain itu, disediakan juga tempat duduk di depan musholla.

Nah, setelah solat, kalau laper, tinggal turun ke bawah buat makan di restoran, yang menunya ngga jauh dari makanan Asia dan Timur Tengah. Kamu bisa lihat menu yang disediakan dan harganya di standing table yang ada di depan musholla. Jadi bisa ngecek harganya dulu sebelum masuk ke restoran, hehehe. Namun, karena menurut kami harganya cukup pricey, kami ngga makan siang di sana.

So overall, Korea Selatan oke bangetlah buat menjadi salah satu destinasi liburan bagi wisatawan muslim. Fasilitasnya sudah terbangun dengan cukup baik. Lain kali, saya malah pingin berkunjung ke sana lagi. Happy traveling, guys! :D


Petunjuk Musholla terpampang jelas di pintu masuk.

Ada menu restoran halal di depan musholla.

Tempat solat pria dan wanita dipisah.

Ada mukena, sajadah dan Al Quran di musholla Pulau Nami.

Tuesday, 16 August 2016

Seoul Trip: Nami Island & Seoul City Tour

Kunjungan ke Nami Island adalah saat yang saya tunggu-tunggu. Jujur, saya bukan penggemar drama Winter Sonata. Drama yang mempopulerkan Nami Island karena menjadi tempat syutingnya. Alasan saya ke Nami murni karena ingin melihat keindahan alamnya (yang kata orang worth to visit when you’re going to South Korea). Saya pingin lihat pohon ginkgo yang menguning, pingin lihat destinasi wisata alam di Korea, setelah sebelumnya selalu ngeliat gedung dan bangunan di Seoul. So, the trip to Nami would be refreshing.

Kami berangkat pagi menuju Nami, sekitaran jam 07.00 udah berangkat dari hostel. Bagaimana rute menuju Nami ini? Ada beberapa pilihan: naik kereta langsung (ITX), ngeteng naik kereta MRT dengan dua kali transit, atau naik bis dari Myeongdong. Berhubung kami sudah kehabisan tiket kereta ITX yang langsung menuju Gapyeong (stasiun terdekat dengan Nami), maka kami memutuskan untuk ngeteng naik kereta dengan dua kali transit di Hoegi dan Mangu. Bis tidak menjadi pilihan karena kami membawa kursi roda.

Feri ke Nami.

FYI, perbedaan waktu antara kereta ITX dengan naik MRT menuju Gapyeong (pintu masuk menuju Nami) sekira 40 menit. Kalau naik MRT perjalanan bisa sampai hampir 2 jam dan ketersediaan tempat duduk tergantung penuh tidaknya kereta. Sedangkan dengan ITX waktu tempuhnya lebih cepat (ETA 1 jam 10 menit) dan dapat nomor kursi tempat duduk. Keretanya seperti kereta antar propinsi di Indonesia dengan tempat duduk menghadap ke depan. Untuk memesan tiket kereta ITX ini dilakukan via online di www.letskorail.com. Pemesanan bisa dilakukan hingga satu bulan sebelumnya.

Gapyeong Station. Stasiun yang menjadi pintu masuk ke Nami.

Sayangnya, ketika saya mau pesan, tiket dengan tempat duduk sudah habis. Mereka menjual juga sih tiket berdiri, tapi kan ga mungkin saya beli itu. Kasian bokap kalau harus berdiri selama 1 jam lebih di perjalanan. Maka, kami memutuskan untuk ngeteng aja ke Nami. Walau lebih lama sampainya, tapi juga lebih murah. Harga tiket ITX ke Gapyeong sebesar 4000 W, sedangkan naik MRT 2250 W.

Loket tiket Visa Nami.

Sesampainya di Gapyeong Station, di luar stasiun akan langsung terlihat halte bis dan tempat antrian taksi. Untuk menuju Nami Islands, pengunjung memiliki dua opsi yaitu naik bis atau taksi. Bagi rombongan beranggotakan minimal tiga orang disarankan untuk naik taksi saja, daripada bis. Tarif taksi ke Nami 3500-4000 W, sedangkan bis 950 W. Tentu saja saat itu kami memilih taksi. Jarak dari Gapyeong Station ke Nami ga sampe 10 menit, kok. Supir taksi akan nurunin kita di dekat parkiran mobil Nami, setelah itu kita harus berjalan menuju loket masuk.

Berhubung saat itu hari Sabtu, Nami penuh dengan pengunjung lainnya. Banyak rombongan anak sekolah dan pasangan muda yang mengajak anak-anaknya piknik. Usai membeli tiket, saatnya antri naik feri.  Di hari libur seperti ini, feri menuju dan dari Nami datang setiap 10-15 menit sekali, jadi kami tidak terlalu lama menunggu. Saat naik feri ini saya excited banget. Ngga sabar ingin menjejakkan kaki di Nami Island yang sudah terlihat dari kejauhan.

Entry Visa a.k.a ticket to Nami

Ketika feri sudah berlabuh, puluhan orang berhamburan dari dalam feri. Sesampainya di Nami, tujuan pertama saya adalah Tourist Information Center. Saya pingin nanya soal Winter Sonata Tour yang saya lihat di laman visitkorea. Emang sih saya ga ngikutin dramanya, tapi kan dengan ikut tur kita akan bisa liat langsung atraksi utama yang ada disana. Namun, setelah saya nanya ke petugasnya, ternyata tur tersebut hanya tersedia saat winter, sesuai dengan arti harfiah nama turnya. Si mbak petugas kemudian memberi opsi agar kami naik tour-taxi saja yang rutenya mengelilingi bagian luar pulau. Namun, saya langsung menolaknya karena kalau dilihat di peta Nami, sebagian besar atraksi utama ada di bagian tengah pulau.

Lumayanlah nemu pohon ginkgo yang sedikit menguning. :D

Saya pun kembali ke tempat ortu menunggu. Awalnya mereka memutuskan untuk hanya menunggu saya saja di dekat pintu masuk Nami dan memberi saya waktu untuk keliling Nami sendirian. Melihat kondisi jalanan di dekat pintu masuk Nami yang berbatu mengurungkan niat mereka untuk keliling Nami, karena akan sulit untuk ditempuh dengan mendorong kursi roda. Di sisi lain, toh, sejak awal kedatangan kami di Korea, saya selalu menekankan ingin pergi ke tempat itu.

Namun, saat saya baru berjalan 200 meter menuju ke deretan pohon pinus (yang jadi spot utama foto-foto) dan taman dengan pohon ginkgo yang mulai menguning, saya pikir ortu saya harus melihat ini. Sayang udah dateng jauh-jauh, malah cuma nongkrong di pintu masuknya. Lagipula jalanan di bagian tengah pulau tidak lagi berbatu, sehingga akan memudahkan kami untuk mendorong kursi roda. Dan, saya juga melihat ada kereta api mini yang dapat membawa kami semakin masuk ke bagian tengah pulau.

Mom and I

Usai eksis narsis di deretan pohon pinus dan di bawah pohon ginkgo yang menguning, kami naik kereta api  mini dengan membayar 2000 W sekali jalan. Opsi ini pas sekali buat pengunjung yang tak ingin atau kelelahan berjalan. Stasiun akhir kereta ini adalah pusat keramaian Nami. Di sana pengunjung bisa menemukan berbagai atraksi permainan, toko suvenir, taman, kolam, restoran, perpustakaan hingga musola. Di berbagai tempat juga terdapat patung, termasuk patung pemeran Winter Sonata yang terkenal itu.

Tiket Kereta Api Mini Nami

Usai keliling, ngaso, dan foto-foto, kami menuju ke musola yang ada di lantai atas perpustakaan Nami. Musola ini mudah ditemui karena terletak di gedung perpustakaan yang berwarna kuning cerah, bersebrangan dengan toko suvenir. Di musola juga tersedia mukena dan sajadah. Fasilitasnya untuk mengakomodasi wisatawan muslim terbilang oke. Di sebelah perpustakaan juga ada restoran yang menyediakan makanan halal, loh. Kita bisa liat-liat menunya dulu yang disediakan pengelola di dekat pintu masuk musola. Tapi, cerita soal fasilitas bagi wisatawan muslim akan saya posting terpisah, yaa... Hehehe.



Foto di depan patung pemeran WInter Sonata is a-must, deeehh :p
Usai solat kami memutuskan untuk langsung balik ke Seoul. Bokap udah wanti-wanti pingin ikutan Seoul City Tour, jadi kami harus sampai Seoul sebelum malam tiba. Hampir pukul 2 siang, kami memulai perjalanan kembali ke Seoul. Kami pun sampai di Seoul jam 4 lewat dan langsung menuju stasiun Gwanghwamun Gate.

Di dekat stasiun itu ada booth pembelian tiket Seoul City Tour. Di sana kami mengambil The Downtown/Palace Course seharga 12 ribu Won. Durasi tur sekitar 2 jam. Lumayan siy bisa lihat beberapa tempat di Seoul yang ngga sempet kami datengin langsung, kayak lewat beberapa palace, dan termasuk ke N Seoul Tower, hehehe. Buat yang emang waktunya terbatas di Seoul, sangat direkomendasikan untuk mengikuti tur ini.

So, that was my last day in Seoul. Short trip, but at least I could catch a glance of what Seoul has to offer. Will be coming back, for sure! :D

Di Nami ada banyak tempat duduk dengan spot seperti di foto ini
Tiket Seoul City Tour Bus

Tuesday, 19 July 2016

Apply Visa Korea



This year my overseas vacation is South Korea. Kenapa ke Korea? Apa karena saking ngehitsnya K-Pop di sini terus penasaran pengen kesana,siapa tahu bisa ketemu artis Korea gitu? Nope. Pengetahuan saya soal artis-artis Korea minim banget. Bisa dihitung jari nama-nama artis Korea yang saya tahu :p.

Jadi bukan karena berharap pengen ketemu artis Korea dan karena budaya popnya. Saya memang ingin tahu saja seperti apa negara itu dan orang-orangnya secara umum. Korea juga menjadi pilihan karena biaya travelingnya ngga semahal Jepang. Itu yang jadi catatan utama saya, hehehe.

Nah, untuk pergi ke Korea ini, warga Indonesia harus mengajukan visa sebagai izin masuk ke negara tersebut. Iya sih Jepang memang udah memberikan bebas visa buat Indonesia, tapi itu cuma buat pemegang e-paspor. Jadi paspor saya yang baru diperpanjang tahun lalu dan masih merupakan paspor biasa, ya ngga berlaku juga buat bebas visa ke Jepang. Alasan lain lagi: Jadi kalau mau ke Jepang ya nunggu nanti ganti paspor aja lagi, sekalian deh ganti ke e-paspor,  supaya bisa bebas visa dan ada waktu buat nabung, heuheu.

Anyway, untuk pengajuan visa Korea ini, persyaratan yang diminta cukup jelas. Bisa kunjungi website Kedubes Korea Selatan, yaitu www.idn.mofa.go.kr. Di sana akan terlihat persyaratan dokumen sebagai berikut:
1.       Paspor asli dan fotokopi paspor (halaman identitas dan cap atau visa negara-negara yang telah dikunjungi)
2.       Formulir Aplikasi Visa (dengan satu lembar foto ukuran 3x4 cm)
3.       Kartu Keluarga atau dokumen yang dapat membuktikan hubungan kekeluargaan
4.       Surat Keterangan Kerja dan Foto Kopi SIUP Tempat Bekerja (jika tidak bekerja, tidak perlu menyertakan)
5.       Surat keterangan mahasiswa/pelajar bagi yang masih bersekolah
6.       Foto kopi bukti keuangan, pilih salah satu: SPT Tahunan, Surat Pajak Bumi dan Bangunan, rekening koran tabungan tiga bulan terakhir dan surat referensi bank, surat keterangan dan copy kartu membership golf, surat keterangan dan copy kartu membership hotel bintang 5, surat keterangan pemegang program Jamsostek, Slip gaji atau bukti tunjangan pensiun.

Formulir Aplikasi Visa bisa diunduh di website Kedubes Korea Selatan. Saat mengisi formulir visa ini isilah dengan sejujur-jujurnya. Di sana akan diminta data pribadi (e.g nama lengkap, alamat rumah, pekerjaan dan alamat kantor, data paspor, tingkat pendidikan), tujuan kunjungan, sumber dana untuk biaya hidup selama di sana dan estimasi biaya yang dikeluarkan, dan keterangan apakah pergi dengan anggota keluarga.

Apa saja yang harus diperhatikan dalam mengisi formulir aplikasi visa Korea? Kalau bagian data pribadi mah tinggal diisi sambil merem juga jadi lah ya..hehe. Namun, selain itu ada pula bagian Funding Details, yang meminta estimasi biaya yang akan kita keluarkan selama di Korea dan siapa yang membiayainya. Pertanyaan yang sering mengemuka soal bagian ini adalah berapa estimasi biaya yang harus ditulis? Apakah hanya menulis biaya hidup selama di Korea saja atau termasuk tiket pesawat?

Saat itu saya sudah punya estimasi biaya sendiri sih. Ketika itu saya menghitung biaya hidup disana (hostel, makan, transportasi, tiket masuk tempat wisata) tidak sampai Rp 1 juta per hari. Namun, dari hasil googling saya melihat banyak orang yang menyarankan agar menulis estimasi biaya 100 dolar AS per hari. Jadi saya ikutin deh saran mereka. Itung-itung biaya itu juga termasuk dana darurat. Saya berkunjung ke Korea selama empat hari, jadi estimasi biaya hidup 400 dolar AS. Ditambah dengan tiket pesawat yang saya beli tahun lalu, saya menulis total estimasi biaya 600-700 dolar AS.

Pastikan saat menulis estimasi biaya ini tabungan kamu di bank mencukupi ya… Setidaknya kamu masih punya sisa tabungan lah saat kembali ke Indonesia nantinya. Jadi tabungan ngga terkuras habis dan kamu ngga jadi bangkrut gegara traveling, hehehe. Ini juga akan meyakinkan pihak Kedubes kalau kamu punya keuangan yang memadai untuk berkunjung ke Korea dan masih bisa memenuhi kebutuhan kamu saat kembali ke tanah air.

Saat proses mengajukan visa ini, banyak juga yang nanya berapa minimal dana tabungan yang harus dimiliki supaya visa bisa disetujui? Nggak ada ketentuan resmi dari Kedubes soal hal itu. Kalau menurut saya sih, pastikan saja tabungan kamu mencukupi untuk biaya hidup selama disana dan setidaknya masih punya sisa tabungan Rp 2-3 juta sepulang dari liburan. Nah, di bagian Funding Details juga ditanyakan soal siapa yang membiayai perjalanan kamu selama di Korea? Kalau membiayai diri sendiri, tulis saja di kolom pertanyaan ‘Who will pay for your travel-related expenses?’: Myself. Kalau biaya perjalanan dibayarin orang lain, diperinci apa saja yang dibiayai? Apakah akomodasi atau tiket pesawat saja? Atau keduanya?

Jika perjalanan dibiayai oleh orang lain, jangan lupa menyertakan surat pernyataan dalam dokumen pengajuan visa. Saya pergi ke Korea dengan kedua orang tua dan membuat surat pernyataan dukungan finansial untuk bapak. Berhubung ketika itu tabungan bapak 3 bulan terakhir terlihat kurang meyakinkan untuk bepergian ke Korea, maka saya meminta ibu saya sebagai ‘penjamin’ kebutuhan bapak selama di sana. Saya meminta ibu untuk menandatanganinya di atas materai. Padahal, ngga ada ketentuan juga sih harus bermaterai atau tidak. Saya melakukannya supaya lebih meyakinkan saja.

Setelah formulir aplikasi visanya sudah oke, siapkan segala persyaratan lainnya yang dibutuhkan. Bagi saya yang bekerja sebagai karyawan swasta, saya menyertakan SIUP perusahaan dan surat keterangan bekerja seperti di bawah ini :

                                                                                                            Jakarta, July 31st 2015
To: South Korea Embassy
Jalan Jenderal Gatot Subroto Kav 57
Jakarta Selatan 12950

Dear Sir/Madam, 
We hereby certify that the named person as below:
Name                         : 
Passport Number         : 
Employee ID               : 
is currently being employed by our company since ..... until now as a ...... The said employee is planning to visit South Korea for holiday on September 2015 for 4 days.
All necessary expenses to be incurred during her stay will be borne by herself. We do guarantee that she will return to Indonesia and she will not seek any permanent job in your company.
It will be highly appreciate if you could grant the necessary visa for the above employee to enter your country.
Thank you in advance for your kind attention and good cooperation. 

Sincerely Yours,

(Director of your company)

Sementara, untuk bukti keuangannya saya minta rekening koran tiga bulan terakhir dan surat referensi dalam bahasa Inggris ke bank. Nah, setiap bank punya kebijakan masing-masing terkait hal ini, ya. Saya adalah nasabah Bank Syariah Mandiri dan waktu itu dikenakan biaya Rp 150 ribu untuk surat referensi. Alhamdulillah, waktu itu jadi dalam sehari saja karena pejabat bank terkait yang menandatangani suratnya sedang ada di kantor, jadi nggak perlu repot bolak-balik.

Untuk kedua orang tua, saya meminta mereka juga membuat surat referensi dan rekening koran tiga bulan terakhir. Untuk bapak yang berprofesi sebagai wiraswasta, saya minta untuk buat surat referensi berdasar pada rekening perusahaan milik bapak yang terdaftar di bank. Selain itu, saya juga meminta bapak untuk menyertakan SPT perusahaaan. Sementara, bagi ibu yang sudah pensiun, disertakan pula bukti tunjangan pensiun.

Selain dokumen yang dipersyaratkan, saya juga menyertakan tiket pergi-pulang dan fotokopi tagihan kartu kredit saya dalam tiga bulan terakhir. Memang dalam syarat pengajuan visa nggak diminta sih, tapi (lagi-lagi) buat lebih meyakinkan aja. Oh iya, jangan lupa booking dulu hotel di sana, karena di formulir aplikasi visa juga akan diminta alamat hotel/hostel yang akan kita tempati selama di sana. Untuk booking ini bisa dilakukan via Booking.com, Agoda.com, Airbnb, dan banyak situs lainnya.

Setelah semua urusan dokumen beres, saatnya pergi ke kantor Kedubes Korea yang ada di Jl Gatot Subroto, tepatnya di samping RS Medistra. Gedung yang buat pengajuan visa terletak di belakang gedung kuning yang ada persis di sebelah Medistra. Usahakan kamu sudah mengurus visa paling tidak sebulan sebelum waktu keberangkatan kamu, ya… Untuk mengajukan visa ini, operasionalnya mulai jam 09.00-12.00. Setelah masuk ke sana, ambil nomor antrian dan tunggu sampai dipanggil. Petugas akan mengecek kelengkapan dokumen sekilas, lalu meminta uang visa sebesar Rp 520 ribu per orang (harga Agustus 2015. Per 1 Oktober 2015 biayanya sudah naik jadi Rp 560 ribu untuk Single Visa kunjungan dibawah 90 hari). Bayar visa beres, kita akan dikasih selembar kertas tanda terima yang memuat perkiraan tanggal kapan paspornya bisa diambil kembali (baik visanya disetujui atau tidak). Biasanya tanggal yang ditulis berjangka waktu lima hari kerja dari saat kita mengajukan visa.

Nah, kita bisa loh memantau progress apakah visa kita disetujui atau tidak, dengan mengeklik www.visa.go.kr. Cukup memasukkan nama, tanggal lahir dan nomor paspor saja. Saya selalu dag dig dug saat mengecek progress visa saya, takut ngga di-approve, hahaha. Sekitar satu minggu kemudian, sesuai dengan perkiraan tanggal visanya approve atau tidak, saya menelpon Kedubes Korea untuk menanyakan kemajuan proses visa karena pas saya cek di laman itu, kok statusnya masih “Dokumen Sudah Diterima”. Ternyata, memang masih dalam proses.

Saat itu mulai kuatir visa ditolak karena sudah melewati waktunya. Akhirnya saya menelpon di hari kerja berikutnya dan Alhamdulillah visa kami DITERIMA!!!! Yiiipppppiiieee!!! Nggak sia-sia deh tiket yang udah dibeli sejak tahun lalu, hahaha. Bayangkan kalau visanya ditolak, tiketnya bisa aja hangus, heuheu. Usai memperoleh kepastian visa diterima, besoknya saya langsung mendatangi Kedubes.

Waktu pengambilan visa ini juga sudah ditentukan yaitu dari jam 13.30 sampai 16.30. Saat disana nggak perlu lagi ambil nomor antrian, cukup taruh saja lembar tanda terima pembayaran visa di loket. Nanti petugasnya akan memanggil nama kita dan menyerahkan paspornya. Duuh... Setelah melihat visa Korea tertempel di paspor, senang rasanya.

Annyeonghaseyo, Seoul! :D