Showing posts with label jalan-jalan. Show all posts
Showing posts with label jalan-jalan. Show all posts

Tuesday, 4 February 2025

Family Trip : Hanbok Experience at Gyeongbokgung Palace (Day 3)



Di hari ketiga kami menjadwalkan untuk pergi ke Gyeongbokgung Palace sekalian menyewa hanbok untuk foto-foto disana. Untuk sewa hanbok kami membeli voucher di Klook. Pilihannya jatuh ke Hanboknam Rental karena lokasinya yang dekat dengan pintu keluar stasiun dan pintu masuk Gyeongbokgung Palace. Ada dua pilihan hanbok di Hanboknam, yaitu standard dan premium. Kami memutuskan beli yang standard saja. Total menyewa hanbok untuk 12 orang sebesar Rp 934.108. Untuk menuju ke Hanboknam tinggal ikuti petunjuk arah yang diberikan oleh Klook yaitu ke Exit 4 Stasiun Gyeongbokgung Palace.

Sesampainya di Hanboknam Rental, penukaran voucher cukup mudah dan stafnya juga ramah dan lancar berbahasa Inggris. Namun, saat disana kami baru tahu kalau untuk baju hanbok anak hanya tersedia yang premium, sehingga kami harus bayar upgrade baju anak sebesar 15 ribu won per baju. Heuheu.. agak nyesek sih. Tau gitu kan dari awal pilih yang premium untuk baju bocah karena beda harganya agak jauh kalau beli on the spot sama beli di Klook. Tapi, ya sudahlah yaaa... There's always a lesson learned in every trip.

Setelah memilih-milih baju, kita akan dibantu memakai hanbok oleh staf disana. Setelah selesai, kita juga bisa memilih gaya tatanan rambut. Ada yang gratis, ada juga yang berbayar. Rata-rata model gaya rambutnya dikepang, cuma beda di aksesoris aja antara yang berbayar dan gratis. Tapi menurut saya, untuk hairdo yang gratis juga bagus kok. Setelah semua beres, kami segera menuju ke Gyeongbokgung Palace. Agak buru-buru karena langit udah mendung. Dan, bener aja pas banget masuk ke area Gyeongbokgung, hujan rintik mulai turun. Sayangnya hari itu kita nggak ada yang bawa payung, jadi mau nggak mau kita neduh dulu sambil nyari spot foto.

Atas : Hairdo Aisyah dari Hanboknam
Bawah : Family photo in front of Gyeongbokgung Palace

Hujan turun agak lama. Saat hujan mulai reda kami segera nyari spot foto di lapangan luas. Eh.. baru sebentar foto-foto di lapangan, hujan turun lagi. Terus reda, terus hujan lagi. Gitu terus sampai waktu penyewaan baju yang 2,5 jam selesai, heuheu. Padahal kalau pakai hanbok, masuk Gyeongbokgung Palace itu gratis, tapi karena terhalang hujan, kami hanya sempat masuk ke bagian depan istana aja. Sayang sih karena sebenernya Gyeongbokgung Palace itu luas banget sampai ke belakang dan banyak spot foto yang bagus. Oh iya, karena cuaca hujan, ritual pergantian petugas istana di Gyeongbokgung Palace juga ditiadakan.

Akhirnya setelah 2 jam foto-foto, kami pun balik ke Hanboknam untuk balikin baju. Waktu sudah menunjukkan pukul 14.30, perut pun lapar. Apalagi cuaca dingin dan berangin jadi makin laper ye kan... Saat itu karena bingung cari tempat makan halal sekitar Gyeongbokgung Palace akhirnya kami memutuskan untuk pergi ke Itaewon yang sudah pasti ada banyak pilihan restoran halal.

Sayangnya saat keluar stasiun Itaewon, hujan kembali turun dan agak deras. Tadinya kami mau makan di restoran Ied, tapi karena hujan, akhirnya kami nyari tempat makan yang deket stasiun. Untungnya ada Halal Guys yang jaraknya hanya sekitar 100 meter dari stasiun. Jadi akhirnya kita makan siang disana. Setelah perut kenyang, kami pun memutuskan untuk kembali ke Airbnb karena cuaca masih hujan jadi nggak kondusif kalau mau jalan-jalan lagi sambil bawa anak kecil.

Karena sampai Airbnb lebih awal, saya pun memutuskan untuk keliling sekitaran Hongdae setelah istirahat sebentar. Sendiri aja, sementara anak-anak sama ayahnya di apartemen. Mampir juga ke minimarket CU untuk beli mie instan cup dan minuman. Soalnya enak kayaknya makan mie instan di cuaca dingin saat itu. Hehehe... Setelah keliling sekitar 45 menit saya pun balik ke Airbnb.

Thursday, 1 August 2024

Family Trip : Myeongdong and Itaewon (Day 1)


Di hari pertama exploring Seoul, kami berencana ke daerah Itaewon dan Myeongdong. Karena di hari pertama ini jatuh di hari Jumat maka kami memutuskan untuk ke daerah Itaewon terlebih dulu agar bisa menunaikan shalat Jumat di Seoul Central Masjid. Walau sudah pernah ke Masjid Seoul ini, tapi saya agak lupa jalannya. Untungnya di Itaewon Station Exit 3 ada Tourist Information Center, jadi bisa nanya kesana dulu dan akhirnya dikasih selembar kertas berisi printout gambar menuju ke masjid.

Sayangnya pas sampai masjid ternyata pintu depan sedang direnovasi jadi kami harus berjalan lebih jauh ke arah belakang masjid supaya bisa masuk ke dalam. Cukup ngos-ngosan karena jalan nanjak, hahaha. Untungnya cuaca dingin dan nggak panas jadi ngga terlalu berasa capek. Sesampainya di masjid, Alhamdulillah belum azan zuhur. Kami hanya menunggu sekitar 20 menit, kemudian salat Jumat dimulai. Awalnya malah takut ketinggalan solat Jumat karena kami baru berangkat dari Airbnb jam 11.30. Ternyata azan zuhur di Seoul itu jam 13.30 jadi aman saat sampai masjid.

Selesai solat, kami memutuskan makan siang di Restoran Ied Halal Food, ngga jauh dari Masjid Seoul. Saat sampai disana, kami harus masuk waiting list karena memang pas jam makan siang jadi ramai dan harus antri. Menu makanannya variatif, enak dan harganya lumayan terjangkau. Restoran Ied menyediakan makanan Korea, jadi buat yang pengen nyobain Korean food bisa kesana tanpa perlu bertanya-tanya makanannya halal atau nggak. Berbagai macam menu makanan Korea tersedia di Restoran Ied, seperti samgyetang (sup ayam ginseng), ikan makerel bakar, topokki, bibimbap, sampai yang standar seperti chicken mayonaise rice bowl. Harganya mulai dari 8000-15000 won, kalo ngga salah.

Nah, selesai makan, kami melanjutkan perjalanan ke Daiso Myeongdong buat cari oleh-oleh. Penasaran juga kesana karena katanya Daiso di Myeongdong adalah salah satu Daiso terbesar di Korea. Harga barang disana juga murah-murah. mulai dari 500 won. Dari Itaewon menuju ke Myeongdong, kami naik MRT tanpa transit dan turun di Exit 1 Stasiun Myeongdong. Keluar stasiun udah keliatan kok Daiso-nya jadi nggak bakalan nyasar.

Sesampainya disana, kami nggak eksplor satu per satu lantainya siy.. karena Daiso Myeongdong itu kan 12 lantai ya, jadi kami hanya lihat-lihat di tempat aksesoris, stationery, peralatan rumah tangga dan food beverages section. Dan, ternyata aksesoris, stationery dan alat rumah tangga disana lucu-lucu banget.. Kalau ngga usah mikir gimana cara bawanya pulang, bakal dibeli kali itu yang ukurannya gede-gede, wkwkwk. In the end cuma beli yang printilan kayak handuk tangan, dompet koin, bando, dan stationery :D

Pas naek ke food beverages section, disini yang makan waktu agak lama karena kami menelusuri ingredients-nya satu per satu pake translation tools di handphone. Menghindari yang ada kandungan alkohol dan babi, baik itu di bahan utamanya maupun saat pembuatan makanan minumannya. Pokoknya ngga terasa udah 1 jam lebih kami menghabiskan waktu mencari oleh-oleh di Daiso Myeongdong. Pas pulangnya sampe beli tas belanja berukuran besar buat naro barang yang dibeli, wkwkwk. Untungnya adek bawa stroller anaknya jadi cukup ngebantu buat naro barang diatas stroller, hahaha.

Setelah dari Daiso, kami lanjut ke area street food Myeongdong. Walaupun sebenernya pricey, tapi penasaran aja gitu pengen nyobain street food-nya, heuheu. Nah, first stop, kami nyobain mochi buah. Harganya 4000 won per pcs. Saya pilih yang isinya peach karena penasaran sama rasa buah peach asli, hehehe. Rasanya ternyata agak manis dan teksturnya mirip mangga. Oh iya, mochi buah ini langsung dibuat saat ada pesenan ya. Jadi kita bisa liat saat penjualnya ngebungkus buah dengan mochi. Yumm...

Setelah nyobain mochi, keponakan beli tanghulu stroberi dan saya beli egg bread. Ternyata egg bread rasanya hambar, wkwkwk. Kurang saos sambel kalo kata saya mah, hahaha. Yah murah juga sih karena harganya cuma 2000 won. Egg bread adalah salah satu jajanan termurah di Myeongdong kayaknya, wkwkwk.

Lanjut kita beli bungeoppang isi custard. Ini juga murah, 5000 won dapet 4 pcs kalo ga salah. Tapi sayangnya rasa custardnya hambar jadi kurang appetizing pas dimakan, heuheu. Setelah itu kami nyobain es krim yang diselimuti marshmallow dan di-torch pake obor. Harganya 8000 won. Lumayan seger es krimnya dan ada rasa pait dikit dari hasil torch marshmallow. Cuma anak saya kurang suka karena katanya es krimnya ga keliatan, hahaha.

Setelah itu, kita nyobain lagi udang mentega, harganya 10 ribu won. Mahal siy, tapi enak, hehehe. Setelah itu, anak saya ngerongrong minta beliin potato twist, yasud akhirnya beli seharga 5000 won. Lumayan harganya dibanding di Jakarta yang lebih murah ya. Setelahnya minta beliin lagi cheese corndog. Saya lupa harganya. Tapi akhirnya karena kayaknya kekenyangan, itu corndog cuma dimakan seperempat, heuheu. Sisanya saya yang makan, wkwkwk.

Oh iya, di Myeongdong ini, saya juga sempet mampir ke outlet Nature Republic buat beli titipan skincare tante. Untungnya bawa duit cash yang cukup karena ternyata harganya lumayan mahal, wkwkwk. Saat belanja di Nature Republic ini kita langsung dapet potongan tax refund ya, jadi lumayan nggak usah repot ngurus tax refund di bandara. Finally, setelah sekitar 2 jam menelusuri street food Myeongdong, akhirnya kami pulang, dengan perut lumayan kenyang dan dompet lebih ringan, heuheu.

Saturday, 15 June 2024

Family Trip : Seoul (Itinerary and Budget)



Hello... Hai.. Hei...

Dah lama buanget saya ga posting blog inih ya sodara-sodara, heuheu.. Untung masih inget passwordnya, hahaha. Entah kenapa setelah punya bocil, energi untuk nulis seperti lenyap begitu saja. But, anyway here I am. Mulai menulis lagi, mencoba mengasah keterampilan menulis lagi. I hope it;s not getting worse or even boring.

So today I want to tell about my family trip to Seoul, South Korea. The second visit for me after in 2015 with my mother and father. But, with the whole family (husband, children, brother, sister, in-laws, nephew and nieces), it is the very first time. Sebenernya ngide untuk ke Seoul sudah direncanakan sejak 2023. Tapi, kami nunggu jadwal Cathay Pacific Travel Fair yang kerja sama dengan CIMB Niaga supaya dapet harga tiket yang sesuai budget dan transitnya ga terlalu lama. Why Cathay? Karena kami nasabah CIMB Niaga sehingga bisa dapet cashback saat travel fair, jadi bisa menghemat budget, hehehe.

Sebelumnya kami sudah mengecek harga tiket di online travel agent, tapi rata-rata kalau harga tiketnya murah pasti transitnya lebih dari 12 jam. Not suitable for family with little children. Kalau penerbangan langsung ke Seoul, harganya rata-rata diatas 4-5 juta sekali jalan. Jadi ga masuk budget, heuheu. Nah, saat Cathay Pacific Travel Fair digelar akhir Februari 2024 di Gandaria City (Gancit), kami akhirnya cuss kesana dan dapet tiket PP 5,7 juta setelah cashback. Sebenernya bisa dapet cashback lagi di hari berikutnya sehingga bisa dapat potongan harga lagi, tapi kami menyelesaikan transaksi di satu hari itu saja karena enggan bolak-balik ke Gancit. Lumayan jauh dari rumah soalnya. Kalau travel fair-nya di Kota Kasablanka mungkin akan kami jabanin bolak-balik.

Jadi, setelah urusan tiket selesai, saatnya mengurus visa dan mencari Airbnb. Untuk visa, kami memilih yang single visa dengan biaya Rp 856.000 per orang. Proses pengajuan visa sama seperti tahun-tahun sebelumnya, Saya sudah pernah menulis soal pengajuan visa Korea di blog ini : Apply Visa Korea

Nah, kami berencana pergi dari 23-29 Juni 2024. Two days for trip to and from Seoul. Five days for exploring Seoul. Jauh lebih lama dari kunjungan saya sebelumnya yang cuma 3 hari, heuheu. Anyway, setelah berembuk dengan keluarga, akhirnya diputuskan untuk itinerary di Seoul sebagai berikut :

Day 1 (Friday, 24 June 2024)
11.00  Going to Itaewon
12.00  Jumah Prayer
14.00  Lunch
15.30  Going to Daiso Myeongdong
16.00  Daiso Myeongdong
18.00  Exploring Myeongdong Street Food

Day 2 (Saturday, 25 June 2024)
10.00  Gwangjang Market
11.30  Coex Mall
12.00  Lunch
13.30  Namdaemun Market
15.30  Seoullo 7017 Sky Garden

Day 3 (Sunday, 26 June 2024)
10.00  Hanboknam Rental
10.30  Gyeongbokgung Palace
13.00  Lunch
14.30  Namsan Tower

Day 4 (Monday, 27 June 2024)
10.00  Going to Lotte World
11.00  Lotte World
19.00  Going home

Day 5 (Tuesday, 28 June 2024)
10.00  Strolling around Hongdae
12.00  Lunch
13.30  Dongdaemun Design Plaza
14.30  Hybe Building
15.30  Han River

Apakah semua berjalan sesuai itinerary? Oh tentu saja tidak, hahaha. Karena di hari Minggu di Seoul itu hujan mulai siang sampai malam hari jadi agak merombak itinerary kami. Tempat tujuan juga ada yang berubah dan nggak jadi dikunjungi karena waktu yang terbatas. Maklum berangkat sama anak balita pasti persiapannya lebih lama dibanding kalau pergi sendiri atau dengan anak remaja. Jadi sesuaikan saja sama kondisi saat itu. Nggak usah terlalu maksa harus kesini dan kesana.The important thing is enjoying your trip.

So, how about the budget? Untuk Airbnb saya memutuskan mencari tempat yang semalemnya nggak lebih dari 5 juta. Setelah mencari beberapa properti akhirnya kami memutuskan untuk menginap di daerah Hongdae seharga 5 juta per malam (sudah termasuk pajak dan service fee). Pas sesuai budget. Kami memilih properti di Hongdae karena sejalur dengan Airport Railroad sehingga ngga perlu transit dari Bandara Incheon. Selain itu, propertinya juga dekat dengan stasiun MRT dan Hongdae Shopping Street. Fasilitasnya juga lengkap mulai dari kompor, rice cooker, kulkas, microwave, mesin cuci, dispenser air, setrika, hair dryer, handuk, dan amenities lainnya. Lokasinya juga di lantai 2 jadi walaupun naik tangga nggak akan terlalu capek lah ya.

Soalnya ada alternatif properti lainnya yang di bawah budget tapi dia di lantai 4 dan ngga ada lift, heuheu. Naek ke lantai 2 sambil bawa koper aja udah ngos-ngosan, apalagi ke lantai 4, wkwkwk. Ini juga sih yang harus diperhatiin saat nyari Airbnb di Seoul karena rata-rata dia ada di lantai atas dan nggak ada lift. Jadi harus pastiin baca deskripsi properti dengan baik dan chat pemilik rumah untuk memastikan properti itu sesuai yang kamu mau ya.

Oke, selanjutnya budget untuk makan. Kami memutuskan untuk ngeluarin budget makan sekali saja, yaitu saat makan siang. Untuk sarapan dan makan malam , kami masak di rumah. Kami membawa beras dan lauk pauk siap saji dari Indonesia, jadi saat di sana tinggal manasin makanan saja dan bisa langsung makan. Di Seoul juga kami hanya membeli telur untuk direbus dan sayuran untuk pecel jadi nggak ngeluarin budget tambahan lagi untuk sarapan dan makan malam. Untuk budget makan siang, saya anggarkan 15.000 won per orang untuk dewasa dan 12.000 won per orang untuk anak.

Sementara, untuk budget tiket wisata kami memutuskan anggaran dialokasikan hanya ke Lotte World, Hanbok Rental dan Namsan Tower. Untuk Hanbok Rental dan Namsan Tower, saya memesan di Klook, sementara Lotte World dipesan di Tiket.com. Saat pesan tiket wisata, saya membandingkan antara dua aplikasi itu saja karena mereka memang menawarkan harga yang best deal dibanding yang lain.

Lalu, untuk transportasi sehari-hari kami memutuskan untuk naik MRT. Budget transportasi ini bisa disesuaikan dengan tujuan kamu. Saya cek rute dan ongkos MRT Seoul di website metroguides.info. Website itu bisa dijadikan panduan kamu saat naik MRT karena memuat semua line MRT di Seoul dan memberikan informasi harus transit di stasiun mana (jika kamu harus transit). Jadi udah nggak bermodalkan brosur peta MRT lagi seperti waktu pertama kali saya ke Seoul. Ini sangat memudahkan dan bikin nyaman karena nggak harus bolak-balik buka peta. Paling yang bikin tricky saat naik MRT di Seoul adalah ketika harus transit dan mencari line MRT tujuan selanjutnya, karena ada stasiun MRT Seoul yang bertingkat jadi harus bener-bener dicari nomor line MRT dan arah tujuan selanjutnya. Kalau sampai salah akan jadi agak ribet karena harus naek tangga dan pindah ke jalur lainnya.

Nah, untuk transportasi MRT selama 5 hari, saya anggarkan 24.000 won untuk dewasa. Sementara, harga tiket untuk remaja dan anak usia 6-11 tahun lebih murah, jadi pastikan daftarkan tiket remaja dan anak saat kamu membeli T-Money di minimarket dengan memberikan paspor ke petugasnya. Untuk tiket remaja saya hanya menganggarkan 15.000 won dan anak-anak 10.000 won.

Untuk transportasi selain MRT, saya juga menganggarkan ongkos taksi untuk menuju Bandara Incheon saat mau pulang ke Indonesia, supaya nggak ribet mengangkat koper karena pasti bawaannya bertambah banyak, hehehe. Untuk taksi jumbo ini saya sudah tanya-tanya sebelumnya ke pemilik rumah Airbnb dan ternyata dia bisa membantu untuk reservasi taksi. Di awal dia bilang bisa memesankan dua taksi dengan total 220.000 won. But, in the end, it's only one jumbo taxi (15-seater) and the cost is 190.000 won. Lumayan menghemat, hahaha.

And that's it. Itinerary dan budget sudah siap. And we are ready to go! Bismillah...

Sunday, 5 May 2019

Cara Apply Bebas Visa Jepang

Visa Waiver Jepang
Setelah berburu tiket ke Jepang tahun lalu, saatnya buat visa. Sebagai pemegang e-paspor alias paspor elektronik, pemohon visa bisa gratis ngajuin langsung ke Kedutaan Besar (Kedubes) Jepang. Ngajuin visa Jepang ini simpel dan cepet banget. Hanya bawa formulir dan paspor, visa Jepang jadi dalam waktu 1 hari kerja aja. Apply hari ini, visa jadi besoknya. So, today's post looks like gonna be a short one. Hehehe. 

Saya berencana liburan ke Jepang sekeluarga. Yang dimaksud satu keluarga disini, selain suami dan anak saya, adalah orang tua saya, adek dan pasangannya, juga keponakan. Total rombongan ada 11 orang. Tapi, yang punya e-paspor cuma saya dan anak saya. Jadi yang apply visa waiver ke Kedubes Jepang cuma kami berdua. Yang lain apply visa via VfS. 

Terus gimana apply visa waiver di Kedubes? Prosesnya gampang banget. Cukup print dan isi formulir yang ada di link ini: https://www.id.emb-japan.go.jp/visa_waiver2018.html. Terus bawa formulir dan e-paspor ke Kedubes Jepang. Lokasi kedubes ada di Jl MH Thamrin, pas di depan eX Plaza Indonesia. Untuk pengajuan visa waiver dibuka dari jam 09.00-12.00.

Nah, liburan ke Jepang rencananya akan dilakukan awal Maret. Namun, saya udah ngajuin visa dari akhir Januari. Sebenernya kalo mo ngajuin visa di Februari juga bisa karena prosesnya cuma 1 hari kerja, tapi saya ajuin di Januari karena sekalian jalan ke VfS buat apply visa Jepang untuk anggota keluarga saya.

Untuk menuju Kedubes Jepang, jika memakai kendaraan pribadi, maka bisa parkir di Plaza Indonesia. Buat yang naek Transjakarta, halte busway terdekat adalah Halte Bundaran HI. Dari Plaza Indonesia ke Kedubes tinggal ngesot aja karena lokasinya pas banget di depannya. Tinggal keluar aja dari Lobby Thamrin atau Lobby The Plaza. Dari pinggir Jl MH Thamrin, kantor Kedubes juga udah keliatan dengan tanda ada bendera Jepang yang berkibar di tiang. 

Saat masuk Kedubes tinggal bilang aja ke petugas keamanan kalo kita mau apply visa. Pas masuk ke dalam, kita akan diminta untuk menukar KTP dengan akses masuk. Setelah dari pos penukaran ID, masuk lagi ke dalam untuk pemeriksaan barang bawaan. HP boleh dibawa tapi nggak boleh dipake di dalam ruangan. Selanjutnya, baru deh ke ruangan apply visa.

Saat masuk ke dalam ruangan akan ada petugas satpam lagi yang berjaga dan membantu mengarahkan untuk ambil nomor antrian. Kalau kamu belum isi formulir visa, maka bisa isi dulu disana. Formulirnya sudah disediakan. Tapi, kalau sudah isi formulir, maka kita akan langsung diminta untuk isi selembar kertas kecil dua rangkap. Di kertas ini kita hanya diminta untuk isi nama, nomor paspor dan nomor telepon saja. 


Kertas untuk pengambilan paspor

Selanjutnya tinggal nunggu antrian aja. Nah, didalam ruangan ada lima loket. Tiga loket dipakai untuk apply visa, sementara sisanya sepertinya dipakai untuk pengurusan WN Jepang yang tinggal di Indonesia. Namun, saat itu untuk apply visa hanya dua loket aja yang dibuka. 

Saat disana, yang apply visa cukup rame tapi antriannya cukup cepat. Saya cuma nunggu sekitar 10-15 menit aja. Nah, untuk antrian apply visa di Kedubes Jepang kita cukup liatin layar kecil aja yang ada di atas setiap loket. Saat nomor antrian berubah, ada notifikasi bunyi 'tring' jadi kita selalu terinformasi. Kalo misalkan kita lagi bengong dan nggak ngeh, petugas loket akan manggil nomor antrian pake toa. Jadi insya Allah nomor antrian nggak terlewat. Lagian ruangan apply visa sunyi, nggak banyak orang yang ngobrol. Sekalinya saya ngobrol sama adek itu pun dengan suara rendah. Jadi pasti bunyi notifikasi antrian akan kedengeran lah ya.. Hehehe 

Saat nomor antrian saya tiba, saya segera menggendong anak saya menuju loket. Nggak tau sih tindakan saya itu sebenernya diperluin apa ngga. Tapi daripada bolak balik, saya bawa aja anaknya biar dilihat sama petugasnya, hehehe. Abis itu, langsung deh serahin formulir, e-paspor, dan kertas kecil ke petugas. Saat itu saya juga bawa berkas KK sama akta lahir anak saya, tapi ternyata nggak ditanyain. Jadi ternyata emang cuma formulir dan e-paspor aja. As simple as that. 

Cuma sekitaran 5 menit aja di loket, terus udah kelar. Petugas lalu akan ngasih rangkap kedua kertas kecil tadi sebagai bukti pengambilan paspor besok. Di kertas kecil itu tertera jelas pengambilan paspor bisa dilakukan pada pukul 13.30-15.00. Abaikan tulisan disitu yang jelasin kalo proses visa 4 hari kerja, karena petugasnya ngomong dengan jelas kalo paspor udah bisa diambil besok. And, that's it. Proses pengajuan selesai. Saatnya ambil paspor besoknya :)

Sesuai waktu yang diminta oleh Kedubes Jepang, saya pun balik lagi kesana esok harinya. Pas sampe sana tinggal bilang aja ke satpam kalo mo ambil paspor. They already know the procedure. Saat ambil paspor ini malah lebih cepat lagi. Setelah ambil nomor antrian, nggak sampe 10 menit udah dipanggil. Saat di loket tinggal serahin kertas kecil buat ambil paspor. Petugas akan langsung ngasih paspornya tanpa basa basi. Saat itu saya masih belum tau paspor saya dan anak dikasih visa waiver apa nggak, karena petugas nggak ngasih liat bagian dalam paspor. Agak deg-degan pas buka bagian dalam paspor. Dan, Alhamdulillah ternyata kami dapat visanyaaa... Yiiipppiiieee... 

Untuk visa waiver ini berlaku selama 3 tahun dengan maksimal masa tinggal 15 hari. Bisa bolak balik deh tuh ke Jepang selama 3 tahun tanpa harus ngajuin visa lagi. Alhamdulillah ternyata proses visa waiver untuk pemegang e-paspor emang mudah banget. Ngga nyangka akhirnya bisa ke Jepang juga, heuheu. Next saya akan sharing pengajuan visa Jepang bagi pemegang paspor biasa, ya.. 

Wednesday, 27 March 2019

Berburu Tiket Murah 2 Days Pass Tokyo Disneyland

Tokyo Disneyland 

Setelah nyari tempat nginep beres, saatnya cari tiket Disneyland. Nah, di Jepang ini ada dua atraksi Disneyland. Selain Disneyland, ada juga Disneysea. Jadi kami pun memutuskan untuk berkunjung sekalian ke dua tempat wisata itu. Mumpung lagi di Tokyo, ye kan... Heuheu. Berarti kami kudu nyari tiket 2 days pass.

Di situs resminya harga tiket 2 days pass dewasa 13200 yen dan anak usia 4-11 tahun 8600 yen. Untuk senior usia 65 tahun ke atas nggak ada tiket khusus 2 days pass. Beda dengan tiket yang 1 day pass dimana ada harga khusus untuk senior. Jadi untuk bokap nyokap dibeliin tiket dewasa. Soalnya kalau dihitung-hitung masih tetap lebih murah beli yang 2 days pass daripada beli tiket masuk senior 1 day pass. Nah, jadi kalo dihitung dengan kurs di bank 1 yen = Rp 135 maka tiket 2 days pass dewasa sekitar Rp 1.78 juta dan tiket anak Rp 1.1 juta. Waduh lumayan juga yak.

Etapi, pas liat-liat di Klook, ternyata tiket Disneyland 2 days pass di kisaran Rp 1.6 juta aja. Lumayan bedanya. Coba aja kalo dikali 10 tiket udah beda 1 juta, hehe. Akhirnya saya memutuskan untuk beli tiketnya di Klook. Namun karena untuk pemesanan tiket di Klook bisanya 1 bulan sebelum tanggal pemakaian tiket, maka saya harus menunggu sampai Februari 2019.

Pas akhir Januari, saya konfirmasi lagi ke keluarga apakah jadi beli tiket Disneyland. Tapi ternyata ada anggota keluarga yang minta dipending dulu nyari tiketnya sampai minggu depan. Yasud akhirnya beli tiket saya tunda. Ndilalah pas tiba saatnya mo beli di Klook ternyata tiket di tanggal yang saya mau booking yaitu 5-6 Maret udah habis terjual dong... Hwaduh... Bisanya tiket yang 1 day pass. Kalo diitung jadi jauh lebih mahal pastinya.

Akhirnya saya nyari-nyari via aplikasi e-commerce. Harga yang terpampang di kisaran Rp 1.7 juta, tapi harga bisa berubah sewaktu-waktu. Maka, saya chat pihak travel untuk tanya ketersediaan tiket dan harga. Ternyata harga yang dikasih rentang Rp 1.8 juta-Rp 2 juta. Langsung deh mundur perlahan. Sebenernya bisa aja booking tiket di web resminya Tokyo Disneyland, tapi berhubung limit kartu ngga cukup karena harus melunasi biaya hotel, maka satu-satunya pilihan adalah dengan membeli di travel agent.

Adek juga sempat nanyain tiket Disneyland ke travel agent tempat kami membeli tiket pesawat, tapi ternyata mereka belum bisa memberi update harga untuk tiket Disneyland di bulan Maret. Mereka siy bilang akan kontak adek saya lagi buat ngasih tau harganya, tapi sampai seminggu berlalu belum ada kabar. Sampai pas pertengahan Februari, ada info kalau akan ada beberapa travel fair digelar.

Akhirnya kami memutuskan untuk beli di travel fair aja. Emang jodoh banget deh kita sama travel fair. Hehehe. Saat itu yang kami tahu ada dua travel fair yang akan digelar, yaitu Cathay Pacific dan Singapore Airlines. Tapi, saat lagi iseng jalan-jalan di Kota Kasablanka, ternyata disana akan ada travel fair juga, yaitu BNI Japan Travel Fair. Wuih.. Kebetulan banget dah. Disana kan pasti banyak biro wisata, jadi bisa deh tanya-tanya dan bandingin harga tanpa perlu ribet nelponin travel, hehehe. 

Di hari pembukaan BNI Japan Travel Fair, kami langsung datengin biro wisata yang ada disana. Random aja sih milihnya, nyari biro wisata yang sepi. Biro wisata yang pertama kami datangi adalah GR. Officernya ngasih tau kalo harga dewasa Rp 1.6 juta, sementara anak Rp 1.1 juta. Wuih murah tuh tiket dewasanya. Langsung deh di-oke-in. Etapi selang lima menit kemudian, dia ngecek HP lagi terus harganya jadi berubah, wkwkwk. Harga tiket dewasa jadi Rp 1.9 juta.  Yaelah cuy.. Ternyata dia salah ngasih kurs, hahaha. Yasud langsung deh kita keliling nyari travel agent yang laen.

Selanjutnya kami ngedatengin booth BB, biro wisata yang sama dengan tempat kami beli tiket pesawat. Ternyata harganya ga jauh beda sama yang sebelumnya. Yang dewasa Rp 1.8 juta, yang anak Rp 1.3 juta. Yasud lewat... Lanjut lagi ke biro wisata lainnya. Yang ini saya lupa nama biro wisatanya tapi yang jelas tiket untuk Maret dia ga available. Jadi saya lanjut muterin booth lainnya.

Pas liat booth JALAN Tour agak sepi, saya pun langsung kesana. Eh ternyata harganya cucok banget dong.. Harganya sama kayak di Klook. Tiket dewasa dihargai Rp 1.6 juta dan anak Rp 1 juta. Bisa murah begitu karena dia ngasih rate Rp 127 = 1 yen. Langsung deh booking saat itu juga. Namun, tiket ngga bisa langsung diprint. Kami diminta untuk ambil tiketnya di kantor JALAN Tour di Wisma Keiai, Sudirman. It's okelah.. Yang penting bisa dapet tiket dengan harga lebih murah daripada travel laen, hehehe. 

Selang seminggu kemudian baru deh kami ke Wisma Keiai buat ngeprint tiket. Pas sampai disana, berhubung kami mesannya tiket 2 days pass, maka kami langsung ditanya penggunaan tiket hari pertama dan kedua mau kemana aja. Karena itu tiket fixed date, maka kami memilih Disneyland di hari pertama dan Disneysea di hari kedua. Setelah tiket dicetak, ternyata tiketnya segede kertas A4 dengan barcode di sisi kiri atas. Gede ya, mak..heuheu. Jadi katanya pas masuk Disneyland tinggal scan barcode aja. Ngga pake antri tiket lagi. Siplah.. Nggak sabar rasanya pengen maen-maen ke Tokyo Disneyland. Hehehe...

Friday, 28 December 2018

So-Called Honeymoon: Disneyland Hong Kong


Hari terakhir di Hong Kong, kami berencana ke Disneyland. Woohooo... Kami udah jalan dari hostel sekitar jam 8.30 pagi. Dari Stasiun Tsim Tsa Tsui, kami naik MTR ke Stasiun Sunny Bay, dengan sebelumnya transit di Stasiun Lau King. Dari Stasiun Sunny Bay ini kita akan nyambung lagi ganti kereta MTR Disney yang ikonik.

Nah, perjalanan dari Tsim Tsa Tsui ke Disneyland kurang lebih sekitar 1 jam. Saat ganti kereta di Sunny Bay, saya seneng banget liat kereta MTR Disney yang interiornya dihiasi khas Disney. Waktu tempuh ke Disneyland dari Sunny Bay ngga lama, sekitar 10 menit aja. Pas udah sampe, pengunjung tinggal jalan kaki 5 menit dari stasiun.

MTR Disney yang interiornya dihiasi siluet Mickey

Sesampainya disana Disneyland agak rame cuma ngga padet. Kami pun segera ke loket dan menunjukkan e-ticket. Prosesnya ngga lama, kurang dari 5 menit dan kami pun langsung masuk ke dalam. Saat di dalam, atrium luas dan kastil Disney menyambut pengunjung. Sayang kastil Disneyland Hong Kong jauh dari ekspektasi saya. Kecil banget buat ukuran kastil cuy..


Dari kastil, kami langsung berbelok kanan menuju Tomorrow Land. Disini kami naik coaster Hyperspace Mountain dan Iron Man Experience. Hyperspace Mountain lumayan bikin deg-degan. Tapi masih lebih asik The Mummy di Universal Studios Singapore (USS). Abis dari sana, kami lanjut ke Iron Man Experience.

Foto dulu sama Iron Man

Wahana Iron Man ini sebenernya belum resmi dibuka, baru soft launching, tapi kami mendapat kesempatan untuk mencobanya. Ternyata wahana ini menawarkan atraksi 3D. Kita diajak Iron Man buat 'menyelamatkan dunia'. Cukup keren. Tapi, kalo menurut saya masih kalah keren sama Transformers di Universal Studios Singapore (USS). Hehehe.


Many Adventures of Winnie the Pooh

Abis itu lanjut ke Fantasyland, masuk wahana Winnie The Pooh. Suami siy tadinya ngga mau, tapi saya tarik-tarik buat ikut masuk. Hahaha. Antriannya juga cukup panjang. Tapi karena penasaran sama wahananya, ya saya kesana. Ternyata wahana The Many Adventures of Winnie the Pooh ini mirip seperti istana boneka. Kita naek kereta dengan isi 4 penumpang dan didalamnya ada deretan scene cerita The Pooh dan teman-temannya. Naik wahana ini cuma sebentar, ngga sampe 10 menit kayaknya.

Terus lanjut ke Adventureland. Di kawasan ini, kami naik Jungle River Cruise. Naik kapal ala ala Indiana Jones dan dipandu ranger, penumpang diajak safari keliling danau sambil ngelewatin beberapa patung bergerak binatang. Jadi seolah-olah diajak berpetualang ke tengah hutan. Di tengah-tengah perjalanan ini, kita juga bisa lihat Rumah Pohon Tarzan yang jadi salah satu atraksi juga di Adventureland.

 Jungle River Cruise

Abis itu lanjut ke Grizzly Gulch buat naek Big Grizzly Mountain Runaway Mine Cars. Wahana roller coaster ini bertema pertambangan. Cukup bikin tereak, tapi masih agak mild dibanding roller coaster di USS yang bikin sampe jejeritan. Heuheu.

Dari Grizzly Gulch, kami ke Mystic Point buat makan siang di Explorer Club Restaurant. Di Disneyland Hong Kong ini ada dua pilihan restoran halal, yaitu Explorer Club Restaurant dan Tahitian Terrace di Adventureland. Namun, kami memilih Explorer Club karena dekat dengan musola. Nah, karena sejak awal kami udah mesen tiket Disneyland plus voucher makan, maka kami tinggal nukerin vouchernya aja. Siang itu saya memilih menu ayam dan lemon ice tea. Rasa makanannya mah biasa aja, ngga ada yang spesial.

Menu makan siang

Musholla dibelakang Explorer Club. Tersembunyi dibalik gorden

Usai makan siang, kami segera ke musola yang berada tepat di belakang restoran. Sempat clingak clinguk nyari musola karena agak nyempil. Ternyata musola ditutupi gorden putih besar. Pas diintip terlihat ruang solat yang cukup besar. Dilengkapi pula dengan tempat wudhu. Cukup representatif lah.

Usai solat zuhur, kami lanjut lagi ngebolang ke Toy Story Land. Disini ada tiga wahana yang bisa dinaiki yaitu, Toy Soldier Parachute Drop, Slinky Dog Spin, dan RC Racer. Namun, kami hanya naik Toy Soldier Parachute Drop dan RC Racer. Tadinya sih saya mau naek semua wahananya, tapi suami ngga mau diajak naek Slinky Dog Spin yang cuma muter-muter doang kayak Gajah Bledug, wkwkwk.

Toy Soldier Parachute Drop

RC Racer

Akhirnya kami naek Toy Soldier Parachute Drop dulu. Wahana ini cukup ngebuat jantung deg serr karena kita dibuat naek turun-naek turun. Cukup okelah. Dari sana, kami lanjut naek RC Racer. Wahana ini mirip kayak Kora-Kora di Dufan. Cuma bedanya wahananya bukan berbentuk perahu, tapi trek mobil berbentuk U. Lintasannya juga lebih curam jadi cukup bikin adrenalin meningkat. Suami saya seneng banget naek ini, sampe naek dua kali. Saya mah ogah. Kali kedua dia naek, saya cukup nunggu di bawah aja. Hehehe.

Setelah Toy Story Land, kami muter lagi ke Fantasyland. Pas liat show Mickey Philharmagic ternyata udah mo dimulai, kami pun memutuskan untuk masuk. Pengen tau pertunjukannya kayak apa. Ternyata semua karakter Disney ngumpul jadi satu di panggung itu dan...karakternya ngomong pake bahasa Cina. Hahaha. Untungnya di sisi kanan kiri panggung ada teks bahasa Inggrisnya. Jadi turis asing ngerti yang di panggung pada ngomong apa. Kalo ngga, kan mending ga usah ditonton kan yak. Wkwkwk. Pertunjukan berlangsung sekitar 20 menit.

Mickey Philharmagic. Ada teks bahasa Inggris di kanan atas panggung

Keluar dari Mickey Philharmagic, hari udah sore jelang malam. Kami pun memutuskan untuk kembali ke atrium depan. Eh, ternyata disana ada Mickey and Minnie lagi meet and greet. Yang mo antri foto dengan mereka panjang juga. Akhirnya kami cuma liat dan moto dari samping aja. Abis males antri cuma buat foto doang, hahaha.

Overall, semua wahana yang pengen kami naekin udah dicoba semua. Tapi, saya pengen liat parade Disney yang baru dimulai jam 8 malam. Jadi akhirnya kami muterin Disney lagi. Suami ngajakin naek Big Grizzly Mountain Runaway Mine Cars untuk kedua kalinya. Yasud akhirnya naek lagi deh. Hehehe. Lagian antriannya juga ga panjang. Paling cuma antri 5-10 menit terus langsung naek.

Mickey and Minnie Mouse

Nah, dari sana kami hanya muterin Disney aja, sambil foto-foto di beberapa spot. Setelah itu, kami langsung balik lagi ke Main Atrium buat nonton parade. Ternyata udah banyak yang pada duduk di pinggir jalur parade. Kami pun memutuskan untuk mampir ke toko suvenir dulu. Disana saya membeli magnet Disney seharga 48 HKD. 


Baru menjelang jam 8 malam, kami balik lagi ke Main Atrium dan nyari spot yang agak lowong. Nggak lama, parade lewat. Berbagai karakter Disney hadir dengan kelap kelip lampu. Mulai dari Princess Belle, Cinderella, Little Mermaid, Toy Story, Cars, Monster Inc, dan masih banyak lagi. Diakhiri dengan Mickey and Minnie Mouse. Usai parade, pengunjung pun langsung menuju pintu keluar.

Toy Story

Princess Belle

Overall menurut saya, Disneyland Hong Kong ngga terlalu luas banget. Dikitarin semuanya, ngga nyampe sehari juga kelar. Ngga perlu deh tuh beli tiket 2 day pass. Mungkin kali itu kami juga beruntung karena Disneyland lagi ngga terlalu rame, jadi antrian wahana ngga terlalu panjang. Lagian ngga semua wahana juga kami naekin. Buat anak kecil banyak wahana yang bisa dinaekin, jadi ngga rugilah kalo ngajak anak kesini. Tapi, untuk kami yang sudah dewasa dan saat itu belum dikaruniai anak, kalo menurut saya masih lebih asik ke USS. Roller coaster dan wahananya lebih seru.

Oh ya, yang cukup mengecewakan juga adalah kastil Hong Kong Disneyland yang ukurannya kecil. Karena, saya mikirnya kastil Disney di Hong Kong bakalan gede banget kayak yang di Amerika. Jadi pas liat kastilnya langsung, yah cuma segitu doang, terus jadi males deh. Hehehe. Yah cukup sekali itu aja sih kesana.

Terus bagaimana Hong Kong secara keseluruhan? Yang jelas Hong Kong ngga akan jadi negara yang akan saya kunjungi lagi. Cukup sekali itu aja. Hong Kong doesn't leave me with a feeling that makes me want to go there over and over again. Cukup asyik sih jalan-jalan di Hong Kong tapi ngga terlalu meninggalkan kesan kayak waktu pas ke Korea Selatan. Hehehe.

So...that's it. Cerita trip Hong Kong akhirnya kelar. See you on next trip, ya!


Monday, 24 December 2018

So-Called Honeymoon: How High Can You Go? Let's Go to Ngong Ping 360 & The Peak!

The Peak Lower Terminus

Today's trip is about height and height! Cause we are going to Ngong Ping 360 and The Peak! Apa sih Ngong Ping 360 dan The Peak? Basically, Ngong Ping 360 ini adalah tempat wisata di perbukitan Hong Kong di Lantau Island. Disini tujuan utama wisatanya adalah Ngong Ping Village, yang juga ada Big Buddha. Untuk menuju kesana, wisatawan bisa naek cable car alias kereta gantung. Sementara, The Peak adalah tempat wisata dimana kita bisa melihat kota Hong Kong (daerah Kowloon dan Hong Kong Island) dari ketinggian. Letaknya ada di perbukitan Hong Kong Island. Untuk menuju The Peak ini, wisatawan bisa naek tram yang menyusuri bukit curam.

Nah, perjalanan kali ini dimulai dari Ngong Ping dulu. Saya beli tiket cable car online di Asia Travel karena harganya lebih murah dibanding beli on the spot. Nah, ada dua pilihan cabin cable car yang bisa kita pilih: Standard Cabin atau Crystal Cabin. Standard Cabin ya kayak kereta gantung biasa, sementara Crystal Cabin menawarkan sensasi lebih seru naik kereta gantung, yaitu bagian bawah kabinnya berupa kaca tebal. Jadi saat naek kereta gantung, rasain deh tuh 'ngerinya' ngelihat pemandangan secara transparan di bawah, kayak kaki ngawang-ngawang aja dah. Heuheu.


Ngong Ping 360. Numpang foto dulu :D

Tapi, meski Crystal Cabin keliatannya seru, saya lebih milih yang standar karena lebih murah, hahaha. Bedanya lumayan loh sampe 30-an HKD, kalo ga salah. Jadi kan mending naek kereta gantung yang biasa aja. Lagian belum tentu nyali kuat kalo naek yang Crystal Cabin, wkwkwk.

Untuk menuju Ngong Ping 360, kami naek MTR ke Tung Chung Station. Sebelumnya transit dulu di Lai King Station. Dari Tung Chung Station, keluar di Exit B. Lalu, jalan kaki sekitar 5 menit menuju stasiun kereta gantung Ngong Ping. Setelah keluar stasiun Tung Chung, udah keliatan kok stasiun cable car-nya, jadi ngga usah kuatir nyasar.


Antrian Ngong Ping 360

Saat pertama kali menaiki eskalator ke stasiun kereta gantung sih keliatan kosong ya. Etapi, pas udah diatas ternyata ngantri bo. Untungnya antrian penukaran tiket online sama yang on the spot dibedain jadi ngga parah banget antriannya. Saat udah di depan loket, saya langsung kasih voucher tiket online ke petugas. Si mbak petugas konfirmasi lagi kalo saya telah pesan dua tiket online. Saya ngangguk-ngangguk.

Ngga lama, voucher ditukar dengan brosur dan dua tiket kereta gantung. Saat ngasih tiket, si mbak sambil ngomong, "This is the brochure and two tickets Crystal Cabin". Hah apa? Crystal Cabin? Saya salah denger kali ya.. Pas keluar loket, saya cek lagi tiket kereta gantung. Ealah, kenapa tulisannya Crystal Cabin? Waduh ternyata dapet upgrade dari si mbak, heuheu. Alhamdulillah. Tau aja kita lagi honeymoon. Eh. :P


We've got pinky cabin! :D

Dari loket, kami segera menuju antrian ke kereta gantung. Antrian antara Standard Cabin dan Crystal Cabin dipisah. Meski antrian Crystal Cabin juga panjang, lebih parah lagi antrian yang Standard Cabin. Alhamdulillah jadi lebih menghemat waktu.

Setelah antri sekitar 15 menit, akhirnya kami naik Crystal Cabin. Pas masuk ke dalam, waduh beneran kaca itu bawahnya. Agak deg-degan, apalagi pas keretanya udah keluar dari stasiun dan di bawah kaki keliatan jelas air laut dan bukit. Deg serrr lah pokoknya... Tapi, setelah semakin terbiasa, akhirnya saya udah ngga terlalu deg-degan lagi dan mulai menikmati perjalanan.


Upgraded to Crystal Cabin. Yeay!

Lihat kanan kiri. Ternyata Ngong Ping lokasinya dekat dengan bandara Hong Kong jadi keliatan deh tuh pesawat yang pada lepas landas dan landing. Semakin masuk ke dalam perbukitan, dari kejauhan Big Buddha sudah terlihat. Perjalanannya ternyata cukup lama juga. Kayaknya waktu tempuhnya ngga beda jauh sama cable car di Genting, Malaysia.


View from cable car

Perjalanan ke Ngong Ping kurang lebih sekitar 20-25 menit. Saat turun dari kereta gantung dan keluar stasiun, wisatawan sudah disambut dengan atrium luas. Diikuti dengan deretan kios dan tempat wisata di kanan kiri. Selain Big Buddha, di Ngong Ping ini juga ada spot wisata lainnya seperti Stage 360, Motion 360, Walking With Buddha, dll. Tapi, kami melewatkan itu semua karena ngga tertarik. Jadi kami hanya foto-foto aja di beberapa spot di bawah dan nggak naek sampe ke Big Buddha. Males sih kalo kesana kudu naek tangga lagi, hehehe.


Our smiles. Say Cheese!

Setelah keliling Ngong Ping sekitar 45 menit, kami kembali turun. Rencananya kami akan makan siang dimsum di Osman Ramju Sadick Islamic Center yang terletak di Hong Kong Island. Tempat ini terkenal banget sama dimsum halalnya, makanya saya penasaran. 

Nah, dari Tung Chung Station, kami menuju Wanchai Station. Keluar di Exit A4. Berbekal hasil donlotan Google Maps, saya ngikutin arah sesuai mbah Google. Jalan kaki sekitar 750 meter. Etapi, saat udah agak jauh kok ngga nemu jalan yang dimaksud. Sampe muter-muter bolak balik teteup ngga nemu juga. Sampe akhirnya suami ngajak balik aja ke hostel. Makan siang disana. Saya sih tadinya terus nolak, tapi kasian juga pak suami udah kecapekan. Yasud, akhirnya saya menyerah dan balik ke hostel. Rencana buat naek keliling Hong Kong naek tram dingding pun tercoret.


The Peak Galleria

Setelah dua itinerary gagal, saya tetep keukeuh pengen jalanin itinerary berikutnya: ke The Peak. Suami mah udah nyerah dan katanya mo istirahat aja di hostel. Jadi sore itu saya solo traveler. Usai solat ashar, saya kembali ke Hong Kong Island. Tapi, kali ini ngga naek MTR. Saya memilih naek feri. Dermaga feri ke Hong Kong Island ada di dekat Clock Tower Kowloon. Dari hostel cuma jalan kaki sekitar 7 menit.

Nah, feri ini terdiri dari dua dek, yaitu dek atas dan bawah. Tarif feri antara dek atas dan bawah berbeda. Tarif dek atas 3,4 HKD, sedangkan dek bawah 2,8 HKD. Kali itu saya memilih dek atas. Tempat duduk feri terbuat dari kayu biasa, namun senderannya bisa dibolak balik. Penumpang pun bebas memilih posisi tempat duduk karena nggak pake nomor kursi. Perjalanan via feri ke Hong Kong Island ini sekitar 15 menit.


Ferry at night

Setelah sampai di dermaga feri Hong Kong Island, saya langsung belok kanan menuju halte bis. Niatnya nyari bis 15c yang katanya lewat depan terminal tram The Peak. Tapi, pas saya liat daftar bis di halte, nggak ada bis 15C. Adanya bis 22S yang tujuannya langsung The Peak. Padahal, saya maunya kesana naek tram. Saya bolak balik platform halte bis, tapi tetep ngga nemu bis 15C. Akhirnya saya memutuskan naik bis 22S saja. Tarif bis 22S adalah 7,5 HKD.

Namun, saat sudah lewat beberapa halte, feeling saya mulai ga enak. Kayaknya bis ini ngga ngelewatin terminal tram The Peak deh. Akhirnya saya memutuskan untuk turun di halte dekat Hong Kong Botanical Garden. Dari sana, saya jalan kaki mencari nama-nama jalan dekat Botanical Garden. Mengikuti rute Google Maps yang sebelumnya di-screenshot, saya langsung menyusuri jalan dari Botanical Garden ke terminal tram. Untungnya saya sempat nyari rute Maps Botanical Garden-The Peak Lower Terminus, karena sebelumnya emang sempet terpikir buat mampir ke taman botani dulu.


Tram The Peak

Dari pengalaman nyasar ini, saya jadi tahu kalo sepertinya turis mancanegara Eropa Amerika lebih suka berada di Hong Kong Island. Mungkin juga ini dikarenakan ada beberapa kedubes disana, makanya banyak ekspatriat keliatan berseliweran di jalan dan nongkrong di kafe. Eniwei, setelah melewati kafe dan kios, plus naek turun tangga nan melelahkan (karena kontur Hong Kong yang berbukit), akhirnya saya nemu juga terminal tram-nyaaahhh... Setelah jalan kaki berapa lama? 1 jam, mak... *Nangis haru dan senang*


Etapi, pas saya liat itu antrian tram, Alamak.. ular naga panjangnya. Seberapa panjang? Coba bayangin, saking banyaknya orang yang mo naek tram, antrian di dalam terminal udah penuh dan berbelok-belok, itu antrian masih nyambung sampe ke bangunan di sebrang terminal! Antriannya aja sampe kepisah sama jalan umum. Ngga tau bakal baru bisa naek tram jam berapa. Tapi karena udah kadung sampe, akhirnya ikut antri juga lah. Masa iya, udah jalan kaki capek nyari-nyari akhirnya nggak jadi naek. Cih saya ngga selemah itu, kapten! Wkwkwk.


Antrian The Peak Tram

Untungnya saya bawa cemilan dan botol air minum, jadi ngga garing amat ngantrinya.
Dan.. tau ngga akhirnya berapa lama saya antri? 2 jam, cuy... Jamuran plus pegel ga, tuh? Sebenernya ada rute tercepat untuk naek tram, yaitu dengan beli bundling tiket tram dengan Madame Tussauds. Itu ga pake antri dan bisa langsung naek tram. Tapi, saya ngga ada niat buat kesana. Selain karena tiketnya mahal, saya juga udah pernah ke Madame Tussauds yang di Bangkok. Jadi, rela deh antri ampe 2 jam, heuheu.

Eniwei, setelah sampai loket, saya langsung beli tiket tram PP seharga 88 HKD. Setelah tiket di tangan, kudu antri lagi buat naek tram kira-kira 15 menit. Ouch. Dan.. setelah penantian sekian lama, akhirnya saya naek juga tram itu! Wooohooo.... Tram berwarna merah itu terdiri dari dua gerbong. Setelah masuk, orang-orang pada rebutan duduk di bangku sisi kanan supaya bisa melihat dengan jelas pemandangan kota Hong Kong. Tapi, saya mah dapetnya di sisi kiri. Yasud, ga apalah, nasib. Heuheu.


Hong Kong from The Peak

Saat tram mulai melaju ke atas, sumpeee...curam banget bukitnya. Saat naek tram, kota Hong Kong jadi keliatan miring banget. Padahal mah, tramnya yang miring karena nanjak bukit. Ilusi mata ini yang bikin pengalaman naek tram ke The Peak begitu mengesankan. Perjalanan ke atas kurang lebih sekitar 15 menit.

Saat keluar dari terminal, kita akan langsung ketemu dengan jejeran kios yang jual suvenir mulai dari magnet, gantungan kunci, kaos dan pajangan lainnya. And you know, itu deretan kios namanya apa? Ladies Market! Jadi kios yang ada di The Peak ini juga sama kayak di Ladies Market. Cuma bedanya harga suvenir di Ladies Market The Peak ini udah fix, ga bisa ditawar, karena ada label harganya. Dan..yang bikin nyesek, magnet disana dijual 100 HKD 6 biji, sementara kemaren saya beli segitu dapetnya cuma 4 biji karena salah nawar! Emang deh, saya itu paling ngga bisa disuruh nawar. Maklum saya orangnya emang suka sama yang pasti-pasti aja, ngga suka sama yang ga jelas *pembelaan*. :P


One of trick arts at The Peak

Oke, lanjut. Setelah ngelewatin kios, saya lalu menuju trick art yang masih berada di dalam gedung terminal. Masuknya gratis, cuma kalo mo foto di beberapa spot tertentu harus bayar. Saya sih cuma numpang lewat aja. Hehehe. Dari sana, saya lanjut keluar menuju atrium The Peak Galleria. Dari sana, kita bisa lihat kota Hong Kong dari ketinggian. Karena saat itu sudah malam, jadi kelap kelip lampu gedung terlihat gemerlap. Setelah puas memandangi kelap kelip lampu, saya keliling atrium dan duduk-duduk sebentar di dekat Hong Kong Tourism Board Visitor Center yang berbentuk tram hijau. Unik, ya. Sayang ngga bisa masuk karena udah tutup. Jadi cuma bisa foto dari luar aja.

Setelah 15 menit istirahat, saya pun memutuskan untuk pulang, karena saat itu sudah jam 7.30 malam. Dan, pulang naek tram juga harus antri panjang lagi, meski ngga separah kayak waktu naik ke atas. Kali ini lumayan antrinya ga sampe 1 jam udah bisa naek tram.


Antrian turun The Peak Tram sampai ke tenda merah di ujung. Mantaaap...

Saat keluar dari The Peak Lower Terminus, ndilalah pas di halte bis ada bis 15c yang lewat. Langsung deh, hop in, bayar 4,2 HKD, dan saya duduk di depan. Penasaran bis ini beneran berenti di dekat dermaga ga sih? 
Dan, ternyata bener dong, bis 15c berenti di halte dermaga. And you know, what was my mistake before? Halte bis 15c ada di sebelah kiri dermaga, sementara tadi sore saya belok ke kanan. Dong, dong, dong...

Pas saya liat brosur The Peak yang saya bawa dari hostel, ternyata emang bener halte bis 15c itu ada di sebelah kiri dermaga. Halte kecil siy, makanya ngga terlalu keliatan. Salahnya saya waktu itu adalah ngga liat brosur The Peak, tapi malah langsung ke halte bis satu lagi, yang emang lebih besar karena lebih banyak bis yang berhenti disana.

Usai meratapi kesalahan, saya bergegas ke dermaga. Kali ini saya duduk di lower deck, yang lebih minim angin daripada upper deck. Udah malem, angin makin kenceng. Saya ngga mau juga dong sampe masuk angin, karena besok saatnya ke Disneyland! Yiiipppiieee!!!


Tram Kantor HK Visitor Center yang unik di The Peak