Showing posts with label thailand. Show all posts
Showing posts with label thailand. Show all posts

Friday, 26 December 2014

My Impulsive Trip: Have A Lil' Bit Touch of Local in Thailand

There are a lot of things you can do when you're in Bangkok and Pattaya. Tidak hanya mengunjungi spot-spot wisata, tetapi coba jugalah kuliner khas setempat dan berbincang dengan masyarakat setempat, walau hanya sesaat. When I'm traveling alone, I'd like to have a little bit touch of local. Walau disini artiannya hanya sekedar bertanya-tanya iseng ke penduduk lokal, maupun menyicip makanan khas di sana.

Mango Sticky Rice
Nah, berbicara soal kuliner khas Thailand yang terkenal pastilah Tom Yam ya... Di Indonesia juga udah sering ditemui. Namun selain mencoba Tom Yam di negara asalnya, jenis makanan lain yang paling dicari para turis saat ke Thailand adalah Mango Sticky Rice. Ketan susu plus mangga. Nyam! Perpaduan ketan susu yang disiram dengan santan, plus disampingnya dikasih mangga somehow it mix very well together. 

Selain itu, Thailand juga terkenal dengan produksi duriannya. Saya sih ga nyobain buah durian monthongnya, tapi saya beli keripik durian dan Durian Sticky Rice kalengan buat oleh-oleh. Dari keripik duriannya aja udah punya keharuman dan rasa yang legit, tapi ini khusus yang harganya di atas 100 baht ya.. Saya beli dua versi keripik durian, tapi maaf lupa mereknya, ada yang seharga 70 baht dan 120 baht per pak. Yang seharga 70 baht tentu saja kurang berasa duriannya dan hambar, tapi kalau keripik durian yang 120 baht itu rasa duriannya nendang banget, serasa lagi makan durian beneran. Harga emang ga bohong ya? Hehehe. 

Beda lagi sama Durian Sticky Rice kalengan yang saya lihat di toko makanan ringan di Asiatique. Saat lagi lihat-lihat harga keripik durian di salah satu rak, mata saya tertumbuk pada sebuah produk dengan gambar durian dan ketan di bagian samping kemasan. Saat itu saya penasaran untuk membelinya, dan akhirnya emang beneran dibeli dengan harga 70 baht :p. Mangga aja ternyata bisa segitu enaknya dipadu sama ketan susu, mungkin durian juga begitu? Itu pikiran yang terlintas di benak saya ketika itu, hehehe. Pas sampai di rumah, Durian Sticky Rice saya taruh di kulkas. Ga ada petunjuk kalau produk itu harus disimpan di kulkas sih, cuma saya pengen aja nanti makan duriannya dingin-dingin. Pas dibuka, ternyata di dalam kemasan ada dua kaleng terdiri dari ketan dan durian. Seharusnya sih kayaknya ketan dan durian dicampur jadi satu gitu yah di piring, tapi waktu itu saya malah langsung icip dari kalengnya, hahaha.
Durian Sticky Rice
Pertama icip duriannya yang berbentuk seperti pasta atau selai bikin mata berkerjap-kerjap keenakan. Heemm…berasa banget duriannya. Dicampur dengan ketan ternyata enak jugaaa….Ternyata ga cuma mangga aja yang enak berpadu dengan ketan, tapi juga durian. And I wonder what if those sticky rice get mix with banana, orange, or other fruits, will it get along together and taste yummy? Perlu eksperimen nih kayaknya, hahaha. 

Oke, let’s stop talking about food. Another way to get the taste of the local is having interaction with the local. Hal menyenangkan dan menegangkan menjadi seorang backpacker yang tidak terikat dengan jadwal tur adalah ketika nyasar. Mungkin kedengarannya aneh, ya? Nyasar bukannya bingung, malah seneng, hahaha. Karena saat nyasar itulah, our survival sense live. Kita jadi sangat memperhatikan arah dan lingkungan sekitar, yang mungkin kalau kita ikut tur, rasa itu akan lewat begitu saja. Saat nyasar mau ga mau harus bertanya, kalau ga mau semakin nyasar ga tentu arah. Dan, saat berinteraksi hal sederhana seperti itulah kita akan tahu sedikit mengenai masyarakat lokal di negara yang kita kunjungi. Mungkin bukan dari mengobrol panjang, tetapi hanya sekedar bertanya arah atau soal suatu produk yang kita beli. Tapi, setidaknya kita bisa mengetahui sedikit bagian dari diri penduduk lokal. Well, saya akui kalau ingin benar-benar merasakan kehidupan orang lokal lebih baik memang tinggal dengan mereka, misalnya melalui jaringan Couchsurfing. Tapi karena saya belum pede menggunakan jasa itu, makanya saya hanya sekedar berinteraksi hal-hal kecil saja dengan warga Thailand.

Oke, lanjut. Overall, saya merasa orang Thailand itu ramah. Pengalaman pertama adalah ketika di bandara dan saya mencari Tourist Information Center. Keluar dari pintu keluar ternyata saya menuju ke arah yang salah, dan saat itu saya bertanya ke petugas keamanan. Sayangnya saat saya berkomunikasi dengan bahasa Inggris, dia tampak sama sekali ngga mengerti. Dia lalu meminta selembar kertas (berisi itinerary saya) yang saya pegang dari tadi. Dia tampak mencari-cari sesuatu, dan saya baru ngeh kalau ternyata dia mencari aksara Thailand di itinerary saya, which he won’t found it. Iya lah, wong itinerary saya ditulis dalam Bahasa Indonesia, hahaha. Ngeliat dia kebingungan saya jadi malah tambah bingung, hahaha. Lalu, pelan-pelan saya menjelaskan kalau saya ingin mencari Tourist Information Center, sambil menggunakan bahasa tubuh, menggunakan bentuk kotak sebagai Tourist Information. I don’t know why I describe it like that, it just happen, hahaha. Terus saya bertanya “Is it that way?,” tanya saya sambil nunjuk ke arah berlawanan. Dan, dia hanya ngangguk-ngangguk aja, masih dengan tampang bingung, hahaha. Okay, that went well, wasn’t it? Ketika komunikasi lisan tak berhasil, gunakanlah bahasa tubuh. Catet!

Pengalaman lainnya adalah ketika sedang kebingungan nyari halte bis di Victory Monument, saya nyari lagi petugas keamanan yang lagi berjaga di sudut tikungan halte BTS. Untunglah mereka mengerti bahasa Inggris dan dengan tersenyum ramah menjelaskan arah halte bis. Tidak semua warga Bangkok mengerti bahasa Inggris dengan baik sepertinya, tapi mereka akan berusaha membantu kok. Sama seperti di Indonesia.

Misalnya saat saya sedang di bis menuju Vimanmek, saya bertanya ke penumpang wanita di sebelah saya apakah Vimanmek sudah dekat. Awalnya dia kelihatan kaget, dan saat saya mengulangi pertanyaan dia mengangguk sedikit. Saat saya bertanya lagi, berapa lama lagi saya harus turun? Dia tersenyum canggung. Akhirnya saya nanya lagi, “5 more minutes? Or ten minutes?”. Dia lalu mengangguk-angguk. Entah jawaban mana yang benar, tapi setidaknya saya tahu sebentar lagi saya akan turun, hehehe.

Pada saat sampai Vimanmek ini juga ada pengalaman lucu. Setelah saya menyimpan sepatu di loker dan menuju ke bangunan utama Vimanmek, setiap pengunjung diharuskan diperiksa dulu oleh petugas. Ini karena pengunjung tidak diperbolehkan membawa barang apapun ke dalam Vimanmek. Nah, saat itu saya berhadapan dengan petugas wanita dan pria. Petugas pria langsung berbicara dalam bahasa Thailand kepada saya, dan saya hanya bisa melongo kebingungan. Melihat tampang saya yang bloon kebingungan, petugas wanita langsung ngomong, “You’re not Thai, aren’t you?”. Saya langsung menggeleng. Mereka berdua pun langsung tertawa, dan saya baru ngeh kenapa mereka tertawa. Ternyata si petugas pria mengira saya adalah warga lokal, jadi langsung ngomong dengan bahasa Thailand, hahaha. Saya pun hanya nyengir-nyengir aja saat si petugas pria minta maaf kepada saya.

Setelah dari Vimanmek, saya berniat menuju Dusit Throne Hall. Saat itu saya berasumsi kalau Dusit Throne Hall adalah bangunan yang besar. Tapi, ketika saya sampai di suatu halaman luas dengan bangunan sederhana di samping kanan, saya tidak menemukan bangunan yang saya bayangkan. Akhirnya saya nanya ke petugas keamanan di sana. Dengan ramah dia menjelaskan kalau bangunan yang saya cari itu ternyata adalah bangunan yang ada di sebelah kanan itu. Setelah berterima kasih, saya lalu beranjak pergi. Tapi, baru dua langkah, petugas tadi memanggil lagi dan langsung ngomong begini, “Miss, you are so beautiful”, sambil nyengir. Whaaatttt??!! I don’t know what to say at that time, I just say ‘Thank You’ to him, smiling, and run away. Hahaha. Iyalah, mana ada orang bilang begitu ketika saya saat itu lagi ngos-ngosan kecapean dan keringetan. The point is, at that time I’m nowhere near what common people describe about beauty.  

Saat sudah berada dalam jarak aman dari si petugas, saya terus kepikiran beberapa kemungkinan kenapa dia ngomong begitu. Pertama, dia sedang berlatih bahasa Inggris dan sedang mengetesnya ke beberapa wisatawan yang datang ke sana. Kebetulan aja saat itu saya yang wanita menghampirinya dan dia menguji salah satu kosakata bahasa Inggrisnya. Kemungkinan kedua adalah dia seorang penggoda dan melakukannya kepada setiap wanita. Kemungkinan ketiga adalah dia benar-benar tulus mengucapkan itu. Nah, karena kemungkinan kedua dan ketiga tampaknya tidak mungkin sama sekali, saya pun lebih cenderung pada kemungkinan pertama. Eniwei, terlepas dari segala alasan di balik kejadian tadi, saat saya pulang ke Indonesia saya membaca sebuah artikel berjudul 8 Types of Girls that Guy would Travel With, dimana salah satu poinnya menyebutkan begini: Men will feel extremely burnt to see a sweaty girls with messy and muddy look than a full touched up lady. Ah ya, baiklah, itu kan menurut penulis artikelnya ya...

Mari lanjut ke pengalaman berikutnya, ketika saya berkesempatan mengunjungi Masjid Ban Oou. Di sinilah saya berkesempatan sedikit berinteraksi dengan muslim Thailand. Ketika saya sedang bersiap mengenakan mukena, ada seorang muslimah yang menghampiri saya, mengajak bersalaman, tersenyum dan mengucapkan salam. Hanya peristiwa kecil, tetapi cukup berkesan untuk saya. Senang rasanya bertemu dengan saudara sesama muslim di 
negara minoritas muslim :).
Ngeborong Tao Kae Noi


Kesempatan lainnya untuk berinteraksi dengan warga lokal adalah ketika kita berbelanja. Sebelumnya saya sudah pernah menceritakan pengalaman berbelanja di Wat Arun di postingan My Impulsive Trip: Bangkok (Day 2), yang mengenai penjaja cinderamatanya pinter Bahasa Indonesia. Mungkin karena turis Indonesia dikenal suka berbelanja, makanya pedagang di Wat Arun sampai bela-belain belajar bahasa Indonesia. Persepsi mengenai turis Indonesia yang suka berbelanja ternyata tak hanya di Bangkok saja, tetapi juga di Pattaya.
   
Ketika saya menghampiri salah satu pedagang cinderamata di sana, dia langsung berhasil menebak kalau saya adalah dari Indonesia. Ketika saya bertanya kok bisa langsung tahu, jawabannya karena banyak turis Indonesia yang datang ke kiosnya, hehehe. Saat berbincang dengan pedagang di Pattaya ini, saya merasa nyaman karena dia begitu ramah. Tidak hanya sekedar transaksi tawar menawar, tetapi juga berbincang mengenai hal kecil dan remeh temeh seperti cuaca di Thailand dan Indonesia hingga berbagai produk cinderamata yang dijajakannya. Dari dia, saya jadi tahu sedikit kalau produk cinderamata seperti magnet kulkas yang dijualnya itu ternyata tidak diproduksi di Pattaya, tapi di daerah lainnya (lupa nama daerahnya) yang warganya khusus membuat cinderamata magnet kulkas.

Di Thailand ini pula saya merasa tidak terlalu asing karena di sanalah salah satu basis suporter Liverpool FC terbesar di Asia Tenggara. Begitu mudah melihat Liver Bird tersebar di berbagai tempat. Tidak hanya di toko sepakbola yang saya sambangi dekat MBK tentu saja, tetapi juga di bagian belakang mobil, truk, sampai di jok motor ojek yang saya tumpangi di Pattaya. LFC is the world’s biggest family football club. No wonder with all of that things, impressions and nuisances that I have in Thailand, it makes me feel Thailand is a home faraway from home.

Tuesday, 30 September 2014

My Impulsive Trip: Pattaya & Asiatique

Hari ketiga adalah hari terakhir saya full-day di Thailand. Hari ini saya berencana pergi ke Pattaya dan Asiatique. Setelah melewatkan malam di hotelnya Tira dan Lia, saya pun segera bergegas mengumpulkan barang-barang dan nebeng naik taksi sama mereka sampai ke stasiun MRT terdekat. Tira dan Lia pulang pagi itu ke Jakarta, sementara saya masih ngebolang :p.

Sesampainya di hostel, langsung deh tuh masukin barang ke loker, bebersih dan cabs lagi sekitaran jam 9 pagi. Tujuan: Ekkamai Bus Station. Dari terminal Ekkamai-lah bis ke Pattaya akan berangkat. Untuk menuju ke Ekkamai Bus Station, dari stasiun MRT Queen Sirikit saya menuju interchange MRT-BTS Sukhumvit-Asok. Lalu ganti naik BTS menuju Ekkamai. Tidak jauh dari stasiun MRT terlihat ada sebuah terminal bis besar. Langsung aja deh cari loket yang bertulisan Pattaya. Tiket bis ke Pattaya seharga 124 baht. Bisnya ada di bagian belakang terminal (ngikutin arahan dari petugas loket). Alhamdulillah saya sampai sana 5 menit sebelum jam 10, jadi ga perlu nunggu lama juga di bis.

Sydney Opera House sebelahan sama Merlion ya cuma ada di Mini Siam :)
Pas jam 10 bis pun berangkat. Waktu tempuh Bangkok-Pattaya diperkirakan sekitar 2 jam. Jadi prediksinya jam 12-an udah nyampe lah ya. Eh, tapi ternyata pas di tol ada kecelakaan dan lumayan buat macet. Jadilah saya nyampe Pattaya jam 1 siang. Sesampainya di terminal bus Pattaya, saya segera mencari ojek untuk menuju destinasi pertama di Pattaya: Mini Siam. Mini Siam adalah tempat wisata yang di dalamnya terdapat berbagai miniatur landmark dunia dan Thailand. Harga tiketnya 300 baht.

Pas saya masuk ke Mini Siam, suasananya cukup sepi. Ga banyak pengunjung yang datang. Apa mungkin karena saat itu cuaca lagi terik, jadi orang pada males untuk berpanas-panasan ria di Mini Siam yang outdoor? Entahlah. Yang jelas, saat itu saya langsung buka payung demi menghindari teriknya matahari. Mini Siam sebenarnya juga menyediakan payung untuk dipinjam wisatawan secara gratis kok. Jadi ga perlu kuatir kalo saat berkunjung ke sana, tapi lupa bawa payung.

Eniwei, di Mini Siam ada beberapa miniatur landmark dunia, seperti Menara Eiffel, Sydney Opera House, Merlion, Menara Pisa, patung Liberty dan lain-lain. Setelah cukup puas keliling sekitar 45 menit, saya pun menuju destinasi berikutnya: Pantai. Di pintu keluar saya bertanya ke petugas Mini Siam, apakah di depan jalan raya ada ojek (motorcycle taxi). Sayangnya, ga ada tukang ojek yang ngetem. Jadilah itu si mbak petugas nelponin tukang ojek kenalannya, diminta dateng ngejemput saya di Mini Siam buat nganterin ke Pattaya Beach Road. Tarifnya 150 baht. Saya tawar 100 baht ga dikasih, Huaah..ya sudahlah.

Menyusuri trotoar di sisi Pattaya Beach Road
Sebenernya pas sebelumnya saya browsing ada songthaew (sejenis angkot dengan model seperti omprengan, tapi terbuka di bagian kanan-kiri-belakang mobil) yang lewat Mini Siam jika ingin ke Pattaya Beach Road. Tapi, ya sudahlah. Saya juga ga terlalu sreg naik songthaew sebenernya, karena pas liat mobilnya di terminal Pattaya, di songthaew itu ga tertera rutenya kemana aja. Polos aja gitu di bagian depan mobilnya. Jadi ga yakin, hehehe. Daripada nyasar dan menghabiskan waktu, saya pun akhirnya milih naik ojek.
Sembari nunggu abang ojek, saya pun melihat-lihat bagian luar Mini Siam dan menemukan peta Pattaya yang berisi rute beberapa destinasi wisata. Saya agak kaget saat melihat Pattaya Beach Road itu ternyata jalanannya panjaaaang bangeet. Jadi mikir apa iya saya mau nyusurin dari awal Beach Road sampe ujung? Kayaknya nggak, deehhhh. Suhu lagi panas-panasnya, bo. Si mbak petugas juga sebelumnya nanya saya, mau ke sebelah mananya Pattaya Beach Road? Saya asal nunjuk aja: Hard Rock Hotel, deh. Hahaha. Tapi, pas saya liat ada brosur Central Festival, dan ternyata mal itu nyediain musola, saya pun langsung ganti tujuan.

Ga berapa lama si tukang ojek dateng dan saya langsung ngasih liat peta dan nunjuk Central Festival. Perjalanan dari Mini Siam ke Central Festival ga nyampe 15 menit. Si abang ojek ngebut plus lewat jalan-jalan kecil sama komplek perumahan gitu sih, ga lewat jalan raya. Agak deg-degan takut dibawa kemana gitu, tapi Alhamdulillah sampai Central Festival selamat sentosa :D.

Sesampainya di sana keliling-keliling mal aja sembari nyari musola. Pas nemu musola langsung istirahat plus makan bekal roti. Topik soal musola dan makanan halal akan saya bahas terpisah nanti. Setelah ngerasa udah cukup ngisi tenaga, saya pun langsung keluar mal dan menyusuri Pantai Pattaya. Ngeliat pantainya sebenernya ga beda jauh sama Pantai Kuta. Jadi ya saya cuma jalan-jalan aja, nikmatin embusan angin pantai yang lumayan bikin sejuk di tengah cuaca panas siang itu.
Pattaya Beach
Saya menyusuri jalan menuju ke arah terminal bus. Ga niat jalan sampe terminal sih, cuma pengen liat-liat aja. Sampai terus saya liat ada deretan kios kecil di sebrang pantai, setelah Hard Rock Hotel kalo jalan dari arah Central Festival, di deket Soi 6/1. Akhirnya nyebrang juga ke sana. Namanya juga cewek ya, ga bisa ngeliat yang jual barang dikit, langsung deh nyamperin, hahaha. Di sana ternyata kios cenderamata. Barangnya hampir sama lah kayak di Bangkok, cuma kalo yang di sini ada kaos Pattaya-nya, hehehe.

Lanjut menyusuri jalanan di sana, saya pun masuk ke salah satu Soi (jalan kecil), dan langsung tembus ke Pattaya 2nd Road. Ngelewatin gedung pertunjukan Alcazar Show dan Tiffany Show (entah kenapa ga tertarik sedikit pun buat liat ladies boy-nya, hehehe). Ga terlalu jauh dari sana, ada satu tempat yang bikin saya penasaran, yaitu Art In Paradise (museum lukisan 3D). Pengen kesana, tapi mbok ya itu tiketnya 500 baht. Secara uang semakin menipis dan malam ini berencana akan ke Asiatique dan masih akan beli oleh-oleh, jadilah saya melewatkan Art In Paradise. Tapi, kalau suatu saat punya kesempatan untuk dateng ke Pattaya lagi, saya akan mengunjungi tempat itu.

Eniwei, setelah sampai di persimpangan jalan North Pattaya Road, saya pun langsung nyari ojek. Lagi manja, males naik angkot, hehehe. Dari persimpangan Pattaya 2nd Road dan North Pattaya Road, saya bayar ojek 40 baht untuk ke terminal bis. Sesampainya di terminal, langsung beli tiket dan menunggu waktu berangkat bis. Hah, jadi segitu doang di Pattaya-nya? Iya.

Sebenarnya ada lebih banyak destinasi wisata yang bisa dikunjungi di Pattaya, seperti Museum Ripley’s Believe It Or Not, Kampung Gajah, peternakan lebah, Big Buddha, penangkaran buaya, kebon binatang, sampai nyebrang ke Koh Larn Island dari Jomtien Beach. Tapi, itu butuh lebih dari sehari di Pattaya. Dari segi waktu buat saya sudah tidak memungkinkan. Jadi cukup puas-lah dengan Mini Siam, Pantai Pattaya, dan jalan-jalan di Pattaya Road.

Bis dari Pattaya menuju Bangkok berangkat pukul 4 sore. Berhubung saya pulang berbarengan dengan rush hour di Bangkok, jadilah kena macet dan baru sampai Terminal Ekkamai jam 7 malam. Dari sana, saya langsung cus ke stasiun BTS. Straight to BTS Saphan Taksin. Sesampainya di sana, saya keluar di Exit 3 dan mampir sebentar ke Ban Oou Mosque. Untuk menuju ke mesjid itu, jalan kaki aja sekitar 200 meter sampai Robinson Department Store, terus belok kiri ke Soi Charoen Krung 46. Nah, Ban Oou Mosque ada di belakang Robinson Department Store.
Asiatique
Setelah selesai shalat, balik lagi ke arah BTS Saphan Taksin, menuju dermaga Central Pier yang ada di bawah stasiun. Dari sana, kita bisa naik shuttle boat gratis ke Asiatique. Shuttle boat ke Asiatique beroperasi dari pukul 16.00 - 00.00, dan jalan setiap 15 menit sekali. Sesampainya di Asiatique, saya cukup kagum sama tempat ini. Enak banget buat nongkrong, bo. Sembari menikmati semilir angin di pinggir Chao Phraya, kita bisa milih buat duduk di salah satu cafe/restoran. Atau, sekedar nongkrong aja di tepi sungai juga asik kok. Kerlap-kerlip lampu dari kapal-kapal yang hilir mudik di Chao Phraya dengan latar belakang lampu dari gedung dan bangunan lainnya di sebrang Asiatique cukup membuat kita bisa bersantai ria di sana.

Jadi, ada apa aja sih di Asiatique? Buanyak! Kios Thai ice tea, restoran/cafe dengan berbagai menu dari belahan dunia, ferris wheel, toko baju, kios oleh-oleh, sampai bisa nonton live cabaret show dan Muay Thai. Semua kios di sini pun tertata rapi, dengan beberapa spot tempat duduk yang strategis buat mereka yang udah capek keliling-keliling Asiatique.

Saya sendiri saat sampai sana, langsung mencari penunjuk arah ke Calypso Cabaret. Mau nonton kabaret? Ngga, lah. Sayang duitnya, hahaha. Tujuan saya adalah kios snack yang ada di deket pintu masuk Calypso Cabaret. Dari info yang saya dapat, katanya harga snack disana lebih murah dibanding di Chinatown, MBK, dan Siam. Daaan...ternyata bener! Bedanya bisa sampe antara 20-50 baht. Lumayaaan kaaannnn... Duh, coba dari kemaren yah beli oleh-olehnya disini. Untung pas di MBK ga beli terlalu banyak snack. Pas di Asiatique inilah akhirnya saya semakin menggila beli Tao Kae Noi (snack rumput laut), hahahaha. Gegara si Nisa (one of my besties) ngenalin saya sama snack ini pas backpackeran bareng ke Singapura, jadilah saya mengidolai Tao Kae Noi. Otomatis, salah satu bidikan saya pas ke Thailand adalah beli Tao Kae Noi sebanyak-banyaknya *devil laugh*.

Selesai dengan oleh-oleh, saya pun keliling-keliling Asiatique, sampai ga terasa udah jam 10 malem. Duh, padahal belum packing. Langsung deh ngantri naek kapal. Lumayan panjang antriannya. Mungkin karena udah semakin malem, jadi yah banyak yang pengen pulang. Saya pun nyampe hostel jam 11 malem, wkwkwkwk. Pas masuk ke kamar, langsung puyeng nata belanjaan yang segambreng, sambil berharap ga overload dan disuruh pesen bagasi, hehehe.

Well, that's all of my stories about my impulsive trip this year. Pretty hectic on preparing this journey in the beginning, but it's worth it. Maybe I'm (or, even you?) gonna have an impulsive trip again one day, well, who knows? Make your trip, enjoy your journey, and have fun! :D

Saturday, 26 July 2014

My Impulsive Trip: Bangkok (Day 2)



Hari kedua di Bangkok dimulai dengan tur ke Madame Tussaud (museum patung lilin). Museum ini terletak di dalam mal, tepatnya di Siam Discovery Center, Lantai 6. Berhubung si Tussaud baru buka jam 10.00, saya leha-leha sarapan dulu di hostel dan baru cabs jam 09.00. Seperti hari sebelumnya, dari hostel saya menuju MRT Queen Sirikit, transit di interchange Asok, dan naik BTS ke Siam Station.

Dari Siam Station ini tinggal jalan kaki aja ke Siam Discovery. Ngga mungkin nyasar karena mal-nya sebelahan sama stasiun BTS. Cuma yang perlu diperhatikan di Siam ini ada dua mal, yaitu Siam Discovery dan Siam Paragon. Jika kamu masuk dari Siam Paragon pun ga usah kuatir akan nyasar karena ada jembatan penghubung ke Siam Discovery, tinggal liatin aja petunjuk jalan yang ada di dalam mal. Kebetulan waktu itu saya lewat luar mal, ngikutin rombongan anak-anak sekolah, hehehe. Ngga tau kenapa feeling saya waktu itu bilang kalo rombongan anak-anak itu juga akan menuju Madame Tussaud. Dan, ternyata benar, hehehe. Rombongan itu berhenti tepat di depan Siam Discovery, sedangkan saya terus lanjut naik ke lantai 6.

Di Madame Tussaud ini saya janjian ketemu sama Tira dan Lia, teman yang saya temui di Backpacker Indonesia (BPI). Sempet kuatir ngga akan ketemu sama mereka. Ngga nyangka akhirnya ketemu di depan pintu masuk Madame Tussaud, saat mereka lagi poto-poto narsis sama Tom Cruise. Dan, saya ngga mau kalah juga dooonggg, hahaha. Ngga nyampe 5 menit pose-pose gaya sama si Om Tom, kita pun segera ke konter tiket. Berhubung udah beli tiket secara online, kita tinggal nyebutin kode booking aja ke petugas tiket dan ngasih liat kartu kredit yang dipakai untuk transaksi. Setelah oke, petugas tiket ngasih voucher diskon foto ke kita. Jadi di dalam nanti akan ada beberapa petugas yang stand by di patung-patung tertentu (contoh: patung Obama dan Wolverine) dengan kamera. Nah, jika kita mau souvenir khusus foto Madame Tussaud tinggal kasih ke si petugas foto di dalam, nanti kita akan dapat potongan diskon 15 %, kalo ga salah. Yah, kalo saya sih udah niat ga akan pake vouchernya, jadi aja itu voucher masuk ke kantong terdalam, hehehe.
Sama Presiden Soekarno
Memasuki Madame Tussaud di bagian depan, kita akan disambut oleh patung wanita Thailand lengkap dengan baju tradisionalnya. Lanjut lagi, ada patung presiden Indonesia, Ir Soekarno. Bangga rasanya ngeliat ada tokoh dari Indonesia dijadiin patung lilin di Madame Tussaud :). Setelah itu, masuk ke area yang lebih luas, ada Lady Di, Mahatma Gandhi, Obama, Aung San Suu Kyi, Queen Elizabeth, dan beberapa tokoh Thailand. Di area ini saya tersadar kalo wisatawan di dalam sana sebagian besar berasal dari Indonesia. Dari mana saya tau? Gimana ngga? Mereka pada ngomong bahasa Indonesia! “Hey, fotoin gue disini, dong”. “Eh, tunggu gw mau foto disini”, dst. Hahaha. Berasa lagi ada di Jakarta, bukan di Bangkok.

Di area itu kami hanya berhasil foto-foto sama Obama, Lady Di, Aung San Suu Kyi. Pengen foto sama Queen Elizabeth, tapi pas liat ada banyak orang yang antri foto juga, akhirnya kami memutuskan untuk lanjut ke area berikutnya dan berniat akan kembali lagi ke area itu nantinya. Di area selanjutnya adalah area pelukis dan penemu di masa lampau. Ada Pablo Picasso dan Albert Einstein. Ga jauh dari Einstein, ada Luciano Pavarotti. Di sini pose dulu ala pemain piano/pemusik opera, lengkap dengan satu set piano, top hat, dan jubah ala penyanyi opera. Madame Tussaud memang menyediakan pula beberapa properti untuk dipakai pengunjung bergaya bersama si patung lilin. Lumayan lah ya…hehehe.
Pose dulu sama Gerrard :D. Tak pedulikan Rooney yang lagi nyengir :P
Lanjut dari sana, adalah area olahraga. Daaan…disinilah saya menemukan patung yang sudah saya tunggu-tunggu dan incar sejak sebelum saya masuk ke Madame Tussaud. Siapa lagi kalo bukan, Steven Gerrard! Hahaha. Patung lilin Gerrard memang layak ada di Madame Tussaud Bangkok. Kenapa? Karena Thailand dikenal sebagai salah satu basis fans Liverpool FC terbesar di Asia Tenggara, selain Indonesia. Mata saya langsung berbinar-binar ngeliat patung Gerrard di depan mata. Oh, how I wish I could stand right in front of the real him! Seperti di patung-patung sebelumnya, saya minta tolong ambilin foto dengan ponsel sama Lia/Tira. Ngga cukup di ponsel aja, dengan bermodal tripod, saya pun berpose lagi sama si Gerrard. Wayne Rooney yang ada di sebelah Gerrard pun tak saya pedulikan, hahaha. Saya baru selesai berpose-pose ria, setelah ngeliat Tira dan Lia udah ngeloyor pergi ke area selanjutnya. Buru-buru deh tuh ngangkut tripod. Eeehhh, tapi berhenti dulu saat ngeliat David Beckham lagi push up di atas bangku, terus pose manis di sampingnya, hahaha. Setelah patung lilin para pesepakbola, ternyata di sana ada juga patung atlet olahraga lainnya, seperti Muhammad Ali sampai Yao Ming.

Di area berikutnya adalah kategori superhero dan tokoh animasi. Di sini kita dapat menemukan Spiderman, Wolverine, Doraemon dan Hello Kitty. Di area terakhir ada deretan para selebriti Hollywood dan penyanyi internasional. Ada Oprah Winfrey, Naomi Campbell, George Clooney, Nicolas Cage, Will Smith, Brangelina, Justin Bieber, Adele, Johnny Depp, Michael Jackson, Madonna, Beyonce, Katy Perry, Nicole Kidman, Julia Roberts, Jackie Chan. Di sini juga ada deretan patung Oscar sebagai properti. Saat kita di area ini wisatawan semakin ramai karena ada rombongan anak sekolah yang tadi saya ikuti. Setelah melihat kondisi yang semakin ramai itu, kami pun bergegas kembali ke area depan. Kan, kita belum foto sama Queen Elizabeth, bo. #penting :p
Royal Families Wanna-Be
Akhirnya, kami berlarian balik ke sana karena waktu sudah menunjukkan hampir jam 12. Kami memang hanya menetapkan batas waktu di Madame Tussaud hanya sampai jam 12 siang saja, karena selanjutnya kami masih mau ke Grand Palace. Ngga berasa emang kita di dalam udah hampir dua jam, padahal cuma foto-foto sama patung doang ya? Hehehe. Sesudah puas pose dengan si ratu, kami balik lagi ke area terakhir di Madame Tussaud, menuju pintu keluar dekat area selebriti Hollywood. Pintu masuk-keluar di museum ini memang sudah diatur sedemikian rupa, sehingga pengunjung sudah terarahkan untuk dapat melihat seluruh koleksi patung. Di arah pintu keluar ini pengunjung akan menemukan sejarah singkat Madame Tussaud dan toko souvenir. Kami pun hanya melihat sekilas souvenir yang dijual. Standar souvenir aja sih yang dijual di sana, kayak gantungan kunci, tumbler, notes, dll. Kita juga bisa mencetak tangan kita dengan lilin sebagai souvenir, tapi berhubung kami tak tertarik, jadi ya ga liat-liat juga.

Keluar dari Madame Tussaud, kami memutuskan untuk nyari makan siang dulu. Sempet bingung nyari tempat makanan halal di Siam Discovery, akhirnya kami memutuskan ke food court-nya, Food Republic. Di food court ini sistemnya kita deposit uang dulu minimal 100 baht di kasir, lalu akan dikasih kartu berisi jumlah uang deposit, yang nanti akan didebet saat pesan dan bayar makanan di counter. Sembari Tira antri di kasir, saya nanya ke petugas kasir, apa ada counter makanan halal di sana? Si mbak petugas sempet bingung dan nanya ke temennya, akhirnya kami diarahkan untuk ke counter makanan Melayu-India. Saya lupa nama counternya, tapi yang jelas menu di sana didominasi oleh kari. Saya memilih yellow rice with tuna seharga 70 baht, sedangkan Lia dan Tira memilih yellow rice with chicken seharga 60 baht.

Selesai makan, kami menuju Siam Paragon. Berdasar info yang saya catat sebelumnya, di sana ada prayer room yang berlokasi di Lantai B1 (Basement), South Wing. Sempet nyasar awalnya sampai ke parkiran basement, tapi setelah nanya ke petugas, akhirnya nemu juga prayer room yang dimaksud. Setelah selesai shalat, kami segera keluar mal dan antri taksi. Kami memutuskan untuk share cost taksi karena waktu sudah menunjukkan lewat dari pukul 13.00 WIB. Alhamdulillah dapet taksi yang pake argometer dan supir yang ramah. Perjalanan ke Grand Palace ga sampai 30 menit. Setelah sampai kami segera masuk ke dalam dan antri tiket.
Saat masuk ke area dalam Grand Palace sudah banyak sekali wisatawan di sana, padahal matahari sedang terik. Saya pun mengeluarkan payung untuk melindungi diri dari sinar matahari. Saat memasuki area dalam, banyak sekali relik menarik. Ada beberapa relik yang sudah saya lihat miniaturnya di Ananta Samakhom. Selain stupa, di dalam sana juga ada kuil. Untuk memasuki kuil ini pengunjung harus melepas alas kaki, tidak boleh berfoto dan berisik. Grand Palace adalah area yang sangat luas, kami pun tidak sempat menjelajahi semuanya. Selain karena areanya luas, cuacanya juga sedang panas-panasnya. Beberapa kali kami berhenti beristirahat sembari antri isi ulang air botol minum. Ya, pengelola Grand Palace memang menyediakan beberapa titik tempat isi ulang air minum. Lumayan ga perlu beli air. Sebelumnya, kami memang sudah siap sedia botol minum dari rumah sehingga bisa irit, hehehe.

Setelah kurang lebih dua jam di sana, kami memutuskan untuk segera cabs dan menuju Wat Arun. Wat Pho, yang ada di sisi berlainan dari Grand Palace, kami lewatkan karena hari sudah hampir sore. Saat keluar dari Grand Palace (gerbang masuk = gerbang keluar), kami sempat berdiskusi apakah mau naik taksi atau jalan kaki untuk menuju pasar Tha Tien (disana ada dermaga untuk menyebrangi sungai Chao Phraya menuju Wat Arun). Jarak dari pintu masuk/keluar Grand Palace dengan pasar Tha Tien hampir 1 kilometer. Karena tidak mau bercapek-capek ria, akhirnya kami memutuskan naik taksi. Nemu sopir taksi yang menawarkan mengantarkan ke Tha Tien hanya dengan 40 baht. Karena kami bertiga dan share cost, ya kita ngerasa tarif itu udah best deal lah, ya, daripada jalan kaki 1 kilo, hehehe. #manja
Wat Arun
Saat sampai di Tha Tien, si supir taksi tetiba ngomong kalau Wat Arun udah tutup dan menawarkan kami untuk mengalihkan tujuan wisata ke toko-toko emas (si supir ngeliatin deretan gambar toko-toko di kertas yang dia bawa). Padahal, saat itu baru sekitar jam 4 sore dan menurut info Wat Arun tutup jam 5-an. Damn! Saat itu juga kami mulai sadar kalo kami kena scam. Sebelumnya emang udah banyak yang cerita di internet, hati-hati bagi wisatawan yang berada di sekitar Grand Palace. Banyak wisatawan yang kena scam macam begitu. Ada sekelompok oknum yang menunggu para wisatawan di bagian luar Grand Palace, bilang kalau Grand Palace/Wat Pho/Wat Arun sudah tutup dan mending ikut mereka liat-liat toko emas dekat sana. Mereka akan menawarkan tarif transportasi taksi atau tuktuk yang sangat murah, tapi ujung-ujungnya kita akan dibawa ke toko-toko itu. Sebagai imbalan bagi para supir itu adalah uang bensin dari para pemilik toko. Memang katanya saat diajak ke toko itu, kita ga diminta beli, tapi ada juga yang sampe dipaksa beli. Males aja kan diajak ke toko-toko begituan, padahal ga niat beli. Lagian jadi buang-buang waktu juga. Setelah kami sadar kalo terkena jebakan scam, akhirnya kami bilang ke si supir, “Ya sudah kami turun di sini aja”. Si supir tetep keukeuh kalo Wat Arun tutup, tapi kami juga tetep keukeuh mau turun. Tanpa ba, bi, bu, saya langsung kasih uang pas 40 baht, turun dari taksi, dan kami ngeloyor pergi. Selamat-lah kami dari jebakan scam.

Untuk menuju Wat Arun, pengunjung memang harus memasuki sebuah pasar kecil untuk menuju dermaga Tha Tien (tempat penyebrangan khusus ke Wat Arun). Di ujung pasar ada kios tiket kecil. Per orang membayar 3 baht saja untuk penyebrangan bolak-balik Wat Arun-Tha Tien. Dari Tha Tien, kami sudah bisa melihat Wat Arun dari kejauhan. Sesampainya di dermaga, sudah ada perahu besar yang menunggu. Dan, kami pun menyebrang bersama para wisatawan lainnya.
Menyebrangi Chao Phraya menuju Wat Arun (kuil di belakang kanan)
Sempet sedikit deg-degan ketika menyebrangi sungai Chao Phraya yang lebar dan keliatan dalem itu. Di sini saya baru melihat dan merasakan betapa vitalnya sungai ini bagi masyarakat Bangkok. Selain MRT dan BTS, salah satu transportasi umum andalan masyarakat Bangkok adalah perahu yang mengarungi sungai Chao Phraya yang bebas sampah (airnya sih tetep butek, tapi bersih ga ada sampah). Di sepanjang Chao Phraya ini ada puluhan dermaga yang menjadi tempat pemberhentian perahu. Melihat kondisi Chao Phraya itu, saya jadi berandai-andai. Andai saja sungai Ciliwung bisa bersih dan bebas sampah seperti Chao Phraya ini, maka waterway yang dulu menjadi program Pemprov DKI Jakarta bisa terlaksana dan tidak mandek seperti sekarang.
Steep Stairs

Eniwei, waktu tempuh Tha Tien-Wat Arun sekitar 5 menit saja. Sesampainya di dermaga Wat Arun kami menuju loket tiket yang ada di bagian tengah. Kami agak bingung awalnya karena tidak ada loket tiket masuk Wat Arun di dekat dermaga, karena itu kami pun langsung menuju bagian tengah area. Ternyata, loket tiketnya agak nyempil di bagian tengah. Tiket masuk Wat Arun seharga 50 baht. Dari info yang saya peroleh sebelumnya, tiket Wat Arun seharga 100 baht, entah kenapa saat itu hanya 50 baht, hehehe Alhamdulillah. Mungkin karena sudah sore. Saat kami masuk ke dalam, Wat Arun tampak biasa saja sebenarnya. Namun, yang membuatnya menantang adalah tangga untuk naik ke atas yang sangat curam. Selain jarak antara anak tangga yang satu dengan lainnya sangat tinggi, lebar tangga juga sangat kecil, mungkin hanya sekitar 20-25 cm. Wat Arun terdiri dari tiga layer (kalo ga salah), tapi saya hanya berani sampai di layer kedua, hehehe. Ga sanggup sampe ke atas.

Setelah selesai ngeliat-ngeliat pemandangan dan foto-foto,kami pun segera cabut dan menuju pintu keluar yang ada di sisi bersebrangan dengan pintu masuk. Tak disangka pas di pintu keluar itu ada jejeran kios pedagang kaos dan suvenir yang telah menunggu.Harganya pun cukup murah (menurut saya). 1 lusin kaus dihargai 1000 baht. Dibanding harga kaus yang pernah saya lihat sekilas di MBK kemarin seharga 100 baht 1 kaus, kaus di Wat Arun lebih murah. Akhirnya saya, Lia, dan Tira patungan membeli 1 lusin kaus, masing-masing 4 kaus.

Oh ya, yang menarik dari kios di Wat Arun adalah para pedagangnya yang bisa sedikit bahasa Indonesia. Saat kita keluar dari Wat Arun dan menuju toko suvenir di sana, pasti akan segera terdengar sambutan para pedagang di sana, “Ayo ibu, kaus murah, kaus murah, 1000 baht 1 lusin”. Berasa lagi ada di Tenabang, bukan di Bangkok, hahaha. Awalnya kaget, tapi terus mafhum setelah melihat banyak orang Indonesia yang lagi belanja di sana juga. Dan, saya baru sadar kalau para pedagang itu juga menuliskan harga kaus dalam bahasa Indonesia. Jadi bukan tulisan “1000 baht for 1 dozen” yang akan kita temui di sana, tapi “1 lusin = 1000 baht” atau “1 buah = 100 baht”. Sayang saya lupa memfotonya karena sibuk milih kaus, hehehe. Sepertinya banyak wisatawan Indonesia yang berkunjung ke Wat Arun dan berbelanja, sehingga para pedagang di sana pun menyempatkan untuk belajar bahasa Indonesia. Saat Lia iseng bertanya ke salah satu pedagang di sana, “Mbak (manggilnya pun mbak, hahaha) bisa bahasa Indonesia ya?,”. “Iya, sedikit-sedikit.” Lumayan banget loh pedagang di sana bisa bahasa Indonesia, kita pun jadi terbantu banget. Contoh: waktu saya dan Lia ingin beli kaus anak-anak. Si pedagang bisa nanya,”Umurnya berapa?”, atau komen “Yang ini pas untuk usia anak 5 tahun”, atau ngomong “Yang gambar itu cuma ada ukuran yang ini, ini dan ini”. Kita juga jadi bisa nanya, “Ada yang lebih kecil/besar?”, dst. Beneran deh berasa kayak di pasar di Jakarta aja gitu, hahaha. Selain kaus, saya membeli magnet kulkas dan pajangan kuningan di sana.
Dermaga Wat Arun
Selesai berbelanja, kami kembali ke dermaga, menunggu jemputan kapal untuk menuju Tha Tien Pier. Dari Wat Arun, kami berencana menuju MBK untuk berbelanja oleh-oleh lainnya. Ada beberapa pilihan transportasi antara perahu, tuktuk atau taksi. Sempat terpikir naik perahu dari Tha Tien sampai Central Pier, terus nyambung naik BTS dari Saphan Taksin Station (dekat Central Pier) untuk ke National Stadium Station (deket MBK). Pertimbangan kami adalah karena hari itu sudah sore dan jalanan pasti akan macet karena berbarengan dengan jam pulang kantor. Namun, karena pilihan transportasi itu dinilai akan memakan waktu lebih lama, akhirnya kami memutuskan naik tuktuk. Alasannya, supir tuktuk biasanya melewati jalan-jalan alternatif dan jalan kecil, sehingga kami bisa lebih cepat sampai ke MBK daripada naik taksi. Tarif tuktuk dari Tha Tien ke MBK sebesar 100 baht.

Sesampainya di MBK, kami segera mencari incaran oleh-oleh, diantaranya gantungan kunci, kripik duren, tas, dan beberapa pajangan. Saat waktu makan malam tiba, kami pun menuju The Fifth Food Avenue di lantai 5, foodcourt yang punya 3 tempat makanan halal, yaitu menu masakan Indonesia di Jimbaran Bali, menu Timur Tengah di Ali’s Arabic Cuisine dan menu Thailand di Thai Muslim by Sultana. Selesai makan, kami kembali berburu oleh-oleh sampai MBK hampir tutup, sekitar pukul 21.00-22.00. Dari MBK kami memutuskan untuk naik taksi ke hotel tempat Tira dan Lia menginap di sekitar Pratunam. Saya memang punya rencana untuk melihat-lihat pasar Pratunam, yang kabarnya barang-barang disana juga murah. Dengan barang belanjaan yang segambreng, kami pun langsung naik taksi, tanpa bertanya-tanya soal argometer. Dan, bener aja, kita ‘diperas’ sama si supir taksi dengan harus membayar 400 baht dari MBK ke Pratunam. What the hell?! Sempet nawar-nawar sama si supir, tapi dia teteup keukeuh, akhirnya terpaksa bayar 400 baht.

Sesampainya di kamar hotel, menaruh barang, dan leyeh-leyeh sebentar, kami bertiga segera cabs ke Pratunam. Jam sudah menunjukkan pukul 23.00. Sempet mikir apa pedagang di Pratunam masih pada jualan? Tapi pas sampe sana ternyata kiosnya udah tutup semua, hahaha. Kemaleman, kita. Berhubung saat itu juga sudah hampir tengah malam, akhirnya saya pun menginap di hotel Tira dan Lia malam itu dan memutuskan balik ke hostel di pagi hari sebelum pergi ke Pattaya esok hari.

Total Pengeluaran Hari 2 -> 3.685 baht 
Transport ke Siam : 43 baht
Tiket Madame Tussaud (online booking) : 480 baht
Makan siang : 70 baht
Share cost taxi Siam - Grand Palace : +/- 30 baht
Tiket Grand Palace : 500 baht
Share Cost Taxi Grand Palace - Tha Tien : +/- 13 baht
Nyebrang ke Wat Arun : 3 baht
Tiket Wat Arun : 50 baht
Belanja di Wat Arun : 830 baht
Share cost Tuktuk Tha Tien - MBK : +/- 33 baht
Belanja + Makan di MBK : +/- 1500 baht
Share Cost Taxi MBK - Pratunam : +/- 133 baht

Friday, 27 June 2014

My Impulsive Trip: Bangkok (Day 1)

Perjalanan ke Bangkok di hari pertama bikin saya rada deg-degan karena ini pertama kalinya solo backpacking di luar Indonesia. Alhamdulillah flight lancar dan tiba di Bandara Don Mueang tepat waktu dan utuh :p. Saat tiba di bandara, saya langsung mengeluarkan lembaran kertas berisi itinerary selama di Thailand. Selain itinerary, di sana saya juga mencatat rute transportasi, tempat solat dan makanan halal.

Dalam postingan kali ini saya hanya akan membahas spot-spot yang saya datangi di hari pertama. Setelah mengambil peta di Tourist Information Center yang ada di bandara, saya langsung bergegas menuju stasiun kereta. Sekitar 30 menit kemudian, saya sampai di hostel, nitip tas dan langsung capcus lagi. Kali ini tujuan pertama Vimanmek Mansion. Pada awalnya di hari pertama, saya merencanakan untuk ke Grand Palace dulu. Namun berhubung saya udah janjian sama Tira untuk ke sana di hari kedua, maka akhirnya saya menukar itinerary awal.
Victory Monument. Foto dok: tour bangkok legacies

Berdasar rute perjalanan ke Vimanmek yang saya catat, saya harus naik BTS ke Victory Monument. Dari MRT Queen Sirikit saya transit di interchange station MRT-BTS. Transit di stasiun MRT Sukhumvit, lalu lanjut jalan ke stasiun BTS Asok untuk menuju Victory Monument. Sesampainya di stasiun Victory Monument, saya keluar di Exit 3. Dari situ jalan lurus saja sampe ngeliat patung Victory Monument di depan mata. Pas di bawah jembatan sebelah kiri akan keliatan bus-bus pada ngetem. Bus apa saja yang menuju Vimanmek? Ada banyak kok, ga usah kuatir. Kamu bisa naik bus no 28, 108,515 dan 539. Tinggal bilang aja ke kondekturnya kalo mau ke Vimanmek, nanti akan dikasih tau kamu harus turun di mana.

Perjalanan dari Victory Monument ke Vimanmek ga lama, sekitar 15 menit aja. Pokoknya perhatiin aja jalanan yang di sebelah kiri. Kalo udah liat tembok dengan banyak lukisan hewan (Dusit Zoo) itu tandanya udah dekat sama Vimanmek. Pas sampe sana, jam 14.30, saya langsung menuju loket tiket. Berdasar info yang saya baca di internet, sebenernya tiket masuk ke Vimanmek bisa barengan dengan tiket terusan Grand Palace. Dengan tiket itu ga hanya bisa ke Vimanmek dan Grand Palace, tapi juga ke Dusit Throne Hall, Ananta Samakhom, Museum Queen Sirikit dan banyak objek lainnya. Jadi ga usah beli tiket-tiket lagi. Tapi ternyata supaya bisa dapet akses ke banyak tempat wisata di Thailand itu cuma bisa dilakukan kalau mengunjungi Grand Palace lebih dulu. Ga berlaku sebaliknya. Padahal, saya mikirnya akan bisa beli tiket terusan itu di Vimanmek. Entah kenapa pemerintah Thailand membuat kebijakan seperti itu, yang sebenernya ga praktis buat backpacker yang pengen ngirit kayak saya. (Saran buat Thai gov: sebaiknya jual juga tiket terusan itu di Vimanmek, jadi turis ga mesti ke Grand Palace dulu).
Latar belakang adalah Vimanmek Mansion.
Tenda putih di belakang adalah pintu masuk.
Bagian bawahnya ada tempat penitipan sepatu.

Secara saya belum ke Grand Palace, maka saya ngga bisa nunjukin tiketnya. Jadilah saya beli tiketnya terpisah, hiks. Untung bawa duit lebih. Tiket Vimanmek yang terpisah dari Grand Palace harganya 100 baht. Dari petugas, saya dapat peta komplek Vimanmek dan sekitarnya. Dia juga ngasih tau kalo waktu tutupnya jam 16.00. Oke, masih punya waktu agak luang lah ya...

Jadi apa sih Vimanmek itu? Vimanmek sebenernya adalah rumah kerajaan Thailand yang terbuat seluruhnya dari kayu jati. Di dalamnya banyak banget ruangan-ruangan dengan mebel kayu jati, lampu gantung, lukisan, dan karya seni lainnya. Ada beberapa peraturan yang harus dipatuhi sebelum masuk situs ini:

- Ga boleh bawa kamera (otomatis ga bisa poto-poto) dan tas, jadi sebelumnya harus naruh tas di loker. Sewa loker kecil 10 baht.
- Ga boleh pake sepatu, alias harus nyeker. Tepat dibawah mansion ada tempat penitipan sepatu.
- Ga boleh pake celana/rok pendek (khusus cewe). Pakaian harus rapi. Denger-denger sih cewe harus pake rok panjang, tapi saya aman-aman aja masuk dengan celana jeans.
- Ga boleh megang benda-benda yang dipajang di sana. Untuk memastikan itu ga terjadi, ada banyak pegawai museum (sebagian besar cewe) yang menjaga setiap sudut ruangan. PS: yang disebut pegawai museum diatas bukan berarti mereka orangnya serius-serius gitu. Di tiap sudut ada yang lagi jaga sambil ngerajut, ngegosip, ngedengerin musik via earphone, maen HP, atau malah tidur, hehehe. Mungkin saking bosennya ya cuma disitu aja seharian :D
Dusit Throne Hall

Eniwei, setelah kurang lebih 30 menit di Vimanmek, saya langsung keluar untuk menuju Dusit Throne Hall yang ternyata masih satu komplek. Tinggal jalan kaki sekitar 10 menit ke bagian belakang Vimanmek. Sempet nyasar nyarinya dan pas nanya ke petugas, ternyata Dusit adalah bangunan antik putih di sebelah kanan. Ga begitu ngeh karena gedungnya terlihat biasa aja. Di dalamnya ada koleksi peralatan makan, kerajinan perak dan emas, kerajinan bambu milik kerajaan. Ga bayar lagi, tiketnya udah barengan sama tiket Vimanmek. Tinggal kasih liat tiketnya aja ke petugas, nanti dia akan bolongin tiketnya. Disini juga ga boleh poto. Tas dititipin di loker gratis di deket restoran yang ada di sebelah Dusit. Eniwei, saya ga lama di Dusit, paling cuma 15 menit karena emang ga seluas Vimanmek. Setelahnya capcus ke Ananta Samakhom Throne Hall.

Bangunan inilah yang pada akhirnya membuat saya ternganga. Wuih...gede bangeeett. Bangunannya juga bagus dan lebih modern daripada Vimanmek. Langsung ngiler pengen masuk walau saat itu udah jam 15.30. Udah agak was-was karena tadi kan dibilang sama petugas di depan kalo tutupnya jam 16.00, itu berarti cuma punya waktu 30 menit keliling. Ternyata, pas saya deketin bangunan yang rame orang di sebelah kiri (belakangan baru tau kalo itu tempat loker, loket tiket, dan gift shop), ada papan pengumuman yang ngasih tau: khusus Ananta Samakhom tutupnya jam 17.00. Huff, langsung ngambil nafas lega.
Ananta Samakhom Throne Hall
Langsung deh saya masuk ke bangunan itu, karena yakin peraturannya pasti sama kayak Vimanmek. Pas masuk bener aja kan...ada deretan loker buat naro tas dan kamera. Bedanya kali ini ga nyeker. Daaann...yang bedanya lagi: tiketnya terpisah dari Vimanmek! Deeenggg.... Itu artinya mesti ngeluarin duit lagi, huhuhu. Catet: ga akan bayar lagi kalo punya tiket terusan yang dibeli di Grand Palace.

Jadi ketika saya nanya ke petugas tiket di sana, ternyata tiket Vimanmek beda dengan Ananta. Saya harus bayar tiket 150 baht kalo mau masuk ke Ananta. Langsung bimbang. Ngeliat tampang saya yang bingung dan kere, petugas tiket langsung ngomong: "Punya student card ga? Kalau kamu punya student card nanti bayar tiketnya cuma 75 baht". Kode: artinya saya masih terlihat muda seperti mahasiswa, iyesssss....

Huaaahhh langsung deh tampang melas saya jadi berbinar-binar, dan ngerespon cepat: "Iya saya punya". Tapi terus langsung nanya lagi karena ragu: "But I'm from Indonesia, is it (student card) valid in here?". Pas petugas bilang kalo student card saya valid, dalam hitungan detik, saya langsung nunjukin kartunya (Alhamdulillah masih ada di dompet). Sebenernya udah bukan mahasiswa sejak awal tahun ini sih, tapi ini demiiiii tiket murah kan bo, demiiii... (langsung minta ampun dosa). Si petugas ngecek kartu mahasiswa saya sebentar, terus langsung ngasih tiket seharga 75 baht. Yaaa ampuuunnn saya makasih banget deh tu sama si mbak-mbak petugas.

Tapi yang langsung bikin mesem selanjutnya adalah: bagi wanita yang ingin masuk ke Ananta harus pake ROK! Emang sih saya udah liat gambarnya di papan pengumuman di depan, tapi saya kira akan ada kelonggaran kayak di Vimanmek. Terus ditanya lagi sama petugasnya, "Bawa kain panjang ga buat ngegantiin rok?". Saya menggeleng. Hasilnya: Beli kain panjang yang dijual disana seharga 100 baht. Hwaahhh..ya sudahlah. Selesai make kaen, saatnya antri loker. Di Ananta ini lebih rame dari Vimanmek jadinya loker penuh. Lokernya gratis, ga usah bayar lagi. Selesai naro tas, langsung deh masuk ke Ananta.

Pas di dalam tiket dicek dan saya dikasih audio dalam bahasa Inggris untuk menjadi guide di dalam. Saat masuk saya terkagum-kagum sama desain interiornya yang Eropa banget, dengan marmer Carrera dari Italia dan dekor nuansa Renaissance. Ga nyangka bangunan ini dibuat pada 1907 (oleh King Rama V) dan selesai dibangun pada 1915 saat masa pemerintahan King Rama VI. Gile ye umurnya udah seabad lebih. Saat masuk lebih dalam ternyata kubah raksasa yang terlihat di luar menampilkan lukisan indah di bagian dalam kubah. Di dalamnya ada banyak barang milik kerajaan terbuat dari emas dan perak, ukiran kayu, peralatan makan, keramik, model perahu kerajaan dengan banyak ukiran naga dan garuda yang menghiasinya, kerajinan bambu, tas dan perhiasan milik Queen Sirikit. Ada juga sulaman indah khas Thailand yang besaar banget layaknya lukisan. Dari jauh keliatan kayak lukisan, tapi pas diliat lebih dekat ternyata itu adalah sulaman Thailand dengan ribuan tautan benang yang indah.

Saya ada di dalam sana selama hampir 1 jam. Maklum ruangannya banyak yang bisa diliat dan reliknya lebih menarik daripada dua tempat sebelumnya. Saya cabs dari sana sekitar jam 16.30. Jalan lagi ke arah Dusit Throne Hall dan keluar dari pintu gerbang yang ada di dekat sana. Dalam itinerary tadinya abis dari Vimanmek mau ke Wat Saket, tapi karena waktu sudah menunjukkan hampir pukul 5 sore, maka saya memutuskan untuk langsung ke National Stadium untuk nyari jersey (kaos bola). Dari Vimanmek ke National Stadium, tinggal naik aja lagi bus yang tadi membawa kamu ke Vimanmek. Berhenti di Victory Monument terus lanjut naik BTS ke stasiun National Stadium.

Sesampainya di BTS National Stadium, saya ambil pintu keluar yang mengarah ke MBK (mal di Thailand dan jadi favorit orang Indonesia untuk belanja, katanya), untuk numpang solat. Setelah selesai, langsung keluar lagi buat nyari jersey. Berdasar hasil browsing sebelumnya, ada deretan kios deket National Stadium. Panduannya jalan menjauhi MBK, di lampu merah belok kiri, terus aja jalan 200-300 meter, lalu keliatan deh itu kios-kios jersey.

Agak rancu sebenernya karena ga disebut menjauhi MBK yang ke sebelah mana, soalnya pas depan MBK itu ada perempatan besar. Akhirnya saya berhasil nyasar dengan sukses di percobaan pertama saat nyoba nyebrang ke kiri dari stasiun BTS. Dunno why, I feel like it wasn't the right way. Akhirnya saya balik lagi ke MBK dan memutuskan untuk menyusuri jalur BTS, berlawanan arah dengan pintu keluar BTS yang deket MBK.

Saya terus menyusuri jalan kira-kira lebih dari 500 meter, tapi belum menemukan lokasi yang dimaksud. Akhirnya di pertigaan kedua, saya belok kiri. Jalanan rada gelap dan sepi, hanya beberapa kendaraan yang lewat. Agak deg-degan dan terus berdoa semoga ga ada kejadian yang ngga diinginkan. Sampe akhirnya saya ngeliat di sebelah kanan ada lampu-lampu terang warna-warni. Langsung saya nyebrang, berharap nemu kiosnya. Ternyata...itu restoran seafood. Ngeliat restoran di sebelah, perut saya berkriuk-kriuk ria. Maklum, belum sempet makan dari siang. Tapi berhubung sadar diri kalo makan di restoran pasti mahal, akhirnya saya berlalu dari situ, hehehe. Saya terus ambil jalan lurus dari sana sampai nemu pertigaan, daaaan ga nyangka akhirnya ketemu juga sama itu deretan toko jersey. OMG...you don't know how grateful I was. Finally I found them!

Saat itu sudah hampir jam 7 malam, dan saya akhirnya hanya sempet keliling-keliling 4-5 toko. Awalnya saya berniat untuk beli jersey Liverpool (dan mungkin beli beberapa biji kaus lainnya untuk dijual lagi), tapi pas tau harganya antara 250-400 baht, saya mengurungkan niat itu. Harganya sama aja bok, kayak di Tenabang. Note: harga jersey yang 250 baht itu kalo belinya diatas 50 pcs dan bahan kaosnya pun ga terlalu bagus. Jadilah saya cuma minta kartu nama pengelola toko dan langsung capcus dari sana.

Setelah dari toko jersey, tadinya saya mau ke Asiatique, tapi karena kaki rasanya udah mau putus, jadinya batal dan memutuskan untuk ke sana di hari ketiga saja. Akhirnya memutuskan untuk balik ke hostel. Sesampainya di sana saya langsung rebahan dan makan roti bekal dari rumah. Huff, what a day!

Total Pengeluaran Hari 1 -> 1.219 baht
Tiket Kereta Bandara-Hua Lamphong : 5 baht
Air Mineral : 5 baht
Tiket MRT Hua Lamphong-Queen Sirikit : 25 baht
Tiket MRT Queen Sirikit-Sukhumvit (pp) : 32 baht
One Day Pass BTS : 130 baht
Ongkos bus AC Vimanmek-Victory Monument (pp) : 24 baht
Tiket Vimanmek Mansion + sewa locker : 110 baht
Tiket Ananta Samakhom Throne Hall : 75 baht
Kain Sarung Thailand : 100 baht
Bayar Hostel 4D3N : 713 baht