Showing posts with label bangkok. Show all posts
Showing posts with label bangkok. Show all posts

Friday, 26 December 2014

My Impulsive Trip: Have A Lil' Bit Touch of Local in Thailand

There are a lot of things you can do when you're in Bangkok and Pattaya. Tidak hanya mengunjungi spot-spot wisata, tetapi coba jugalah kuliner khas setempat dan berbincang dengan masyarakat setempat, walau hanya sesaat. When I'm traveling alone, I'd like to have a little bit touch of local. Walau disini artiannya hanya sekedar bertanya-tanya iseng ke penduduk lokal, maupun menyicip makanan khas di sana.

Mango Sticky Rice
Nah, berbicara soal kuliner khas Thailand yang terkenal pastilah Tom Yam ya... Di Indonesia juga udah sering ditemui. Namun selain mencoba Tom Yam di negara asalnya, jenis makanan lain yang paling dicari para turis saat ke Thailand adalah Mango Sticky Rice. Ketan susu plus mangga. Nyam! Perpaduan ketan susu yang disiram dengan santan, plus disampingnya dikasih mangga somehow it mix very well together. 

Selain itu, Thailand juga terkenal dengan produksi duriannya. Saya sih ga nyobain buah durian monthongnya, tapi saya beli keripik durian dan Durian Sticky Rice kalengan buat oleh-oleh. Dari keripik duriannya aja udah punya keharuman dan rasa yang legit, tapi ini khusus yang harganya di atas 100 baht ya.. Saya beli dua versi keripik durian, tapi maaf lupa mereknya, ada yang seharga 70 baht dan 120 baht per pak. Yang seharga 70 baht tentu saja kurang berasa duriannya dan hambar, tapi kalau keripik durian yang 120 baht itu rasa duriannya nendang banget, serasa lagi makan durian beneran. Harga emang ga bohong ya? Hehehe. 

Beda lagi sama Durian Sticky Rice kalengan yang saya lihat di toko makanan ringan di Asiatique. Saat lagi lihat-lihat harga keripik durian di salah satu rak, mata saya tertumbuk pada sebuah produk dengan gambar durian dan ketan di bagian samping kemasan. Saat itu saya penasaran untuk membelinya, dan akhirnya emang beneran dibeli dengan harga 70 baht :p. Mangga aja ternyata bisa segitu enaknya dipadu sama ketan susu, mungkin durian juga begitu? Itu pikiran yang terlintas di benak saya ketika itu, hehehe. Pas sampai di rumah, Durian Sticky Rice saya taruh di kulkas. Ga ada petunjuk kalau produk itu harus disimpan di kulkas sih, cuma saya pengen aja nanti makan duriannya dingin-dingin. Pas dibuka, ternyata di dalam kemasan ada dua kaleng terdiri dari ketan dan durian. Seharusnya sih kayaknya ketan dan durian dicampur jadi satu gitu yah di piring, tapi waktu itu saya malah langsung icip dari kalengnya, hahaha.
Durian Sticky Rice
Pertama icip duriannya yang berbentuk seperti pasta atau selai bikin mata berkerjap-kerjap keenakan. Heemm…berasa banget duriannya. Dicampur dengan ketan ternyata enak jugaaa….Ternyata ga cuma mangga aja yang enak berpadu dengan ketan, tapi juga durian. And I wonder what if those sticky rice get mix with banana, orange, or other fruits, will it get along together and taste yummy? Perlu eksperimen nih kayaknya, hahaha. 

Oke, let’s stop talking about food. Another way to get the taste of the local is having interaction with the local. Hal menyenangkan dan menegangkan menjadi seorang backpacker yang tidak terikat dengan jadwal tur adalah ketika nyasar. Mungkin kedengarannya aneh, ya? Nyasar bukannya bingung, malah seneng, hahaha. Karena saat nyasar itulah, our survival sense live. Kita jadi sangat memperhatikan arah dan lingkungan sekitar, yang mungkin kalau kita ikut tur, rasa itu akan lewat begitu saja. Saat nyasar mau ga mau harus bertanya, kalau ga mau semakin nyasar ga tentu arah. Dan, saat berinteraksi hal sederhana seperti itulah kita akan tahu sedikit mengenai masyarakat lokal di negara yang kita kunjungi. Mungkin bukan dari mengobrol panjang, tetapi hanya sekedar bertanya arah atau soal suatu produk yang kita beli. Tapi, setidaknya kita bisa mengetahui sedikit bagian dari diri penduduk lokal. Well, saya akui kalau ingin benar-benar merasakan kehidupan orang lokal lebih baik memang tinggal dengan mereka, misalnya melalui jaringan Couchsurfing. Tapi karena saya belum pede menggunakan jasa itu, makanya saya hanya sekedar berinteraksi hal-hal kecil saja dengan warga Thailand.

Oke, lanjut. Overall, saya merasa orang Thailand itu ramah. Pengalaman pertama adalah ketika di bandara dan saya mencari Tourist Information Center. Keluar dari pintu keluar ternyata saya menuju ke arah yang salah, dan saat itu saya bertanya ke petugas keamanan. Sayangnya saat saya berkomunikasi dengan bahasa Inggris, dia tampak sama sekali ngga mengerti. Dia lalu meminta selembar kertas (berisi itinerary saya) yang saya pegang dari tadi. Dia tampak mencari-cari sesuatu, dan saya baru ngeh kalau ternyata dia mencari aksara Thailand di itinerary saya, which he won’t found it. Iya lah, wong itinerary saya ditulis dalam Bahasa Indonesia, hahaha. Ngeliat dia kebingungan saya jadi malah tambah bingung, hahaha. Lalu, pelan-pelan saya menjelaskan kalau saya ingin mencari Tourist Information Center, sambil menggunakan bahasa tubuh, menggunakan bentuk kotak sebagai Tourist Information. I don’t know why I describe it like that, it just happen, hahaha. Terus saya bertanya “Is it that way?,” tanya saya sambil nunjuk ke arah berlawanan. Dan, dia hanya ngangguk-ngangguk aja, masih dengan tampang bingung, hahaha. Okay, that went well, wasn’t it? Ketika komunikasi lisan tak berhasil, gunakanlah bahasa tubuh. Catet!

Pengalaman lainnya adalah ketika sedang kebingungan nyari halte bis di Victory Monument, saya nyari lagi petugas keamanan yang lagi berjaga di sudut tikungan halte BTS. Untunglah mereka mengerti bahasa Inggris dan dengan tersenyum ramah menjelaskan arah halte bis. Tidak semua warga Bangkok mengerti bahasa Inggris dengan baik sepertinya, tapi mereka akan berusaha membantu kok. Sama seperti di Indonesia.

Misalnya saat saya sedang di bis menuju Vimanmek, saya bertanya ke penumpang wanita di sebelah saya apakah Vimanmek sudah dekat. Awalnya dia kelihatan kaget, dan saat saya mengulangi pertanyaan dia mengangguk sedikit. Saat saya bertanya lagi, berapa lama lagi saya harus turun? Dia tersenyum canggung. Akhirnya saya nanya lagi, “5 more minutes? Or ten minutes?”. Dia lalu mengangguk-angguk. Entah jawaban mana yang benar, tapi setidaknya saya tahu sebentar lagi saya akan turun, hehehe.

Pada saat sampai Vimanmek ini juga ada pengalaman lucu. Setelah saya menyimpan sepatu di loker dan menuju ke bangunan utama Vimanmek, setiap pengunjung diharuskan diperiksa dulu oleh petugas. Ini karena pengunjung tidak diperbolehkan membawa barang apapun ke dalam Vimanmek. Nah, saat itu saya berhadapan dengan petugas wanita dan pria. Petugas pria langsung berbicara dalam bahasa Thailand kepada saya, dan saya hanya bisa melongo kebingungan. Melihat tampang saya yang bloon kebingungan, petugas wanita langsung ngomong, “You’re not Thai, aren’t you?”. Saya langsung menggeleng. Mereka berdua pun langsung tertawa, dan saya baru ngeh kenapa mereka tertawa. Ternyata si petugas pria mengira saya adalah warga lokal, jadi langsung ngomong dengan bahasa Thailand, hahaha. Saya pun hanya nyengir-nyengir aja saat si petugas pria minta maaf kepada saya.

Setelah dari Vimanmek, saya berniat menuju Dusit Throne Hall. Saat itu saya berasumsi kalau Dusit Throne Hall adalah bangunan yang besar. Tapi, ketika saya sampai di suatu halaman luas dengan bangunan sederhana di samping kanan, saya tidak menemukan bangunan yang saya bayangkan. Akhirnya saya nanya ke petugas keamanan di sana. Dengan ramah dia menjelaskan kalau bangunan yang saya cari itu ternyata adalah bangunan yang ada di sebelah kanan itu. Setelah berterima kasih, saya lalu beranjak pergi. Tapi, baru dua langkah, petugas tadi memanggil lagi dan langsung ngomong begini, “Miss, you are so beautiful”, sambil nyengir. Whaaatttt??!! I don’t know what to say at that time, I just say ‘Thank You’ to him, smiling, and run away. Hahaha. Iyalah, mana ada orang bilang begitu ketika saya saat itu lagi ngos-ngosan kecapean dan keringetan. The point is, at that time I’m nowhere near what common people describe about beauty.  

Saat sudah berada dalam jarak aman dari si petugas, saya terus kepikiran beberapa kemungkinan kenapa dia ngomong begitu. Pertama, dia sedang berlatih bahasa Inggris dan sedang mengetesnya ke beberapa wisatawan yang datang ke sana. Kebetulan aja saat itu saya yang wanita menghampirinya dan dia menguji salah satu kosakata bahasa Inggrisnya. Kemungkinan kedua adalah dia seorang penggoda dan melakukannya kepada setiap wanita. Kemungkinan ketiga adalah dia benar-benar tulus mengucapkan itu. Nah, karena kemungkinan kedua dan ketiga tampaknya tidak mungkin sama sekali, saya pun lebih cenderung pada kemungkinan pertama. Eniwei, terlepas dari segala alasan di balik kejadian tadi, saat saya pulang ke Indonesia saya membaca sebuah artikel berjudul 8 Types of Girls that Guy would Travel With, dimana salah satu poinnya menyebutkan begini: Men will feel extremely burnt to see a sweaty girls with messy and muddy look than a full touched up lady. Ah ya, baiklah, itu kan menurut penulis artikelnya ya...

Mari lanjut ke pengalaman berikutnya, ketika saya berkesempatan mengunjungi Masjid Ban Oou. Di sinilah saya berkesempatan sedikit berinteraksi dengan muslim Thailand. Ketika saya sedang bersiap mengenakan mukena, ada seorang muslimah yang menghampiri saya, mengajak bersalaman, tersenyum dan mengucapkan salam. Hanya peristiwa kecil, tetapi cukup berkesan untuk saya. Senang rasanya bertemu dengan saudara sesama muslim di 
negara minoritas muslim :).
Ngeborong Tao Kae Noi


Kesempatan lainnya untuk berinteraksi dengan warga lokal adalah ketika kita berbelanja. Sebelumnya saya sudah pernah menceritakan pengalaman berbelanja di Wat Arun di postingan My Impulsive Trip: Bangkok (Day 2), yang mengenai penjaja cinderamatanya pinter Bahasa Indonesia. Mungkin karena turis Indonesia dikenal suka berbelanja, makanya pedagang di Wat Arun sampai bela-belain belajar bahasa Indonesia. Persepsi mengenai turis Indonesia yang suka berbelanja ternyata tak hanya di Bangkok saja, tetapi juga di Pattaya.
   
Ketika saya menghampiri salah satu pedagang cinderamata di sana, dia langsung berhasil menebak kalau saya adalah dari Indonesia. Ketika saya bertanya kok bisa langsung tahu, jawabannya karena banyak turis Indonesia yang datang ke kiosnya, hehehe. Saat berbincang dengan pedagang di Pattaya ini, saya merasa nyaman karena dia begitu ramah. Tidak hanya sekedar transaksi tawar menawar, tetapi juga berbincang mengenai hal kecil dan remeh temeh seperti cuaca di Thailand dan Indonesia hingga berbagai produk cinderamata yang dijajakannya. Dari dia, saya jadi tahu sedikit kalau produk cinderamata seperti magnet kulkas yang dijualnya itu ternyata tidak diproduksi di Pattaya, tapi di daerah lainnya (lupa nama daerahnya) yang warganya khusus membuat cinderamata magnet kulkas.

Di Thailand ini pula saya merasa tidak terlalu asing karena di sanalah salah satu basis suporter Liverpool FC terbesar di Asia Tenggara. Begitu mudah melihat Liver Bird tersebar di berbagai tempat. Tidak hanya di toko sepakbola yang saya sambangi dekat MBK tentu saja, tetapi juga di bagian belakang mobil, truk, sampai di jok motor ojek yang saya tumpangi di Pattaya. LFC is the world’s biggest family football club. No wonder with all of that things, impressions and nuisances that I have in Thailand, it makes me feel Thailand is a home faraway from home.

Wednesday, 3 December 2014

My Impulsive Trip: Tempat Makan Halal dan Mushola di Bangkok & Pattaya

Ketika memilih suatu destinasi wisata pasti sebagai seorang muslim akan mengalami kesulitan saat ngebolang ke negara minoritas muslim. Selain susah nyari makanan halal, pastinya nyari tempat solat yang nyaman juga susah. Makanya, saat saya memutuskan ke Thailand, saya nyari juga rekomendasi orang soal tempat solat dan makanan halal. Jadi, dimana saja?

1. Siam Center dan Siam Paragon
Di Mall Siam ini ada food court Food Republic dan juga musola. Sehabis dari Madame Tussaud bolehlah mampir untuk makan dan solat dulu di sini. Sebenernya di Food Republic yang ada di lantai 4 Siam Center ini saya ga melihat gerai yang secara eksplisit menunjukkan logo halal di depan gerainya. Namun, saya bertanya ke petugas di sana, dimana saya bisa menemukan makanan halal? Menurut arahannya, saya bisa nemu makanan halal di gerai yang menjual makanan Melayu-India. Maaf, saya lupa nama tempat makannya. Tapi, yang jelas kalau berkeliling gerai di sana bisa kelihatan kok kedainya dengan jelas, karena tempat makan itu setau saya satu-satunya yang menjual makanan kari. Di gerai itu ada banyak pilihan makanan berbumbu warna kuning. Ada ikan, daging sapi, daging ayam. Sudah lengkap dengan nasi. Saat itu saya memesan yellow rice with tuna seharga 70 baht.
Yellow rice with tuna in Food Republic
Selesai makan di Food Republic, waktu itu saya berombongan sama temen Backpacker Indonesia, Tira dan Lia, langsung ke musola yang ada di Lantai B1 (Basement) South Wing Siam Paragon. Bangunan Siam Center sama Siam Paragon saling terkoneksi, jadi ga usah keluar-masuk mal. Saat nyari musola ini kami sempet nyasar sih ke parkiran basement secara malnya gede banget, hehehe. Tapi, tanya aja petugas yang ada disana, mereka pasti akan membantu. Lokasinya sebenernya agak nyempil. Pokoknya ikutin aja arah ke toilet, musola terletak ga terlalu jauh dari sana. Ruangan musola di Siam cukup nyaman, hanya saja tempat wudhunya cuma ada satu. Jadi harus gantian antara cowo dan cewe. Tempat solatnya juga digabung dan tidak ada tirai pemisah. Kalau ga bawa mukena, di sana juga disediakan. Juga ada Al Quran.

2. MBK
Salah satu pusat perbelanjaan terbesar di Bangkok ini bisa dibilang jadi 'surga' belanja buat mereka yang shopaholic. Namun, selain itu di sini juga ada fasilitas musolanya, loh... Di food court-nya yang bernama The Fifth Food Avenue juga menyediakan makanan halal. Untuk musola di MBK ada di lantai 6. Letaknya deket pintu ke arah parkiran mobil, di sebelah kiri.

Beda dengan musola di Siam Paragon yang letak solatnya cukup berjarak dengan pintu masuk musola, di MBK ini pintu langsung mengarah ke tempat solat. Pintu masuk wanita dan pria dipisah, tempat solatnya juga dipisah oleh sekat. Begitu juga dengan tempat wudhunya. Jadi ga perlu ngerasa risih, hehehe.

Nah, turun satu lantai dari musola ada The Fifth Food Avenue di lantai 5. Lokasinya ada di sisi berlawanan dari musola. Jalan terus aja, lalu turun satu lantai. The Fifth Food Avenue ada di ujung jalan. Ada petunjuk arahnya juga kok kalau mau kesana. Nah, di foodcourt ini ada 3 tempat makanan halal, yaitu menu masakan Indonesia di Jimbaran Bali (ada Nasi Bali dan Nasi Goreng di sini), menu Timur Tengah di Ali’s Arabic Cuisine (e.g: kebab) dan menu Thailand di Thai Muslim (e.g: Tom Yam).
Tom Yam and Thai Ice Tea :d
Harganya ukuran mal, diatas Rp 30 ribu. Waktu itu saya beli Tom Yam kalo ga salah 120 baht (Rp 44 ribuan). Untungnya waktu itu ada promo gratis Thai Ice Tea untuk wisatawan asing. Jadi bisa ngirit, hahahaha. Alhamdulillah banget emang karena pas lagi celingak-celinguk ga jelas di deket eskalator lantai 1, saya ngeliat ada banner yang ngasih tau ada gratis Ice Tea untuk wisatawan. Syaratnya cuma ngasih liat paspor. Fiuh, untunglah paspor selalu dibawa :). Petugas Fifth Food Avenue di Drink Bar Station cuma minta nomor paspor, asal negara, sama nama lengkap aja, setelah itu dapet deh satu gelas Ice Tea. Sayang, ga bisa refill, hahahaha.

3. Ban Oou Mosque
Mesjid ini letaknya strategis banget karena dekat dengan BTS Saphan Taksin dan Central Pier. Kalau naik BTS keluar aja di Exit 3, terus jalan kaki ke jalan besar yang ada disana. Begitu juga kalau dari Central Pier. Saat turun dari kapal, tinggal jalan kaki ke arah jalan utama. Di sebelah kiri, kamu akan menemukan deretan toko dan pedagang kaki lima. Nah, susuri aja trotoar di sana sekitar 200 meter sampai Robinson Department Store, terus belok kiri ke Soi Charoen Krung 46 (gang kecil pas di sebelah Robinson).

Waktu saya sampai di sana, jalanannya gelap karena udah sekitar jam 8-an. Agak ngeri dan takut nyasar sebenernya karena ngerasa belum nemu masjid yang dimaksud. Sampai akhirnya ngeliat ada bangunan di sebelah kiri yang kelihatan seperti masjid (ngeliat dari deretan rak sepatu dan bangku-bangku panjang didalamnya). Ga keliatan atapnya bentuk kubah (seperti umumnya masjid) atau ga, karena ga terlalu merhatiin. Saya pun memutuskan untuk masuk dan ternyata bener itulah Ban Oou Mosque.
Teras masjid. Gambar nge-blur karena masjid udah mau dikunci
Masjidnya mulai agak sepi, mungkin karena sudah malam. Yang jemaah salat Isya juga udah pada selesai. Tempat wudhunya udah jelas pasti dipisah. Di dalam masjid ruang solat pria dan wanita dipisah dengan tirai. Untuk ruang solat wanita hanya sepertiga ruangan dari luas masjid, kira-kira muat untuk sekitar 12-15 jamaah. Yang berbeda dengan tempat solat sebelumnya yang saya sambangi, disini saya bisa mendengar sayup-sayup orang membaca Al Quran walau bangunan masjid sangat sederhana. Tenang rasanya.

Ohya yang patut diperhatikan juga sepertinya masjid ini tidak selalu dibuka sampai larut malam. Buktinya pas saya sedang solat Isya tetiba lampu-lampu masjid mulai dimatiin satu per satu, padahal itu masih jam 8. Waakkkksss... Solat rakaat terakhir mulai ga konsen karena takut dikunciin di dalem, heuheu. Namun, entah akhirnya penjaga masjid ngeh saya masih di dalam atau karena alasan lain, dia nunggu di depan pintu masuk ruang solat. Pas udah selesai solat saya langsung keluar dan nyengir ke penjaga masjid, hehehe. Pas saya lagi pake sepatu di luar ternyata bener ruangan masjid langsung dikunci, pfiuh.

4. Central Festival Pattaya
Sebelumnya saya udah sempet browsing soal masjid dan makanan halal di Pattaya. Sebagian besar merekomendasikan tempat yang ada di South Pattaya Road. Untuk ke sana bisa naik songthaew, ojek, atau taksi. Tapi karena waktu saya terbatas di Pattaya dan setelah dari Mini Siam hanya ingin menyusuri pantai lalu balik ke terminal, maka saya memutuskan untuk ga ke daerah South Pattaya Road yang terletak berlawanan dengan terminal bis yang ada di North Pattaya Road.

Sempet bingung mau nyari tempat solat dimana di sekitaran pantai Pattaya. Untung nemu brosur Central Festival di Mini Siam. Saat saya ngeliat tersedia fasilitas musola, saya pun langsung meluncur ke sana. Saya ga memperhatikan apakah di sana ada restoran yang menyajikan makanan halal, secara uang udah menipis. Lagipula masih ada bekal roti dari Jakarta, masa iya rotinya dibawa balik lagi :p.
Bagian depan prayer room
Musola di Central Festival Pattaya ada di lantai 5, deket parkiran mobil. Pintu ke arah musola ada di antara Zen Restaurant dan Little Home Bakery. Bisa juga naik lift di sebelah Esprit lantai 1, keluar dari lift di lantai 5, pintu ke arah musola ada di sebelah kanan. Setelah keluar pintu yang ke arah parkiran, tengoklah ke kanan. Di sanalah kamu akan menemukan musola. Agak nyempil dan gelap. Tapi gambar di pintunya menandakan kalau itu adalah prayer room.

Awalnya saya ragu musolanya dikunci karena keliatan gelap. Tapi setelah saya dorong pintunya bisa dibuka. Alhamdulillah. Ternyata lampu di prayer room memang harus dimatikan kalau tidak ada yang menggunakan. Di bagian dalam pintu musola ada pengumumannya. Setelah saya masuk dan menyalakan lampu, pendingin ruangan langsung berhembus. Sepatu bisa ditempatkan di rak sepatu yang sudah disediakan di dekat tempat wudhu.
Bagian dalam prayer room
Di antara prayer room mall yang saya sambangi sebelumnya, saya paling suka di sini. Mungkin karena saya sendirian di dalam, jadi bebas mau ngapain aja, mau guling-gulingan, bolak-balik, terseraahhh...hehehe. Sebagaimana musola lainnya yang saya temui, di sini juga disediakan mukena, sarung, Al Quran sampai tasbih. Semuanya tersusun rapi di rak.

Eniwei, dalam perjalanan ini saya jadi melihat betapa pemerintah Thailand begitu menyiapkan diri dalam menyambut wisatawan muslim. Walau prayer room seadanya tapi kemudahan akses itulah yang menarik minat saya sebagai seorang muslim untuk berkunjung ke Thailand. I'd heard about their services for muslim tourists before, and I want to see it myself. In the end, I'm pretty satisfied with it. :)

Wednesday, 29 October 2014

My Impulsive Trip: Public Transportation in Bangkok & Pattaya

Perjalanan di Thailand diisi dengan berganti-ganti angkutan umum. Maklum, solo backpacking dan pengen ngirit jadilah angkutan umum itu pilihan utama. Ada beragam angkutan umum yang saya naiki saat di Bangkok dan Pattaya, tapi ada juga yang ga sempat dicobain. Dari 11 moda transportasi umum yang saya ketahui, saya hanya menaiki 9 diantaranya. Berikut adalah beberapa angkutan umum di Bangkok dan Pattaya:

1. Kereta Api

Di hari pertama saya memutuskan ke pusat kota Bangkok menggunakan kereta api. Tujuannya: Stasiun Hua Lamphong. Pas di sebrang Bandara Don Mueang ini ada stasiun kereta api. Untuk menuju ke sana dari bandara ada aksesnya langsung. Lokasinya dekat dengan Tourist Information Center, yang ada di sebelah kiri saat keluar dari pintu kedatangan. Arah ke stasiun kereta ada disebrang Tourist Information Center. Di sini saya agak bingung, karena langsung berhadapan dengan lift. Saya mikirnya dengan naik lift sampai lantai atas (lantai 3) akan langsung keliatan stasiun kereta. Tapi ternyata saya malah nyasar ke terminal keberangkatan. Sayangnya di dalam lift memang  ga ada petunjuk arah setiap lantai. Jadilah itu saya turun lagi pake lift dan memutuskan berhenti di lantai 2. Ternyata di lantai 2 itulah arah ke stasiun kereta yang sebenarnya. Ada lorong gelap disana, tanda petunjuknya mengarahkan ke stasiun kereta. Susuri aja lorong itu dan kamu akan diarahkan keluar bandara dan menyusuri jembatan yang ada di atas stasiun.
Kiri: Loket tiket dan tiket kereta api Don Mueang-Hua Lamphong
Kanan: View dari peron Stasiun Don Mueang
Sesampainya di stasiun pastikan ada di peron yang benar. Ada petunjuknya kok kalo mo ke Bangkok harus menunggu di peron nomor berapa. Saat turun dari jembatan, tepat di hadapan akan keliatan loket tiket. Bilang ke petugas kalo mo ke Bangkok dan dia akan kasih lembaran tiket. Harga tiket cukup murah, 5 baht saja. Ngga pake nomor tempat duduk, bebas aja milih tempat duduk.

Hari itu saya dapet kereta jam 11.19 (tertera di tiketnya). Saya pikir keretanya akan on time, tapi ternyata ngaret juga, sekitar 10 menit. Setelah naik kereta, saya menemukan suasana yang sama dengan di Indonesia. Mengingatkan saya akan kereta ekonomi. Tempat duduk saling berhadapan, kipas angin di atas, dan jendela lebar. Sejumlah pedagang asongan juga berlalu lalang di atas kereta, ada yang jual buah sampe manisan gulali nenek lampir.

Familiar sama suasana di atas?
Melihat pemandangan di luar juga mengingatkan saya akan Jakarta. Sama persis. Rumah-rumah di pinggir rel kereta, tumpukan sampah dan stasiun yang seadanya. Jujur, walau saya baru meninggalkan Jakarta beberapa jam saja, saya saat itu malah jadi kangen dan pengen pulang lagi, hahahaha.

Naik kereta ke Hua Lamphong membutuhkan waktu 1 jam. Ada lebih dari enam stasiun yang akan dilewati. Stasiun Hua Lamphong adalah stasiun terakhir kereta, jadi ga usah kuatir akan kelewatan. Saat ngeliat orang-orang pada bersiap turun semua, itu tandanya sudah sampai (ya iyalah, emang mau nginep?:p).


Sesampainya di stasiun Hua Lamphong, saya langsung nyari Tourist Information Center lagi buat nanya letak stasiun MRT. Tourist Information Hua Lamphong ada di sebelah kiri pintu keluar. Setelah nanya sama petugas, ternyata stasiun MRT ada pas sebelah kanan dari pintu keluar stasiun kereta. Saat menyusuri jalan berbelok ke kanan akan langsung keliatan eskalator ke MRT.


2. MRT

Saya selalu suka jika ada pilihan transportasi naik kereta karena lebih cepat dan nyaman (asal jangan pas rush hour di Commuter Line aja, bisa kayak pepes penumpangnya) daripada naik bis. Karena itu, saya selalu iri dengan negara yang punya angkutan massal semacam MRT. Iya sih Indonesia punya Commuter Line, tapi itu belum menjadi moda transportasi yang efektif untuk mengatasi masalah kemacetan dan mobilitas tinggi yang ada di pusat kota. Alhamdulillah sekarang pemprov DKI Jakarta lagi mulai proyek MRT, walau baru sebatas Lebak Bulus-Bunderan HI tapi lumayan lah daripada hanya sekedar blue print. Karena itu, saat di Bangkok ada MRT dan BTS, saya lebih mengutamakan dua moda transportasi itu.

MRT = Metropolitan Rapid Transit. Di Bangkok seluruh jalur MRT ada di bawah tanah. Tiketnya bisa dibeli lewat mesin tiket yang ada di stasiun. Kalau uangnya bernominal besar, kita bisa membeli tiket di loket. Bentuk tiket MRT di Bangkok agak unik, yaitu sekeping koin hitam. Di pintu masuk kita tinggal men-tap koin, lalu di stasiun tujuan masukkan koin di tempat yang ada di palang pintu keluar.

Lokasi MRT yang ada di bawah tanah ngebuat saya sebenernya rada bosan karena ga ada pemandangan sama sekali yang bisa diliat. Menjelang tempat pemberhentian, kereta pun akan mengumumkan stasiun berikutnya. Dalam bahasa Thailand aja? Ya, nggak lah. Semua turis bisa amsyong dan kesasar entah kemana kalo cuma pake bahasa Thai aja. Ada bahasa Inggris-nya kok. Jadi simak baik-baik setiap pengumuman yang terdengar di kereta ya.

3. Bangkok Mass Transit System (BTS)


Kereta BTS ga jauh beda sama kereta MRT. Yang membedakannya, seluruh jalur BTS merupakan flyover. Beda dengan MRT yang pemandangannya cuma stasiun dan terowongan yang gelap dan suram, dari BTS ini kita bisa melihat sekelumit tempat-tempat yang ada di sekitaran Bangkok. Keretanya juga datang cukup sering, headway-nya antara 3-5 menit. Sementara, di waktu rush hour bisa dateng 1-2 menit. Jadi saat rush hour kereta ngga penuh-penuh amat sama penumpang. Yang jelas masih bisa bernapas dan ga kayak pepes *catet*. Di BTS ini juga ada pengumuman berbahasa Inggris menjelang setiap stasiun, jadi ga usah kuatir akan kelewatan stasiunnya.

Di stasiun BTS ini kalau kita ga punya uang receh buat beli tiket, kita bisa nuker uang di loket. Nah, beda sama di MRT dimana kita bisa beli langsung koinnya melalui loket, di stasiun BTS ini kita harus balik lagi ke mesin tiket untuk beli tiketnya sendiri. Rada rempong sih ye bolak balik begitu. Ini saya alami ketika mau pulang ke hostel dari Asiatique. Di stasiun Saphan Taksin ini saya berbarengan dengan orang-orang lainnya yang abis turun dari shuttle boat Asiatique, jadi bisa ditebaklah gimana ramenya stasiun itu. Yang punya uang pas bisa langsung antri di mesin tiket, tapi ternyata saat itu banyak juga yang lagi antri di loket untuk nukerin uang. Jadi agak hectic.

Abis dari loket nukerin uang, langsung deh pada berbondong-bondong nyari antrian mesin tiket yang paling lowong, demi cepat dapat tiket dan ngejar kereta yang mau datang. Soalnya kalau pas udah malam gitu, keretanya udah mulai agak-agak jarang. Kan males nunggu lama, hehehe.


4. Bis Kota
Bis di Thailand bisa dibilang mirip kayak bis PPD di Indonesia, tapi ukurannya sedikit lebih kecil. Yang bisa bikin lieur saat memutuskan ingin naik bis adalah rute bisnya semua ditulis dalam bahasa Thailand! Bikin manyun ga, tuh? Tapi tenang aja karena kita punya angka yang telah disepakati sejagat dunia ini. Jadi saat naik bis kota di Bangkok, cari taulah lebih dulu nomor bis dan rutenya kemana aja.

Saya berkesempatan naik bis saat menuju Vimanmek dan saat pulang menuju bandara. Bis yang saya naiki untuk ke Vimanmek adalah bis 108. Bisnya ber-AC, bayar 12 baht. Saya memang sengaja milih yang AC karena cuaca sedang panas saat itu. Kalau mau yang bis non AC juga ada kok. Harga tiketnya kalau ga salah, kurang dari 10 baht.

Terus bayar ongkos bisnya gimana? Tenang. Ada kondektur yang akan meminta ongkos. Setelah bayar ongkos, kita akan dikasih secarik kertas karcis kecil sebagai bukti pembayaran. Yang menarik dari bis di Bangkok adalah kondekturnya membawa kaleng lonjong yang terbagi dua dan terdiri dari beberapa sekat di dalamnya. Itu adalah tempat uang receh ongkos dari penumpang, uang receh kembalian, dan gulungan tiket karcis bis. Jadi saat penumpang sudah bayar, kondektur akan menyobek karcis bis dari gulungan, dengan tepi kaleng menjadi penyobek otomatis gulungan karcis. Jadi kalau kita mau dimintain ongkos, kondektur akan nyamperin sambil ngegoyang kaleng itu. Krincing..krincing.. Menarik banget deh ngeliatnya, hehehe.

Kesempatan kedua saya naik bis adalah di hari terakhir saya di Thailand, saat menuju Bandara Don Mueang. Dari Terminal Hua Lamphong, saya menunggu bis 29. Tadinya mau naik yang AC, tapi karena bis non AC datang duluan jadinya naik itu deh. Daripada telat dan ketinggalan pesawat kan ya.. Ongkos Hua Lamphong-Don Mueang dengan bis non AC hanya bertarif 6,5 baht saja, untuk perjalanan selama 1 jam, sodara-sodara… Murah banget ya, bo. Seneng deh, hahaha.

Saat naik bis 29 ini saya jadi tau kalo ternyata rute bis ini juga melewati halte Chatuchak. Wilayah yang terkenal dengan weekend market-nya. Duh, kalau ga inget jadwal penerbangan yang mepet dan bawaan yang segambreng, mau deh turun di situ dan mampir sebentar. Bener-bener deh itu godaan syaiton banget, karena sempet mikir, “Eeehhh, ternyata Chatuchak sejalur sama arah ke bandara. Duh apa turun aja dulu ya, ngeliat-ngeliat bentaaarrr ajaaa”. Apalagi, pas ngeliat orang-orang pada jalan ke arah pasarnya. Hahaha. Paraaaahhh… Untunglah saya masih berpikiran jernih :p. Next time, I’ll have a visit to Chatuchak!

Terus, turun dari bisnya harus gimana? Bilang aja ke kondektur atau supir pas awal kita naik bis. Seperti yang saya lakukan ketika mau ke Vimanmek, sebelum naik bis saya bertanya ke kondektur untuk memastikan apakah bisnya ngelewatin Vimanmek. Ketika dia bilang lewat Vimanmek, kasih tau aja kalau kita mau kesana dan minta tolong untuk dikasih tau turunnya kalau sudah dekat lokasi.

Namun, hal lain yang harus diperhatikan adalah jangan terlalu menggantungkan diri kepada kondektur/sopir. Walau kita sudah ngasih tau, mereka bisa saja kelupaan. Seperti saat saya naik bis 29 ke Don Mueang. Setelah hampir 1 jam perjalanan, saya melihat bangunan bea cukai bandara di sisi kanan, dan saya jadi ngeh kalau saat itu bandara pasti sudah dekat. Beberapa menit kemudian, kelihatan deh gedung bandara di sebelah kanan, tapi bis ngga menunjukkan tanda-tanda akan memperlambat lajunya. Saat saya ngeliat di sebelah kiri, keliatan ada halte dan jembatan yang mirip dengan jembatan yang menghubungkan Stasiun Don Mueng dengan Bandara. Akhirnya, secepat kilat saya pun menghampiri supir dan bilang, “Airport!”. Sang supir pun langsung menghentikan bis dan nyengir ke arah saya. Duh, hampir aja kebawa entah sampai mana, hahaha.

Jadi kalau naik bis di tempat yang masih asing, jangan bengong atau tidur ya…:D Perhatikan jalanan di sekitar. Dengan naik bis sambil liat pemandangan di sekitar, kita jadi bisa tau tempat-tempat apa aja sih yang dilewatin bis. Siapa tau ada tempat menarik yang dilewatin.

Ohya, setiap bis di Bangkok berhenti di halte, jadi tidak berhenti di sembarang tempat ya..Terus, apa bedanya bis AC dan non AC di Bangkok? Ya, yang satu ada AC, yang satu ngga *minta dijitak* :p. Tapi, bedanya emang ga jauh kok. Bener deh. Yang AC emang lebih rapih dan bersih sih daripada yang non AC, tapi bedanya ga terlalu jauh.


5. Taksi

Taksi di Bangkok sangat beragam. Dari segi warna taksi sampai tarif taksi yang ajaib. Warna mobil taksi ada yang standar kayak warna putih sampai yang pink. Sementara, taksi di Pattaya hadir dalam bentuk berbeda. Jika di Bangkok sebagian besar taksi yang saya temui adalah mobil sedan, di Pattaya taksi hadir dalam bentuk Kijang Innova bahkan Fortuner. Jarang keliatan ada taksi mobil sedan di Pattaya.

Nah, kalau soal tarif taksinya juga berbeda-beda karena ada sopir taksi bandel yang ga mau pake argometer saat bawa penumpang. Setau saya, ga ada perusahaan taksi di sana yang bisa diandalkan dalam urusan memakai argometer. Beda dengan di Indonesia, dimana grup taksi Blue Bird jadi rekomendasi banyak orang.

Jadi pastikan saat naik taksi kita nanya pake argometer atau ngga? Kalau ngga, cari aja taksi lain yang mau pake argo. Pertama kalinya saya naik taksi di Bangkok adalah dari Siam Paragon ke Grand Palace. Setelah ngecek taksinya pake argometer, langsung deh naik. Taksinya sih standar aja, bersih dan AC-nya berasa. Tapi, secara keseluruhan menurut saya, taksi Blue Bird lebih bagus.

Eniwei, perjalanan kedua dengan taksi dilakukan dalam perjalanan singkat dari Grand Palace menuju Tha Tien Pier (dermaga untuk menuju ke Wat Arun). Ga pake argo. Terus, kenapa nekat naik taksi? Karena saya share cost dengan Tira dan Lia dan hanya bayar 40 baht untuk menempuh jarak kurang lebih 1 kilometer. Jadi daripada jalan kaki di tengah cuaca yang terik, kami memilih naik taksi #manja.

Saat naik taksi kedua inilah kami nyaris kena scam. Supir taksi bilang kalau Wat Arun tutup, dan dia malah ngasih alternatif untuk ngajak kami ke toko-toko emas ngga jelas. Kejadian itu udah saya ceritain di SINI. Jadi, emang kudu hati-hati juga saat naik taksi ya..Jangan ngerasa ga enak untuk bilang dengan tegas kalau kita ga mau ke suatu tempat yang memang tidak kita inginkan dan tidak direkomendasi banyak orang. Langsung aja bayar ongkos yang sudah disepakati dan segera keluar dari taksi.

Nah, pengalaman terakhir saya naik taksi di Bangkok ditutup dengan kejadian tidak menyenangkan. Akhirnya kami (saya, Tira dan Lia) kena juga jeratan ongkos taksi yang mencekik kantong. Usai berbelanja di MBK, kami memutuskan naik taksi. Salahnya, kami semua lupa untuk nanya apakah pakai argometer atau ga? Langsung aja gitu masuk ke taksi, secara udah malam dan capek banget. Dan, kami baru nyadar saat ngeliat argometernya ga dihidupin sama si supir taksi. Perasaan langsung ga enak. Dan, bener aja, kami ‘diperas’ suruh bayar 400 baht untuk perjalanan sekitar 15 menit. Huhuhu… Lesson learned: Selalu tanya supir taksi, apakah pasang argometer atau ga!

6. Bis Antar Kota

Kiri: Behind the bus driver. Kanan: Tiket bis Pattaya-Ekkamai
Saya berkesempatan naik bis ini saat menuju Pattaya dari Terminal Ekkamai. Bisnya AC kayak Damri. Masing-masing sisi kanan-kiri bis diisi dengan bangku untuk dua penumpang. Ada tempat tas di atas bangku. Untuk naik bis ini hanya tersedia di terminal-terminal yang telah ditetapkan. Jam berangkatnya pun sudah ada dan on time. Tiketnya beli di loket terminal. Saat menuju bis, kasih tiketnya ke kondektur yang menunggu di depan pintu bis untuk disobek tiketnya yang bagian untuk perusahaan bis, dan simpan sisa tiketnya sebagai cenderamata bukti pembelian.

Bis ini cukup nyaman dan tidak sembarang menaikkan penumpang. Penumpang hanya bisa naik dari terminal, atau pool bis. Pada perjalanan Bangkok-Pattaya bis sempat ngetem sekitar 10 menit di pool bis untuk mengambil penumpang yang menunggu di sana. Setelah itu, bis tidak menaikkan penumpang lagi sepanjang perjalanan. Baru saat memasuki Pattaya, ada beberapa penumpang yang turun di berbagai tempat. Jadi, tidak harus turun di terminal. Mirip kayak Damri, kan.. Cuma bedanya Damri masih bisa naikin penumpang di mana aja asal belum masuk tol, hehehe.

7. Tuktuk
Tuktuk ini saudara sepersusuan sama bajaj *sotoy*. Sama-sama beroda tiga, supirnya punya teritori sendiri di bagian depan, dan tempat duduk penumpang ada di bagian belakang. Bedanya tuktuk punya bodi yang lebih terbuka daripada bajaj yang agak tertutup (ini ngomongin moda transportasi apa gaya berpakaian?:p). Maksutnya, kalau di bajaj kan penumpang hanya bisa masuk melalui satu pintu, nah kalau di tuktuk, penumpang bisa masuk dari kanan atau kiri. Bagian belakang tuktuk pun terbuka. Gimana kalau hujan? Tinggal buka saja tirai yang tergulung di bagian belakang, kanan dan kiri. Pokoknya jadi rada lebih rempong deh kalo ujan, hehehe.

Terus apa enaknya naik tuktuk? Tuktuk ini ahlinya nyalip dan bisa masuk ke jalan-jalan kecil, sama kayak bajaj. Jadi bisa lebih cepat sampai tujuan, hehehe. Kita juga bisa nawar tarif ke abang tuktuk, jadi kalau nawarnya bener, kita bisa dapet tarif yang lebih murah daripada naik taksi. Pastikan aja dulu nanya ke orang-orang lokal, kira-kira berapa tarif dari A ke B, jadi kita udah tau duluan standar tarif ke tempat tujuan dan jadi bisa nawar ke abang tuktuk.

8. Ojek (Motorcycle Taxi)
Di saat minim pilihan transportasi dan Anda ingin cepat sampai tujuan, ojek bisa jadi pilihan. Saya baru naik ojek ketika di Pattaya. Beda dengan Bangkok yang transportasinya lebih terintegrasi, di Pattaya hanya ada songthaew, taksi dan ojek. Seingat saya, saya tidak menemukan tuktuk disana. CMIIW. Anyway, pengalaman naik ojek di Pattaya sebenernya sama aja kayak naik ojek di Jakarta. Ngebut, jago nyalip dan tau jalan-jalan tikus. Bedanya saat saya naik ojek di Pattaya, saya ga pake helm sama sekali karena emang ga disediain helm buat penumpang. Cuma tukang ojeknya aja yang pake helm. Rada ngeri sebenernya pas naik ojek di sana. Apalagi pas dibawa ngebut sama si abang ojek. Komat-kamit baca doa sepanjang perjalanan, heuheu.

Yang pasti saat naik ojek teteup harus upayakan tawar menawar, ya… Cari tau dulu tarif standar di sana lewat browsing atau tanya orang lokal, atau kira-kira aja sendiri tarif sama jarak yang ditempuh. Seperti saat saya ke Mini Siam dari terminal Pattaya, saya browsing dulu nyari tarif ojek. Rata-rata merekomendasikan 100 baht, tapi saya tawar jadi sekitar 80 baht dan deal. Namun, saat dari 2nd Pattaya Road mau ke terminal Pattaya, saya ngira-ngira aja tarifnya karena sebelumnya udah lewat jalan itu saat mau ke Pattaya Beach dari Mini Siam.

9. Kapal/Shuttle Boat

Moda transportasi ini jadi andalan melintasi sungai Chao Phraya. Sebenarnya saya bisa dibilang ga terlalu purna juga nyobain kapal feri di Bangkok, karena cuma nyobain kapal penyebrangan dari Tha Tien Pier ke Wat Arun yang jaraknya hanya saling bersebrangan, dan shuttle boat gratisan Asiatique dari Central Pier. Jadi ngerasa belum maksimal aja nyobain kapal feri karena emang ga naik kapal feri standar yang berhenti di setiap dermaga dan ditagih ongkos di atas kapal. Namun dari pengalaman yang saya dapat dari dua kali naik kapal melintasi Chao Phraya, saya cukup terkesan dengan alternatif transportasi satu ini. Cukup cepat dan yang pasti bebas macet, walau agak ngeri ngeliat sungai yang keliatan dalam itu. Saya pun jadi berandai andaikan sungai Ciliwung Jakarta bisa dimanfaatkan sebagai salah satu jalur transportasi pasti jadi alternatif transportasi yang asik.


Selain moda transportasi yang saya bahas di atas sebenernya ada dua lagi transportasi umum yang belum saya coba, yaitu songthaew dan khlong boat. So, here it is:

10. Songthaew

Moda transportasi ini bisa ditemukan di Pattaya. Ada beberapa alasan saya memutuskan ga mencoba songthaew. Pertama, rute songthaew ga jelas tertera di bagian mobilnya, jadi saya kuatir nyasar padahal waktu saya ga banyak di Pattaya. Emang sih kalau dirasa nyasar mah tinggal balik aja lagi ke rute sebelumnya atau nanya ke supir. Biasanya saya juga ga terlalu mempermasalahkan banget kalau ternyata nyasar. Itung-itung pengalaman. Selain itu, kita juga jadi belajar mengetahui rute dan tempat di suatu daerah. Agak deg-degan kalau nyasar, tapi kalau udah nemu tempat yang kita tuju pada akhirnya itu tuh rasanya senang banget. Sensasi itu yang saya suka dari pengalaman nyasar, hehehe. Namun, ya itu tadi, karena waktu saya di Pattaya hanya sedikit, maka saya memutuskan ga akan nyasar hari itu.


Alasan kedua ngga nyoba songthaew adalah karena bingung saat mau bilang ‘Stop!’ ke sang supir dan tarif standarnya, hahaha. Alasan yang dibuat-buat sebenernya, soalnya kan kita tinggal merhatiin penumpang lainnya aja pas mereka mau turun, ya... Tapi, alasan itu emang sempet melintas di pikiran saya: “Songthaew kan kayak omprengan ya, terbuka gitu mobilnya, tapi ga ada kenek sama sekali yang nagihin ongkos atau yang bisa ditanya-tanya soal tempat-tempat di Pattaya, terus gimana cara ngomongnya kalau kita mau berenti di suatu tempat? Masa bilang ‘Kiri, bang!’ (ini ga mungkin banget :p) atau gedor-gedor plafon mobil terus tereak ‘Stop! Stop! (ini udah kayak di mikrolet, hehehe)”. Selain itu, saya juga ga tau tarif standarnya dari A ke B tu berapa. Sempet browsing sih katanya cukup bayar 20 baht aja, dan malah ada yang cuma bayar 4 baht karena disangka orang Thailand, hihihi, tapi karena ngerasa kurang sreg akhirnya memutuskan untuk ga nyobain songthaew.

Alasan terakhir ga naek songthaew adalah: songthaew itu rata-rata dinaikin sama rombongan turis yang keliatan seperti mereka telah menyewa songthaew itu untuk mereka sendiri. Ga enak kan kalau ternyata songthaew yang disetopin udah dicarter. Ada sih songthaew yang agak kosong dan kelihatan nungguin penumpang, tapi saya ragu untuk naik karena ga tau rutenya dan kuatir songthaew akan ngetem lama di tempat itu. Agak nyesel sebenernya ga nyobain naik songthaew. Lain kali kalau saya punya waktu lebih banyak di Pattaya, saya akan nyoba muterin Pattaya naik songthaew! :D

11. Khlong Boat
Khlong Boat ini adalah sampan kecil yang melintasi kanal-kanal di kota Bangkok. Salah satu rute yang dilewati sampan itu adalah Pratunam. Karena saya ngga nginep di sekitaran wilayah itu jadilah ga nyobain juga naik sampan yang disebut khlong boat ini.