Sunday, 23 December 2018

So-Called Honeymoon: Hong Kong-Macau (Day 2)

Di hari kedua trip Hong Kong, saya dan suami berencana untuk ke Macau. Sayang kalo ga kesana, karena hanya butuh waktu 1 jam saja dari Hong Kong dengan naik kapal cepat. Lagipula ke Macau juga bebas visa. Jadi jam 8.30 pagi, kami udah siap cuss menuju China Ferry Terminal. Tinggal jalan kaki aja dari Chungking Mansion sekitar 10-15 menit.


Masjid Kowloon

Etapi, di tengah jalan suami tetiba ngajakin mampir dulu ke Masjid Kowloon yang cuma berjarak 5 menit dari hostel. Yasud akhirnya lihat-lihat dulu deh ke sana. Malah, pak suami menyempatkan diri buat solat dulu di dalam. Akhirnya kami baru sampai di China Ferry Terminal jam 9.30.

China Ferry Terminal ini ada kayak di dalam pusat perbelanjaan gitu, kanan kirinya banyak toko. Nah, saat mo beli tiket ternyata udah banyak aja orang-orang yang nawarin tiket. Jadi mereka kayak rebutan gitu nawarin tiket. Ada dua perusahaan speedboat menuju Macau, yaitu Cotai dan Turbo, maka salesnya rebutan deh tuh narik penumpang. Akhirnya kami naik Cotai Water Jet dengan tiket seharga 154 HKD.


Cotai Water Jet

Yasud udah siap-siap nih mo masuk karena katanya dalam 15 menit, kapalnya dah mo jalan. Ndilalah pak suami mo ke toilet dulu. Duh! Jadilah waktu 5 menit kebuang. Padahal, kita juga kudu antri imigrasi. Pas saya buka paspor ternyata secarik kertas yang jadi 'visa' masuk Hong Kong nggak ada. Saya bolak balik itu paspor, kertasnya tetep nggak ada. Saya panik! Waduh apa kertasnya jatoh?

Akhirnya saya tanya ke suami, karena dia yang bertugas megang paspor, apa dia ngebuka-buka paspor dan liat visa Hong Kong? Ternyataaa...kertas visanya dia keluarin dari paspor dan ditaro di hostel supaya nggak ilang. Hadeeeuuhh... Saat itu saya sebeeellll banget ma suami. Padahal sebelumnya saya udah bilangin itu kertas jangan dikeluarin dari paspor. Walo cuma secarik kertas, itu tetap penting dan harus selalu dibawa karena jadi tanda masuk kita secara legal.

Akhirnya isi lagi kertas visa di imigrasi baru antri. Sempet deg-degan nanti gimana pas di imigrasi, pasti ditanyain soal kertas itu. Dan bener aja petugasnya langsung nanya, akhirnya saya bilang kalo kertasnya ketinggalan di hostel. Sempet kuatir nggak akan bisa diproses, tapi ternyata kami bisa keluar dari imigrasi menuju dermaga.


Inside Cotai Water Jet. Ada tempat buat koper juga.

Dari imigrasi, saya dan suami langsung berusaha ngejar speedboat tapi ternyata speedboat-nya udah jalan. Sempet bingung lagi, tapi akhirnya dibantuin sama petugas Cotai dan kami jadinya naik speedboat di jam berikutnya, which is kudu nunggu hampir 1 jam. Jadinya molor lagi dari jadwal, yang seharusnya naik speedboat jam 10 jadi jam 11 siang. Perjalanan Hong Kong-Macau via speedboat membutuhkan waktu sekitar 1 jam. Jadi kami sampai sana jam 12 siang. Saya udah ngeburu-buru suami buat mempercepat langkah supaya dia nggak ketinggalan solat Jumat. Yang saya catet dari info Google, solat Jumat di Macau jam 12.30. Entah keburu apa nggak.



Macau Tower dari kejauhan

Etapi ternyata sebelum keluar imigrasi, kami sudah dihadang oleh seorang petugas wanita dan digiring ke ruang terpisah. Waduh ada apa lagi ini? Saya langsung kepikir, apakah ini karena saya berhijab? Tapi saya langsung keinget, ini sepertinya karena kertas visa kami yang nggak kebawa saat keluar Hong Kong. Mungkin pihak imigrasi Hong Kong ngasih notice ke imigrasi Macau. Dikira imigran gelap kali.

Di dalam kami digeledah dan ditanya macam-macam terkait asal negara, status, maksud kedatangan sama jumlah uang yang dibawa. Iya cyn, sampe die nanya lo bawa duit berape. Saya jawab aja cuma bawa duit sekitar 100 HKD. Eh, malah diketawain. Dengan tampang remeh, dia bilang kalo ke Macau paling nggak harus bawa 1 juta HKD. Setdah, emang kita mo judi disono. Pengen saya toyor aja itu petugas imigrasinya.

Akhirnya setelah interogasi sekitar 10 menit, kami bisa keluar dari imigrasi Macau. Langsung menuju terminal bis yang berjejer di depan pelabuhan. Di Macau, bis jadi transportasi utama murmer untuk keliling karena nggak ada subway. Itinerary awal siy tadinya mo jalan kaki aja menyambangi Museum Grand Prix, yang menurut Google Maps lokasinya cuma 10 menit jalan kaki dari pelabuhan, tapi karena udah mepet solat Jumat akhirnya rencana itu dicoret dari itinerary.


Fisherman's Wharf Macau

Nah, di terminal bis pelabuhan ada banyak macam bis, ada yang bis biasa (berbayar), ada juga yang bis kasino (gratis). Tentu aja kami pilih yang gratisan dong, hahaha. Bis kasino ini banyak banget pilihannya, secara disana juga banyak banget kasino. Karena Macau manjain orang yang mo judi disono, makanya mereka pada ngasih shuttle gratis supaya para gamblers gampang ngaksesnya. Cap cip cup, akhirnya kami naek bis Sands Macau. Asal aja milihnya, heuheu.

Di dalam bis, saya segera memanfaatkan wifi gratisan untuk mencari rute bis yang ngelewatin Mesquita de Macau. Berbekal Google Maps akhirnya nemu bis no 17 yang punya rute tercepat menuju masjid. Sesampainya di Sands Macau, kami langsung keluar bis dan jalan menuju halte. Kalo penumpang laen mah pada masuk ke hotel dan kasino, wkwkwk. Berjalan hanya sekitar 5 menit ke halte, kami lalu menunggu bis no 17. Saat melihat ke sekeliling ternyata Sands Macau dekat dengan Fisherman's Wharf, salah satu spot wisata di Macau. Namun, karena kami ngeburu waktu solat Jumat jadinya kami ngga keliling kesana.


Mesquita de Macau

Nggak lama, bis datang. Bayar bis di Macau harus pake uang cash dan pas. Nggak ngasih uang kembalian. Meski mata uang Macau adalah Pataca, Dollar Hong Kong tetap bisa dipakai di sini. Namun, Octopus Card nggak berlaku di Macau, ya. Tarif bis no 17 jauh dekat 3,2 HKD per orang. Kami bayar 6,5 HKD berdua.
Perjalanan menuju Mesquita de Macau dari Sands sekitar 10 menit. Kami turun di halte Venceslau de Morais. Dari halte, jalan kaki sekitar 500 meter.

Dan... Alhamdulillah akhirnya kami nemu juga masjid Macau ini. Dari luar aksen kuno terlihat jelas. Setelah didekati, kok sepi? Lalu terpikir jangan-jangan solat Jumat udah selesai? Karena saat itu sudah pukul 13.00. Kami pun segera masuk ke dalam dan menapaki tangga turun menuju masjid.


Bangunan masjid nan sederhana

Di halaman masjid hanya ada 2-3 orang. Lalu, kami pun bertanya apakah sudah masuk waktu zuhur. Ternyata belum. Alhamdulillah nggak telat. Katanya solat Jumat dimulai pukul 13.30. Yasud akhirnya kami istirahat dulu, sambil lihat-lihat sekeliling masjid. Mosquita de Macau ini kelihatan banget bangunan tua. Konon dibangun sama orang Pakistan yang tinggal di sana. Di bagian belakang ada komplek pemakaman. Di masjid juga ada toilet, meski hanya seadanya.

Beberapa menit sebelum solat Jumat, orang-orang mulai berdatangan. Selain para lelaki, ada juga muslimah yang hadir. Dan, yang bikin surprise ternyata kebanyakan muslimah yang hadir berasal dari Indonesia. Sebagian besar adalah pekerja di Macau. Wuih senangnya ada temennya, hehehe. Kami pun ikut solat Jumat. Menariknya solat Jumat disini, khotbahnya berbahasa Pakistan. Maklum, karena kan yang ngebangun masjid adalah orang Pakistan. Setelah solat Jumat juga ada makan siang bersama. Alhamdulillah, kami jadi dapet makan siang gratis deh, hehehe. Di masjid kami juga sempat refill botol minum.


Bertemu muslimah Indonesia yang baik hati :)

Selesai makan siang sekitar pukul 15.00. Saat kami pamit dan bilang mo melanjutkan perjalanan ke Ruin St Paul, Alhamdulillah ternyata ada yang mau menemani dan nganterin kami kesana. Namanya mba Lilis, yang berbaik hati nganterin kami ke sana. Jadi kami nggak perlu puyeng nyari jalan menuju ke Ruin St Paul, hehehe. Saya lupa naek bis nomor berapa ke Ruin St Paul, tapi yang jelas perjalanannya nggak lama, sekitar 10-15 menit aja. Untuk menuju Ruin St Paul, kami juga nggak lewat Senado Square, seperti yang biasanya turis lain lakukan. Mba Lilis menyarankan kami untuk lewat jalan belakang karena katanya lebih dekat. Kami siy ikut aja yak, kan nggak tau jalan, hehehe.

Jalan kaki hanya 5 menit, kami pun sampai di Ruin St Paul. Nggak sampe naek ke bagian atas siy karena rame banget. Kami foto-foto aja di bagian bawah, hehehe. Nah, disini juga kami berpisah jalan sama mba Lilis, yang akan melanjutkan perjalanan ke rumah temannya. Saya dan suami pun berjalan ke bawah menuju Senado Square. Jalanan antara Ruin St Paul dan Senado Square rame banget. Di kanan kiri banyak kios suvenir dan makanan khas Macau seperti pie tart. Namun, karena kami meragukan kehalalannya akhirnya hanya numpang lewat aja deh. Padahal mah baunya mengundang air liur loh, hehehe.


Ruin St Paul

Di jalan menuju Senado Square, kami menyempatkan diri untuk mampir ke kios suvenir Remembrance Gifts yang berada di gang dekat jalan utama. Kami ke kios ini berdasar rekomendasi dari blog yang saya baca-baca sebelumnya. Katanya siy harga suvenir disana kompetitif. Pas masuk kios ada banyak pilihan suvenir mulai dari gantungan kunci, magnet, snow ball, pajangan, kaos dll. Kami hanya membeli gantungan kunci dan magnet totalnya 80 HKD. Harganya ngga beda jauh sama di Ladies Market. Jadi buat yang nggak bisa atau males nawar di Ladies Market dan emang berencana ke Macau bisa dateng ke kios suvenir ini karena udah ada label harganya.


Senado Square

Dari kios suvenir, kami melanjutkan perjalanan ke Senado Square, yang berupa atrium luas. Usai foto-foto sebentar di Senado, kami segera nyari halte terdekat. Tujuan selanjutnya: The Venetian Macau. Mo kesana karena saya pengen lihat interior mall-nya yang katanya bagus. Hehehe, ngga penting amat yak. Dari Senado Square ke Venetian Macau naek bis 26A. Tarifnya 10 HKD berdua. Perjalanan cukup jauh, ada sekitar 11 halte yang dilewati. Sempet juga ngeliat Macau Tower dari kejauhan.


Sekitar 30 menit kemudian, barulah kami sampai di Venetian Macau. Langsung masuk ke dalam dan menuju lantai yang ada gondolanya. Di kanan kiri sepanjang jalan mah banyak toko-toko tapi kami nggak mampir-mampir karena ngejar feri ke Hong Kong. Saat turun dan naik eskalator keliatan deh tuh sedikit suasana dalam kasino Venetian Macau. Beuh rame bet yang mo buang-buang duit, heuheu. Saat sudah sampai di atas, kami keliling-keliling sebentar sambil nyari spot foto yang bagus. Di sana ketemu juga sama wisatawan Indonesia lainnya. Langsung deh saling minta tolong cekrek cekrek foto, hehe.


Ngintip kasino Venetian Macau

Di Venetian Macau ini kami nggak lama. Paling sekitar 20 menit aja, abis itu turun lagi ke bawah menuju shuttle bus gratis yang akan membawa kami ke pelabuhan. Baliknya ke Hong Kong naek Turbo Jet. Alhamdulillah perjalanan mulus dan itinerary terlaksana meski agak meleset. Well, life doesn't always going like the way you want kan.. Alhamdulillah dari perjalanan ini kami juga ketemu dengan orang-orang Indonesia yang baik banget di Macau. Jadi nambah temen deh... Hehe.

Hari berikutnya trip akan berlanjut ke Ngong Ping 360 dengan naik cable car dengan rute terpanjang di Asia (katanya) dan The Peak. Stay tuned!


At Venetian Macau

So-Called Honeymoon: Hong Kong (Day 1)

Liburan ke Hong Kong akhirnya tiba... Saya dan suami naik Malaysian Airlines dari Soekarno Hatta pada pukul 04.40 dan sampai bandara Hong Kong pada pukul 12.30, setelah sebelumnya transit ganti pesawat di Kuala Lumpur. Alhamdulillah cuaca cerah menyambut kami di kotanya Bruce Lee ini. Di imigrasi pun lancar karena wisatawan Indonesia bebas visa. Sebagai tanda izin masuk Hong Kong, kami diberi selembar kertas yang harus disimpan sampai kami pulang. Jadi biasanya kalo izin tinggal dicap di paspor, di Hong Kong cuma dikasih selembar kertas aja. Kalo model kayak gini sebenernya bikin deg-degan karena takut keselip atau jatuh entah dimana. Tapi emang modelnya begitu disono, ya mo gimana lagi, ye nggak?


Mejeng dulu sebelum ambil bagasi :D

Usai imigrasi dan ambil bagasi kelar, kami menyambangi HK Tourism Center dulu buat beli Octopus Card untuk dipakai naik transportasi keliling Hong Kong. Nah, untuk Octopus Card ini, kita harus deposit 50 HKD. Selain itu, disana saya juga sekalian top up 100 HKD, sesuai estimasi budget transportasi saya kesana.

Selesai beli Octopus Card, kami langsung keluar menuju terminal bis. Nyari pemberhentian bis A21 untuk menuju Chungking Mansion. Tarifnya kesana sebesar 33 HKD. Tinggal tap Octopus aja. Ada sekitar 14 stops yang harus dilewati. Keluar area bandara, suasana di luar masih hijau royo royo. Tapi, saat udah mulai masuk kotanya, kanan kiri jalan udah mulai dikelilingi gedung-gedung tinggi.


Bagian dalam bis A21
Setelah menempuh perjalanan hampir 1 jam, tibalah kami di Chungking Mansion. Beuh, rame banget di depan gedung. Banyak orang India yang nawarin hotel, tapi kami terus jalan aja menuju gedung karena udah booking hostel. Untuk menuju lantai 6, kami harus antri naik lift. Lift di Chungking Mansion ini kecil dan maksimal hanya untuk sekitar 10 orang. Jadi emang kudu antri. Untungnya ada 2 lift jadi antrinya nggak terlalu lama.

Sesampainya di hostel, kami istirahat dulu sampai menjelang sore. Selesai ashar, baru menuju Ladies Market buat nyari oleh-oleh.
Untuk menuju Ladies Market ini, kami naik MTR ke Mongkok Station. Keluar di Exit 2 langsung ketemu deh tuh deretan kios-kios yang jual berbagai macam suvenir, mulai dari kaos, magnet, kipas, gantungan kunci, dll. Enaknya di Ladies Market ini bisa nawar. Tapi buat orang yang nggak ahli nawar kayak saya bisa-bisa malah jebol, heuheu.

Contoh: 1 magnet dihargai 100 HKD, saya tawar 100 HKD dapet 4. Berasa udah dapet murah kan, yeee? Ternyata ada orang yang bisa dapet 6-8 magnet dengan 100 HKD dong.. *gigitjari*. Yasud udah telanjur mo gimana lagi.. huhuhu. Finally, selaen magnet, saya juga beli 12 kaos dewasa dan 6 kaos bocah dengan total 260 HKD dan gantungan kunci 60HKD.

Selesai belanja, kami balik lagi ke hostel buat makan malam. Jam 19.30 keluar hostel lagi buat nonton Symphony of Lights yang show-nya mulai jam 8 malam. Apa sih Symphony of Lights itu? Pada intinya, Symphony of Lights adalah pertunjukan sinar laser di gedung-gedung yang ada di Hong Kong Island yang bisa dilihat dari Kowloon.


Pose dulu sembari nunggu Symphony of Lights

Untuk menuju Symphony of Lights ini, kami tinggal jalan kaki aja dari hostel mengarah ke pinggir sungai. Cuma sekitar 5 menit aja udah nyampe. Berhubung pas sampe sana show-nya belum mulai, saya dan suami akhirnya menyusuri pinggir sungai sampe terminal feri. Di sepanjang sungai ini banyak juga artis jalanan yang ngamen. Dan, berhubung dekat dengan museum seni (yang sayangnya saat kesana sedang direnovasi), maka di jalan banyak juga ditemui beragam instalasi seni.


Symphony of Lights

Saat waktu sudah mulai mendekati jam 8 malam, kami pun nyari tempat duduk yang pewe. Etapi kok pas udah jam 8 malem belum ada tanda-tanda sinar laser. Sempet ngira mungkin show-nya udah nggak ada lagi. Lima menit kemudian, mulai deh tuh kedengeran ada musik dan kelap kelip lampu sinar laser di gedung seberang. Hoo.. ternyata ini toh yang namanya Symphony of Lights. Agak mirip ama air mancur menari seiring musik. Cuma bedanya air mancur diganti dengan sinar lampu dan laser di gedung-gedung. Pertunjukannya kurang lebih selama hampir 30 menit. Setelah usai, kami pun langsung balik ke hostel untuk beristirahat sebelum jalan ke Macau esok hari.

Stay tuned for our trip to Macau! :D

Friday, 21 September 2018

My Journey Through Pregnancy: Akhirnya Lahiran, Mak!

Akhirnya dedek bayi brojol juga, mak... Ya, nggak dalam artian brojol lahiran normal, tapi lewat caesar. Dan, prosesnya super kilat pake banget. No preparation whatsoever. Jadi, pegimana ceritanya? Menjelang usia kehamilan 40 minggu, badan rasanya udah makin berat tapi si debay belum ngasih sinyal mau keluar. Perut udah berasa keras banget, tapi gak ada mules sama sekali, kalaupun berasa seperti mules itu cuma sebentar aja terus ilang.

HPL diperkirakan tanggal 14 Maret. Nah, di tanggal 9 Maret, saya masih sempet jalan-jalan tuh ke LFC World di Mal Taman Anggrek. Bahagia banget bisa kesampean liat-liat ke sana. Padahal sebelumnya pesimis bisa ke LFC World karena waktu penyelenggaraannya berdekatan dengan HPL. Berhubung si debay belum ngasih sinyal, saya pun minta adek nganterin ke LFC World, heuheu.

Pas di hari H, tanggal 14 Maret belum ada juga tanda-tanda mules. Jadilah saya datengin bidan depan rumah ibu usai sarapan. Dipencet-pencet perutnya dan akhirnya saya ngalamin periksa dalem juga, mak. Sempet nervous, tapi terus disuruh bidan buat tarik napas perlahan-lahan. Saya kira periksa dalem bakalan sakit banget, etapi ternyata biasa aja loh. Wkwkwk. Agak aneh pas pertama periksa dalem, but I can bear it.

Ternyata hasilnya kepala debay aja belum masuk panggul, mak. Masih jauh, katanya. Duh. Akhirnya dirujuk ke RSIA Asta Nugraha buat USG karena bidan depan rumah kerjasamanya dengan dokter di RS sana. Yasud langsung capcus lah saya dan suami ke RSIA Asta Nugraha. Sampe sana jam 11.00, ternyata dokter yang direkomendasikan belum praktek pagi itu. Beliau baru akan praktek jam 14.00. Kalau nunggu disana kan kelamaan ya, bo. Akhirnya suster disana menyarankan kami agar pulang lebih dulu. Suster pun meminta nomor kontak dan bilang akan ngabarin kalau dokternya udah datang.

Saat di parkiran RSIA Asta Nugraha, tetiba suami nyeletuk supaya saya periksa juga ke bidan BPJS. Jadi kayak minta second opinion gitu. Saya baru sekali periksa di bidan BPJS saat usia kehamilan 6 bulan. Periksa di bidan BPJS karena ingin tahu saja pelayanannya seperti apa. Setelah itu saya nggak periksa di sana lagi karena lokasinya agak jauh dari rumah.

Saat berpikiran mau periksa ke bidan BPJS, ada perasaan sungkan juga yang muncul, karena saya baru periksa sekali saja disana. Nggak enak aja sama bidan disana nantinya, giliran nongol usia kehamilan udah 40 minggu aja. Heuheu. Tapi suami tetep keukeuh ngajak ke bidan BPJS. And then, there we go.

Bener aja, pas sampe sana, kami 'disemprot' sama bidan. Ditanya, kemana aja selama ini dan kenapa pas giliran kesana, usia kehamilan udah 40 minggu aja. Saya dan suami ngerasa bersalah dan nggak enak. Iya kami tahu kami salah. Beruntung akhirnya bidan mau ngasih rujukan ke rumah sakit. Bidan BPJS kerja sama dengan RSIA Bunda Aliyah, jadi mereka kasih rujukan untuk USG ke sana.

Setelah dapat surat rujukan, saya dan suami memutuskan untuk ke rumah sakit usai makan siang dan beristirahat sebentar di rumah. Jam 14.30, kami berangkat ke Bunda Aliyah. Setelah daftar khusus peserta BPJS, kami diminta untuk memilih dokter kandungan. Ada sekitar 4 dokter kandungan yang praktek hari itu, dan saya akhirnya memilih dokter Alesia Novita.

Saya sengaja milih dokter cewek, karena sebelumnya saat USG di klinik maupun Asta Nugraha, saya nggak punya pilihan dan selalu diperiksa dokter cowok. Jadi saat ada pilihan, kali itu saya pengen diperiksa oleh dokter cewek. Hehe.

Dokter Alesia baru buka praktek jam 15.30. Setelah menunggu beberapa saat, akhirnya tiba giliran saya untuk diperiksa. Saya sampaikan kondisi kehamilan saya. Dokter Ale pun langsung USG dan dia harus memastikan lagi dengan melakukan pemeriksaan dalem. Duh, mak. Dan, kali ini rasanya lebih maknyus dari sebelumnya, walau masih bisa saya tahan. Saat periksa dalem itu ternyata ada keputihan. Jadilah dr Ale ngebersihin keputihan saya dulu dan makin diobok-oboklah bagian sensitif saya itu. Pas diperiksa dalem, ternyata debay emang belum masuk panggul dan posisinya masih jauh di atas.

Akhirnya saya diminta untuk melakukan CTG alias rekam jantung bayi. Saya pun keluar dari ruangan dr Ale dengan duduk di KURSI RODA! Duh, mak coba bayangin masuk ruang praktek dokter bisa jalan lenggang santai, keluarnya pake kursi roda. Otomatis diliatin banyak oranglah awak ini.

Ruangan untuk CTG berada di lantai 2. Disana perut saya dipasangi alat untuk merekam detak jantung bayi. Selain itu, saya juga memegang sebuah tombol, yang diminta untuk ditekan jika saya merasa ada gerakan bayi di perut. Proses CTG berlangsung 20-30 menit. Tapi selama itu debay nggak ada gerakan di perut. Kalau sore begini, debay emang nggak terlalu aktif. Baru aktif banget kalau menjelang malem.

Saat CTG selesai, suster nanya apa selama proses tadi debay nggak gerak-gerak? Saya menganggukkan kepala. Baru setelah suster keluar dari bilik saya dan membawa semua peralatan, debay gerak-gerak doongg... Duh, nak... Kenapa baru sekarang geraknya...

Suster akhirnya melapor via telepon ke dr Ale dan mengatakan kalau hasil CTG silent, walau detak jantungnya normal. Ngedenger kata 'silent', saya jadi ngerasa gimanaaa gitu. Beragam pikiran berkecamuk. Saya masih bisa ngerasa tendangan debay, walau ngga terekam di CTG tapi kok dibilang silent.

Terus tetiba suster ngasih tau kalau ternyata ada lilitan di jalan lahir. Dia dapat info itu dari dr Ale. Saya bilang, dr Ale ngga ngasih tau apa-apa waktu USG. Pas denger kata 'lilitan' itu, saya antara percaya ngga percaya. Masa iya sih?

Akhirnya dokter memutuskan untuk melakukan operasi caesar sore itu juga! Karena kondisi bayi yang silent dan ada lilitan. Saat suster ngomong begitu, saya hanya bisa pasrah. Suami yang setia menunggu di ruangan CTG langsung diminta mengurus administrasi di lantai dasar. Sementara, tangan saya mulai dipasangi infus.

Baru kali ini, saya akan merasakan operasi dan menginap di rumah sakit selama 33 tahun hidup saya. Deg-degan tapi mau nggak mau harus dilakuin. Ternyata disuntik infus sakit juga ya, mak. Nggak berhasil di tangan kiri karena jadi bengkak, infus akhirnya dipasang di tangan kanan. Duh...

Setelah pasang infus, saya langsung digiring ke lantai tiga, ke ruangan observasi dan operasi. Suami masih ngurus admin di bawah, tapi suster menenangkan dengan bilang suami akan nyusul ke ruang observasi nanti. Sebelum masuk ruangan, saya sempat menelpon bokap untuk ngasih tahu kalau saya akan menjalani operasi caesar saat itu juga. Jadwalnya jam 18.30 WIB.

Bokap nggak nyangka saya bakal operasi sore itu juga. Soalnya sebelumnya saya ngasih tau nyokap kalo saya dirujuk ke Bunda Aliyah untuk konsultasi aja. No one expected that I'm gonna having sectio cesaria operation on the same day. Saya dan suami, apalagi. Nggak ada persiapan sama sekali. Tas bersalin masih di rumah. Saya nggak bawa baju atau perlengkapan apapun.

Sekitar 15 menit sebelum masuk ruang operasi, suami udah nyusul ke ruang observasi. Saya genggam erat tangannya. And then, saya langsung digiring ke ruang operasi. Ada rasa waswas dan sedikit takut karena itu untuk pertama kalinya saya dioperasi.

Ruang operasi dingin. Baru sebentar di dalam, badan saya sudah agak menggigil. Suster langsung masang selang dan alat monitor di tangan kanan dan kiri. Nggak lama dokter anestesi dateng. Siap-siap suntik epidural yang kata orang sakitnya minta ampun. Saya udah siap-siap tuh meringis nahan rasa sakit.

Dokternya pun ngasih aba-aba sebelum nyuntik. Tarik napas.. hembuskan.. tarik napas..1..2..3.. Nyesss... Anehnya saya ngga ngerasa sakit sama sekali saat itu. Padahal udah ngebayangin sakitnya aja, heuheu. Kalo dibandingin malah lebih sakit pas masang infus. Kasih jempollah buat dokter anestesinya.

Setelah merasa kebas separo badan, dimulailah operasi. Saya udah setengah nggak sadar, berasa ada di awang-awang, efek bius berasa banget. Dokter pada ngobrol, saya teler. Hehehe. Sempet terlintas di pikiran, kalau ada apa-apa di tengah operasi gimana?

Saat itu saya membatin kalaupun ternyata sudah saatnya berpulang di tengah persalinan, saya siap demi lahirnya buah hati. Ah jadi mellow dan lebay, wkwk. Biarlah. Yang jelas saat itu permintaan saya hanya satu: kalo debay keluar, menangislah dengan kencang dan berharap dia sehat-sehat aja.

Proses sesar nggak lama. Sekitar 15 menit kemudian, debay dikeluarin dokter dan langsung nangis keras. Setelah itu suster nempelin dia di dada saya. Subhanallah akhirnya kita ketemu juga, nak. Rasa haru dan bahagia membuncah. Alhamdulillah.

Setelah itu dia dibawa keluar ruang operasi. Suster manggil suami yang sedang nunggu di depan ruang operasi untuk mengumandangkan azan di telinga buah hati kami. Samar-samar saya mendengar suara suami yang sedang adzan.

Di dalam ruang operasi saya masih teler menunggu jahitan selesai. Walau masih kebas, tarikan jahitan cukup terasa. Proses menjahit lama ternyata ya.. heuheu. Kira-kira 30 menit ada kali. Setelah proses menjahit selesai, saya balik ke ruang observasi. Disana menunggu selama 1 jam, setelah itu baru masuk ruang perawatan.

Saat brankar digiring dari observasi ke ruang perawatan, saya melihat seluruh keluarga dan mertua saya hadir disana. Ternyata mereka sudah menunggu sejak operasi saya dimulai. Saya jadi terharu.. hiks. Padahal saat itu saya baru keluar ruang observasi jam 21.30.

Setelah masuk ruang perawatan, saya masih agak teler. Rasanya bius baru bener-bener hilang saat subuh. Saat itu juga akhirnya saya bisa bertemu dengan debay. Ia tertidur pulas sekali. Nggak bosan saya memandangnya. Alhamdulillah wa syukurillah.

Perjalanan menjadi seorang ibu dan orang tua pun dimulai. Mohon doanya semoga saya dan suami bisa membimbing dan menjaga
amanah dari Allah SWT ini. Sang malaikat kecil kami yang bernama Aisyah. Aamiin...

Hasil USG Week 36
Aisyah 9 days old
Aisyah 12 days old