Monday, 4 January 2016

New Era of Liverpool


I intent to write this post six months ago. The draft was just sitting there, waiting for me to gear up the spirit to write about Liverpool FC. This late post is not because I give up as a LFC supporter, because of their so-so performance last season, or Stevie G's depart from LFC. I am and will always be their loyal supporter. There's a lot of stuff going on the last 6 months. Mostly in 1 month I only can post one blog. I'm really sorry about that. So, without further a do, right now let's talk about LFC, the review of the season and also the newest changes that happened in the last couple of months.

Talking about 2014/2015 season review, LFC ended the season in 6th place. Enough to qualify and play in Europa League, but we're not accomplish our goal to finish in 4th place to qualify for Champions League. Disappointed, for sure. Even more, it was the last season of Stevie G playing for LFC. Our last match against Stoke City was a disaster. But, putting the bad condition aside, there were some improvement in some players.

In 2014/2015 Jordan Henderson suddenly pop out of nowhere. Well, actually he became LFC's player since 2011 under auspices of Kenny Daglish. But, at that time he didn't stand out. As the time goes by, just like a hard-wild stone, he turns into a gem. He train harder, hone his skill and after time he turns out beautifully. Along with Coutinho, he did a really great job last season.

Starting new season 2015/2016, we got new players coming to Anfield. Milner and Firmino become a great and important addition for us. There's also Benteke, Ings, Clyne and Gomez. With Sturridge was in the rehabilitation room for almost all matches last season and Balotelli's underperformances, we were in dire need of strikers. Benteke and Ings are great. I am more optimistic with their presence, rather than with Balotelli's a year before.

We were having a pretty good start this season, even though not great. A lot of ties, which are better than lost. But, in the meantime not enough also. The so-so performances like last season were haunting. Until...LFC's management fired Brendan Rodgers in October, right after LFC had a tie against Everton. I was shocked. I think most of supporters were. Usually LFC made the coach changes before the new season started, so what happened to Rodgers was a shocking news.

To be honest, I had a feeling that Rodgers won't have much time anymore at Anfield. His decision in 2014/2015 transfer window wasn't great. He decided to bring in a bunch of new players to replace Luis Suarez, but nobody had the same quality as Suarez. I think he was stressed to make a great player with well-known name in football coming to Anfield. At the end of transfer window, Rodgers chose Balotelli. The last player that I thought would become LFC's player. I doubted that he would fit in with LFC. And, he did. And, I don't like his attitude off the pitch also. So, talking back about Rodgers' dismissal, I didn't expect it was happening at that time, when we had a tie against Everton. The result wasn't too bad, I guess. If we lost the match, it would've made sense. But, it's a tie.

Nevertheless, the decision has been made. A few days later, the management came out with Jurgen Klopp's signing. I am sooo excited with that signing. I didn't know much about him, but I heard a lot about what he had done in Borussia Dortmund. Klopp managed to overtake Bayern Munich domination in Bundesliga by escorting Dortmund to become a champion, twice. He has a nice track record, and I hope he will get LFC to the top also.

I watched his first interview with LFC TV, and I was surprised by his reaction. When LFC TV presenter, Claire asked him what kind of football style that he want to implement in LFC? Klopp's answer was 'Heavy Metal'. I was stunned. Is he serious? Turns out, that is his style. His charisma and personality is really great. His spirit is infectious. It's hard to dislike him as a person.

Under Klopp's, we had some good starts by winning some matches, and also some ties. But, lately LFC performances is unstable. Knocked over against Crystal Palace, Watford, and West Ham. Actually when Klopp arrived at Anfield, I didn't expect he will make an instant changes with LFC performances. It's not the team that he build from the first place, afterall. He has to make things work from Rodgers's inheritance. So, in my opinion, he has to buy 1-2 players to add LFC squad this January. Besides Premier League, we are still in League Cup, FA Cup and Europa League, so we need more depth in the squad. You can't expect to play the same players in 2 matches in a week over and over again. We really need new players. If it isn't from other clubs, it has to be from the academy. I'm looking forward to see Klopp's movement in January transfer window.

YNWA.

Wednesday, 16 December 2015

Seoul Trip: Lost In Seoul (Day 2)



Hari kedua di Seoul dimulai dengan kembali mengunjungi kawasan Dongdaemun. Orang tua masih belum puas belanja kemarin karena kami datang ketika sudah agak mepet dengan jam tutup operasional pasar. Jadi kemarin itu jam 18.00 beberapa toko sudah tutup, so mau ngga mau kita balik lagi ke sana. Tapi kali ini perjalanan dimulai dengan mengunjungi Dongdaemun Shopping Complex. Pintu masuknya berhubungan dengan pintu keluar stasiun Dongdaemun, Exit 9 kalo ga salah.

Saat memasuki Dongdaemun Shopping Complex di lantai dasar kita akan langsung melihat toko-toko yang menjual selimut, seprai, celemek dapur, lap, tutup dispenser, gorden, dan berbagai bahan kain lainnya. Motifnya lucu-lucu, ada yang Teddy Bear, berbagai jenis buah, sayuran, dan hewan. Di sini nyokap tertarik dengan beragam selimut yang dijual, tapi setelah tau harganya langsung mundur, hahaha. Di Dongdaemun Shopping Complex ini selimutnya emang oke, halus dan sangat lembut, rasanya kalo bergemul di dalam selimut enaaak bangeet (sampe ngebayangin :p). Dengan kualitas yang oke begitu, harganya juga oke doong. Untuk jenis selimut yang tebal dan lembut harganya sampe Rp 1 jutaan, bo. Uhuk. Akhirnya di situ cuma window shopping aja, hehehe.

Di Dongdaemun Shopping Complex ini, kami berencana untuk menjelajahi setiap lantainya. Jadi setelah lantai dasar, lanjut ke lantai 1 dan seterusnya. Namun, akhirnya kita ngga ngelakuin itu juga dan malah skip langsung ke lantai paling atas, karena jumlah liftnya terbatas dan sering penuh, maka kami cuma menyambangi lantai 1-2 dan langsung naik ke lantai 6. Di lantai ini toko-tokonya menjual berbagai aksesoris, mulai dari aksesoris rambut sampe gantungan kunci. Jadi disinilah bokap memborong gantungan kunci buat oleh-oleh. Harganya 3000 Won/pcs. Harga pas, ngga bisa ditawar. Namun, karena bokap membeli banyak (lebih dari 15 pcs), sang penjual pun memberi bonus 2 gantungan kunci.

Spot ini bisa ditemui di dekat Exit 8 Dongdaemun Station.
Berhubung ga sempet ke istana kerajaan Korea, cukuplah dengan foto di situ saja, hehe.


Setelah dari Dongdaemun Shopping Complex, kami menyebrang ke Pyounghwa Market. Bokap ingin mencari beberapa kaus, sementara saya mengincar magnet dan gantungan HP untuk oleh-oleh. Di sana kaus asli made in Korea harganya 10-15 ribu Won, sementara untuk magnet dan gantungan HP masing-masing seharga 8000 Won. Di Pyounghwa ini saya juga membeli beberapa scarf titipan teman, harganya antara 8000-20.000 Won.

Usai berbelanja, saatnya ke Itaewon. Penasaran pengen lihat Masjid Seoul karena pas kemarin ke Itaewon, kami ngga sampe ke masjidnya. Di sana kami juga berencana akan sekalian makan siang. Nah, FYI untuk menuju ke Masjid Seoul di Itaewon ini jalanannya sangat menanjak jadi kami harus beristirahat beberapa kali. Lumayan juga jalannya dari Exit 3 Stasiun Itaewon. Setidaknya jarak dari stasiun Itaewon ke Masjid Seoul ini sekitar 450 meter. Jadi kalau membawa orang tua berusia di atas 60 tahun nyantai aja jalannya, hehehe.


Jalan menuju Masjid Seoul di Itaewon. Di foto ini jalanannya ga keliatan nanjak.
But, trust me, jalanan itu menanjak dan cukup bikin ngos-ngosan.

Sekira 20 menit, sampai juga di Masjid Seoul. Ngga nyangka di sana ketemu dengan beberapa orang Indonesia. Ada yang memang bekerja di sana, ada juga yang ternyata sedang mempersiapkan manasik haji. Agak bingung ketika melihat beberapa orang, yang ternyata satu keluarga, sedang mempersiapkan berangkat haji dari Korsel. Tapi, ternyata bisa loh berangkat haji dari Seoul, meski berkewarganegaraan Indonesia, untuk mengisi kuota haji yang diperoleh Korea Selatan. Nyokap iseng nanya ke mereka soal biayanya, dan ternyata biaya haji Korsel ngga beda jauh dengan haji plus di Indonesia. Yang membedakan adalah masa tunggunya. Kalau haji plus di Indonesia sekarang masa tunggunya bisa sampe 5 tahun, di Korsel langsung berangkat. Kemudian, makanan yang disajikan saat ibadah haji pun pastinya berbeda. Karena ikut rombongan haji Korsel, otomatis makanan yang disediakan di sana pun bukanlah makanan Indonesia. 

Seperti apa Masjid Seoul ini? Pertama-tama saya mau minta maaf dulu karena ngga bisa aplot foto bagian dalam masjid karena dua alasan. Pertama, kamera saku dipegang bokap. Beliau sempet ambil foto bagian dalam masjid sih, tapi ngeblur. Kedua, sebenarnya saya moto bagian dalam masjid memakai kamera HP. Ndilalah, HP saya hilang sebelum saya sempet mindahin foto-fotonya, jadi semua dokumentasi foto yang ada di HP pun wassalam. Heuheu.


Menuju Masjid Seoul, Babe-Emak melipir di pinggiran sudut toko dulu buat ngaso.

Eniwei, di Masjid Seoul ini tempat solat untuk lelaki ada di lantai dasar, sementara untuk kaum wanita solat di lantai paling atas. Kalau untuk yang lelaki sih gampang aja yah nemu tempat solatnya, tapi untuk nemuin ruang solat wanita ini yang agak tricky. Saya diberitahu sama orang Indonesia yang kami temui bahwa untuk para wanita solatnya di atas, dan pintu masuknya berada di dekat kantor pengurus masjid yang ada di sisi kanan masjid. Saat kami masuk sana, iya sih nemu kantor pengurus, tapi ngga keliatan ada tangga sama sekali. Sementara, kantor pengurus lagi kosong. Berulang kali saya menyampaikan salam, tidak ada yang menjawab. Beberapa menit kemudian, Alhamdulillah ketemu bapak-bapak Korea berpakaian rapi (entah pengurus atau pengunjung juga) yang memberitahu lokasi tangga menuju ruang solat wanita.

Oalah, ternyata tangganya nyempil di sebelah kanan loket kantor pengurus. Sumpah, ngga keliatan saking nyempilnya. Di bawah ini kita harus simpan sepatu/sandal. Ada peringatan yang ditempel di anak tangga bahwa kalau sampai membuat kotor karpet di tangga akan dikenai denda 200.000 Won. Hekz. Nah, untuk menuju ruang solat wanita ini butuh perjuangan, setidaknya buat nyokap yang kakinya sedang cedera. Kalau saya tak salah ingat, ruang solat wanita itu ada di lantai 3. Jadi lumayan juga set tangga yang harus ditempuh. Alon-alon asal kelakon, kami sampai juga di atas. Di ruang solat wanita terlihat ada beberapa muslimah yang sedang membaca Al Qur'an. Di sini juga disediakan mukena loh. Dari ruang solat wanita kita juga bisa melihat ke bawah, ke ruangan utama masjid di bawah tempat para lelaki solat.


Masjid Seoul. ALLAHU AKBAR!

Eniwei, setelah meng-qada shalat Zuhur dan Ashar di sana, kami pun langsung turun untuk mencari makan siang. Akhirnya pilihan kami jatuh pada Restoran Siti Sarah yang menyajikan makanan Melayu. Duh, seberapapun jauhnya dari Indonesia, tetep ngga bisa jauh dari makanan Melayu, hahaha. Postingan soal makanan di Restoran Siti Sarah akan diceritakan terpisah ya… Yang jelas setelah perut kenyang, perjalanan berlanjut ke N Seoul Tower (rencananya). 

Untuk menuju N Seoul Tower ini ada beberapa opsi. Bisa naik bis, cable car, atau taksi. Ngga dilewatin jalur subway karena N Seoul Tower terletak di atas bukit. Nah, karena saya penasaran pengen naek cable car ke sana, maka sebelumnya saya harus menuju ke Stasiun Myeong-dong. Dari petunjuk arah yang saya dapat dari Korea Tourism Organization, saya harus keluar di Exit 2 atau Exit 3, lalu jalan kaki sekitar 15 menit dari Pacific Hotel. Untuk memastikan petunjuk ini benar, sebelumnya saya menyambangi Tourist Information Center yang ada di Exit 3 Stasiun Itaewon. Sang petugas sebenarnya menyarankan saya agar naik bis saja, tapi saya keukeuh pengen naik cable car. Akhirnya ia pun mencetak peta jalan menuju stasiun cable car N Seoul Tower dari Stasiun Myeong-dong, dan memberikannya ke saya agar ngga nyasar, hehehe. Oke sekali servis petugasnya. 

Kami pun kembali melanjutkan perjalanan. Keluar dari Exit 3 Stasiun Myeong-dong, saya melihat peta dan langsung dapat menemukan Pacific Hotel. Di sebelah hotel itu ada jalan yang agak lebih kecil, hanya muat dua mobil. Kami pun langsung menuju ke sana. Daaan…ternyata jalanan itu terus menanjak, bo. Saya bener-bener ngga nyangka. Kalau di peta mah ngga keliatan ya kalo ternyata itu jalanan nanjak, makanya saya seriusan kaget ketika jalan terus menanjak. Kalau saya pergi sama teman mungkin akan saya jabanin, tapi ngga mungkin kalau dengan ortu. Di seperempat perjalanan, mereka meminta saya untuk jalan duluan dan mengecek apakah jalan terus menanjak, sementara mereka menunggu di depan coffee shop. Saya berjalan sekira 300 meter dan jalan masih terus naik. Damn! 

Akhirnya saya menyerah. Ngga mungkin buat diterusin. Saya pun mengajak mereka kembali ke Myeong-dong dan melihat di halte terdekat apakah ada bis yang menuju N Seoul Tower. Di sana saya bertanya kepada seorang cewek, namun ternyata dia tidak bisa membantu. Oke, jadi saat itu saya putuskan untuk skip N Seoul Tower saja, berhubung waktu sudah hampir pukul 18.00 dan ortu sudah agak lelah. Mereka pun oke dan kami memutuskan untuk langsung balik ke hostel saja. 

Lesson learned, bagi kalian yang mau naik cable car N Seoul Tower dari arah Pacific Hotel, bersiaplah untuk berjalan menanjak. Saya tahu kalau N Seoul Tower itu ada di atas bukit, sehingga seharusnya sudah bisa menduga kalau jalanan akan menaik. Tapi, asumsi saya ketika itu adalah jalanan menuju cable car ngga akan terlalu menanjak. Kalau nanjaknya hanya 300 meter oke lah, seperti jalanan menuju Masjid Seoul di Itaewon.  Tapi, itu nggak. Akhirnya kami menyerah, hahaha.

Abis kecewa dengan jalanan menuju cable car N Seoul Tower terus beneran langsung pulang? Eits, nggak dong... Kami menyusuri dulu toko-toko yang ada di lorong jalan Exit 3 Stasiun Myeong-dong, hehehe. Toko-toko yang ada di lorong Exit 3 Stasiun Myeong-dong ini bervariasi. Ada toko baju, kaus kaki, tas, aksesoris, sampe toko yang menjual segala macam merchandise artis Korea.

Di sanalah saya kemudian membeli beberapa kaus kaki. Duh, kaus kaki di sana tuh lucu dan imut bangeeettt, rasanya pengen diborong semua, hahaha. Ada berbagai macam motif, mulai dari Minions, Hello Kitty, berbagai jenis hewan, bunga dan motif lainnya. Harganya 1000 Won/pcs. Ada juga daleman sepatu yang tipis seharga 2500 Won. Pokoknya kalau ke Seoul jangan lupalah beli kaus kakinya yang lucu-lucu *Penting* :p.

Seperti ini contoh kaus kaki di Korea. Lucu2 kaaann...
Photo Courtesy of Kaskus

Saturday, 21 November 2015

Seoul Trip: Lost In Seoul (Day 1)



Usai menjalani impulsive trip tahun lalu, tema liburan kali ini Lost In Seoul. Kenapa? Bisa dibilang hampir setiap hari saya nyasar saat keliling-keliling Seoul. Kok bisaaaa??? Bisa lah. Sebagian besar dikarenakan saya salah membaca peta subway Seoul yang njelimet. Eniwei, Pesawat Air Asia yang membawa kami ke Seoul saat itu berangkat tepat waktu. Jam 10 pagi kami pun mendarat di Bandara Incheon. Rasa lega menyemburat. Akhirnya kami menjejakkan kaki juga di negaranya Lee Min Ho :p.

Keluar dari pintu kedatangan, saya langsung mendatangi 7 Eleven untuk membeli kartu T Money, kartu elektronik yang bisa dipakai untuk membayar transportasi dan barang di merchant tertentu. Harga per kartu 2500 Won. Dari hasil browsing sebelumnya, katanya bisa langsung top up T Money di Sevel, tapi ternyata sekarang sudah ngga bisa. Untuk top up harus dilakukan di mesin tiket stasiun.

Akhirnya langsung cuss lah ke Stasiun Incheon. Di depan stasiun ada beberapa mesin berjejer. Awalnya saya rada bingung apakah untuk top up kartu harus di mesin-mesin itu juga. Saya pun nanya ke petugas di loket informasi dan langsung diarahkan di mesin-mesin yang berjejer tadi. Oke, ternyata itu mesin untuk top up kartu dan mesin untuk membeli tiket single trip. Langsung top up 20 ribu won. Urusan T Money selesai, kami langsung masuk ke peron.

Alhamdulillah ngga menunggu lama, keretanya langsung ada dan kami bisa duduk manis di dalam kereta. Perjalanan dari Incheon ke Seoul memakan waktu sekira 1 jam. Selama perjalanan itu saya mencoba mempelajari peta subway Seoul Metro yang njelimet. Jalurnya banyak banget, bo. Bikin lieur lah, pokoknya. Sebelumnya saya memang sudah mencatat jalur subway mana yang harus saya ambil saat kereta bandara ini berhenti di stasiun terakhirnya, Seoul Station. Untuk menuju Limestay Hostel, saya harus ke Seoul Subway Line 1. Ada dua alternatif stasiun tempat kami turun, yaitu Sinseol-dong Station Exit 11 dan Dongmyo Station. Namun, akhirnya saya memilih untuk turun di Sinseol-dong Station karena jaraknya lebih dekat dengan hostel dibanding Dongmyo. 

Saat kereta sudah berhenti di Seoul Station, kami langsung mencari petunjuk arah. Daaan…di sinilah kebodohan saya dimulai. Entah kenapa saat itu saya mengira kereta bandara itu adalah Line 1 yang terputus. Hah, maksudnya? Iya, jadinya saat itu saya mikir berarti harus cari Line sambungannya, cari kereta yang melewati Sinseol-dong (padahal Line kereta bandara dan Line 1 itu beda. Duh). Dan, entah kenapa saat itu di pikiran saya yang terlintas adalah kami harus menuju ke Line 4. FYI, Line Subway di Seoul selain dibedakan dari nomor, juga dibedakan dengan warna. Naah, Line 4 itu berwarna biru muda, hampir serupa dengan warna Line 1 yang juga biru, tapi biru tua. Jadi sepertinya saat itu saya salah melihat warna dan membaca peta Subway. Mengira Line 4 adalah sambungan Line 1 dari bandara tadi.

Terdampar nyasar

Baru nyadar salah ketika nama stasiun yang dilewati tidak sesuai dengan nama-nama stasiun yang sudah saya catat untuk menuju ke hostel. “Mati! Gw nyasar!,” kata saya dalam hati. Akhirnya dengan muka mesem, saya bilang ke ortu kalau kita nyasar dan harus keluar kereta. Di Stasiun Chungmuro akhirnya kami keluar dan kembali berusaha menuju arah sebaliknya. Di peron stasiun itu saya kembali meneliti peta subwaynya lagi dan berusaha mencari petugas stasiun yang bisa ditanyai. Namun, setelah saya berkeliling ngga ada sama sekali petugas stasiun yang terlihat. Ada sih tombol bantuan untuk informasi, tapi di sana ngga dijelaskan petunjuk-petunjuknya. Jadi ragu.

Bokap sudah mendesak berkali-kali supaya nanya ke orang yang lewat. Namun, saat itu yang ditanya tidak bisa bahasa Inggris. Hadeuh…perjalanan menuju ke hostel itu sangat menguras fisik dan psikis. Saya yang kalo nyasar berusaha tenang untuk mencari jalan keluar, kali ini ngga bisa begitu. Mungkin karena bokap juga capek dan pengen cepet sampe hostel, jadi beliau terus mendesak saya, sehingga saya tidak bisa berpikir tenang untuk membaca peta. Saya pun sudah berusaha bertanya, namun karena yang saya tanyai saat itu juga tidak ada yang bisa berbahasa Inggris, juga membuat saya makin stres.

Akhirnya setelah terdampar hampir 20 menit di peron, saya memutuskan kami memang harus kembali ke Seoul Station dan mencari Line 1. Dengan segambreng koper dan mendorong nyokap di kursi roda, kembalilah kami ke Seoul Station. Jarak antara Line 1 dan Line 4 di Seoul Station cukup jauh. Dengan sisa tenaga yang ada akhirnya sampailah kami ke Seoul Station. Saya kembali membaca peta untuk melihat kami berada di Line yang benar. Untuk menuju Sinseol-dong, kami harus berada di Line 1 yang menuju Uljeongbu-bukbu.

Namun, saat itu lagi-lagi salah menunggu di peron. Iya kami memang berada di peron Line 1, tapi ternyata itu yang menuju arah berlawanan. Yah..salah lihat petunjuk arah lagi deh. Padahal udah seneng nemu Line 1. Mungkin karena saking senengnya, saya pun jadi ngga memperhatikan. Jadinya kami harus gotong barang bawaan lagi menuju ke sebrang peron Line 1 yang menuju Sinseol-dong. FYI, kalau salah peron di Seoul subway bisa sangat fatal, karena peron Line yang sama tidak selalu bersebelahan. Kalau bersebelahan kan gampang ya, tinggal geser aja ke peron sisi lain. Nah, ketika itu untuk menuju peron lainnya di Line 1 harus naik tangga lagi untuk menyebrang ke sisi lain.

Setelah hampir dua jam nyasar, Alhamdulillah akhirnya sampai juga di Sinseol-dong Station. Sekeluarnya dari kereta, kami langsung mencari lift (berhubung nyokap di kursi roda). Tapi, ternyata oh ternyata, pintu keluar yang ada lift itu adalah Exit 3. Sementara, Exit 11 (pintu keluar dekat hostel) ada di arah sebaliknya. Saat itu saya mengira lift akan menyambung dengan semua pintu keluar, tapi ternyata tidak begitu. Jadi saat keluar dari lift, langsung berhadapan dengan Exit 3, 4, 5 (kalo ga salah). Akhirnya memutuskan untuk keluar saja di Exit 3, dengan harapan jaraknya tidak akan terlalu jauh dari hostel.

Pas keluar dari stasiun, saya kembali bertanya ke orang yang lewat. Alhamdulillah, cewek Korea yang saya tanyakan mengerti bahasa Inggris. Namun, sayangnya dia tidak tahu arah hostel. Selanjutnya, saya berhentikan dua orang cowok yang kira-kira masih usia anak SMA. Alhamdulillah mereka bisa bahasa Inggris dan bersedia membantu, bahkan menanyakan nomor telpon hostel agar mereka bisa menelpon dan bertanya petunjuk arah kepada karyawan hostel. Duuh…baik sekali mereka ini. Dan, ternyata mereka tidak hanya sekedar nelponin orang hostel, tapi juga bersedia mengantarkan kami sampai ke hostel karena jaraknya yang cukup jauh dari Exit 3.

Alhamdulillah saya dipertemukan dengan dua orang nan baik hati itu, jadi drama nyasar ngga berlanjut. Karena, ternyata memang benar jarak hostel ke Exit 3 jauh. Menyebrangi 2-3 lampu lalu lintas. Kalau saya sendirian membaca peta dan ngga nanya ke orang, sudah pasti nyasar 100%. Karena saking jauhnya, bokap dan nyokap pun menyerah dan meminta saya untuk duluan ke hostel, sementara mereka menunggu di pojokan trotoar. Nanti setelah saya check-in, saya akan kembali menjemput mereka.

 Sesampainya di hostel, saya merasa sangaaat lega. Perjalanan bandara-hostel yang saya perkirakan 2 jam, molor menjadi 4 jam. Ya sudahlah. Yang penting istirahat saja dulu. Sudah nggak kepikiran untuk memenuhi itinerary yang sudah saya buat. Kami istirahat sekira 2 jam. Itu berarti sudah jam 4 sore dan ngga mungkin untuk pergi ke Deoksugung Palace karena pasti ketika kami sampai sana Palace-nya sudah tutup. Akhirnya saya memutuskan untuk ke Dongdaemun Market saja, mencari oleh-oleh.

Dari Sinseol-dong Station ke Dongdaemun hanya berjarak dua stasiun dengan waktu tempuh kurang dari 10 menit. Sesampainya di Dongdaemun Station saya kembali bertanya, kali ini ke bapak-bapak yang sedang duduk dekat kios, pintu keluar mana untuk menuju Dongdaemun Market karena ada dua Exit yang menunjukkan arah pasar tersebut, Exit 8 dan Exit 9. Beliau menunjukkan ke arah Exit 8 and so there we go.

Exit 8 berada tepat di sebelah Hotel Marriott Dongdaemun. Kami pun langsung menuju ke Pyounghwa Market karena saat keluar dari Exit 8 langsung berhadapan dengan deretan kios itu yang berada di sebrang jalan. Dalam hati saya meragukan Pyounghwa bukanlah Dongdaemun Market tujuan kami, walau berada di kawasan Dongdaemun. Namun, karena ortu sudah excited banget melihat kota Seoul (di luar dari kacamata ketika nyasar), dan pengen melihat ke Pyounghwa, jadilah kami ke sana.

Dok. Flickr
Di dalam Pyounghwa kami hanya berkeliling di lantai dasar saja. Sesuai namanya yang tertera di depan pertokoan Pyounghwa Clothing Market, maka barang yang dijual di sana kebanyakan adalah baju, celana dan beragam aksesorisnya seperti topi, syal, kaos kaki, tas, sampai dompet. Ada juga yang jual suvenir, tapi hanya ada dua kios. Di hari itu, saya hanya membeli kaos kaki (1000 Won) untuk keponakan saya yang berusia 2 tahun. Sementara, bapak membeli tas kecil selempang (12000 Won, harga nawar dari awalnya seharga 15000 Won). Oh ya, kios di Pyoung Hwa ini tidak semua barangnya bisa ditawar ya. Tapi, kalau ada yang bisa ditawar, ya ditawar aja, asal jangan terlalu sadis nawarnya, hehehe.

Setelah hampir 1 jam mengelilingi Pyoung Hwa kami keluar dan menyebrang jalan lagi menuju ke kios-kios pinggir jalan. Nah, saat menyebrangi jalan di jembatan ini saya melihat ternyata di bawah kami ada sungai yang tertata rapi dan berair jernih, dengan jalur pejalan kaki bersisian di pinggir sungai. Dan, jadi bertanya-tanya apakah itu masih bagian dari Cheonggyecheon Stream, yang menjadi tujuan wisata saya di itinerary. Dalam foto-foto wisatawan yang saya lihat berkunjung ke Cheonggyecheon Stream memang agak berbeda karena biasanya yang menjadi spot foto Cheonggyecheon Stream itu aliran sungainya lebih luas dan ada air terjun kecilnya. Sementara, sungai yang saya lewati itu berukuran lebih kecil, tapi di bagian samping sungai ada jalur pejalan kaki yang serupa dengan foto-foto Cheonggyecheon Stream yang pernah saya lihat. Jadi, entahlah itu Cheonggyecheon Stream atau bukan, yang jelas saya kagum dengan tertatanya sungai itu. Bersih dan sangat nyaman untuk pejalan kaki.

Eniwei, saat kami berada di sebrang dari Pyounghwa, berjejerlah kios-kios pinggir jalan yang menjual berbagai macam cemilan Korea. Yang saya tau sih cuma Topokki sama kimchi, sisanya ngga tau namanya, hehehe. Kemudian, kami pun berbelok ke gang kecil yang ternyata banyak restoran menjual ikan dan makanan laut lainnya. Yang terlihat kasat mata sih berbagai jenis ikan yang dibakar di depan kios. Melihat kami yang muslim, penjual-penjual yang di sana pun berupaya membujuk kami untuk makan di sana. Agak tertarik sebenernya buat makan di sana, karena toh itu makanan laut yang terbilang aman untuk disantap oleh kami. Bukan daging sembelihan yang diragukan kehalalannya. Tapi karena kami merasa kurang yakin dan sreg dengan suasana di sana, akhirnya kami berbalik dan kembali ke jalan utama. Memutuskan untuk makan di Itaewon saja. Wilayah yang menyediakan banyak pilihan makanan halal.

Dari Dongdaemun Station ke Itaewon, yang berada di Line 6, mengharuskan kami transit dulu di Seoul Station baru menuju ke Line 6. Keluar di Itaewon Station Exit 3, pintu keluar yang saya catat untuk menuju ke Mesjid Seoul. Keluar dari lift Exit 3 akan bertemu dengan persimpangan lalu lintas. Walau sudah mencatat arah petunjuk ke Mesjid Seoul dari Exit 3, saya memilih untuk kembali bertanya arah ke seseorang bertampang Arab, yang sedang berdiri di pinggir jalan. Alhamdulillah, petunjuk arah orang itu sangat jelas, sehingga kami ngga nyasar lagi.

Itaewon dikenal sebagai wilayah ekspatriat, jadi jangan heran kalau di sana banyak sekali orang asing berseliweran. Yang saya suka juga di Itaewon adalah banyaknya pilihan restoran halal, jadi cari makan pun banyak pilihannya. Sepanjang jalan menuju Masjid Seoul, banyak banget deh restoran atau kios yang menjajakan makanan halal. Kebanyakan sih makanan Timur Tengah, Turki, dan India, tapi ada juga restoran makanan Korea yang halal. Nah, review soal restoran halal di Korea yang saya sambangi pada trip kali ini akan diposting terpisah ya.

Yang jelas usai makan malam di Itaewon ini, selesai pulalah trip hari pertama kami di Seoul. Memang tidak banyak tempat yang dikunjungi, tapi usai drama nyasar di awal kedatangan kami, kami merasa cukup senang dengan sisa hari yang terlewati.