Showing posts with label europe on screen. Show all posts
Showing posts with label europe on screen. Show all posts

Friday, 21 August 2015

Europe On Screen 2015: A Review

Review ini udah late post banget sebenernya. Tapi, ya sudahlah ya... Sebenarnya saya agak ketinggalan ngikutin Europe On Screen 2015 ini. Baru keinget untuk nonton di pekan kedua, which means it was the final week *sigh*. Tapi nggak masalah deh ya, yang penting masih bisa sempet nonton. Walaupun hanya menonton di minggu terakhir pemutaran film, saya berhasil nonton delapan film. Lumayan, kaaann...hehehe.


Day 1
12.00 WIB - Ploddy The Police Car On The Case
Venue: Institut Francais Thamrin
Best Children Film, Amanda Awards (Norway's Academy Award) 2013

Film ini mengisahkan sebuah mobil polisi lincah bernama Ploddy yang bertugas menjaga burung elang simbol kebanggaan Eagle Park. Insiden terjadi ketika induk elang ditangkap oleh seorang pencuri hewan langka. Ploddy pun mengurus anak sang elang yang tertinggal. Dari sisi ceritanya film ini sederhana, namun warna yang digunakan cerah sehingga membuat anak-anak yang menonton betah.

14.30 WIB - On The Way to School
Venue : London School of Public Relations
Best Documentary, Cesar Awards 2014

Empat orang anak yang tinggal di negara berbeda menempuh jalan yang tak mudah demi menuntut ilmu menuju sekolahnya. Bayangkan saja Zahira yang berasal dari Maroko membutuhkan waktu 4 jam untuk berjalan kaki dari rumah menuju sekolahnya. Melintasi Pegunungan Atlas yang medannya lumayan menantang untuk dilalui. Sementara di Argentina, Carlito harus menunggang kuda bersama adiknya dari rumahnya yang terpencil. Rintangan berbeda dihadapi Jackson di Kenya yang tak hanya harus menempuh waktu 2 jam berjalan kaki ke rumahnya, tapi juga harus selalu waspada terhadap kawanan gajah hingga singa karena harus melewati savana setiap hari di rutenya menuju sekolah. Perjuangan untuk menuju sekolah juga digambarkan melalui kisah Samuel dan dua saudaranya yang berasal dari India. Yang bikin salut adalah kukuhnya semangat Samuel yang disabilitas untuk pergi ke sekolah dengan kursi roda, yang didorong oleh dua saudaranya yang hebat. Saya kagum akan perjalanan setiap anak-anak itu. Lewat film ini akan terlihat perjuangan anak-anak untuk bisa pergi ke sekolah demi mengubah masa depannya menjadi lebih baik. Ada angan dan harapan yang terselip di sana. Saya pun jadi teringat kondisi mereka tak berbeda jauh dengan anak-anak yang tinggal di pelosok Indonesia.


17.00 WIB - European Short Animation Films by Haff
Venue : Erasmus Huis
Film pendek animasi yang ditayangkan ini disusun oleh The Holland Animation Film Festival (HAFF), sebuah festival film animasi internasional yang digelar setiap musim semi di Belanda. Jadi karya-karya sejumlah sineas dunia ini telah melalui screening panitia HAFF. Dari sekian banyak film pendek animasi yang ditayangkan, saya suka dengan karya Job, Joris dan Marieke yang ditayangkan saat awal (A Single Life) dan akhir seri film (Bon Voyage!). Ceritanya simpel, dan mudah dipahami. Oh ya, di akhir film ini ada juga salah satu kurator animasi yang hadir untuk menjelaskan proses penyeleksian film.

19.30 WIB - 100 Year-Old Man Who Climbed A Window and Disappeared
Venue : Erasmus Huis
Audience Award Guldbagge International Film Festival 2014, Audience Award Chicago International Film Festival 2014, Audience Choice Award Durban International Film Festival 2014


Judulnya yang menarik membuat saya penasaran menonton film ini. Ternyata film ini merupakan hasil adaptasi dari novel karya penulis Swedia, Jonas Jonasson dari judul yang sama. Menonton film ini pasti akan membuat Anda terbahak-bahak. Saat melihat film ini mungkin Anda akan berpikir kalau pemeran utama sangat beruntung bisa melalui segala peristiwa yang terjadi tanpa terluka sedikit pun. Keberuntungan yang membuat penonton geleng kepala. Dan, memang ternyata itulah ciri khas dari Jonasson. Dalam novel lain karyanya yang berjudul A Girl Who Saved King of Sweden pun ceritanya punya nuansa slenge’an keberuntungan yang sama. Jadi, hilang kemana si kakek berusia 100 tahun itu? Petualangan menarik apa saja yang dialaminya? Nonton aja film ini. Seru!


Day 2
12.00 WIB - Moon Man
Venue : Institut Francais Thamrin
Special Mention Reykjavik International Film Festival 2011
Alkisah ada seorang Manusia Bulan yang merasa bosan dengan kehidupannya di atas sana dan selalu penasaran mengenai kehidupan di bumi. Saat ada komet menuju bumi, ia pun menggantungkan tangannya di ekor komet agar bisa sampai ke daratan bumi. Saat itulah ia memulai petualangannya di bumi. Di sini ia pun bertemu dengan sejumlah anak-anak yang ternyata merindukan kehadirannya di bulan. Kendati pada awalnya Der Mondmann menyenangi masanya di bumi, ia merasa kesepian dan ingin kembali ke bulan, apalagi ternyata anak-anak merindukan kehadirannya di bulan yang setiap malam selalu menemani mereka saat tidur dan memandang ke seluruh anak-anak di bumi. Di waktu bersamaan sang Presiden yang ambisius dan serakah memiliki keinginan untuk menaklukkan bulan dan menguasainya. Untuk mewujudkan hal tersebut, Presiden meminta bantuan ilmuwan Bunsen van der Dunkel untuk membuat sebuah roket ke bulan. Der Mondmann pun melihat kesempatan itu sebagai pintu keluarnya untuk kembali ke bulan. Berhasilkah ia?

14.30 WIB - Citizenfour
Venue : Erasmus Huis
Best Documentary Academy Awards 2015, Best Documentary BAFTA 2015
Kisah Edward Snowden yang dituduh sebagai pengkhianat oleh pemerintah USA karena membocorkan rahasia negara ini dikemas dalam bentuk film dokumenter. Film ini dimulai ketika sang sutradara, Laura Poitras menerima email misterius dari CITIZENFOUR, yang mengaku memiliki bukti tentang program pengawasan ilegal oleh agen keamanan nasional Amerika (NSA) dengan agen intelejensi dunia lainnya. Bertemulah kemudian mereka di Hong Kong. Dari sebuah kamar hotel di Hong Kong itulah, Snowden mengungkap kebobrokan pengawasan ilegal oleh NSA. Wawancaranya berlangsung selama beberapa hari. Ada pula bagian film yang memotret wawancara Snowden dengan sebuah media Inggris. Di film dokumenter inilah penonton dapat mengetahui bagaimana proses dibalik layar dari segala keputusan Snowden, mulai dari bagaimana ia sangat berhati-hati mengenai identitasnya, hingga membuka diri mengenai dirinya.


17.00 WIB - Shores of Hope
Venue : Erasmus Huis
Best Cinematography Nominee German Film Critics Association Awards 2013
Best Leading Actor Nominee German Screen Actors Awards 2013
Film berlatar belakang era 80-an ini mengisahkan dua pria yang bekerja di perusahaan perkapalan di Jerman Timur dan berusaha untuk menjadi anak buah kapal agar dapat melihat dunia di balik Tembok Berlin. Perjalanan yang dipenuhi dengan drama ini sarat dengan intrik dan membuat penasaran ending dari filmnya. Tak hanya mengenai persahabatan Andi dan Cornelis, tapi juga soal kelanjutan kisah cinta Cornelis dengan seorang wanita Vietnam yang berupaya untuk menyebrang ke Jerman Barat demi kehidupan yang lebih baik.


19.30 WIB - Life’s A Breeze
Venue : Erasmus Huis
Outstanding Foreign Film Newport Beach Film Festival 2014
Film yang dikategorikan sebagai drama komedi ini didapuk sebagai film penutup Europe on Screen 2015 di Erasmus Huis. Tapi jujur saja filmnya kurang greget dibanding 100 Years-Old-Man Who Climbed A Window and Disappeared. Penutupan EOS tahun ini pun, menurut saya, jadi terasa agak hambar. Life’s A Breeze bercerita soal seorang nenek yang dipanggil Nan, yang menyimpan sejumlah besar uang di dalam kasurnya, namun kasur tersebut dibuang oleh anaknya yang merenovasi seluruh rumah Nan. Awalnya tak ada yang percaya cerita sang nenek dan menganggapnya hanya bercanda. Namun Nan yang selalu menunjukkan mimik serius saat bercerita akhirnya membuat anak-anaknya percaya.

Penelusuran keberadaan kasur itu pun dimulai. Awalnya hanya anggota keluarga itu saja yang tahu. Sampai salah satu diantara mereka keceplosan berbicara di radio. Tak ayal kemudian banyak orang yang ikut mencari kasur tersebut. Di sini dapat dilihat berbagai motif orang-orang yang membantu mencari kasur. Ada yang egois dan ingin mengambil seluruh uangnya jika menemukannya, ada pula yang ingin mengembalikan seluruh uang si nenek. Anak-anak Nan pun turut berubah sikapnya saat mengetahui simpanan yang dimiliki ibunya. Lalu apakah Nan akhirnya berhasil menemukan uang hasil simpanannya selama bertahun-tahun? Nonton saja filmnya. Masa saya ngasih spoiler endingnya :p. Yang jelas di sini saya kasian aja sama Nan yang seolah baru dapat perhatian penuh dari anaknya gara-gara ia punya uang berjumlah besar, padahal sebelumnya tak terlalu diacuhkan.

Saturday, 17 May 2014

Europe On Screen 2014 - Extended Version

Europe On Screen (EOS) 2014 akhirnya usai pekan lalu. Ada sejumlah catatan menarik saat saya berkesempatan untuk turut serta menjadi penonton di tahun ini. EOS adalah acara nonton film gratisan terbaru yang saya ikuti, setelah lebih dari 5 tahun saya ngga ngikutin acara seperti ini. Dulu saat saya masih kuliah (lupa tahun berapa), saya sempat rajin ngikutin Jakarta International Film Festival (Jiffest). Tapi kesibukan skripsi dan bekerja setelahnya, membuat saya ga update lagi soal acara-acara begituan. Makanya, pas liat iklan EOS di salah satu majalah, saya langsung excited banget.

Total ada 13 film yang saya tonton di EOS 2014 dari puluhan film yang ditayangkan (seluruh film yang saya tonton sudah diposting sebelumnya). Beda dengan masa kuliah dulu yang waktunya lebih fleksibel, pada kesempatan kali ini saya memang cuma bisa nonton pas weekend. Di waktu itulah saya bisa nonton sepuasnya dari siang sampai malam. Sampai, adek saya terkaget-kaget. Saya sih ngeresponnya cuma: Ya..kapan lagi? Lagian juga gratis inih, hehehe.

Di EOS 2014 saya hanya memilih film-film yang diputar di Erasmus Huis dan Goethe Haus. Kenapa? Karena mereka bisa menampung hingga lebih dari 300 seats. Beda dengan venue lainnya, seperti Istituto Italiano di Cultura dan Institut Francais Indonesia yang hanya 100 seats. Jadi...dengan menonton di Erasmus dan Goethe akan punya lebih banyak peluang dalam mendapatkan tiket :p. Sementara, untuk perbandingan dua venue itu ada beberapa spot yang patut diperhatikan ketika memutuskan untuk menonton di Erasmus atau Goethe.


Venue Erasmus Huis
Mari kita bahas Erasmus dulu. Erasmus terletak di Kuningan, pas sebelahan dengan kantor kedubesnya. Buat yang les bahasa Belanda bisa daftar kesini juga. Di dalamnya ada beberapa fasilitas, seperti kafe sampai musola. Untuk musola, saya lebih suka yang ada di Erasmus sini karena lebih luas dan nyaman dibanding Goethe. Lokasi musola ada di bagian belakang. Nah, untuk auditoriumnya terletak di lantai 2. Auditoriumnya cukup luas dengan sebagian besar kursi ditempatkan di bagian tengah. Ada juga kursi yang ditempatkan di sisi kanan dan kiri layar, tapi kurang pewe buat nonton sebenarnya. Untuk spot nonton di Erasmus yang paling enak adalah di kursi paling depan. Mungkin ada yang bertanya-tanya: bukannya kalo nonton paling depan leher akan pegal? Tidak, kalo anda hanya seseorang dengan tinggi 150 cm :p. Desain auditorium Erasmus bukanlah laiknya seperti di bioskop yang berundak, tetapi rata dari belakang sampai depan. Makanya, kalau duduk di bagian tengah hampir pasti kamu akan kesulitan melihat layar di depan karena ketutupan orang. Yang ada badan akan bergeser ke kiri dan kanan demi melihat layar. Daripada pegel seluruh badan, mending leher aja yang pegal. Hehehe.


Venue di Goethe Haus
Sementara, venue di Goethe didesain berundak. Ini yang membuatnya lebih enak buat dijadiin tempat nonton. Ruangan tempat duduknya dibagi tiga, di bagian atas, tengah dan bawah. Tapi ada satu spot nonton paling enak di sana, yaitu di bagian tengah venue, di kursi atas. Jarak layar-tempat duduk dan ketinggiannya pas.  Ngga heran setiap pemutaran film pasti bagian tengah yang penuh duluan. Mau ga mau emang harus nungguin pas di depan pintu masuk biar dapet antrian paling depan dan bisa duduk di spot itu.
Tempat nongkrong yang asik di Goethe

Eniwei, sebagai persiapan saya sebelum berangkat nonton biasanya adalah membeli sebotol air mineral dan roti di minimarket sebagai bekal. Berhubung di dalam auditorium ga boleh makan-minum, maka saya melakukannya di sela-sela pemutaran film berikutnya. Baik di Erasmus maupun Goethe punya tempat asik buat nongkrong sembari menunggu film.

Nah ada hal yang menarik di hari pertama nonton di Erasmus, sebelum pemutaran Walesa: Man of Hope, pas saya naik ke lantai 2 untuk masuk ke auditorium, ternyata di ruangan sebelah auditorium ada acara makan-makan. Bukan jenis makanan berat sih, tapi hanya sekedar snack saja. Saya mengira akan menemukan risol, kue sus, atau lemper gitu ya pas masuk ke dalem. Eh ternyata pas dilihat lebih dekat jenis snack-nya ala Barat. Ngga tau deh apa namanya.


(Kiri) Deretan snack ala Barat;
(Kanan) Pos minuman: Jus jeruk, jus jambu dan wine
Saya cuma mencicip satu jenis snack, potongan french bread dengan topping mashed avocado dan dua buah udang rebus. Rasanya aneh, hambar. Jadi kangen sama sosis solo, serabi dan aneka jenis jajanan pasar lainnya :p. Yang ga biasa juga adalah mereka juga menyediakan wine. Untungnya ada pilihan jus jeruk sama jus jambu, kalo ga ya seret aja deh itu tenggorokan :D. Saya ngga tau kenapa saat itu ada jamuan snack, tapi dugaan saya adalah itu salah satu compliment dari Kedubes Polandia sebelum nonton film Walesa. Soalnya selain itu, belum ada jamuan lagi selama pemutaran film kecuali pas penutupan acara.


Antrian di Erasmus untuk nonton Philomena
Lalu bagaimana antrian selama EOS 2014? Di minggu pertama bisa dibilang ga ada antrian panjang. Paling cuma 5-10 orang yang ngantri lalu dapet tiket. Tapi, di minggu terakhir EOS 2014 antriannya bagai ular naga panjangnya. Mungkin karena itu minggu terakhir dan film yang diputer kebetulan juga bagus, jadi kayak begitu. Misalnya pas mo nonton Delicacy sama Philomena. Udah jadi kebiasaan para penonton (termasuk saya), kalo mau lanjut nonton film berikutnya, maka selesai nonton satu film pasti akan langsung lari ke bawah buat antri tiket lagi. Nah, ga disangka selesai nonton Searching For Sugar Man, pas saya lari ke bawah buat antri tiket Delicacy, udah ada lebih dari 100 orang yang antri disana. Malah, pas selesai nonton Delicacy dan antri untuk tiket Philomena, antriannya udah panjang banget, lebih dari 200 orang kayaknya.


Editor Final Cuts - Ladies & Gentlemen, Nora Richter (sebelah kiri)
Yang membuat EOS menarik juga hadirnya sejumlah pembuat film. Saya berkesempatan bertemu dengan salah satu editor Final Cuts - Ladies & Gentlemen -, Nora Richter. Dia adalah salah satu dari empat editor yang bekerja selama tiga tahun untuk membuat film itu. Tahun pertama dihabiskan hanya untuk menyortir film-film yang akan dimasukkan ke film ini. Proses penyortiran film, adegan dan editing pun melalui ribuan jam diskusi, berpak-pak rokok dan ribuan cangkir kopi. Nora juga membicarakan soal hak cipta dari film ini. Berhubung menyangkut hak cipta lebih dari 500 film maka Final Cuts tidak bisa ditayangkan di bioskop untuk keperluan komersial. Film ini hanya boleh ditayangkan di festival film yang non komersial, for educational purpose only. Namun hingga sekarang tim pembuat film Final Cuts sedang terus berusaha untuk mendapatkan  ijin dari production house agar ke depannya film ini bisa tayang di bioskop. Saya merasa beruntung bisa melihat film ini :)


Friday, 16 May 2014

Europe On Screen 2014 - 2nd Weekend -

Di Europe On Screen (EOS) minggu ke dua, saya menonton enam film. Empat film di hari Sabtu (10/5) dan dua film di hari Minggu (11/5). Kembali, di hari Sabtu saya ngendon di Erasmus Huis dari jam 12 siang sampe 9 malam, lalu di hari Minggu ke Goethe Haus. Film yang saya tonton di Erasmus adalah The Magician, Searching For A Sugar Man, Delicacy dan Philomena. Sementara, di Goethe saya nonton Wadjda dan Love Is All You Need. So, here's the review...

1. The Magician
Won Politiken Audience Award; Audience Golden Film Award 2011
Won Best Buster Award at Buster International Children's Film Festival
Film anak-anak produksi Belanda ini menceritakan kisah seorang anak bernama Ben Stikker yang berkeinginan menjadi pesulap. Bersama ayahnya, ia pun mulai belajar di sebuah sekolah sulap. Setelah beberapa lama mempelajari trik sulap, Ben dan ayahnya mulai berani melakukan pertunjukan, dibantu oleh teman sekolah Ben, bernama Sylvie yang berperan sebagai asisten. Sylvie disini adalah seorang anak perempuan lincah dan berasal dari keluarga broken home. Ibunya yang sibuk membuat Sylvie merasa kurang diperhatikan. Walau ia dilimpahi dengan materi yang cukup, tapi itu tak membuatnya bahagia.
Inti ceritanya dimulai ketika ayahnya Ben melakukan trik sulap menghilangkan orang. Itu loh yang asisten pesulap biasanya masuk ke dalam sebuah boks, lalu tiba-tiba menghilang, terus beberapa menit kemudian ada lagi di dalam boks. Naah...saat melakukan trik ini, ternyata Sylvie ngga kembali lagi. Kebingungan, keluarga Stikker harus menghadapi kenyataan bahwa mereka telah menghilangkan anak orang.  Mungkin dari sini bisa ditebak, kenapa Sylvie bisa menghilang. Silver lining dari film ini adalah seberapapun sibuknya orangtua, hendaknya bisa selalu memperhatikan dan memberikan waktu berkualitas pada buah hatinya.

2. Searching For Sugar Man
Won Best Documentary Features at Oscar 2013
Won Special Jury Prize for World Cinema Documentary at
Sundance Film Festival 2012
Menceritakan perjalanan karya seorang penyanyi asal Amerika Serikat bernama Rodriguez, yang tidak terkenal di negara asalnya, tetapi menjadi inspirasi bagi perjuangan Apartheid di Afrika Selatan. Seorang lelaki bernama Rodriguez mengeluarkan sebuah album di akhir tahun 1960-an dengan didukung oleh produser yang pernah bekerja sama dengan Stevie Wonder dan Marvin Gaye, tetapi sayangnya albumnya tidak laku di pasaran. Namun entah bagaimana awal mulanya, rekaman bajakan album Rodriguez sampai ke Afrika Selatan dan menjadi hits di sana. Karya-karyanya dinilai sebagai suara perjuangan masyarakat melawan Apartheid. Saking hitsnya dengan perkiraan penjualan album mencapai ratusan ribu kopi, sejumlah pemilik label rekaman dan fans di Afsel bahkan menganggap Rodriguez lebih besar dari Elvis Presley dan The Rolling Stones. Kendati lagu-lagu Rodriguez begitu terkenal dan menjadi inspirasi banyak orang di Afsel, tidak banyak informasi yang beredar soal dirinya. Saat orang Afsel menanyakan kepada warga Amrik soal Rodriguez, orang-orang Amrik pun tidak ada yang mengenalnya. Itulah yang menjadi latar belakang pembuatan film dokumenter ini: mencari jejak Rodriguez. Saat menonton film ini saya benar-benar kagum bagaimana musik bisa menginspirasi banyak orang, terutama dalam melawan Apartheid.

3. Delicacy
Won Prix Aquitaine for Best Actor at Sariat International Cinema Festival
Best FIrst Film & Best Adapted Screenplay Nominee at Cesar Awards
Delicacy is HILARIOUS! Truly. Aktris Prancis, Audrey Tatou menjadi magnet tersendiri saat memutuskan menonton Delicacy. Namun alur cerita film komedi romantis ini secara keseluruhan yang membuatnya layak untuk ditonton. Film ini mengisahkan perjalanan hidup Nathalie (Tatou), seorang wanita karir sukses. Sejak suaminya meninggal, Nathalie menjadikan pekerjaan sebagai pelariannya. Ngga tertarik sedikit pun untuk menjalin hubungan lagi dengan pria lain. Big boss yang mendekatinya pun ditolak mentah-mentah. Namun, film ini menjadi sangat menarik untuk ditonton, ketika Nathalie tiba-tiba begitu saja mencium bawahannya, Markus, secara tidak sadar. Markus ini adalah seorang pria tinggi besar yang kikuk dan setengah botak, pokoknya bukanlah tipe orang yang mungkin akan membuat para wanita melihatnya dua kali saat berpapasan di jalan. Ini sangat bertolak belakang dengan Nathalie yang charming. Naah, ciuman dari Nathalie itu sangat membekas di benak Markus. Saat akhirnya Markus menghadapi Nathalie untuk menanyakan alasannya, Nathalie mengatakan kalau ia khilaf, meminta maaf atas perbuatannya, dan meminta Markus untuk bersikap profesional. Namun Markus tidak bisa melupakannya begitu saja dan nekat mengajak Nathalie untuk nge-date sekali saja. Dan..disitulah mulai terlihat kepribadian Markus yang ternyata baik dan polos. Even though maybe other person underestimated him on physically thing, he's actually a warm-hearted, gentleman, and funny person. Itulah yang membuat Nathalie akhirnya jatuh cinta pada Markus, walau banyak orang yang tidak mempercayainya. Sejumlah scene di sini juga lucu banget. Markus has a really good sense of humor. Film ini menjadi film terlucu yang saya tonton selama perhelatan EOS 2014, dan berhasil membuat 'geerrrrr' satu auditorium Erasmus :D

4. Philomena
Won Best Adapted Screenplay at BAFTA Film Awards
Best Picture, Best Actress Nominee at Oscar 2014
Akhirnya bisa nonton film ini juga setelah melewatkannya minggu lalu. Film ini menceritakan perjalanan seorang wanita bernama Philomena yang mencari anak lelakinya yang telah dipisahkan darinya sejak balita. Setelah terpisah selama 50 tahun, Philomena pun mulai mencari jejak anaknya, dengan dibantu oleh seorang jurnalis politik, Martin Sixsmith, yang pada akhirnya tertarik untuk membuat berita human interest. Lalu dimulailah petualangan mereka hingga ke Amerika Serikat. Melihat film ini maka kita akan menemukan sisi konservatif Inggris Raya di tahun 1950-an, serta kesenjangan persepsi tentang kondisi masyarakat antara Martin dan Philomena. Ada satu quote dari Philomena yang saya suka dari film ini yang kira-kira bunyinya begini: It's important to be nice to people on the way up, because you might meet them again on the way down.

5. Wadjda
Won Audience Award for Best Feature Film at Goteborg Film Festival
Won DIoraphte Award at Rotterdam International Film Festival
Wadjda adalah film yang memotret budaya Arab Saudi secara umum. Seorang anak perempuan bernama Wadjda berkeinginan memiliki sepeda sehingga ia dapat berlomba dengan teman mainnya, Abdullah. Namun, anak perempuan bermain sepeda di Arab Saudi bukanlah pemandangan umum. Saat Wadjda mengutarakan keinginannya itu, orang di sekitarnya pun melarangnya. Tapi, Wadjda yang tomboy menghiraukan pendapat itu. Hingga saat ke toko sepeda, ia menemukan satu sepeda yang menarik hatinya. Sayangnya, harga sepeda itu sangat mahal. Wadjda pun memutar otak agar bisa mendapat tambahan uang, sampai ada satu lomba membaca Al Quran yang diadakan di sekolahnya dengan hadiah 1000 riyal. Demi mendapatkan sepeda itu, akhirnya Wadjda mati-matian belajar Al Quran dan tafsirnya agar bisa memenangkan lomba. Dari film ini, kita bisa melihat bahwa dengan berusaha bersungguh-sungguh, pasti akan mendapat hasilnya. Juga, dapat melihat bagaimana posisi wanita di tengah masyarakat Arab Saudi.

6. Love Is All You Need
Won Best Actress at Robert Awards
Won Best Comedy at European Film Awards
 Love Is All You Need merupakan film produksi Denmark tahun 2012. Pas ngeliat salah satu pemerannya adalah Pierce Brosnan, saya jadi penasaran apa iya si Brosnan bisa bahasa Denmark ya? Tapi...ternyata di sepanjang film dia ngomong bahasa Inggris, hehehe. Eniwei, film ini menceritakan kisah seorang wanita bernama Ida, yang baru saja menjalani operasi kanker payudara dan menemukan bahwa suaminya berselingkuh dengan wanita lain. Sementara Brosnan berperan sebagai Philip, seorang duda yang belum bisa melupakan mendiang istrinya. Mereka bertemu di pernikahan kedua anak mereka, dan akhirnya menemukan bahwa walau ada suatu momen menyakitkan dalam hidup dan sulit untuk melupakannya, hal yang terpenting adalah untuk terus menjalani hidup, semangat menghadapinya, dan berani untuk mengambil langkah baru.

Friday, 9 May 2014

Europe On Screen 2014 - 1st Weekend




 EOS Header
Pertama kali liat iklan event Europe On Screen (EOS) 2014 di salah satu majalah digital langsung membuat mata saya terbelalak. Nonton film gratis? Yang ga bakal ada di bioskop, kecuali acara festival film? Udah gitu film-film berkualitas yang jadi nominasi Oscar dan menangin banyak penghargaan? Siapa yang ga mau cobaaaa???

Saat itu juga saya langsung buka google dan cari tau soal event itu. Langsung ngiler pas liat jadwal-jadwal film yang nampang di websitenya: europeonscreen.org. I HAVE TO WATCH ALL OF THOSE MOVIES!!! (Ngimpi sih, secara hari kerja ga mungkin nonton -_-). Jadilah saat itu juga langsung menetapkan film-film apa aja yang mau ditonton di weekend pertama (2-3 Mei 2014).

Pilihan di hari pertama (2 Mei) jatuh ke film-film yang diputer di Erasmus Huis, yaitu Ernest et Celentine, Walesa: Man of Hope, The Gilded Cage dan The Pirates! Band of Misfits. Saya memang sengaja memilih film-film yang diputer di satu tempat aja, jadi ga usah rempong ngejar-ngejar film di tempat lain. FYI, venue yang jadi tempat nonton EOS ga cuma di Erasmus aja, tapi juga di Goethe Haus, Institut Francais Indonesia, Istituto Italiano di Cultura, Taman Kodok, dan di Universitas Tarumanegara.

Eniwei, saat di hari pertama itu, saya dateng telat. Udah rada kuatir ga akan kedapetan tiket. Secara itu kan film gratisan ya, bo... Alhamdulillah, masih dapet tiket. Dan pas masuk ke dalem ternyata baru 3/4 kursi yang keisi. Mungkin ga banyak yang nonton karena Ernest et Celestine itu adalah film kartun, hehehe...

Nah..di hari kedua (3 Mei) saya memutuskan untuk ngendon di Goethe Haus untuk nonton 3 film: Alfie The Little Werewolf, Klitschko, dan Final Cuts-Ladies and Gentlemen. Sebenernya pengen lanjut nonton Philomena, tapi diurungkan karena di hari Senin saya ada liputan pagi. Naahh... cerita selanjutnya adalah mengenai tujuh film yang saya tonton pas weekend kemaren, yaaa... Here we go...

1. Ernest et Celestine 
 Film ini mengisahkan tentang persahabatan antara beruang dan tikus bernama Ernest dan Celestine. Walau pendapat awam mengatakan bahwa beruang dan tikus itu ngga akan bisa akur dan temenan, Ernest dan Celestine membuktikan hal sebaliknya. Against all odds, Ernest dan Celestine malah jadi teman baik dan saling care satu sama lain. Ngeliat film ini saya jadi kangen sama temen-temen saya...:)
- Best Animated Film Cesar Awards 2013
- People's Choice Award Dubai International Film Festival 2013
- Oscar 2014 Nominee for Best Animated Feature


2. Walesa: Man of Hope
WALESA: MAN OF HOPE
Best Actor at Chicago International Film Festival 2013
Bridging the Borders Award at Palm Springs International Film Festival 2014
Lech Walesa adalah seorang buruh yang menjadi politikus di Polandia. Pemenang Nobel Perdamaian tahun 1983 ini sangat vokal dalam menyuarakan aspirasi kaum pekerja. Walau dapat tekanan dari pemerintah, dipenjara dan diinterogasi berkali-kali, semangatnya tak pernah padam. Menurut saya, hal itu tak terlepas dari dukungan keluarga terutama istrinya, Danuta. Seperti saat Lech akan ditangkap oleh pihak pemerintah, atau ngotot ikut demonstrasi, istrinya tetap ada di samping Lech. Ngeliat dukungan si Danuta terhadap suaminya, saya salut banget sama dia. Ngga heran kalo Lech juga jadi sangat mencintai istrinya yang pengertian. Salah satu adegan mereka yang saya suka adalah waktu rumah mereka dipenuhi dengan aktivis dan Danuta mulai ngerasa jengah dengan banyak orang yang berkumpul di rumah dan mengusir mereka keluar. Lech langsung buat tulisan di selembar kertas "THYPUS" buat ditempel di depan pintu rumah, supaya orang-orang ngga pada masuk ke rumah :D. Film yang diawali dengan interview antara wartawan terkenal Eropa, Oriana Fallaci dengan Lech Walesa ini cukup memberikan insight mengenai kondisi perjuangan politik Polandia di era 1970-1980an. 

3. The Gilded Cage
THE GILDED CAGE
Audience Award European Film Awards 2013
Best Feature Film 
Nominee at Sao Paulo International Film Festival 2013
 Film ini menceritakan tentang sebuah keluarga berdarah Portugal yang telah lama tinggal di Paris. Kisah seru di film ini dimulai ketika sang orangtua mendapat warisan perkebunan anggur, namun dengan syarat mereka harus tinggal di Portugal agar warisan itu sah menjadi milik mereka. Padahal, dua anak mereka sudah betah tinggal di Paris karena lahir dan besar di kota mode itu. Sementara, sang orangtua sebenarnya juga sudah punya pekerjaan yang mapan dan sangat dipercaya oleh bos-bos mereka. Kegalauan yang dirangkum dalam The Gilded Cage ini cukup memberikan tawa setelah sebelumnya nonton film yang agak serius, hehehe. Yang jelas, terlepas dari adanya warisan yang dipertaruhkan di sana, tetap ngga akan ada yang bisa menggantikan ikatan batin seseorang dengan tanah kelahirannya.

4. Pirates! Band of Misfits
THE PIRATES! BAND OF MISFITS
2013 Oscar Nominee for Best Animated Feature
Pirates! Band of Misfits merupakan film tentang kapten pembajak bernama Pirate Captain (iya emang itu namanya), yang sempat kehilangan kepercayaan diri karena selalu diremehkan oleh pembajak-pembajak lainnya. Inti cerita film ini bermula ketika ia bertemu dengan ilmuwan bernama Charles Darwin, yang mengatakan bahwa hewan peliharaan sang kapten: Polly adalah burung Dodo. Padahal, selama itu Captain Pirate mengira Polly adalah burung nuri, hahaha. Lalu karena mendengar ada pagelaran Scientist of The Year di London, Darwin, Captain Pirate dan krunya pun langsung menuju ke sana demi mendapatkan hadiah. Secara, burung Dodo kan saat itu udah dianggap punah ya, bo. Walaupun ratu Inggris saat itu, Queen Victoria sangat benci dengan perompak, itu ngga menghentikan langkah Captain Pirate demi mendapatkan hadiah dan gelar Scientist of The Year. Maka, dimulailah petualangan Captain Pirate dan krunya di tengah-tengah kota London.

5. Alfie, The Little Werewolf
ALFIE, THE LITTLE WEREWOLF
Best Children's Film (Tallin Black Nights Film Festival 2012)
& Best Audience Golden Film Award The Netherlands 2011


Alfie yang dicampakkan oleh orang tuanya diasuh oleh sebuah keluarga baik hati yang menemukan Alfie di depan pintu rumah mereka. Ngga disangka saat usia Alfie menginjak tujuh tahun, dia bisa berubah menjadi manusia serigala. Awalnya Alfie - yang selalu bersikap ramah dan dianggap nerd - sulit nerima perubahan itu, tapi perlahan bisa menerima sisi lain dari dirinya. Semua itu berkat dukungan dari keluarganya yang mau menerima Alfie apa adanya. Eniwei, selain ini adalah film keluarga yang bisa ditonton siapa aja, film ini juga cukup kocak karena kelakuan bokapnya Alfie yang aneh bin ajaib, hehehe... 

6. Klitschko
KLITSCHKO
Best Documentary Romy Gala, Austria 2012
Sebenarnya yang membuat saya terdorong menonton film ini adalah rasa penasaran ketika beberapa minggu lalu membaca berita politik soal kondisi di Ukraina dan salah satu alineanya menyebutkan tentang Vitali Klitschko, petinju profesional yang kini berkarir sebagai politikus. Maka, rasanya sayang untuk melewatkan film ini. Klitschko merupakan film dokumenter yang menceritakan perjalanan dua petinju bersaudara asal Ukraina, Vitali dan Wladimir Klitschko. Awalnya Vitali yang terjun ke ring tinju, lalu diikuti oleh adiknya Wladimir. Perjalanan hidup mereka dari kecil sampai perjuangan saat meniti karir di dunia pertinjuan dikupas di sini. Mulai dari gimana mereka harus berpindah-pindah tempat tinggal mengikuti ayahnya yang seorang tentara, perjalanan mendaki demi mendapat pengakuan dunia internasional sebagai petinju kelas berat yang disegani, masa kelam karir mereka, sampai bagaimana mereka bangkit kembali dari titik terendah itu.

Saya suka banget dengan apa yang dikatakan oleh Vitali saat menceritakan 'kejatuhan' karirnya. Saat itu dia baru saja mengundurkan diri di tengah pertandingan tinju melawan Chris Byrd karena cedera bahu, but most of the people said that he's a wimp because of that. Kepercayaan diri Vitali pun berada di titik paling bawah dalam hidupnya. Namun perkataan dari Max Schmelling (another boxer) membangkitkan semangatnya. Kira-kira kutipannya begini (seinget saya): You could hit rock bottom countless times, but the important thing is you never stay there. Jadi intinya mungkin saja kita akan menghadapi titik terendah dalam hidup, tapi yang penting adalah kita tidak berkubang didalamnya. Kita harus langsung bangkit dan semangat jalani hidup. Mendengar dorongan semangat itu, gambaran kekerasan dalam pertandingan tinju yang saya lihat sebelumnya langsung menguap. Setelah karir dua bersaudara Klitschko ini sempat menurun, mereka pun kembali lagi dengan kekuatan penuh demi mewujudkan mimpi mereka untuk menjadi dua bersaudara pertama yang memenangkan gelar juara dunia secara bersamaan. And they did it in 2008. Walau keluarga dan orang sekitarnya bilang kepada Klitschkos untuk menyerah saja, tapi Vitali dan Wladimir malah terus berjuang untuk mencatat sejarah baru tersebut. Jadi...Intinya adalah terus yakin dan kerja keras demi mewujudkan mimpi.

7. Final Cut - Ladies & Gentlemen
FINAL CUT – LADIES & GENTLEMEN

Film ini merupakan kolase potongan-potongan lebih dari 500 film, mulai dari film hitam putih-bisu di era yang entah kapan sampai film teranyar, Avatar. Saat membaca sinopsis filmnya di website Europe On Screen membuat saya penasaran untuk nonton film ini. Cuplikan-cuplikan film dijadikan satu film dalam rangkaian sebuah cerita. Kira-kira kayak apa yaaa?? Hehehe. Dan, ternyata emang keren. Salut untuk para editor dan sutradara yang kerja selama tiga tahun untuk mengedit film ini. Storyline film ini sebenarnya sederhana, dimana lelaki ketemu pasangannya, menikah, ada kesalahpahaman, lalu diakhiri dengan happy ending. Yang ga biasa adalah cerita itu dirangkai dari beberapa cuplikan film. Banyaaakkk jempol buat film maker-nya. Segala film dicampur jadi satu di sini, bahkan sampe film kartun pun juga ada, kayak Mr Incredible, Snow White, Sleeping Beauty. Film klasiknya Charlie Chaplin, Marilyn Monroe, dan all-time-movies kayak Sound of Music, Singing In The Rain, Forrest Gump. Ngga nyangka diantara segitu banyaknya film, pasti ada aja adegan yang sama. Bukan berarti juga saat nyuplik-nyuplik scene itu akan jadi cerita yang membosankan. Sutradara György Pálfi dan para editornya memasukkan adegan yang sukses bikin para penonton terbahak-bahak, seperti saat lagi adegan sedih dan galau, tiba-tiba ada Yoda-Star Wars disana dengan ekspresi sedih-galaunya juga. Atau lagi serius-seriusnya adegan, ternyata disambungin sama adegan kartun atau aksi kocaknya Charlie Chaplin. Hahahaha. Di setiap pergantian scene itu emang selalu ada aja element of surprise yang pada akhirnya membuat film ini tidak membosankan. Unpredictable and great movie, indeed.

PS: All pics from europeonscreen.org