Showing posts with label ekonomi syariah. Show all posts
Showing posts with label ekonomi syariah. Show all posts

Thursday, 20 February 2014

It's Graduation Day!

Alhamdulillahhirabbil'alamin...Akhirnyaaaaa kelar juga perjuangan selama empat bulan terakhir di tahun 2013. Yes, finally I completed my study in University of Indonesia. Masa tempuh studi di UI ini mungkin ngga akan terlupakan, karena gw memasuki dunia akademi baru dengan mengambil konsentrasi ekonomi syariah dan di masa ini semua urusan kuliah ditanggung sendiri. Dengan background ilmu komunikasi di Unpad dulu, tentu ekonomi syariah menjadi hal baru yang harus dipelajari lagi.

Terus ngapain ngambil ekonomi syariah? Ini ngga terlepas dari urusan kerjaan sebenernya. Sebelum bekerja di tempat sekarang: Majalah Sharing (majalah ekonomi dan bisnis syariah), gw sempet ngendon selama 3,5 tahun di Republika, dimana kurang lebih 2 tahun diantaranya ditempatin sebagai reporter ekonomi syariah. Di blog Multiply yang dulu, gw sempet cerita soal awal jadi wartawan ekonomi syariah. Postingan blog itu udah diimpor ke blogspot ini dan bisa dibaca di sini.

Terus...bedanya lagi sama waktu S1 dulu yang semuanya masih harus ke orang tua, Alhamdulillah di studi kali ini dapet beasiswa dari UI, BNI dan Panasonic Gobel selama 4 semester. Jadi yaaa emang harus lulus tepat waktu, hehehe. Itu dia yang ngebuat September-Desember 2013 sesuatu bangeeett :p.

Waktu itu emang ngga nyangka bakal dapet rejeki dari Allah. I felt nothing to lose. Awalnya malah ngga yakin mau ikutan, karena sebenernya obsesi dari dulu pengennya dapet beasiswa ke LN. Tapi apa daya karena TOEFL ngga nyampe2 mulu batasan persyaratan minimum yang diminta, terus jadi mikir yah ngga ada salahnya lah buat dicoba. Pas ikutan tes di UI, ngga nyangka ketemu temen Koran Tempo yang juga ikutan tes. Terus jadi mikir lagi, waduh saingannya ternyata ngeri juga ya, hehehe.

Makanya, waktu hari H pengumuman gw malah ngga berusaha nyari info soal itu. Dan pas temen Republika, Indah, tiba-tiba ngasih selamat lewat SMS, gw kaget dan bingung. Haaahh??? Langsung deh buru-buru nelpon Indah, nanya kebenaran informasinya. Saat itu juga gw langsung jejingkrak kegirangan, padahal waktu itu lagi ada di warung makan (hahaha sabodo teuing). Di masa awal itu masih sempet ga percaya, kok bisaaa yaaa??? Allah kok baik banget sih sama gw. Hikhik jadi terharu... Setelah dapet rizki itu terus jadi kepikiran, mungkin Allah ngasih beasiswa supaya gw bisa lebih belajar mendalami soal apa dan bagaimana ekonomi syariah itu dan memang itu jalan hidup karir yang harus ditempuh. Di dalam benak gw, Allah seperti ngomong begini ke gw: ya kalo elo emang bener-bener mau menghidupi diri lo dari dunia bisnis dan ekonomi syariah, lo harus belajar yang bener.

Hari pertama kuliah langsung semangat, tidur larut malam juga jadi kebiasaan, karenaaaa tugas kuliahnya itu looo yang ga abis-abis. Setiap pekan pasti ada presentasi dan paper. Waktu akhirnya sampe di semester akhir, I really put myself into it. Sampeee dapet kabar kalo dosen pembimbing (dosbing) bakal pergi ke Maroko untuk post doc. Hwwhhaaaattt???!! Di 1,5 bulan pertama kelimpungan nyelesain tiga bab, supaya bisa seminar sebelum dosbing berangkat. Daaann...hasilnya ancur. Seriously. Cerita ke nyokap sama adek sambil mewek. Sahabat gw, Mia juga tau ceritanya deh, bagaimana gw down banget, ngerasa ga guna, dan nangis mewek-mewek sambil Whatsapp-an. But, they raised me up. Thank you, gals! I owe you. :)

Butuh waktu sampe dua minggu penuh setelah 'tragedi' seminar itu buat bener-bener bangkit dan ngerjain draft tesisnya lagi. Yes, I was that desperate. Habis dianggurin itu, langsung ngebut ngerjain tesisnya lagi, sampe akhirnya target sidang sebelum 2013 berakhir tercapai. Dosbing yang baru sampe tanggal 27 Desember langsung diseret untuk nyidang tanggal 31 Desember. Me and my three friends working our ass off on that day, while other people had prepared for new year celebration. Alhamdulillah semua peserta sidang hari itu bisa menyelesaikan semuanya. Rasa mules, pusing, deg-degan selama beberapa minggu akhirnya selesai juga.

Masa persiapan sidang tesis ini emang banyak tantangannya. Mendekati masa sidang itu gw di rumah sendirian karena bokap nyokap lagi ke Jawa, beruntung adek gw yang bontot, Gilang dan keluarga kecilnya nginep di rumah. Jadi ngga ngerasa sendirian-sendirian amat. Tapi ada satu hal lagi, sehari sebelum sidang, listrik rumah mati. Waktu itu sempet ngungsi ke tempat adek yang ga jauh dari rumah demi buat ngebaca tesis lagi. Tapi ya karena disana banyak orang juga jadi agak ga konsen belajarnya. Akhirnya mutusin balik lagi ke rumah jam 10 malam, berharap lampu udah nyala. Alhamdulillah udah nyala, dan yang ngga disangka-sangka ternyata mati lampu lagi jam 11 malem -____-.

Kali ini mau ga mau baca tesis sambil pake senter, yaaa abis mau gimana lagi coba? Udah terlalu malem kalo harus balik ngungsi. Jadi mau ga mau balik ke jaman dulu, baca dengan penerangan seadanya. Sampe akhirnya gw nyerah jam setengah 1 malem karena mata udah terasa capek, terlalu diforsir untuk baca dalam keadaan remang-remang. Gw salut sama kakek-nenek yang dulu belajar dengan penerangan apa adanya, karena gw yang baru 1,5 jam aja udah nyerah. Hikhik..

Sebuah blessing in disguise ketika gw dapet jadwal sidang jam 4 sore, karena artinya masih punya cukup waktu untuk baca-baca lagi, walau sambil ditemani dengan rasa mules yang ga abis-abisnya :p. Di masa-masa sebelum sidang ini pula berasa bener aura You'll Never Walk Alone. Bagaimanapun, dalam situasi apapun, sedih atau senang, hanya Allah SWT tempat bergantung. Dan yakinlah bahwa elo ngga akan pernah sendirian.

Short story, sampailah akhirnya setelah dinyatakan lulus, rasa senang dan terharu itu nyampur jadi satu. I have completed one chapter in my life, now I'm ready to embrace a new one. Let the new journeys begin!

PS: Di bawah ini adalah foto-foto waktu gladi resik wisuda. Toga yang dipakai itu udah dimodif karena kebesaran. Sebenernya udah mesen ukuran S, saat ngambil toga pun di plastik pembungkusnya stiker yang ditempel tulisannya size S, tapi pas dibuka ternyata toganya ukuran L, hadeuh... Akhirnya adik ipar, Marni, nyematin beberapa peniti di bagian bahu dan tangan. Walau masih keliatan kebesaran, tapi ga terlalu keliatan banget deh, hehehe. Alhamdulillah juga hari itu bokap nyokap bisa hadir, and last but not least, Mia and Aira. Can't say thank you enough to all of you guys! :D Oia, all of the photos below belong to Mia. Thank you!



Sama Emak dan Babe

Mia, Aira, and Me

This is what I wear underneath the toga

Monday, 4 March 2013

Grameen Social Business

Just want to share an article I wrote months ago about Social Business which developed by Muhammad Yunus.

Bangladesh, 1974. Tahun itu mungkin tak akan pernah terlupakan bagi masyarakat Bangladesh. Setelah menjalani perang kemerdekaan di tahun 1971 tak disangka negara itu mengalami rentetan bencana alam. Luka perang yang masih membekas itu kemudian diperparah dengan sejumlah bencana alam yang menyusul, mulai dari banjir, kekeringan dan angin ribut. Kelaparan massal pun tak ayal menerpa masyarakat. Kondisi itu juga menimbulkan masalah sosial di masyarakat Bangladesh, termasuk kemiskinan. Banyak orang terjerat utang untuk memenuhi kebutuhannya.

Masalah sosial yang terjadi saat itu menarik simpati seorang dosen Universitas Chittagong bernama Muhammad Yunus, yang kemudian melakukan observasi awal di suatu wilayah dekat universitas, bernama desa Jobra. Di sana ia menemukan bahwa orang miskin tercekik oleh utang rentenir. Dari sanalah kemudian bermula kisah tentang Grameen Bank yang sudah cukup banyak diulas media, apalagi setelah Yunus memperoleh penghargaan Nobel Perdamaian pada 2006.

Bermula dari sebuah desa Jobra, konsep Grameen Bank berkembang ke sejumlah negara. Bahkan hingga ke Amerika yang dikenal sebagai salah satu pusat kekuatan finansial dunia. Grameen Bank membuka cabang Grameen America di New York, dengan cabang pertama dibuka di Queens. Selanjutnya berkembang di Brooklyn, New York, Omaha, Nebraska, California dan San Francisco. Sebagian besar nasabah di negara Paman Sam itu adalah single mother yang berjuang menafkahi keluarganya.

Di Bangladesh sendiri Grameen Bank telah menyalurkan pinjaman sebesar 8,5 miliar dolar kepada the poorest dan kaum wanita. Salah satu program yang sedang dijalani Grameen di Bangladesh adalah penyediaan solar home system (sistem listrik tenaga surya) di setiap rumah. Hingga November 2012 ditargetkan jumlah rumah tangga yang menggunakan solar home system mencapai 1 juta.

Namun ternyata Grameen Bank itu hanya berupa awal dari pengembangan bisnis yang disebut Yunus sebagai bisnis sosial. Yunus memaparkan dalam bisnis sosial investor bertujuan membantu orang lain tanpa bermaksud mendapat keuntungan. Yunus menyebutnya perusahaan tanpa rugi sekaligus tanpa dividen. Walaupun kata ‘sosial’ melekat di frasa tersebut, bukan berarti segala yang dihasilkan adalah hibah.

Social business is a business. Kegiatan bisnis sosial bisa tetap berlangsung karena ia menopang dirinya sendiri dan tetap menghasilkan pendapatan untuk membiayai operasional bisnis. Jika di tengah jalan investor ingin mengambil dana investasinya, hal itu tidak menjadi masalah. Namun satu hal yang ditekankan adalah dana investasi yang dikembalikan nilainya sama dengan yang diberikan sebelumnya, walau mungkin nilai uangnya tidak seberapa di masa mendatang. Misalnya jika Anda berinvestasi Rp 10 juta di 2012 dan memutuskan untuk mengambil dana investasi pada 2022 maka Anda akan memperoleh kembali uang sebesar Rp 10 juta. Bukan dengan jumlah uang yang setara dengan Rp 10 juta pada 2022.

Perbedaan CSR dan Bisnis Sosial
Dalam kuliah umumnya bertema The Role of Social Entrepreneurship in Poverty Alleviation di Jakarta pada Oktober 2012, Yunus juga memaparkan perbedaan antara kegiatan CSR perusahaan dengan bisnis sosial. Dalam kegiatan CSR, hal yang harus dilakukan perusahaan pertama kali adalah memaksimalkan laba baru menambah unsur bersifat sosial. Sementara bisnis sosial dirancang untuk memecahkan masalah sosial bukan memaksimalkan keuntungan atau mencetak laba bagi para investor, jadi perhatian tidak terbagi.

Yunus mengungkapkan walaupun bisnis sosial bukan lembaga nirlaba, bisnis sosial tidak mengejar laba mati-matian seperti halnya perusahaan yang bertujuan memaksimalkan laba. Menurut Yunus, hal itu dikarenakan alasan moral, tidak benar rasanya jika mencari untung dari kaum miskin.

Lalu apa bedanya bisnis sosial dengan kewirausahaan sosial? Banyak orang menganggapnya sama, tetapi menurut Yunus kedua hal itu berbeda. Dalam buku Building Social Business yang ditulisnya, Yunus mengatakan kewirausahaan sosial terkait dengan pribadi, menggambarkan prakarsa dengan konsekuensi sosial yang diciptakan wirausaha yang punya visi sosial. Prakarsa itu bisa berupa prakarsa nonekonomi, amal atau bisnis dengan atau tanpa keuntungan untuk diri sendiri. Ada pula kewirausahaan sosial yang menempatkan proyek di LSM atau kegiatan peraihan laba. Sementara, bisnis sosial sangat spesifik yaitu tanpa rugi tanpa dividen yang memiliki tujuan sosial.

Pertanyaan selanjutnya, bagaimana membentuk dan mengawali bisnis sosial? Kuncinya adalah percaya dengan apa yang anda lakukan dan kreativitas. Masalah dana? It will come to you. No need to worry. Menurut Yunus, suatu ide bisnis sosial yang dimiliki oleh seseorang akan menarik investor dengan sendirinya. Dalam membangun bisnis sosial itu pastinya tidak langsung sukses dalam sekejap. Ada proses dan kegagalan di sana, tetapi itu menjadi proses pembelajaran. Skill harus terus menerus diasah. Untuk memecahkan masalah sosial pun tidak perlu menunggu inisiatif pemerintah, karena kita punya kapabiliti untuk memecahkan masalah. “Look around, ketika ada problem mungkin bisnis sosial bisa masuk,” cetus Yunus.

Dari hasil observasinya, kemiskinan yang terjadi di dunia adalah karena faktor eksternal dan sistem yang berlangsung di sekitar kaum miskin sehingga mereka kurang mendapat kesempatan untuk berkembang. Yunus menuturkan untuk mengubah sistem yang kurang berpihak dengan kaum miskin adalah dengan melakukan hal yang berlawanan dengan sistem.

Bisnis Sosial Grameen
Ada beberapa bisnis sosial yang dibangun mandiri oleh Grameen. Tetapi ada pula sejumlah bisnis sosial yang dibangun adalah bersama dengan perusahaan multinasional. Grameen bekerja sama dengan Danone membuat yogurt untuk mengatasi kekurangan gizi, dan menjualnya dengan harga terjangkau. Yogurt ini diperkuat dengan mikronutrien yang hilang dari sebagian besar makanan yang dikonsumsi anak-anak, sehingga dengan memakan yogurt tersebut anak-anak bisa mendapatkan gizi yang hilang sebelumnya.

Bisnis sosial lainnya adalah Grameen Veolia Water, bekerja sama dengan perusahaan Prancis untuk penyediaan air minum yang bersih dan berkualitas. Ada pula dengan perusahaan Jerman bernama BASF untuk pembuatan kelambu antinyamuk. Hingga kerja sama dengan perusahaan sepatu Adidas dengan membentuk Grameen Adidas untuk penyediaan sepatu seharga di bawah 1 euro.

Bisnis sosial ini memiliki inti bahwa tujuan bisnis adalah untuk mengatasi kemiskinan, bukan memaksimalkan keuntungan. Kesuksesan suatu bisnis sosial pun tidak diukur berdasar keuntungan yang diperoleh, tetapi seberapa besar bisnis tersebut mampu memecahkan masalah sosial. Salah satu hal yang menjadi inti dalam menjalankan bisnis sosial, yang disampaikan Yunus dalam bukunya, adalah Dikerjakan dengan Senang Hati!!!. Dengan demikian mimpi dunia bebas kemiskinan perlahan dapat terwujud. “So that we can put poverty in museum,” tutup Yunus.

Thursday, 24 November 2011

Meningkatkan Daya Beli Emas

Investasi emas akhir-akhir ini lagi rame di masyarakat Indonesia. Pro-kontra soal ini sebenernya cukup rame juga, antara spekulasi atau memang murni investasi? Apalagi di industri perbankan syariah yang diperbolehkan untuk buka gadai emas dan ada satu bank syariah yang punya produk kepemilikan emas (beli emas dengan cara mengangsur).

Saya termasuk salah seorang yang ngga setuju emas jadi alat spekulasi semata. Ngeliat harga emas naek sedikit langsung dijual untuk dapet keuntungan. Soal spekulasi dan investasi itu memang kembali ke tujuan setiap individu.

Saya pribadi lebih prefer emas sebagai alat investasi. Emas itu kan dikenal sebagai alat lindung nilai dan poin itu yang menjadi kelebihan nilai emas. Bagi saya, emas itu diinvestasikan jika kita memang sudah punya tujuan pasti akan diapakan emas itu. Misalnya, untuk tabungan haji, pendidikan, wisata, atau buat simpanan kalau ada kebutuhan mendesak. Tapi..di sini saya ngga bakal membahas soal pro-kontra investasi/spekulasi emas.

Saya ingin share soal peningkatan daya beli emas. Mungkin banyak orang yang sudah mengenal dengan Kebun Emas-nya mas Rully Kusnandar lewat sejumlah seminar atau websitenya. Share saya berikut ini juga adalah yang saya dapet dari hasil liputan ke seminar dia beberapa bulan lalu.

Tapi..lagi-lagi yang perlu DICATAT saya tidak mendorong orang-orang untuk memborong atau menggadaikan emas banyak-banyak demi meningkatkan daya beli, lalu emasnya dibiarkan di Pegadaian atau bank syariah begitu saja tanpa ditebus sambil menunggu harga emas naik. Ketika ngga mampu menebus emas itu dilelang hanya untuk mengambil keuntungan. Lagipula, sekarang bank syariah juga sudah menetapkan batas transaksi gadai yang berulang-ulang untuk mencegah spekulasi.

Eniwei, soal Kebun Emas ini simpelnya begini. Seseorang punya uang Rp 11 juta. Uang 10 juta untuk membeli 25 gram emas. Saat digadai akan diperoleh uang sejumlah Rp 9 juta. Sisa uang yang dimiliki dan uang gadai yang didapat bisa digunakan untuk kembali membeli emas kedua seberat 25 gram. Selanjutnya emas kedua digadaikan kembali. Untuk membeli emas ketiga anda hanya perlu menambah sisa dana yang diperlukan karena sudah memperoleh pinjaman gadai dari emas kedua. Begitu seterusnya.

Cara yang disampaikan mas Rully ini memang menarik. Tapi lagi-lagi harap disesuaikan dengan kebutuhan dan tujuannya, emas itu dipakai untuk apa? Jangan lupa juga ketika Anda memutuskan untuk gadai emas, ada biaya titipnya. Nah ada beberapa tips yang dikasih mas Rully yang saya kutip disini:
  • Saat menentukan berat emas yang akan dibeli, sesuaikan dengan kondisi finansial Anda
  • Sisihkan dana dua kali lipat dari jumlah biaya titip gadai jika memutuskan untuk gadai emas
  • Cari biaya titip yang paling rendah dan fleksibel
  • Biaya titip jangan sampai melebihi satu persen dari harga emas di pasaran
Emas bisa jadi alat lindung nilai yang benar-benar bermanfaat jika memang tujuan kita untuk investasi. Misalnya, bisa dipake buat haji. Pengamat investasi emas lainnya, Endy J Kurniawan, bilang pada 1997 biaya haji membutuhkan 310 gram emas, namun pada 2007 turun menjadi 145 gram emas. Pada 2010 biaya naik haji juga turun lagi dengan hanya 95 gram emas.

Wednesday, 1 June 2011

Saya dan Liputan di Ekonomi Syariah


Tulisan ini hanya untuk bercerita saja bagaimana awalnya saya bisa 'terseret' dan akhirnya tertarik ke dunia ekonomi syariah.

Awalnya, saya baru kenal dan tahu mengenai perkembangan ekonomi syariah waktu 'diceburin' sama redaktur Republika ke desk ekonomi syariah. Yang ada dalam pikiran saya pertama kali, apaan itu ekonomi syariah? Saya sama sekali ngga paham.

Jujur waktu pertama kali masuk jadi wartawan saya berharap jangan sampe ditempatin di desk ekonomi, banyak istilah yang ngebingungin..bikin pusing..belum lagi mesti ngitung2. Harapan memang selalu tidak sejalan sama kenyataan. Di bulan ke sembilan saya jadi reporter, saya langsung dicemplungin gitu aja ke desk ekonomi syariah.

Oke. Ekonomi aja udah bikin saya ketar ketir, apalagi ini ada kata 'syariah' dibelakangnya..apa bedanya sama ekonomi yang biasa?

Sehari sebelum saya beneran ngerasain liputan di desk baru, saya diminta untuk nemuin reporter ekon syariah sebelumnya dan redaktur. Duo Mas Bahrul dan Mba Ina. Selama kurang lebih seminggu berikutnya saya dapet kursus kilat soal ekonomi syariah dan istilah perbankan, asuransi, sukuk. Bedanya istilah LDR-FDR, penyebutan kredit jadi pembiayaan, NPF-NPL. Ditambah pengertian akad-akad syariah. Hadeuh..tolong.

Disini saya ngga akan menjelaskan secara teknis pengertian ekonomi syariah. Sederhananya yang saya ketahui, lembaga keuangan syariah menjalankan aktivitasnya sesuai dengan prinsip keuangan yang diperbolehkan Islam. Kendati aktivitasnya sejalan dengan prinsip Islam, tapi ekonomi syariah ini universal dan inklusif. Semua orang dapat berinvestasi maupun menjadi nasabah di keuangan syariah.

Pas saya ditempatin di ekonomi syariah ini, saya baru ngeh kalo dulu sebenernya udah pernah denger soal salah satu bank syariah dari temen kuliah saya, Nisa. Waktu jaman kuliah dulu, temen saya itu salah satu nasabah Bank Muamalat. Tapi saya nggak tau kalo itu adalah bank yang menjalankan prinsip syariah.

Saya cuma inget waktu itu Nisa pernah bilang kalo dia buka rekening itu khusus untuk tabungan dia sama yang jadi suaminya sekarang. Alasannya memilih bank itu saya ga tanya. Nisa cuma bilang kalo ATM Bank Muamalat juga bisa dipake di ATM BCA tanpa kena potongan biaya. Simple.

Udah gitu kalo ke Bank Muamalat (di Jatinangor), Nisa cerita setiap masuk ke bank selalu ada staf bank (bukan satpam) yang ngebukain pintu buat nasabah, sambil mengucapkan salam. Yah kalo didengar dari ceritanya servisnya bolehlah..

Oke, lanjut lagi. Walau awalnya pos ekonomi syariah bikin bingung, untunglah narasumber-narasumber ekonomi syariah ini banyak menolong..Maklum, I'm a newbie, jadi banyak yang ngasih penjelasan lebih lanjut soal ekonomi syariah itu kayak apa. Rata-rata mereka juga mudah dihubungi (ini dia yang disukai oleh wartawan).

Di luar liputan, hal yang masih teringat di benak saya ketika masih jadi reporter ekonomi syariah di Republika, adalah redakturnya yang selalu berganti-ganti, sementara saya tetap di desk itu. Total saya bekerja sama dengan enam redaktur selama dua tahun di desk itu. Semuanya punya kesan masing-masing dan saya belajar banyak dari para redaktur-redaktur yang hebat itu.

Redaktur pertama saya, Mba Ina yang selalu memberikan masukan terhadap angle berita, mengajarkan saya melihat cara pandang yang berbeda. Berpindah ke Mba Yenny, seorang redaktur yang penuh dengan sikap keibuan, memberikan kebebasan untuk berkreasi. Lalu Mas Elba, sosok yang selalu mengingatkan untuk mengkritisi sesuatu dan belajar untuk membuat berita yang lebih baik. Setelahnya berputar ke Kang Dsy, andalan dalam membuat tulisan feature, saya juga dituntut untuk lebih mendalami cara menulis feature ekonomi syariah.
Kemudian berpindah lagi ke Mba Yeyen, redaktur yang rajin ikut liputan dan mendorong saya untuk dapat berbahasa Inggris lebih baik (Melalui dia, saya juga bisa mewawancarai Dubes Tunisia, satu-satunya Dubes yang pernah saya wawancarai setelah selama meliput hanya terbatas mewawancarai ekonom, akademisi atau praktisi). Terakhir adalah Mas Firkah, yang menyukai berita korporasi dan juga suka memberi masukan berita. Dari semuanya saya belajar sesuatu hal yang baru di dunia jurnalistik. Dunia yang masih saya sukai sampai saat ini dan entah sampai kapan.

Di masa awal saya di ekonomi syariah, tadinya saya mikir 'Ah paling saya juga cuma ditempatin di pos ini tiga bulan aja'. Tapi ternyata eh ternyata, saya di pos itu selama dua tahun (more or less). Walau bisa dibilang untuk ukuran reporter dua tahun penempatan di suatu pos cukup lama, tapi saya nggak ngerasa expert sama sekali. Masih banyak dan luas cakupan ekonomi syariah itu. Sampai sekarang pun saya masih belajar. Lapangan liputan selalu menjadi tempat buat belajar.

Saya mengakui kalau dulu saya sempat jenuh dengan ekonomi syariah. Bosan rasanya meliput di tempat yang sama terus menerus, sementara saya ingin mencoba merambah hal yang lainnya. Saya juga sempat bilang soal itu ke redaktur saya, tapi waktu itu memang belum saatnya..Sempat pindah pos di Deptan dan Dephut tapi cuma sebulan aja, terus balik lagi ke ekonomi syariah..

Awal tahun 2011 saya akhirnya dirolling ke nasional, posnya di MK, MA, Depdagri. Setelah menjalani selama beberapa bulan, saya malah jadi kangen ngeliput ekonomi syariah dan dinamika industrinya. Semakin pengen belajar lebih mendalam lagi soal industri ekonomi syariah..Indonesia sebagian besar populasinya muslim tapi industri keuangan syariah belum terlalu besar seperti di negara jiran, ini yang masih mengusik dan menjadi pertanyaan. Bagaimana kita bisa memaksimalkan potensi yang ada, itu yang terpenting.

Akhirnya saya pun memutuskan untuk pindah ke Sharing. Jadi disinilah saya sekarang, keluarga baru, dunia lama tapi dengan semangat baru seperti anak baru. Semoga saya tetap istiqomah di jalan ini...Amien..